NovelToon NovelToon
Apakah Itu Kamu?

Apakah Itu Kamu?

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cerai / Selingkuh / Janda / Romansa / Berondong
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan Livia Winarti Samego, seorang wanita 30 tahun yang harus menerima nasib bahwa ia diduakan oleh suaminya, Attar Pangestu dengan wanita lain yang tidak bukan adalah Sheila Nandhita, teman baiknya. Livia harus berjuang seorang diri dalam perpisahannya dengan Attar hingga takdir mempertemukannya dengan Ayub Sangaji, seorang mahasiswa jurusan pendidikan olahraga di sebuah kampus yang tampan dan menggoda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pernyataan Sang Pemuda

Suara tawanya perlahan memudar seiring obat penenang itu bekerja, namun suasana di rumah sakit itu tetap mencekam. Para petugas kepolisian yang berjaga di depan pintunya saling berpandangan; mereka tahu bahwa wanita ini bukan sekadar pasien jiwa biasa, dia adalah bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak kembali.

****

Kembali di apartemen, Livia sudah merasa sedikit lebih tenang. Ayub masih menemaninya, memberikan teh hangat yang baru dibuat.

"Ayub, terima kasih untuk semuanya," ucap Livia. "Tapi besok, aku ingin kamu fokus ke kampus. Jangan sampai nilaimu hancur karena terus mengurusi aku."

"Mbak, kuliah saya bisa dikejar, tapi ketenangan Mbak lebih penting buat saya," jawab Ayub mantap.

Livia menatap Ayub, merasakan kehangatan yang sudah lama hilang dari hidupnya. Namun, di dalam hatinya, ia masih teringat peringatan Attar. Ia menyadari bahwa meski ia ingin membuka hati bagi Ayub, ia harus berhati-hati agar tidak mengulangi pola ketergantungan yang sama.

"Kita jalani pelan-pelan ya, Ayub," bisik Livia.

Malam itu, Jakarta kembali diguyur hujan deras, seolah ingin mencuci bersih noda darah di lantai apartemen Livia. Di dalam kegelapan, Livia mencoba memejamkan mata, berusaha mengusir tawa Sheila yang masih berngiang-ngiang, sementara di sudut ruangan, Ayub tetap terjaga, menjadi pelindung yang tak akan membiarkan bayangan apa pun menyentuh Livia lagi.

****

Dinding-dinding putih di bangsal isolasi Rumah Sakit Jiwa seolah bergetar oleh energi gelap yang dipancarkan Sheila Nandhita. Sejak obat penenang dosis tingginya habis bereaksi, wanita itu tidak lagi sekadar berteriak; ia telah memasuki fase trans yang mengerikan. Sheila duduk bersimpuh di tengah ruangan, rambutnya yang kusut menutupi wajahnya yang pucat, sementara bahunya berguncang oleh tawa rendah yang konstan.

"Lihat... merahnya cantik sekali," bisik Sheila, suaranya parau namun tajam.

Suster Maya, seorang perawat senior, mendekat bersama dua orang petugas keamanan untuk membujuk Sheila mandi. Namun, saat cahaya lampu menyinari sudut ruangan, Suster Maya memekik tertahan. Sheila telah menemukan sebuah sisa kawat tajam dari sela-sela dipan ranjang yang sengaja ia rusak semalam.

Tanpa ekspresi kesakitan sedikit pun, Sheila menggoreskan kawat itu ke lengannya sendiri. Darah segar berwarna merah pekat mengucur, menetes ke lantai putih yang steril, menciptakan kontras yang mengerikan.

"Sheila! Berhenti! Apa yang kamu lakukan?!" teriak Suster Maya dengan suara bergetar.

Bukannya berhenti, Sheila justru mendongak. Matanya melotot lebar, urat-urat di lehernya menonjol saat ia tertawa melengking, suara tawanya memantul di langit-langit bangsal, menciptakan suasana gaduh yang membuat pasien di kamar sebelah mulai ikut berteriak histeris.

"Hahahaha! Sakit? Ini bukan sakit! Ini adalah pembebasan!" jerit Sheila. Ia kembali menggoreskan kawat itu lebih dalam, darah memuncrat mengenai baju putihnya, namun ia justru menjilat bibirnya yang berlumuran darah sambil terus tertawa tak terkendali.

Suster Maya menjerit ketakutan, menutup mulutnya saat melihat kegilaan murni di depan matanya. Sheila tidak merasakan sakit; saraf-sarafnya telah mati rasa oleh kebencian yang sudah mendarah daging. Ruangan itu mendadak menjadi genangan darah, sementara tawa Sheila terus membahana, seolah ia sedang merayakan kehancuran dirinya sendiri di depan para penonton yang ketakutan.

****

Berjarak beberapa kilometer dari kegelapan rumah sakit jiwa, aroma mentega dan vanila mulai memenuhi dapur apartemen Livia. Setelah bertahun-tahun meninggalkan hobinya demi mengikuti gaya hidup Attar yang serba kaku dan formal, Livia akhirnya kembali menyentuh oven.

Lengan bajunya digulung, wajahnya sedikit terkena noda tepung, namun ada binar di matanya yang sudah lama hilang. Ia sedang menghias selusin cupcake cokelat dengan krim lembut berwarna pastel. Membuat kue baginya adalah terapi; cara untuk menyatukan kembali kepingan dirinya yang sempat hancur.

"Sudah jadi," gumam Livia dengan senyum tipis. Ia menatap deretan kue itu dengan rasa bangga yang sederhana. Ini bukan hanya sekadar makanan; ini adalah simbol bahwa ia telah merebut kembali kemandiriannya. Ia berencana menjual kue-kue ini secara daring, memulai usaha kecil yang dulu sempat ia impikan sebelum menikah.

Dering bel apartemen membuyarkan lamunannya. Livia membuka pintu dan mendapati Ayub berdiri di sana dengan wajah yang tampak lebih tegang dari biasanya. Pemuda itu membawa sebuah buku catatan kuliah, namun sorot matanya tidak menunjukkan ketertarikan pada pelajaran hari ini.

"Mbak Livia... bau kuenya harum sekali," ucap Ayub, mencoba mencairkan suasana.

Livia tertawa kecil. "Masuklah, Ayub. Kebetulan sekali, kamu harus jadi pencicip pertamaku."

****

Sementara itu, di kantor firma arsitekturnya yang mewah, Attar Pangestu duduk termenung di hadapan layar monitor yang menampilkan rancangan gedung perkantoran di kawasan Sudirman. Proyek besar yang seharusnya rampung bulan lalu itu masih terbengkalai. Garis-garis desainnya tampak berantakan, mencerminkan isi kepalanya yang tidak stabil.

Attar melepaskan kacamatanya dan memijat pangkal hidungnya. Ia menoleh ke arah foto di atas mejanya—foto pernikahannya dengan Livia yang belum sanggup ia singkirkan.

"Aku harus merelakannya," bisik Attar pada keheningan ruangan.

Suara palu hakim di pengadilan masih terngiang-ngiang. Ia menyadari bahwa memaksakan kehadiran di hidup Livia hanya akan membuat luka wanita itu semakin bernanah. Attar meraih sebuah gulungan kertas kosong. Ia harus mulai menggambar lagi. Bukan untuk Livia, tapi untuk dirinya sendiri. Ia harus membuktikan bahwa ia bisa tetap berdiri meski istana yang ia bangun dengan pengkhianatan telah rata dengan tanah.

"Selamat memulai hidup baru, Liv," gumamnya pelan, sambil menghapus satu garis desain yang salah. Kali ini, ia benar-benar berniat melepaskan bayang-bayang mantan istrinya dari setiap helai napasnya.

****

Kembali di apartemen Livia, Ayub duduk di meja makan, memegang sebuah cupcake dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia menatap Livia yang sedang sibuk membersihkan meja dapur. Keberanian yang ia kumpulkan selama berhari-hari kini terasa menumpuk di tenggorokannya.

"Mbak Livia," panggil Ayub, suaranya lebih dalam dari biasanya.

Livia menoleh, masih memegang serbet. "Ya, Ayub?"

Ayub meletakkan kuenya dan berdiri. Ia melangkah mendekati Livia, menjaga jarak yang sopan namun cukup dekat untuk menunjukkan keseriusannya. "Saya tahu ini mungkin terlalu cepat. Saya tahu luka Mbak Livia akibat perpisahan dengan Mas Attar belum benar-benar sembuh."

Jantung Livia berdegup sedikit lebih kencang. Ia bisa merasakan arah pembicaraan ini.

"Tapi saya tidak bisa memendam ini lebih lama lagi," lanjut Ayub, matanya menatap langsung ke netra Livia dengan ketulusan yang murni. "Melihat Mbak menderita kemarin membuat saya sadar bahwa saya tidak hanya ingin menjadi pelindung. Saya ingin menjadi alasan Mbak tersenyum setiap pagi. Saya mencintai Mbak Livia. Bukan sebagai mahasiswa yang mengagumi seniornya, tapi sebagai laki-laki yang ingin menemani Mbak membangun kembali hidup ini dari awal."

Livia terpaku. Serbet di tangannya jatuh ke lantai. Suasana apartemen mendadak menjadi sangat sunyi, hanya suara detak jantung mereka yang seolah bersahutan. Ayub tidak menuntut jawaban instan; ia hanya memberikan hatinya yang terbuka lebar di hadapan Livia.

Livia menatap Ayub, melihat luka di bahu pemuda itu yang didapat demi menyelamatkannya. Ada rasa hangat yang merayap di hatinya, namun juga ada rasa takut yang masih membekas.

"Ayub... aku..." Livia menggantung kalimatnya, matanya mulai berkaca-kaca.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!