NovelToon NovelToon
Bukan Bujang Desa Biasa

Bukan Bujang Desa Biasa

Status: tamat
Genre:Beda Usia / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:223.3k
Nilai: 4.8
Nama Author: Kim99

“Menikahlah denganku, Kang!”

“Apa untungnya untukku?”

“Kegadisanku, aku dengar Kang Saga suka 'perawan' kan? Akang bisa dapatkan itu, tapi syaratnya kita nikah dulu.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akang?

"Pergilah!" titah Naura sambil menunjuk ke arah pintu tanpa melihat Nanda. "Aku bilang pergi!"

"Kak, aku beneran enggak ada tempat tinggal, aku ...."

"Aku bilang pergi!" pekik Naura sambil melotot pada perempuan yang mengaku sebagai adik seayahnya. "Kamu pikir mudah menerima semua ini? Kamu pikir hanya dengan kamu mengatakan kalau kamu adalah anak dari si Jerry itu, kami harus dengan sukarela menerimamu?"

Keduanya sama-sama diam. Nanda juga tidak lagi bicara.

"Kamu juga sudah dewasa, Nanda! Kamu bisa saja bekerja mencari uang dengan keringatmu sendiri. Kenapa kamu ke sini?"

"Aku nggak tahu Ayah di mana, dan ibuku juga ya sudah meninggal. Jika aku menikah, kalau Ayah nggak ada aku butuh kalian, aku butuh Raka."

"Apa?" kaget Naura lagi. "Kamu juga tahu Raka?"

Nanda mengangguk. "Ayah udah pernah bilang kalau dia memang sudah punya anak satu anak perempuan dan satu anak laki-laki. Ayah sering bercerita tentang kalian," katanya sambil tersenyum. "dan ayah bilang kalau kalian adalah orang-orang yang baik. Tolong aku, Kak."

Dengan sisa-sisa kesabarannya, Naura berjalan ke arah Nanda, ia mengambil tas besar di sofa sederhana di rumahnya dan melemparkan tas itu ke luar.

Adiknya itu hanya menatap Naura dengan mata berkaca-kaca, bahkan ketika dia diseret keluar, dia berusaha untuk tetap bertahan.

"Kak, tolong. Aku beneran enggak tahu harus ke mana. Aku juga korban, kenapa cuma aku yang enggak punya keluarga, kenapa cuma aku yang sendirian. Aku takut, Mbak tolong."

"Kamu bukan anak kecil Nanda, kami tidak memiliki ruang untukmu di sini. Kalau kamu merasa bahwa dirimu korban, lalu kami ini apa!?"

"Kak, tolong!" Nanda terus memohon saat tangannya diseret dengan paksa oleh Naura. "Sakit, Kak. Kak Naura ...."

"Naura cukup!" titah seseorang yang baru keluar dari pintu kamar. Matanya masih sangat sembab dan tatapannya begitu nanar. "Biarkan saja, malu diliat tetangga."

"Bu ...." Naura hendak protes tapi Nanda tiba-tiba melepaskan paksa tangannya dan bersembunyi di belakang punggung Bu Windi. Dia memeluk salah satu lengannya, takut Naura akan menggusurnya kembali.

"Kamu juga tahu sendiri gimana ayah kamu, jangan kayak gini atuh, mungkin aja Nanda bener kalau dia cuma korban."

"Tapi, Bu ...."

"Udah, kita ngalah aja dulu, Teh. Lagian dia juga udah di sini. Ibu capek, mau istirahat dulu."

"Bu ...." Nanda menatapnya dengan tatapan memelas, mengabaikan Naura yang terlihat masih sangat marah. "Aku ikut ke kamar Ibu, ya. Aku tidur sama Ibu aja enggak papa?"

"Enggak usah sok jadi anak bungsu kamu." Naura menarik tangan Nanda.

"Teh udah, biarin aja!" kata Bu Windi. "Kamu jangan marah-marah. Kamu berbagi kamar aja sama dia, kamu kan bentar lagi mau nikah."

"Enggak mau. Bawa aja dia ke kamar ibu kalau emang itu yang Ibu mau."

Setelah mengatakan itu, Naura menghempaskan tangan Nanda. Dia kembali keluar dari rumah lalu, mengayuh sepedanya tanpa menoleh lagi ke belakang.

"Bu, Teh Ara, Bu."

"Biarin aja!" kata Bu Windi. "Nanti dia pasti balik lagi. Kamu istirahat aja. Masuk ke kamar Ibu."

Mata Nanda langsung berbinar-binar. Perempuan itu tampak sangat bahagia dan buru-buru ikut masuk ke kamar milik Bu Windi.

"Aku pijitin ya, Bu. Sambil mau cerita tentang mama."

"Eummm."

Di sisi lain, Naura kini berada di kebun teh yang ada di pinggir jalan tapi sangat jauh dari pemukiman. Perempuan itu melempar sepedanya sembarangan dan berlari menyusuri jalan setapak yang lebih masuk lagi ke dalam.

"Ba jiiiii ngannnnnnn. Kamu baji Ngan Jerry. Bajingaaaaa nnnnn!" Naura memekik sangat kencang. Urat-urat di lehernya menegang. Air matanya tidak ada tapi dadanya benar-benar sesak. "Kenapa kamu enggak ngilang aja sih, kenapa kamu enggak pulang tapi sekarang malah ngirim anak perempuan lain ke rumah, hatimu di mana, Jerry. Digigit anjing?"

Selama ini Naura tidak pernah mempermasalahkan kalau ayahnya memang tidak pernah pulang. Dia malah sangat-sangat senang kalau di rumah hanya ada dia ibunya dan juga Raka.

Tapi kenapa, kenapa sekarang harus ada orang lain? Dengan nama yang hampir sama dengannya? Kenapa harus seperti itu?

"Kami enggak pernah minta tanggungjawabmu, Ayah. Ibu lebih hebat darimu. Ibu lebih segalanya darimu, kenapa kamu lakukan ini, kenapaaaaaa!" Ia berteriak semakin kencang.

Semua umpatannya tidak pernah benar-benar berhenti. Perempuan itu sampai menggunduli daun teh yang ada di depannya. Bertingkah seolah-olah itu adalah orang yang ingin dia hajar.

"Kamu tahu, Jerry. Setiap malam aku selalu berdoa agar Allah cepet ambil nyawa kamu. Biar Ibu enggak sakit hati lagi, biar ibu enggak kamu siksa lagi, tapi ...."

Naura kini berjongkok, setelah menggunduli satu pohon teh. Dia menutup kedua matanya dengan tangan. Perempuan itu menangis terisak sendirian.

Jika tadi dia masih bisa menahannya, kini dia menangis tersedu-sedu. Perempuan itu tidak perduli walau hujan saat itu mulai turun.

Dinginnya angin tak seberapa dibanding rasa kecewa dan sakitnya dia. Yang paling membuatnya marah adalah ibunya. Kenapa ibunya harus menerima Nanda. Tidak, harusnya dari dulu ibunya sudah menggugat cerai Jerry, tapi karena dia terlalu baik, sampai sekarang, mereka masih sah sebagai suami-istri di atas kertas.

"Abah ...." Naura mulai bergumam, memanggil laki-laki yang sampai saat ini masih sangat dia rindukan. "Aku udah bilang ajakin di Jerry ih. Aku kesel Bah, aku harus gimana?"

Dia terus mengoceh sambil menangis, sampai beberapa saat kemudian dia sadar kalau ada orang yang menaunginya. Perempuan itu mendongak, dia sudah bersiap-siap untuk kabur, tapi malah terjengkang saat melihat sosok di depannya.

"Akang, ke-kenapa Akang di sini?" tanyanya bingung.

Pria itu terlihat begitu menyeramkan, Auranya. Kalau wajahnya seperti opet, Naura pasti akan pingsan. Untung, Sagara setampan malaikat maut dalam Drama.

Pria itu mengulurkan sesuatu, sebuah saputangan untuk Naura. "Ayok pulang!"

Mendengar kata pulang, Naura langsung menggelengkan kepalanya. Dia berpaling, tak mau melihat wajah Sagara.

"Aku enggak mau pulang, Kang. Kalau ke rumah Akang mah mau."

1
Rahmawati Amma
bagus thor saya suka 😍
Rahmawati Amma
di luar prediksi🤣🤣🤣
Rahmawati Amma
ngak bisa berkata-kata 🤣🤣🤣
Rahmawati Amma
🤣🤣🤣
Rahmawati Amma
saya mau kasian tapi ngakak 🤣🤣🤣
Ryan Dynaz
👍💜
Deswita
🙏💪
stnk
😄😄😄😄 si Naura rada2 memmang nih...
Ika Yanti Unyil
ceritanya keren thor
lain dari pada yang lainnya.alurya mengalir meski banyak misteri yang tersembunyi.
endingnya masih ada yang menggantung.mungkin kl ditambah bbrp part lagi masih ok.
terus semangat berkarya thor 🥰🥰🥰
Anita_Kim: Masyaallah, terima kasih, Kak🫶🏻
total 1 replies
sherly
alur ceritanya bagus dan buat gemeeess
sherly
hahaha dah buat zina masih ingat ngucap dia...
sherly
bodoh banget ceweknya...mau2nya dia disemak semak, dilosmen kek kurang modal ya Satya...
Sitirahma Dani
cerita2nya selalu seru untuk di baca,
s3lalu s3mangat ya kk untuk membuat cerita2 baru ...😍
Roesminie
karyanya sangat menyentuh, dan bisa jadi contoh dikehidupan nyata, lanjut 👍👍hebat aq suka
Eka ELissa
lok ada yg baru jgn lupa ksih notif ya Mak....jgn lupa...🌹
Athul Kuswatul Hasanah
Nana... ngajak nikah kaya mau ngajak bli cilok 😄😄😄
fitri
biar virallll🤭
fitri
ngakaknyaaaa aku ..😄😄😄
fitri
😄😄😄
Arin
/Heart/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!