Inayah, gadis cantik nan solehah, lahir disalah satu desa di kota Semarang harus menjalani takdir yang tak di sangka-sangka sebelumnya.
Tragedi tenggelam di sungai demi menyelamatkan baju kesayangan Ibunya, membawa dirinya harus menerima takdir menikah dengan laki-laki menyelamatkannya.
Menikah didesak warga karena sebuah kesalahfahaman. Menerima takdir adalah keputusan akhir yang tidak bisa diganggu gugat lagi.
Inayah yang berprinsip tidak mau berpacaran, dan Mas Gagah yang beberapa bulan lalu di tolak saat melamar kekasihnya. Mereka berdua ditakdirkan menjadi suami istri secara mendadak.
Bagaimana ya perasaan Inayah dan Mas Gagah, campur aduk tentunya.
Bagaimana kisah mereka yang sebenarnya??
Nantikan terus ya setiap episodenya, jangan lupa like, komen dan Vote😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santy puji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 9
Assalamualaikum Readers semuanya, novel Kekasih Halal mohon dukungannya yah dengan cara like (tekan tombol icon jempol di bawah, jangan lupa icon love juga biar selalu tahu jadwal updatenya), komen (kritik, saran, kesan boleh banget😘), dan Vote. Terimakasih ya😘😘
☘️Selamat membaca☘️
(🍁Takdir memang seperti ini, sangat menarik. Semula kau ingin berkelana ke utara, tapi dia malah membuatmu terbang ke selatan, bahkan berpindah dengan sukarela.😁🍁)
Mas Gagah memanggilku, aku lalu mendekat. Salah satu karyawan salon menghampiriku dan membawaku kesalah satu ruangan yang di dalamnya terdapat macam-macam alat make up dan baju-baju mewah tergantung dan tertata rapi.
Aku langsung dieksekusi. Aku duduk, di depanku ada kaca yang begitu besar yang pingirannya dihiasi lampu-lampu begitu terang menyinari wajahku.
Di ruangan itu hanya ada aku dan beberapa karyawan salon yang semuanya wanita, entahlah sekarang Mas Gagah ada dimana. Salah satu karyawan memperkenalkan diri padaku, dia bernama Nani, aku memanggilnya Mbak Nani.
Mbak Nani mulai membuka jarum pentul yang ada dijilbabku. Kini aku hanya menggunakan dalaman jilbab saja. Mbak Nani membersihkan wajahku terlebih dahulu menggunakan toner lalu mulai memoleskan cream wajah setelah itu memoleskan bedak di wajahku.
Selanjutnya aku hanya diam saja saat wajahku mulai dipoles dengan berbagai alat make up.
Polesan demi polesan tangan Mbak Nani membuatku takjup dengan perbedaan wajahku saat ini, sungguh aku di buat menganga dengan tangan ajaib Mbak Nani yang telah mengubahku menjadi begitu cantik.
Selesai makeup aku diajak Mbak Nani ke ruangan ganti. Aku menerima baju dari Mbak Nani yang diberikan padaku, gaun warna biru muda sederhana namun tetap terlihat elegan.
Aku langsung mengganti bajuku dengan gaun yang diberikan Mbak Nani, baju itu terlihat sangat pas di badanku, Mbak Nani begitu pintar memilihkan gaun yang pas dengan ukuran badanku. Aku keluar dari tempat ganti, terlihat Mbak Nani tersenyum padaku.
“Bagus sekali Mbak baju ini, Mbak pintar sekali memilihkan yang pas untukku,” ucapku sambil memegangi gaun indah yang melekat di badanku ini.
“Itu pilihan Mas Gagah.” Mbak Nani lalu menggandengku dan menyuruhku duduk kembali untuk dipakaikan jilbab.
Aku tertegun lalu menelan salivaku, aku seakan tidak percaya jika ini gaun pilihan Mas Gagah, aku lalu mengikuti Mbak Nani duduk di depan kaca besar tadi, dan Mbak Nani mulai memakaikan jilbab di kepalaku dengan kreasinya.
Akhirnya Mbak Nani selesai juga mendandaniku. Aku begitu terkesima melihat diriku sendiri, kali ini seperti benar-benar bukan aku. Aku berdiri lalu mengibas-ngibaskan gaunku dan berputar di depan kaca sambil tersenyum.
“ Terimakasih Mbak, Mbak pintar sekali mendandaniku,” ucapku memuji hasil tangan ajaib Mbak Nani yang telah merubah penampilanku.
“Kamu memang sudah cantik.” Mbak Nani balik memujiku, aku memegangi wajahku, lalu bertanya pada diriku sendiri, apakah aku benar-benar cantik, aku melihat detail wajahku didepan cermin, hidung mancung namun mungil, bulu mata lentikku, dan bibir pinkku, aku baru menyadari jika aku sudah beranjak dewasa dan lumayan cantik menurutku, aku pun tersenyum.
Mbak Nani menyuruhku keluar ruangan karena Mas Gagah sudah menungguku. Aku keluar ruangan sambil di gandeng Mbak Nani.
Mas Gagah sedang duduk dan sudah berpakaian rapi dengan setelan kemeja dan jasnya. Aku melihat ekpresi terkejut Mas Gagah saat melihatku digandeng Mbak Nani.
Mas Gagah langsung berdiri lalu menghampiriku, menatapku dengan tatapan kekaguman. Setelah sampai di depanku lagi-lagi Mas Gagah mengusap kepalaku. Hatiku kembali berdesir.
“Cantik.” Sepatah kata yang keluar dari mulut Mas Gagah yang membuat wajahku merona seketika, untung saja tertutup blush on sehingga tidak begitu terlihat jika aku sedang menahan malu karena pujian Mas Gagah.
“ Terimakasih, ini karena Mbak Nani yang sangat pintar merias.” Aku berusaha merendah.
“ Ah tidak juga, itu karena kamu memang aslinya cantik.” Mbak Nani memujiku lagi.
Aku hanya tersenyum lalu menunduk.
Mas Gagah menyuruh Mbak Nani memilihkan sepatu dan tas yang cocok untukku. Mbak Nani langsung menggendeng lagi tanganku dan mengajakku ke salah satu ruangan lagi.
Lagi-lagi aku dibuat takjup, ruangan yang begitu besar yang berisi sepatu mewah dan tas mewah. Mbak Nani mulai memilihkan untukku, aku berpesan agar dipilhkan sepatu flat saja karena aku tidak bisa menggunakan sepatu dengan hak tinggi, untung saja Mbak Nani mengerti kondisiku, ia memilihkan sepatu flat untukku dan dompet kecil berwarna putih, menurutnya dompet kecil ini sangat cocok untuk dibawa ke acara pernikahan. Aku menuruti perkataan Mbak Nani, bagiku Mbak Nani pasti lebih faham dengan fashion.
Aku memakainya lalu keluar ruangan untuk bertemu dengan Mas Gagah, Mas Gagah tersenyum melihatku, Mas Gagah meminta bantuan Mbak Nani agar memfotoku dengan Mas Gagah.
Aku berdiri di sebelah Mas Gagah, tinggiku hanya sebatas pundak Mas Gagah, aku sangat mungil jika berdiri di sebelahnya.
Mas Gagah lalu melingkarkan tangannya di bahuku dan Mbak Nani mulai memfoto dengan ponsel milik Mas Gagah.
Aku terkejut ketika tangan Mas Gagah melingkarkan tangannya di bahuku walaupun hanya berlangsung beberapa detik.
Aku dan Mas Gagah keluar dari salon lalu bergegas ketempat pernikahan temannya itu. Di mobil aku melihat Mas Gagah sering sekali curi pandang ke arahku, aku mulai tidak nyaman dengan situasi seperti ini, aku yang semula memandang kearah jalanan depan, sekarang aku arahkan pandanganku ke arah jendela samping, melihat gedung-gedung yang menjulang tinggi.
menurut ku ya thor 🤭✌