VANO SALVATRUCHA
Putra dari Vino Salvatrucha dan Vira Laurent. pria yang mengambil hampir seluruh sifat ayahnya itu kini tumbuh dewasa, Vano mengambil alih seluruh kekuasaan Salvatrucha dari tangan orangtuanya. Sebagai pewaris satu satunya Vano harus bekerja keras untuk mengembangkan seluruh perusahaan Salvatrucha namun disamping itu sifat gilanya terhadap senjata senjata tajam dan berbahaya memang sudah tidak bisa dihilangkan oleh karena itu selain menjadi pemimpin Salvatrucha Group vano adalah pemberantas mafia terbesar dinegara nya.
Vallen
Gadis delapan belas tahun yang sudah mendapat gelar sebagai pembunuh tanpa ampun, Valen adalah gadis bermata dingin dan tajam. Valen tidak memiliki hati ketika membunuh seseorang, sekali saja dia tahu dirinya dibohongi oleh musuh maka orang itu akan habis ditangan sang mafia unik ini, namun karakter yang dimiliki Vallen berbeda beda. ada saatnya dia menjadi kucing kecil penurut namun ada saatnya dia menjadi gadis tangguh yang membunuh seluruh musuhnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosma Yulianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10
Disaat keadaan sudah mulai tenang, Vino sebagai kepala keluarga disana memimpin diskusi untuk tindakan selanjutnya atas kasus putranya.
Namun sebelum itu Vano diseret kedalam kamar oleh Vino untuk menjelaskan semuanya.
"Katakan!!" Titah Vino tegas.
"Umi melihat Vano sedang,,,,," Vano sendiri tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi pada abinya.
"Siapa gadis itu?" Tanya Vino.
"Musuh!" Jawab Vano mengubah ekspresi nya.
"Setidaknya jangan mencari masalah seperti ini dengan musuh bodoh!!" Ujar Vino melempar bantal Vano.
"Abi gadis itu yang memeluk ku, aku tidak pernah menyentuh nya sama sekali dan umi datang disaat dia sedang,,,aaaahhh!!!" Vano merenggut rambutnya karena frustasi.
"Kau juga sudah melanggar peraturan umi mu, kau sudah berjanji penuh akan bertanggung jawab atas perbuatan mu ketika melangkahkan kaki keluar dari rumah" ucap Vino mengingatkan kembali janji putranya waktu itu.
Vano diam tidak tau harus bagaimana lagi membela diri, kepalanya terasa pusing memikirkan langkah selanjutnya.
Ceklek
Vira masuk membawa Vallen, Vano langsung berdiri dan menjauhkan uminya dari gadis itu.
"Umi apa yang kau lakukan!" Vano sedikit emosi khawatir jika gadis itu melukai Vira.
"Besok!" Ucap Vira.
"Besok apanya sayang?" Saut Vino mendekati Vira.
"Putramu menikahi gadis ini" jawab Vira menatap Vallen.
"Jangan bercanda umi, aku tidak mengenal nya sama sekali aku tidak tau namanya aku tidak tau orangtuanya aku tidak tau asalnya dan aku tidak tau Tuhannya" kata Vano.
"Sayang siapa namamu?" Tanya Vira menatap Vallen dan mengabaikan ucapan putranya.
Vallen mengerti bahasa manusia namun ia enggan berbicara, dia hanya mengangkat tangan lalu menunjukkan sebuah nama di lengannya.
"Vallen, Vallen orang tua mu dimana?" Tanya vira.
Vallen mengangkat bahu seolah-olah dia hanya sedang melakukan tanya jawab.
"Siapa Tuhan mu?" Tanya Vira sedikit ragu melihat penampilan Vallen seperti bukan gadis biasa.
Vallen melihat sekeliling, kakinya melangkah mencari sesuatu untuk menjawab pertanyaan dari Vira. Vallen menunjuk sebuah Al Qur'an diatas meja, sebenarnya Vallen sendiri tidak tahu jawaban untuk pertanyaan yang satu ini karena dia tidak pernah mendapat pertanyaan seperti itu.
Huuhh
Vira menghembuskan nafas lega, apa yang ia takutkan tidak terjadi. Mereka sama tapi disisi lain Vano tidak akan pernah yakin dengan jawaban Vallen.
"Apa yang kau tunggu? Masih tidak ingin bertanggung jawab?" Tanya Vira mengalihkan pandangannya pada Vano.
"Umi bisa tinggalkan aku sebentar? Vano janji tidak akan menyentuh ataupun menatap nya tidak akan" ucap Vano memegang tangan Vira.
"Cih kau pikir setelah umi melihat kejadian itu umi akan percaya"
"VANO AKAN BERTANGGUNG JAWAB PENUH UMI" ucap Vano memberikan penekanan pada setiap perkataan nya.
"Bagus!" Vira menarik suaminya keluar dari kamar membiarkan Vano berbicara sebentar dengan Vallen.
"Awasi gadis ini, ada yang tidak beres dari wajahnya!" Bisik Vino disaat melewati Vano.
Setelah orangtuanya keluar Vano duduk di atas ranjang menopang wajah dengan tangan yang dipangku oleh lututnya.
"Aku tidak ingin bercanda Vallen, katakan siapa dirimu dan pergi dari sini, aku tidak akan mengganggumu pergilah jalankan aksimu sebagai ketua mafia dan aku tidak akan menangkap mu" ucap Vano frustasi.
"Berani kau mendekati ku nyawamu habis dengan pistol ini!!" Ancam Vano padahal dia tidak akan pernah melakukan itu pada siapapun.
Vallen menggelengkan kepala lalu duduk di atas lantai menatap Vano.