“Aku menghamilinya, Arini. Nuri hamil. Maaf aku selingkuh dengannya. Aku harus menikahinya, Rin. Aku minta kamu tanda tangani surat persetujuan ini.”
Bak tersambar petir di siang hari. Tubuh Arini menegang setelah mendengar pengakuan dari Heru, suaminya, kalau suaminya selingkuh, dan selingkuhannya sedang hamil. Terlebih selingkuhannya adalah sahabatnya.
"Oke, aku kabulkan!"
Dengan perasaan hancur Arini menandatangani surat persetujuan suaminya menikah lagi.
Selang dua hari suaminya menikahi Nuri. Arini dengan anggunnya datang ke pesta pernikahan Suaminya. Namun, ia tak sendiri. Ia bersama Raka, sahabatnya yang tak lain pemilik perusahaan di mana Suami Arini bekerja.
"Kenapa kamu datang ke sini dengan Pak Raka? Apa maksud dari semua ini?" tanya Heru.
"Masalah? Kamu saja bisa begini, kenapa aku tidak? Ingat kamu yang memulainya, Mas!" jawabnya dengan sinis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hany Honey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepuluh
Heru masih belum pergi dari rumahnya, ia masih membujuk dan terus membujuk Arini supaya mengizinkan dirinya menikahi Nuri secara sah. Arini sampai menutup telinganya, karena terus mendengar permohonan dari Heru.
“Heru, stop! Berisik kamu tuh, ya!” bentak Arini. “Mending kamu pergi dari sini! Pulang sana ke rumah perempuan murahan itu!” usir Arini.
“Rin ... aku mohon sama kamu, kamu dan Nuri sama-sama perempuan, mengertilah. Toh kamu kan belum bisa punya anak, Rin?”
“Aku memang belum bisa ngasih kamu keturunan, Mas! Tapi bukan seperti ini yang aku inginkan! Jadi mending kamu pulang!”
Heru benar-benar sulit membujuk Arini. Biasanya Arini hatinya tidak sekeras saat ini. Dengan berbagai rayuan pun Arini masih mempertahankan pendiriannya.
Nuri dari tadi menghubungi Heru, akan tetapi puluhan kali Nuri meneleponnya, Heru tidak menjawab telefonnya. Nuri kesal dengan Heru, akhirnya ia memutuskan untuk menyusul Heru di rumah Arini.
Sesampainya di rumah Arini, Nuri langsung masuk ke dalam. Tanpa permisi lebih dulu. Ia berteriak-teriak memanggil Heru, karena ia ingin Heru pulang ke apartemennya.
“Heru ... kamu di mana sih! Pasti mereka di kamar, aku gak akan biarkan Heru menyentuh Arini lagi! Gak akan!”
Nuri langsung ke kamar Arini, dia langsung membuka pintu kamar Arini yang tidak terkunci.
“Oh jadi gini, ya! Katanya mau cepat pulang! Kamu gak tahu aku sedang hamil, Her? Malah senang-senang gini!” Nuri datang langsung marah-marah pada Heru.
“Kamu juga, Rin! Kamu tahu aku hamil, aku lebih butuh Heru daripada kamu! Heru itu mau punya anak dariku! Aku hamil anaknya Heru! Mikir dong kamu ini mandul, jadi gak usah manja minta ditemani Heru! Gak tahu diri banget sih!”
Arini melotot mendengar ucapan Nuri. Bisa-bisanya Nuri berkata seperti itu. Siapa yang tidak tahu diri? Dia atau dirinya. Arini tersenyum miring, bisa-bisanya perempuan murahan itu mengatakan dirinya tidak tahu diri.
“Aku tidak tahu diri? Kamu kali yang gak tahu diri? Aneh, yang ngerbut suami orang siapa, yang jadi pengganggu rumah tangga siapa, aku yang dibilang gak tahu diri. Kalau aku gak tahu diri lantas kamu apa? Jalang!” umpat Arini.
“Jaga perkataanmu!” pekik Nuri.
“Hellow ... harusnya kamu yang jaga mulutmu itu! Gak mau apa sih kamu, sudah jadi perempuan penghibur laki orang yan gabut, hamil pula, eh omongannya gak bisa dijaga?”
Plak!!!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Arini. Arini memegang pipinya, ia menatap tajam pada Nuri , dengan tatapan penuh amarah dan kemurkaan. Arini mencengkeram bahu Nuri dengan kencang, ia menggoncangkan tubuh Nuri dengan keras.
“Kau tidak tahu malu, Jalang!” teriak Arini di depan wajah Nuri.
“Arini, Nuri, stop!” teriak Heru.
“Kamu juga, Nur, datang-datang langsung memaki orang, menampar orang!” ucap Heru geram.
“Oh jadi kamu bela perempuan mandul ini, Heru! Dia gak bisa punya anak, Her! Aku yag sedang hamil anakmu, tapi kamu bela dia?! Keterlaluan kamu, Her!”
“Kamu punya sopan-santun tidak sih, Nur?”
“Masih bela perempuan mandul, Her?” ucap Nuri dengan penuh kekecewaan.
Arini yang dibilang mandul, ia mengepalkan tangannya. Ingin rasanya menonjok wajah mulus Nuri.
“Pulang Nur, pulang! Kamu jangan macam-macam sama Arini!” bentak Heru.
“Pulang sana!” usir Arini dengan mendorong tubuh Nuri.
“Kau berani mendorongku!”
“Jangan injakkan kakimu di sini lagi, Jalang!” teriak Arini.
Nuri kembali melayangkan tangannya, dengan sigap Arini mencekal tangan Nuri dan menjambak rambut panjang Nuri.
“Kau tidak tahu malu, ya? Sudah merebut suami orang, bertingkah seenaknya di rumah orang!” geram Arini.
“Rin lepasin! Dia sedang hamil!” bentak Heru.
“Hamil? Hamil anak haram! Meski nikah sah, anakmu ini anak haram! Atau jangan-jangan anak ini bukan anak Heru? Tapi anak dari laki-laki lain?”
“Jaga ucapanmu Arini! Lepaskan Arini, sakit!”
“Oh sakit?” Arini tambah kencang menarik rambut Nuri.
“Rin lepaskan Nuri!” pekik Heru.
Arini tersenyum miring, ia tidak menyangka Heru akan membela wanita jalang itu. Arini melepaskan Nuri, mendorong tubuh Nuri ke arah Heru. Ia masih punya hati nurani, kalau saja Nuri tak hamil, ia akan mendorong keras Nuri ke lantai, bahkan menonjoki wajahnya.
Nuri tidak terima didorong oleh Arini, ia kembali mencengkeram lengan Arini, lalu menampar Arini lagi. Arini yang tidak terima, ia pun menampar Nuri, bahkan dia sampai mencakar pipi mulus dan lengan Nuri dengan kuku panjangnya.
“Akkhhh!!! Sakit!” pekik Nuri.
“Arini, apa yang kamu lakukan pada Nuri!”
“Ya begitu, dia yang mulai, mana bisa aku diam? Sana pulang!” usir Arini.
“Kau!” Heru memarahi Arini dengan menunjuk wajah Arini menggunakan satu jarinya.
“Kenapa aku? Wajar dong aku melakukan itu? Aku melindungi diriku dari serangan wanita jahanam itu!”
“Ayo pulang, Nur!” ajak Heru.
Percuma Heru berdebat dengan Arini. Arini kalau sudah seperti ini, dia tidak akan pernah mau dibujuk. Memang salah Nuri yang mulai menyulut emosi Arini. Heru tahu Arini seperti itu orangnya, kalau dia diusik, dia akan balas dengan kejam. Apalagi Arini jago beladiri.
Nuri kesal dengan Heru, kenapa Heru tidak membalaskan perbuatan Arini, malah langsung mengajaknya pulang. Nuri masih kesakitan, pipi dan lengannya perih karena sayatan dari kuku Arini.
“Kamu kenapa malah ajak pulang? Kenapa gak balas dia yang udah cakar aku gini, Her?” ucap Nuri kecewa.
“Kamu belum tahu Arini, Nur! Aku bilang sudah gak usah macam-macam sama dia, gak usah mulai cari gara-gara sama dia! Aku di sana sedang bujuk dia supaya dia mengizinkan aku menikahimu secara sah. Aku lagi bicara baik-baik sama dia, malah kamu bikin kacau. Ya sudah terima resikonya sendiri, bahkan Arini tidak akan menyetujui kita menikah sah gara-gara kamu ini!” ucap Heru kesal.
“Oh jadi kamu nyalahin aku? Aku jadi korban cakaran dia, Her! Kamu malah bela dia!”
“Kamu cari gara-gara dulu sama dia, jadi tanggung sendiri akibatnya!”
Sampai di apartemen Nuri, Heru mengompres luka di wajah dan lengan Nuri, ia memberikan salep pada lukanya Nuri. Nuri meringis kesakitan, karena cakaran dari kuku Arini lumayan dalam.
“Perempuan sialan! Tunggu pembalasanku nanti!” batin Nuri dengan kesal.
^^^
Arini masih menangis, ia bahkan sampai meraung, menumpahkan semua emosi dan kesedihannya. Heru benar-benar telah berubah. Ia bahkan tak mengenali Heru yang dulu.
Ponsel Arini bergetar, ada telefon masuk dari Raka. Arini tidak mengangkatnya, namun Raka terus menelefonnya, dan tetap saja Arini tidak mau menjawab telefon dari Raka.
“Arini ... Rin ... apa kamu baik-baik saja?”
Raka ternyata sudah berada di rumah Arini, dia dari tadi melihat keributan di rumah Arini. Arini tersikap mendengar suara Raka yang memanggilnya. Raka membuka pintu kamar Arini, dan melihat Arini yang sedang menangis di atas tempat tidur dengan memeluk lututnya.
“Rin ....” Raka mendekati Arini, dan memeluk Arini. Tangis Arini pecah di pelukan Raka.