Garis kehidupan setiap orang kadang berliku. Awalnya mungkin sedikit menyimpang, tapi tujuan akhir yang ditentukan Tuhan tidak pernah meleset. Demikianlah yang terjadi dengan kehidupan Darel dan Dara di kisah sebelumnya.
Novel lanjutan ini akan mengisahkan:
》Perjalanan hidup Darel dan Dara selanjutnya bersama kedua anak mereka.
》Begitu juga dengan garis kehidupan Mikha dan Manche yang terhisap dalam lika liku kehidupan cinta Darel dan Dara sebelumnya.
Selamat membaca.
Semoga terhibur. 🙏🤗💖
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Keluarga Darel.
...~•Happy Reading•~...
Setelah Kandara berlalu, Darel memeluk Mommy nya, lalu mengusap punggungnya, pelan. "Mom, Darel dan Dara bukan seperti Mommy dan Daddy yang sudah lama bertemu. Kami baru bertemu, dan latar belakang kami sangat berbeda. Pikiran Dara sangat sederhana, berada di sekitar orang-orang yang dia sayang, itu sudah cukup baginya." Darel berkata sambil terus memeluk Mommy nya dengan sayang.
"Jadi nanti Mommy tidak usah bicarakan tentang hadiah pernikahan Mommy dan Daddy untuk kami. Bukan kami tidak hargai pemberian Mommy dan Daddy. Tetapi kalau Mommy mau rubah hadiahnya dalam bentuk yang lain, silahkan." Darel berharap, Mommy nya tidak membicarakan hadiah pernikahan yang disiapkan di depan Kandara. Sehingga membuat Kandara serba salah, karena tidak enak hati untuk menolak.
"Darel berharap, Mommy bisa yakinkan Dara untuk pergi ke Jeju saja. Di sana mungkin lebih tenang untuk bicarakan masa depan keluarga kami, keluarga kita. Darel juga berharap, Mommy mendukung semua keputusan Darel, agar Darel tidak berat jalani apa yang Darel putuskan." Darel berkata pelan tapi serius, sebab dia belum bicarakan keputusannya dengan kedua orang tuanya. Dia mengijinkan Kandara tinggal di Indonesia, sebab Bu Selvine akan sendiri, jika ditinggal Kandara dengan kedua anaknya.
Bu Richel balik memeluk putranya dan menepuk punggungnya pelan, tanda mengerti maksudnya. Banyak hal yang perlu diselesaikan oleh Putranya, karena latar belakang kehidupannya dengan Kandara yang berbeda.
Darel baru menyelesaikan satu persoalan, yaitu mensahkan pernikahannya. Sehingga anak-anaknya memiliki status yang jelas di depan masyarakat, hukum dan Tuhan.
Sedangkan mengenai perasaan, hanya mereka berdua yang tahu dan Tuhan. Bu Richel bersyukur, sikap dan cara perlakuan Kandara kepada putranya menunjukan dia mencintai Darel.
Semoga cintanya sangat besar, sehingga mampu hadapi tantangan hidup rumah tangga mereka. Selain perbedaan status sosial, pekerjaan, mereka juga berbeda negara yang berbeda pula budaya, tata cara jalani hidup. Sehingga butuh banyak waktu untuk adaptasi dan penyesuaian dari kedua belah pihak.
"Mommy dan Daddy tidak kecewa dengan penolakan kalian. Kami mau berikan hadiah pernikahan itu, karena sudah pikirkan baik-baik keadaan kalian. Kami ingin kalian memiliki banyak waktu berdua, untuk bicarakan masa depan keluarga kalian. Setelah ini, kalian akan sangat sibuk dan memiliki waktu bersama yang terbatas." Bu Richel berbicara pelan, sambil terus menepuk pelan punggung Darel.
"Pernikahan kalian ini bukan akhir dari persoalan yang kau hadapi, Darel. Tetapi ini adalah awal dari persoalan hidupmu. Mommy dan Daddy yakin, kau bisa atasi berbagai persoalan di antara kalian, nanti.
Jangan lupa libatkan Tuhan, agar kalian berdua mampu melewati semua perbedaan dan tantangan." Bu Richel berkata dengan serius dan sayang sambil terus menepuk punggung Darel.
Yang lain hanya melihat dari jauh, sambil berpikir masing-masing tentang apa yang dibicarakan Bu Richel dan Darel. Sedangkan yang ada di pikiran Pak Darpha, Darel sedang berusaha meluluhkan hati Mommy nya. Mengingat itu, Pak Darpha tersenyum dalam hati.
"Mommy, cukup. Nanti diteruskan lagi. Mommy jadikan kami seperti perabot kamar hotel." Mikha tiba-tiba sudah berada di dekat Bu Richel dan Darel, lalu lakukan protes sambil tersenyum.
"Kau menguping protes Mommy untuk mereka tadi?" Bu Richel melepaskan pelukannya pada Darel, lalu memukul pelan lengan Mikha.
"Tidak menguping, Mom. Tapi sudah tahu cara Mommy protes, jika kami keasyikan sendiri dalam membahas sesuatu." Mikha berkata sambil tersenyum, lalu memeluk Bu Richel yang hendak memukulnya lagi. Dia dan Darel sudah mengenal baik cara Mommy nya protes dan cara meluluhkan hatinya.
"Kalian selalu punya cara untuk meluluhkan hatiku. Sana, bicarakan yang mau kalian kerjakan." Bu Richel berkata sambil mendorong tubuh Mikha dan memukul lengannya dengan sayang.
"Sebenarnya, aku bukan mau mengganggu Mommy dan Darel, tapi mau info. Asisten Darel menghubungiku, karena mau bicara dengan boss nya. Katanya, sudah menghubungi boss nya dari tadi, tapi tidak direspon. Penting katanya..." Mikha menyampaikan apa yang dikatakan asisten Darel kepadanya, sambil menunjuk ponselnya sebagai isyarat kepada Darel untuk segera hubungi asistennya.
"Oh. Ponselku disilent. Sebentar..." Darel mengeluarkan ponselnya dari kantong celana untuk memastikan yang dikatakan Mikha. Kadang Mikha suka menolong Darel dari Mommy nya, dengan cara mengganggunya.
Ketika melihat banyak panggilan tidak terjawab, Darel mengangkat tangannya ke arah Mikha dengan jarinya membentuk tanda 'OK'. Darel tidak ikut berjalan mengikuti Bu Richel dan Mikha untuk berkumpul dengan yang lain, tapi langsung menghubungi asistennya untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.
'Ada apa sebenarnya, hingga asistennya hubungi berkali-kali.' Darel bertanya dalam hati, sambil menghubungi asistennya.
Setelah berbicara dengan asistennya, Darel segera mendekati Pak Darpha lalu berbicara pelan, tapi serius. Mendengar apa yang dikatakan Darel, Pak Darpha mengangguk kuat lalu bicara dengan istrinya.
"Mikha, tolong hubungi restoran untuk batalkan makan malam di sini. Kita akan makan malam di rumah." Darel berkata cepat, setelah pembicaraannya disetujui oleh Pak Darpha.
"Dara, tolong siapin anak-anak, kita segera pulang ke rumah. Nanti di jalan baru kita bicarakan." Darel berkata sambil memeluk Kandara, minta pengertiannya. Kandara mengangguk cepat, lalu melepaskan pelukannya dari Darel.
Dia tidak bertanya apa pun kepada Darel, karena perubahan yang tiba-tiba. Dia yakin, sedang terjadi sesuatu yang membuat perubahan rencana mereka. Dia bisa melihat dari apa yang dilakukan Darel dan Pak Darpha, juga Bu Richel. Mereka langsung menelpon dan berbicara serius dengan orang yang dihubungi.
"Mikha, mobil Daddy masih ada di hotel. Jadi kita pakai satu mobil saja. Tolong atur dengan security untuk mengeluarkan Darel, Dara dan anak-anak. Nanti Bu Selvine ikut dengan kami." Pak Darpha berkata cepat, setelah berbicara dengan sopir dan mengetahui mobilnya masih ada di parkiran hotel.
Bu Selvine segera membantu Kandara merapikan semua yang akan dibawa. Sedangkan Darel dan Mikha berjalan keluar kamar menuju kamar masing-masing, setelah Darel menjelaskan apa yang sedang terjadi dan apa yang akan dilakukan.
Setelah dapat informasi dari security, Mikha kembali bertemu dengan Darel. "Lebih baik, kalian semua langsung ke tempat parkir. Tidak usah lewat lobby, karena masih ada para media." Mikha berkata kepada Darel yang sudah kembali ke kamar anak-anak. Darel mengangguk, menyetujui saran Mikha.
"Efra, nanti langsung ke kamar uncle, ya. Selesai kerja, uncle akan pulang ke rumah." Mikha berkata sambil mengelus kepala Efraim.
"Sampai bertemu di rumah." Mikha berkata sambil mencium pipi Efrima, lalu memeluknya. Mikha tersenyum dalam hati, melihat Efrima yang sedang menunggu untuk berpamitan dengannya.
"Jangan lama-lama ya, uncle. Jangan pulang, Efri sudah tidur." Efrima balik memeluk Mikha lalu mengingatkan Mikha yang sering pulang malam. Mikha tersenyum lalu mengacak rambut Efrima dengan sayang.
Setelah melewati berbagai rintangan, Darel sekeluarga tanpa Mikha sudah berada dalam mobil Pak Darpha menuju mansion. Mereka semua diam dengan pikiran masing-masing tentang perubahan yang tiba-tiba.
"Dara. Setelah tiba, aku ada pertemuan. Tolong bicara dengan anak-anak, ya. Aku usahakan kita bisa makan malam bersama." Bisik Darel kepada Kandara, saat mereka masih dalam mobil sambil menggenggam tangan Kandara yang duduk di samping kirinya.
...~•••~...
...~●○♡○●~...
Terimakasih buat authornya..