Azahra Micel Bagaskara harus menelan rasa kecewa karna Sky sang pacar hanya menjadikan nya sebuah ajang belas dendam.
"Gua gak akan pernah maafin lu Kak," ucap Zahra menahan rasa kesal.
"Gua bisa jelasin Ra, gua beneran sayang sama lu," ucap Sky memelas.
"BULSYIT!!!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dwirara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kecemasan Marsya
Zahra pun menarik tangan Sky ke taman belakang, taman itu nampak sepi dan jarang di kunjungi para siswa, dia tidak mau teman-teman nya salah paham karna kedakatan mereka.
"Gue bakal nepati janji gue dan loe gak usah ganggu gue lagi," ucap Zahra melepaskan tangan nya dia benar-benar kesal sekali dengan kakak kelas nya itu.
"Oke," ucap Sky enteng dia menatap wajah Zahra yang tampak cantik hari ini.
Zahra pun memberikan sebuah kartu Atm ke tangan Sky."Di situ ada tabungan gue 10juta loe bisa ambil semua nya nanti gua kirim sisa nya," ujar nya sedikit menahan kesal, dia akan merelakan uang itu untuk mengganti ponsel yang tak sengaja dia pecahkan.
"Gimana gue bisa percaya kalo atm ini ada duit nya? lagian mana cukup 10 juta buat ganti ponsel mahal gua becanda aja lu," ucap Sky membuat Zahra semakin kesal.
Sungguh mulai lagi sombong nya, Zahra juga tahu kalo ponsel Sky sangat bagus dan malah tapi apa tidak ada keringan baginya kenapa harus ganti seharga dengan ponselnya itu.
"Ya udah kalo gak mau gua udah berusaha bertanggung jawab ya atas kesalahan yang gua buat meski gua ngelakuin nya tanpa sengaja, kalo lu mau gua ganti sekarang gua gak bisa karna gua gak punya uang sebanyak itu," ucap nya kesal Zahra beranjak pergi meninggalkan nya namun baru saja selangkah tangan nya di tarik oleh Sky.
"Awww...," ringis nya, Sky pun langsung melepas kan nya dia lupa kalo tangan Zahra terluka.
"Apa lagi sih kak loe itu terlalu banyak drama tahu gak, gue udah mau ganti rugi loe nya malah gak mau, mau lu apa sih hemm," ujar nya membuat Sky diam.
Tret
Tret
Bel pun berbunyi tanda istirahat pertama selesai namun melihat Sky yang diam saja membuat Zahra tambah kesal dia pun pergi meninggalkan Sky sendiri.
"Zahra... hey loe mau kemana?" ucap Sky melihat Zahra sudah pergi menjauh.
"Sial seharus nya gue tadi bilang apa yang harus dia lakukan," guman nya segera pergi dan masuk ke dalam kelas.
.
Di dalam kelas Zahra sudah duduk di kursinya, dia benar benar sangat gerah sekali dan langsung mengambil aqua dari dalam tas nya dan segera meminum nya.
"Dari mana loe?" bisik Ciya penasaran.
"Dari taman belakang," jawab nya jujur, karna Zahra tidak pernah menutupi apapun dari kedua sahabatnya itu.
Namun Ciya tidak percaya begitu saja, dengan perkataan Zahra, dia harus bertanya lagi nanti saat istirahat kedua karna pelajaran akan segera di mulai.
Ciya ingin tahu apa yang Zahra lakukan bersama Sky, dan apa itu cuma karna masalah ponsel itu.
Nilai ulangan yang kemarin pun di bagikan oleh pak Sapto hanya Zahra saja yang tak mendapatkan nilai.
Dan Pak Sapto pun memberikan dua kali lipat soal untuk Zahra, membuat nya tambah pusing saja.
"AZAHRA MiCEL BAGASKARA," panggil pak Sapto.
"Iya Pak," jawab nya.
"Untuk nilai kali ini kamu dapat nol, saya akan memberikan tugas untuk kamu dan itu bisa memperbaiki nilai kamu, nanti kamu ke ruangan saya saat istrirahat ke dua," ucap nya dan Zahra pun hanya bisa pasrah menerima hukuman itu.
"Baik pak," jawab nya.
Namun Zahra sangat bersyukur karna guru itu berbaik hati memberikan kesempatan untuknya mengisi soal walau harus dengan cara menyusul.
"Ahh sial, udah di jemur tambah tugas juga," batinnya menggerutu kesal.
Sedangkan Mona nampak menahan senyum nya dan bersorak dalam hatinya.
"Rasain lu emang enak, makanya jangan macam macam sama gua," batinnya.
Ciya pun tak bisa apa-apa dia hanya bisa menyemangati sahabat nya itu, semoga Zahra bisa menyelesaikan tugas itu dengan cepat.
"Semangat ya Ra loe pasti bisa," ucap Ciya dan Zahra pun tersenyum.
Mereka pun menyimak apa yang di bahas oleh Pak Sapto, mereka juga mencatat beberapa materi yang di sampaikan hingga istrirahat ke dua pun tiba.
Zahra pun keluar mengikuti Pak Sapto menuju ruangan nya, dia berharap soal yang di berikan bisa dia selesaikan dengan cepat.
"Silahkan duduk," ucap Pak Sapto, Zahra pun duduk di depan guru nya itu.
"Zahra sebenar nya kamu anak yang pintar, saya kecewa kenapa kamu tidak mengerjakan tugas dari saya," ucap nya kecewa dengan sikap Zahra.
"Maafkan saya pak, saya akan memperbaiki diri saya agar bisa lebih baik lagi," jawab nya menunduk dia tahu semenjak sering begadang dia jadi jarang belajar.
"Oya untuk acara study tour Raka sudah mengantongi izin dari kepala sekolah dan kamu bisa membantu dia," ucap nya.
"Baik pak saya akan membantu Raka," ucap nya.
Zahra pun mengisi soal itu dengan mudah, untung saja dia masih mengingat materi materi yang di sampaikan Pak Sapto beberapa minggu yang lalu.
Sedangkan di luar sekolah nampak Marsya turun dari motor nya, dia sengaja menitipkan motornya di warung bu Diah.
Karna Marsya juga dulu bersekolah di sana jadi dia sangat menenal pedagang seblak yang ada di depan sekolah itu.
"Titip motor bentar ya bu," ucap nya.
"Iya neng Aca, tumben main kesini ada apa?" tanya bu Diah.
"Mau ketemu sama adik aku, tadi pagi dia gak sempat pamit," ucapnya dan Bu Diah pun mengangguk.
Marsya pun berjalan ke dalam sekolah, dia sudah menghubungi Zahra berkali kali namun gadis itu tidak mengangkat ponselnnya.
Marsya pun melihat Arya dia mengenal pemuda itu karna dulu tetanggaan dengan Zahra.
"Arya kamu liat Zahra gak?" tanya Marsya membuat mereka bengong, siapa yang tidak kenal dengan Marsya seorang atlit beladiri.
"Tadi sih ketemu di kantin tapi sekarang gak tahu kemana," jawab nya.
"Eh itu ada Mika sama Ciya, coba kak Asa tanya mereka," ucap nya dan Marsya pun mengangguk.
"Makasih ya, kakak tinggal dulu," ujar nya dan Arya pun mengangguk.
Setelah kepargian Marsya mereka pun nampak menatap Arya seolah ingin tahu kenapa Arya mengenal Marsya.
"Jelasin sam kita kenapa lu bisa kenal sama Kak Marsya," ucap Bimo penasaran.
"Dia sepupu nya Zahra, kan gua udah jelasin kalo dulu Zahra tetanggan sama gua jadi gua kenal sama kak Marsya," jelasnya membuat mereka mengerti.
Sedangkan Marsya segera menghampiri mereka yang sedang asyik bercanda.
"Mika, Ciya mana Zahra?" tanya Marsya benar benar khawatir takut Zahra kenapa napa.
"Zahra sedang ngerjain tugas di ruangan nya pak Sapto," ucap Mika.
"Cuma berdua?"
"Maksud nya apa?" tanya Ciya tidak mengerti sedangkan Mika segera menjawab pertanyaan Marsya.
"Enggak kok di sana ada guru guru yang lain bukan cuma mereka berdua," ucap Mika membuat Marsya bernafas lega.
"Oh syukurlah kalo begitu, apa kondisi Zahra baik baik saja? kakak sangat cemas sekali," ucapnya.
"Emang nya Zahra kenapa?" tanya Mika yang belum melihat luka di tangan sahabat nya itu.
Marsya pun menjelaskan semua dan mereka nampak kaget karna saat berpisah jalan Zahra masih baik baik saja.