NovelToon NovelToon
Digigit Mbak Janda

Digigit Mbak Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Janda / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta pada Pandangan Pertama / Kaya Raya
Popularitas:79
Nilai: 5
Nama Author: Raey Luma

"Jangan menggodaku, Rania.” Radit mundur satu langkah, tapi Rania justru mendekat. Tangannya menyentuh dada pria itu, perlahan turun sambil tersenyum nakal. “Kamu yang datang sendiri malam-malam begini,” bisiknya.
Lalu bibirnya menempel di leher Radit, menggigit pelan, meninggalkan jejak merah. “Anggap aja… ucapan selamat datang, dari Mbak janda muda.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raey Luma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Skenario

Pagi itu terasa berbeda.

Langit tampak lebih cerah dari biasanya, dan matahari menggantung manis di atas gedung Mahendra Corp.

Radit baru saja turun dari mobilnya saat melihat beberapa karyawan berkumpul di lobi depan, membisikkan sesuatu sambil saling menyikut dan sesekali menoleh ke arah yang sama.

Alisnya langsung berkerut.

"Apa-apaan ini? Mereka ngebahas aku?" pikirnya sambil melangkah masuk dengan langkah besar dan penuh wibawa.

Seorang staf laki-laki hendak lewat, langsung ia tahan.

"Rama."

Pegawai itu terkejut, hampir menjatuhkan map yang dibawanya. "Iya, Pak?"

"Kamu—"

Namun sebelum kalimatnya selesai, sebuah suara lembut namun penuh percaya diri menyapanya dari belakang.

"Selamat pagi, Pak Radit..."

Radit menoleh.

Dan dunia seolah berhenti berputar.

Rania berdiri di sana, dengan tampilan yang sangat berbeda dari biasanya.

Langkahnya mantap. Cara bicaranya halus tapi mengandung percaya diri yang mencolok. Bahkan cara ia memandang Radit… ada semacam sorotan baru di matanya.

Radit membisu beberapa detik, bahkan lupa bagaimana cara bicara.

Rama yang ada di sampingnya ikut melongo, lalu buru-buru pamit.

“Ran…” Radit akhirnya bersuara, suaranya nyaris pelan.

“Kamu… ngapain?”

Rania tersenyum samar, "Kerja. Seperti biasa."

"Ke ruanganku. Sekarang." ucap Radit cepat, matanya masih tak lepas dari sosok Rania.

Tanpa banyak tanya, Rania mengikuti.

Sepanjang perjalanan, semua mata memandangi mereka—lebih tepatnya memandangi Rania. Dan Radit akhirnya paham kenapa semua orang tadi pagi saling berbisik.

Begitu mereka masuk ruangannya, pintu tertutup rapat, Radit langsung berbalik menghadap Rania.

"Apa yang kamu lakuin pagi ini? Kamu kenapa… kayak gitu?"

“Kayak gimana?” tanya Rania balik, tenang.

Radit menunjuk dirinya, lalu ke arahnya. “Ini. Kamu dandan kayak mau photoshoot majalah, gayamu, bahkan… nada suara kamu. Aku hampir enggak ngenalin kamu tadi. Padahal enggak ada jadwal pemotretan hari ini”

Rania menyilangkan tangan di dada, matanya tetap menatap Radit tanpa gentar.

“Aku cuma mempersiapkan diri. Menyesuaikan… dengan rencana besar yang Papa kamu bicarakan semalam.”

Radit terdiam. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. “Jadi kamu…”

Rania melangkah perlahan, mendekat setengah meter ke arahnya. Kemudian, dengan senyum kecil yang membuat Radit kehilangan kata, ia berkata pelan namun tajam,

“Gimana? Aku udah cukup cocok untuk jadi Nyonya Raditya Mahendra belum?”

Radit langsung tertegun.

Mulutnya terbuka… tapi tak ada suara yang keluar.

Beberapa detik kemudian, ia malah tertawa kecil.

Tertawa yang penuh ketidakpercayaan, sekaligus kekaguman.

“Gila… Kamu serius?”

Rania mengangkat bahu santai. “Kamu yang bilang kamu butuh peran. Aku cuma menjalankan peran itu, sebaik mungkin. Lagi pula… akan lucu kalau calon istri kamu penampilannya masih kayak karyawan yang males nyisir, kan?”

Radit memandangnya dalam-dalam. Kali ini tidak hanya menatap wajahnya, tapi… membaca seluruh dirinya.

Seseorang yang biasanya menantang dan keras kepala, kini berubah jadi versi dirinya yang lebih kuat, lebih tenang, dan… memikat.

“Ran…” Radit berkata pelan, nyaris tak terdengar.

“Kalau kamu terus kayak gini… bisa-bisa aku malah jatuh beneran.”

“Bukannya udah dari kemarin?”

Radit tertawa lagi—keras kali ini.

“Bahaya banget kamu sekarang.”

Rania tersenyum penuh kemenangan. Lalu berbalik.

“Sudah cukup? Aku mau kerja. Biar sahamnya cepat kamu dapet.”

Radit menatap punggung Rania yang menjauh menuju pintu.

Setelah pintu ruangan tertutup, ia tersenyum sendiri.

Perempuan itu... benar-benar berubah.

Bukan cuma penampilan yang memukau, tapi aura, sikap, caranya melontarkan kalimat.

Ada sesuatu di dalam dadanya yang terasa asing.

Hangat, tapi juga menakutkan.

Tapi ia menggeleng cepat, mencoba mengabaikan semuanya. “Siapa peduli?” bisiknya. “Selama peran itu dimainkan dengan sempurna, semua akan berjalan lancar.”

---

Malam harinya.

Restoran bintang lima itu tak pernah sepi. Lampu gantung kristal memantulkan cahaya lembut ke seluruh ruangan.

Radit duduk di salah satu meja VIP paling pojok, mengenakan jas hitam dan kemeja putih bersih. Tatapannya tak pernah lepas dari pintu masuk.

Ponselnya sesekali ia tengok. Pesan terakhir dari Rania hanya berbunyi, "Aku dalam perjalanan. Tunggu aku di dalam."

Hingga…

Suasana di depan restoran perlahan berubah.

Beberapa tamu yang baru saja masuk, refleks menoleh ke satu titik. Suara langkah sepatu hak terdengar tegas tapi ringan, dan udara seolah ikut menyesuaikan kehadirannya.

Radit mendongak.

Matanya membelalak.

Untuk sesaat... ia hampir tidak mengenali perempuan itu.

Rania.

Tapi bukan Rania yang ia kenal. Bukan perempuan yang biasa datang ke kantor dengan wajah polos, pakaian rapi namun sederhana, dan rambut yang dikuncir seadanya.

Perempuan ini… lain.

Malam itu, Rania mengenakan gaun panjang berwarna gading pucat dengan siluet klasik, jatuh anggun hingga mata kaki.

Make up-nya… nyaris tak dikenali.

Bukan berarti berlebihan. Tapi terlalu sempurna. Kontur wajahnya dibuat tegas namun tetap lembut.

Ia tidak terlihat seperti Rania. Ia terlihat seperti seseorang yang seharusnya lahir dari keluarga bangsawan.

Beberapa pengunjung bahkan sempat menoleh dua kali. Bahkan pelayan yang hendak menyambut sempat salah mengira bahwa ia adalah tamu dari negara luar.

Rania berdiri tenang di depan pintu restoran. Matanya menyapu ruangan, lalu berhenti pada Radit.

Langkahnya mulai mendekat.

“Selamat malam,” ucap Rania, pelan namun percaya diri. .

Radit berdiri buru-buru. “Rania… Astaga. Kamu—kamu cantik banget. Maksudku, kamu… beda banget.”

Rania tersenyum tipis.

“Katamu ini pertemuan penting. Aku enggak mau bikin kamu malu.”

Radit menahan senyum, bahkan sempat salah tingkah ketika hendak menarikkan kursi untuk Rania.

Beberapa menit kemudian, Papa Radit berserta istrinya datang. Ia mengenakan kursi roda, dengan pakaian yang sangat tertutup, dikawal sopir pribadi dan langsung menuju meja mereka. Ia tampak gagah, setelan abu-abu gelap dengan kemeja biru muda dan jas panjang.

Matanya langsung terarah pada Rania.

Sejenak, ia diam.

“Selamat malam, Tuan Mahendra,” sapa Rania, lalu berdiri dan mengulurkan tangan dengan sopan.

Ayah Radit menyambut tangannya, lalu menatap wajah Rania dalam-dalam.

“Kamu... Soraya?”

Rania tersenyum tenang. “Iya, Pak. Saya Soraya. Tapi malam ini, saya datang bukan untuk melamar kerja sebagai staf di perusahaan Anda. Saya datang sebagai perempuan yang berjanji akan mendampingi putra Anda.”

Ada satu detik sunyi. Lalu... ayah Radit tersenyum—sesuatu yang bahkan Radit sendiri jarang lihat.

“Kamu jauh lebih baik dari yang saya bayangkan.”

Radit tercengang.

Soraya?

Apa yang sedang Rania rencanakan kali ini?

Ia hanya melirik sekilas, lalu kembali duduk di sebelah Rania, hanya bisa menatap heran perempuan itu dari samping, lalu seorang pelayan datang, menyajikan wine premium, namun ditolak halus oleh Soraya.

"Saya lebih suka teh hangat malam hari. Efeknya jauh lebih jujur dari minuman keras," ucapnya ringan.

Ayah Radit melirik, tersenyum.

"Kamu tidak minum?"

Soraya mengangguk pelan. “Tidak pernah. Ayah saya bilang, perempuan yang terlalu akrab dengan alkohol akan kehilangan kendali lebih cepat dari pria—dan saya rasa beliau benar.”

Radit menatapnya, separuh kagum, separuh bingung. Soraya? Ayah?

Siapa pun tokoh dalam ceritanya malam ini, Rania benar-benar menjalani perannya dengan sempurna.

"Jadi," ucap Tuan Mahendra akhirnya, menatap tajam tapi tidak mengintimidasi. "Soraya, ceritakan sedikit tentang keluarga dan latar belakangmu. Aku ingin tahu siapa calon menantu yang dibanggakan anakku ini."

Rania atau Soraya, menyandarkan tubuh, tapi tetap menjaga sikap. Senyumnya ditarik tipis, penuh keyakinan.

“Keluarga saya tidak sebesar Mahendra Group, tentu saja. Tapi cukup solid dalam bidang properti dan konstruksi di daerah Jawa Timur. Ayah saya dulunya dosen teknik sipil, sekarang mengelola firma bangunan bersama dua pamannya. Kami bukan keluarga yang terlalu dikenal publik, tapi punya prinsip yang kuat.”

Ayah Radit tampak tertarik. “Kamu bilang properti dan konstruksi?”

“Ya. Saya sempat aktif membantu ayah dalam beberapa proyek pengembangan kawasan wisata di Batu. Tapi saya pribadi lebih tertarik ke komunikasi, makanya sempat bekerja freelance di beberapa media. Itu juga alasan saya dekat dengan dunia pemasaran dan kreatif seperti yang Radit kerjakan.”

Radit nyaris tersedak minumnya.

Freelance? Media?

Itu benar. Tapi dulu. Ia baru sadar, Rania tidak bohong… hanya menyusun ulang potongan hidupnya jadi versi yang lebih mewah.

Ayah Radit mengangguk perlahan. “Kamu bicara seperti seseorang yang tahu caranya duduk di meja besar. Jarang sekali aku bisa berbincang senyaman ini dengan perempuan seusiamu.”

Soraya tersenyum, “Mungkin karena saya lebih dulu diajari duduk tenang, sebelum belajar berdiri.”

Kalimat itu membuat suasana sesaat hening, lalu ayah Radit tertawa kecil, senang. “Kamu cerdas.”

“Saya hanya tidak ingin berada di sisi Radit sebagai beban. Kalau pun nanti kami menikah, saya ingin dianggap sebagai partner, bukan pelengkap yang dikagumi hanya karena penampilan.”

Radit diam, matanya kini menatap Rania dengan cara yang lain. Takjub. Ia tahu Rania cerdas. Tapi malam ini… perempuan itu bukan hanya cerdas. Ia menguasai panggung.

Ayahnya kembali bicara.

“Kamu tahu… saya sempat khawatir Radit memilih hanya karena ingin menyenangkan saya. Tapi melihatmu malam ini, saya percaya... ia memang benar-benar tahu apa yang ia lakukan.”

Soraya menjawab pelan, “Saya tidak bisa menjamin perasaan kami... tapi saya bisa berjanji bahwa saya tidak akan mengecewakan kepercayaan Anda. Dalam dunia bisnis maupun keluarga, satu-satunya yang saya pegang teguh adalah integritas.”

Radit menoleh. Matanya tak berpindah dari perempuan di sampingnya.

"Kamu tahu apa yang baru kamu lakukan?" bisiknya saat pelayan kembali masuk untuk mengambil piring utama.

Soraya membalas lirih, “Memastikan kamu dapat saham dan warisanmu. Bukankah itu tujuan kontrak kita?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!