NovelToon NovelToon
Cinta Tak Butuh Tes IQ

Cinta Tak Butuh Tes IQ

Status: tamat
Genre:Teen School/College / Persahabatan / Romantis / Murid Genius / Cintapertama / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:59
Nilai: 5
Nama Author: Rita Sri Rosita

Aira Wibisono, Baru Kehilangan Seluruh Keluarganya, Kisah tragisnya di mulai saat Kakaknya Arya meninggal karena kecelakaan, Ayahnya sangat terpukul dengan kepergian Arya, Arya merupaka ke banggan keluarga, Arya baik, pintar, dan tampan, Arya kuliah di FK UGM Orang tua Aira menaruh harapan yang besar kepada Arya, Cinta mereka sangat besar kepada Arya, Semenjak kepergian Arya Ayahnya Aira jadi sakit sakitan dan tak lama Ayah Aira meniggal, Setelah itu Ibu Aira mulai defresi dan meninggal satu tahun kemudian. Akhirnya Aira memutuskan tinggal di rumah Tante Mala sahabat ibunya, Tante Mala mempunyai anak Laki-laki bernama Damar, dia populer di sekolah, pintar, tampan mirip dengan kakaknya Aira di sana lah kisah Aira di mulai...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Obrolan Cewek-Cewek Di Kamar Aira

“Aira.”

“Iya?”

“Kamu… udah pernah ciuman belum?”

Aira hampir keselek roti.

“Hah?!”

Nina, Nona, dan Susan langsung ngakak. Naya menepuk bahu Aira sok bijak.

“Tenang. Ini obrolan cewek-cewek normal.”

“Normal dari mana nanya begitu tiba-tiba!” Aira protes.

Nona menyeringai. “Mau Kelas tiga, Ra. Masa iya belum?”

Aira menunduk. Ujung telinganya memerah.

“Belum,” katanya pelan.

“SERIUS?!”

Empat suara langsung kompak.

Aira mengangguk cepat. “Kenapa emangnya?”

Susan bersandar ke meja. “Pantes kamu polos banget.”

Aira manyun. “Polos itu berlebihan.”

Nina nyengir. “Terus… kalau disuruh milih, kamu pengen ciuman pertama sama siapa?”

Pertanyaan itu membuat Aira diam.

Di kepalanya, satu wajah muncul tanpa izin.

Damar.

Cara dia mengernyit kalau Aira salah jawab. Cara dia mengetuk kepala Aira pakai buku. Cara dia bilang bodoh tapi tetap duduk nemenin sampai malam.

Aira cepat-cepat menggeleng.

“Nggak ada,” katanya cepat.

“Boong,” Naya langsung menuding.

“RAHASIA!” Aira panik.

Mereka makin heboh.

“Kalau gitu,” ujar Nona sambil senyum licik, “Evan aja.”

“Evan?” Aira berkedip.

“Iya. Atlet renang nasional itu loh.”

“Yang badannya kayak poster iklan?” tambah Nina.

“Yang senyumnya bikin kelas Akselerasi langsung lupa rumus?” sambung Susan.

Aira tertawa kaku. “Kalian aneh,”

“Serius,” kata Naya. “Dia sopan, jelas, dan kelihatan tulus.”

Aira mengaduk minumnya. “Aku nggak mikir sejauh itu.”

“Yah, mikir dikit dong,” Nina menggoda. “Daripada nunggu cowok dingin yang nggak peka.”

Aira pura-pura sibuk memainkan ponselnya, dalam hati, dia mengecil.Karena cowok dingin itu…

memang Damar.

“Oke” Aira akhirnya mengangkat bahu.

“Bisa dipertimbangkan.”

Empat pasang mata langsung berbinar.

“EH SERIUS?!”

“AKHIRNYA!”

“MOVE ON"

Aira tertawa. “Jangan ngarep ya,”

Namun Aira tidak tau, di balik pintu, seseorang berhenti melangkah.

Tangannya mengepal.

“Evan…” gumamnya pelan.

Entah kenapa, nama itu terdengar menyebalkan, Padahal harusnya dia tidak peduli.

*** Larangan Absurd Bernama Cemburu ***

Sejak obrolan soal Evan itu, Damar jadi… aneh.

Sangat aneh.

Pagi-pagi, Aira baru duduk di meja makan

“Sendoknya jangan pakai yang itu.”

Aira melirik. “Kenapa?”

“Mau aku pake,”

“Hah?”

Damar menggeram pelan, lalu pergi.

Aira bengong.

“Aku salah apa?”

Di sekolah, keanehan itu makin parah.

Saat Aira tertawa karena Bonnie nyeletuk sesuatu, Damar menoleh tajam.

“Kenapa ketawa?” Kata Damar Menghentikan langkahnya,

Aira Melongo

“Lucu.” Jawab Aira singkat

“Lucu dari mana?” Damar menatapnya ketus.

“Celetukan Bonnie,”

“Kamu berisik,” Kata Damar lagi sambil berlalu sedikit menyenggol bahu Aira.

Bonnie mendekat ke Aira dan berbisik, “Dia cemburu itu,”

Aira menahan tawa. “Nggak mungkin.”

Puncaknya terjadi siang itu.

Aira baru keluar dari ruang biologi sambil membawa kotak alat praktikum yang berat ketika..

“Aira.”

Suara itu bikin beberapa kepala menoleh.

Seragam olahraga, rambut masih agak basah, senyum khas atlet nasional.

“Aku bantu.”

Evan langsung mengambil kotak dari tangan Aira.

“Makasih,” kata Aira sambil tersenyum ke arah Evan.

“Nanti sore kamu sibuk nggak?” tanya Evan santai. “Aku mau ngajak jalan. Cuma makan es krim.”

Aira berkedip. “Hah?”

Belum sempat Aira menjawab

“NGGAK BOLEH.”

Satu suara memotong dengan keras.

Damar berdiri di depan mereka dengan wajah datar… tapi rahangnya mengeras.

Evan langsung diam.

“Hah?” Aira refleks menoleh. “Kenapa nggak boleh?”

Damar melangkah mendekat. Tatapannya menusuk Evan sebentar, lalu mengambil kotak yang ada di tangannya.

“Karena… hari ini mamah mau bikin kue,”

“Bikin kue?” Aira bingung.

Damar berpikir keras. Otaknya jelas kosong.

"Kue buat ketring pesanan banyak…”

Evan menahan senyum. “Sepertinya mendadak,”

Damar mengangguk. “Iya pesanan kue mendadak.”

Aira menatap Damar

"Tante nggak bilang apa-apa.”

“Bilangnya ke aku tadi Wa.”

"Hah?” Aira tampak bingung.

Evan tertawa kecil. “Aku cuma mau ngajak Aira makan es krim.”

“Justru itu!” Damar menyambar. “Es krim dingin BAHAYA.”

Aira mendengus. “Aku bukan anak kecil.”

“Terus… ” Damar mulai gelagapan. “Kamu harus belajar juga buat UAS.”

Evan mencoba angkat bicara, nada suaranya tenang. “Damar, Aku cuma ngajak Aira jalan, jadi keputusan ada di Aira,”

“AIRA NGGAK MAU.”

"Ia Kan Aira," Mata Damar menatap Aira tajam.

Aira membeku. Evan mengangkat alis.

“Sepupu kok berasa pacar ?” Kata Evan hati-hati.

“Aira, aku tunggu jawabanmu nanti ya,” katanya lembut.

Evan melirik Damar sebentar. “Santai aja. Aku nggak Maksa."

Setalah itu Evan berlalu pergi.

“Aira,”Damar Langsung nyerocos, “kamu nggak boleh jalan sama dia.”

“Kenapa?” Aira masih bingung.

“Karena ...” Damar berhenti.

Karena aku cemburu gumam Damar dalam hatinya.

“Dia itu playboy sekolah…dia mencurigakan.”

“Dari mana kamu tau?!”

“Insting.”

Aira menyilangkan tangan. “Insting sok tau.”

Damar mendengus kesal. “Terserah kamu.”

Damar berbalik pergi, tapi langkahnya keras.sangat keras.

Aira menatap punggungnya sambil menggerutu, pipinya merona.

“Nyebelin.”

Namun entah kenapa…senyum kecil muncul di bibirnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!