Sudah tiga tahun Dianawati tinggal bersama mertuanya di Tanjungpinang. Kepindahan itu terjadi setelah suaminya, Andi Pratama, memutuskan meninggalkan Kalimantan—tempat mereka dulu bekerja dan membangun kehidupan—demi kembali ke kota kelahirannya. Alasannya sederhana namun tak bisa ditolak: ibunya tinggal seorang diri, sementara adik bungsunya bekerja di Batam dan hanya bisa pulang sesekali.
Di rumah mertua, Dianawati menjalani hari-harinya sebagai istri dan menantu yang bertanggung jawab: merawat ibu mertua yang mulai menua, mengurus anak, serta mempertahankan usaha kecil-kecilan yang sudah ia rintis sejak masih di Kalimantan. Dalam rutinitas yang tampak sederhana itulah, ia perlahan menyadari bahwa kehidupan baru ini tidak semudah yang dibayangkan.
Antara tanggung jawab, kesabaran yang terus diuji, dan kerinduan pada masa lalu yang lebih bebas, Dianawati berusaha tetap kuat—bahkan ketika ia mulai merasa dirinya adalah satu-satunya yang berjuang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thida_Rak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Sinta menoleh sambil tersenyum lebar. “Habis ini nongki yuk, mumpung anak-anak ada yang jaga,” ajaknya ringan.
Dian ragu sejenak. Tangannya refleks merapikan tas kecilnya. “Apa gak kelamaan, Sin? Aku takut Naya nyariin.”
“Tenang aja,” jawab Sinta cepat. “Ada sus Jelita. Lagian cuma sebentar. Kamu juga butuh keluar, butuh ketawa.”
Dian akhirnya mengangguk pelan. “Ya udah… tapi sebentar aja.”
Mereka pun turun menuju ke kafe . Tempatnya tenang, pencahayaan hangat, tidak terlalu ramai. Dian memesan kopi susu hangat, sementara Sinta memilih iced latte. Untuk beberapa menit, mereka hanya duduk, menikmati minuman masing-masing.
“Dian,” Sinta membuka suara pelan, nadanya berubah serius, “kamu kelihatan jauh lebih kurus dari terakhir kita ketemu.”
Dian tersenyum tipis. “Biasa aja, Sin. Paling capek.”
Sinta menatapnya lama, seolah ingin mengatakan banyak hal tapi menahan diri. “Kalau capek, jangan dipendem sendiri. Kamu gak sendirian.”
Kata-kata itu sederhana, tapi membuat dada Dian terasa hangat. Ia mengangguk pelan, menatap cangkir di depannya.
Untuk sesaat, Dian lupa tentang masalah, lupa tentang luka. Ia hanya seorang perempuan yang duduk di kafe, ditemani sahabat, menikmati waktu yang jarang ia miliki—waktu untuk dirinya sendiri.
Tiba-tiba Sinta berkata pelan namun tegas, “Ian… mau ke Batam?”
Dian langsung menoleh, matanya membesar tak percaya. Bukan karena ia tak mampu pergi sendiri, tapi karena selama ini langkahnya selalu tertahan—oleh kata harus patuh, oleh suami, oleh mertua. Ia terdiam cukup lama, jemarinya mengusap cangkir kopi yang mulai dingin.
“Aku… masih ada kewajiban, Sin,” ucapnya lirih. “Takut salah.”
Sinta menatap Dian lurus, kali ini tanpa senyum. “Kewajiban kamu itu jaga diri kamu dan Naya. Yang lain belakangan.”
Dian menelan ludah. Dadanya berdebar. Ada takut, ada ragu, tapi juga ada keberanian kecil yang mulai tumbuh. Perlahan, ia mengangguk.
Sinta langsung tersenyum, puas. “Oke. Besok kamu ikut aku pulang ke Batam.”
Dian menghela napas panjang. Entah kenapa, untuk pertama kalinya ia tidak merasa melawan siapa pun. Ia hanya merasa sedang memilih—memilih untuk tidak terus diam.
“Aku ikut,” jawabnya akhirnya, pelan tapi pasti.
Di sudut kafe itu, keputusan kecil baru saja diambil. Dan tanpa Dian sadari, hidupnya mulai bergerak ke arah yang berbeda.
Sore harinya, Dian, Sinta, dan sus menemani Jelita serta Naya berenang. Tawa anak-anak memecah sunyi sore, cipratan air sesekali mengenai pinggir kolam. Sus sigap mengawasi, matanya tak lepas dari dua bocah yang terlihat begitu bahagia.
Dian dan Sinta duduk di kursi tepi kolam, menikmati camilan sederhana. Angin sore berembus pelan, membawa rasa tenang yang sudah lama tak Dian rasakan.
“Aku seperti hidup kembali, Sin,” ucap Dian tiba-tiba, matanya menatap Naya yang sedang tertawa riang. “Aku merasa… aku sudah lama tidak melakukan hal-hal yang aku sukai, sejak menikah.”
Sinta tidak langsung menjawab. Ia hanya mendengarkan, membiarkan Dian menumpahkan isi hatinya. Sesekali ia mengangguk pelan, seolah berkata aku ada, lanjutkan.
Dian tersenyum tipis, ada lega yang perlahan mengalir di dadanya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa suaranya didengar—meski tanpa perlu dibalas dengan kata-kata.
Setelah puas bermain, anak-anak pun naik dari kolam. Tubuh kecil mereka dibalut handuk hangat, lalu berganti baju dan dibaringkan di kamar. Naya dan Jelita sama-sama terlihat lelah, tak butuh waktu lama sampai mata mereka terpejam.
Sinta merapikan tas kecil di sofa, lalu menoleh ke arah Dian.
“Ian, nanti aku temani pulang ya. Kamu kemas baju kamu sama Naya, nanti nginap sama aku,” ujarnya ringan, seolah itu hal paling wajar di dunia.
Dian terdiam sejenak. Ada ragu yang langsung menyusup di dadanya.
“Ta-tapi, Sin… aku hari ini sudah banyak ngerepotin kamu,” jawabnya pelan, nada suaranya sarat sungkan.
Sinta tersenyum, lalu mendekat dan duduk di samping Dian.
“Kamu itu sahabat aku. Dari dulu sampai sekarang,” katanya lembut tapi tegas. “Kalau sahabat lagi capek, lagi butuh sandaran, ya tugas kita nemenin. Itu bukan ngerepotin.”
Dian menunduk, matanya mulai berkaca-kaca.
“Aku cuma… gak mau nyusahin siapa pun lagi,” gumamnya lirih.
Sinta meraih tangan Dian, menggenggamnya erat.
“Kamu gak nyusahin, Ian. Kamu lagi bertahan. Dan aku bangga sama kamu.”
Dian menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya, ia mengangguk tanpa rasa bersalah.
“Iya, Sin… makasih ya.”
Di sudut kamar, Naya dan Jelita tertidur pulas. Malam itu, Dian tahu—ia tidak sendirian.
Sinta kembali menitipkan anak-anak kepada Sus Jelita. Kali ini, ia memilih untuk sepenuhnya berada di sisi Dian. Untuk sekarang, yang terpenting baginya hanyalah melihat sahabatnya itu tersenyum dan merasa tenang. Soal Andi dan perempuan itu, biarlah dipikirkan nanti—belum saatnya.
Sesampainya di rumah mertua Dian, taksi online yang mereka tumpangi berhenti di depan pagar. Sinta meminta pengemudi menunggu sebentar. Ia dan Dian turun bersama, melangkah pelan menuju dalam rumah.
Sinta menoleh, menatap sekitar, lalu bergumam lirih penuh iba,
“Kamu kuat banget, Ian… bisa bertahan tinggal di rumah mertua sebesar ini.”
Dian mendengar ucapan itu, lalu hanya menanggapinya dengan tawa kecil—tawa yang terdengar ringan, meski menyimpan banyak cerita di baliknya.
Sinta duduk di ruang tamu, menunggu dengan tenang sambil memandangi sekeliling rumah yang terasa begitu sunyi. Sementara itu, Dian sudah masuk ke kamar. Ia membuka lemari perlahan, lalu mulai memilih dan melipat baju yang akan dibawanya ke Batam esok hari. Gerakannya tenang, seolah ia sedang menyiapkan diri bukan hanya untuk sebuah perjalanan, tetapi juga untuk sesuatu yang lebih besar dari sekadar berpindah tempat.
Mereka pun segera kembali. Tadi, Sus Jelita sempat menelepon memberi kabar bahwa Naya menangis, meski kini sudah berhasil ditenangkan.
“Maaf ya, Sin. Anak aku jadi ngerepotin… soalnya Naya memang nggak pernah jauh dari aku,” ucap Dian pelan, ada rasa sungkan di suaranya.
Sinta tersenyum tipis sambil menggenggam tangan Dian.
“Nggak apa-apa, Ian. Yuk, kita langsung aja ke hotel,” ujarnya ringan, seolah ingin menenangkan hati sahabatnya.
Sesampainya di depan pintu kamar hotel, barulah Dian masuk. Naya yang sejak tadi menunggu langsung berlari menghampirinya.
“Ibu!” serunya sambil menghambur ke pelukan Dian.
“Iya, sayang. Ibu di sini,” jawab Dian lembut, memeluk Naya erat. “Maaf ya tadi ibu tinggal dulu sama mbaknya.”
“Ibu, maaf tadi seharusnya kita turun makan, tapi saya minta supaya makanannya diantarkan saja,” ujar Mbak Dea dengan nada sungkan.
Sinta tersenyum puas. “Good job, Mbak Dea. Kamu memang selalu bisa diandalkan.”
Setelah itu mereka makan bersama di kamar. Dian dan Sinta menikmati hidangan sambil berbincang ringan, sementara Naya sibuk menonton kartun dengan wajah ceria. Di sisi lain, Jelita masih terlelap tenang, sesekali menggeliat kecil tanpa terbangun.