NovelToon NovelToon
Istriku Diambil Papa

Istriku Diambil Papa

Status: tamat
Genre:Pihak Ketiga / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Konflik etika / Tamat
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rhiy Navya

Agil membawa Laila tinggal di rumah besar Baskoro. Baskoro mulai menunjukkan ketertarikan yang tidak wajar pada Laila, melalui bantuan finansial yang menjerat.

Disaat Agil perlahan menemukan keganjalan, Baskoro bermain trik dengan...
Simak selengkapnya, hanya dalam novel berikut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Protokol Pemusnahan

​Van hitam itu mendaki jalanan berkelok di kaki Pegunungan Alpen dengan mesin yang mengerang berat. Di luar, badai salju mulai mengamuk, menghapus jarak pandang dan mengubah dunia menjadi kanvas putih yang mencekam. Di dalam, keheningan menyelimuti mereka berempat. Gito fokus pada layar monitor kecil yang memantau pergerakan radar musuh, sementara Agil menggenggam tangan Laila yang mulai mendingin.

​"Fasilitas ini disebut 'The Vault'," Marc menjelaskan sambil memutar kemudi dengan tenang. "Bekas bunker nuklir Perang Dingin yang dibeli oleh faksi The Watcher. Di sini, kita punya peralatan untuk melakukan 'Pembersihan Biometrik'. Kita bisa mengacak pola DNA-mu di database global agar sistem Vanguard tidak bisa lagi mengenalimu sebagai kunci."

​"Berapa lama prosesnya?" Agil bertanya, matanya menatap tajam ke arah spion.

​"Dua jam. Tapi kita harus masuk sekarang. Unit Wraith sudah berada kurang dari sepuluh kilometer di belakang kita," jawab Marc.

​Keamanan yang Rapuh

​Mereka sampai di sebuah pintu baja raksasa yang tersembunyi di balik dinding tebing yang membeku. Setelah serangkaian pemindaian keamanan yang rumit, pintu itu bergeser terbuka, menampakkan lorong beton panjang yang diterangi lampu neon putih yang pucat.

​Laila menatap sekeliling dengan cemas. Tempat ini terasa seperti laboratorium bawah tanah tempat ayahnya dulu mungkin pernah dipaksa bekerja. "Mas, aku merasa tempat ini bukan tempat untuk bersembunyi. Ini tempat untuk dijebak."

​Agil merasakan hal yang sama, namun mereka tidak punya pilihan lain. Gito segera mengambil posisi di ruang kendali pusat, memantau kamera luar. "Pak Agil, mereka sudah sampai di gerbang luar. Mereka membawa alat berat untuk mendobrak."

​Pengkhianatan di Dalam Benteng

​Saat Agil bersiap masuk ke dalam kapsul pembersihan biometrik, Marc tiba-tiba berhenti. Ia menatap sebuah pesan yang masuk ke tabletnya, wajahnya berubah pucat.

​"Ada apa, Marc?" Agil bertanya, tangannya sudah memegang gagang pintu kapsul.

​"Seseorang di dalam jaringan The Watcher telah menjual koordinat ini," Marc berbisik. "Bukan Vanguard yang datang... tapi unit pembersih internal Konsorsium yang menyamar. Mereka tidak ingin menghapus DNA-mu, Agil. Mereka ingin mengambil jantungmu untuk diekstraksi secara biologis."

​Tiba-tiba, suara ledakan mengguncang seluruh bunker. Lampu-lampu berkedip merah.

​"Gito! Tutup sektor empat!" teriak Agil.

​Namun, di layar monitor, Gito terlihat sedang bertempur jarak dekat dengan tiga orang yang memakai seragam keamanan The Watcher. Pengkhianatan itu datang dari dalam.

​Pertempuran di Koridor Beton

​Agil menyambar senapan serbu dari rak senjata Marc. "Laila, masuk ke dalam ruang brankas di belakang laboratorium! Jangan keluar sampai aku memanggilmu!"

​"Tidak, Mas! Aku tidak akan meninggalkanmu!" Laila menolak, ia mengeluarkan pistol kecil yang diberikan Gito tadi. "Jika mereka menginginkanmu, mereka harus melaluiku dulu."

​Para penyerang masuk melalui lubang ledakan. Mereka adalah unit elit yang mengenakan pakaian tempur putih untuk berkamuflase dengan salju, namun di dalam bunker beton ini, mereka tampak seperti hantu kematian.

​RATATATATAT!

​Peluru-peluru berhamburan, menghancurkan peralatan laboratorium yang mahal. Agil bergerak dengan taktis, menggunakan tabung-tabung oksigen sebagai perlindungan. Ia bukan lagi pria yang bimbang; ia adalah seorang pemburu yang terdesak.

​Agil berhasil melumpuhkan dua penyerang, namun gelombang kedua jauh lebih banyak. Di tengah kekacauan itu, Marc tertembak di dadanya saat mencoba mengunci pintu utama.

​"Pergi... ke... sektor bawah..." Marc terbatuk darah, menyerahkan sebuah kartu akses hitam kepada Agil. "Aktifkan... Protokol Pemusnahan... Hancurkan tempat ini... jangan biarkan mereka... mengambil sampelmu..."

​Menuju Jantung Neraka

​Agil menarik Laila menuruni tangga darurat menuju lantai terbawah, tempat reaktor nuklir cadangan berada. Di belakang mereka, suara langkah kaki sepatu bot militer terdengar semakin dekat.

​"Gito, kau masih di sana?!" Agil berteriak melalui interkom.

​"Masih... Pak..." suara Gito terdengar terengah-engah. "Saya sedang menuju ruang kendali suhu. Saya akan memicu ledakan pipa uap untuk menghambat mereka. Pak Agil, di sektor bawah ada lift barang yang menuju ke sisi lain gunung. Bawa Ibu ke sana!"

​"Kami tidak akan pergi tanpamu, Gito!"

​"Tugas saya adalah memastikan garis keturunan ini berhenti menjadi incaran, Pak. Lakukan tugas Anda sebagai ayah!" Gito memutus komunikasi.

​Pertemuan dengan Sang 'Monster'

​Saat mereka sampai di ruang reaktor, Agil tertegun. Di tengah ruangan, terdapat sebuah tabung medis raksasa yang dihubungkan dengan puluhan kabel. Di dalamnya, sesosok manusia yang hampir hancur namun tetap bernapas terlihat jelas.

​Rina.

​Ternyata, The Watcher bukan hanya menyembunyikan Agil, mereka juga menyembunyikan Rina—atau apa yang tersisa darinya—untuk dipelajari. Faksi Vanguard telah menemukan tempat ini karena mereka ingin menyatukan kembali "dua bagian kunci" tersebut.

​"Mama..." Laila menutup mulutnya karena ngeri. Rina tampak seperti kerangka yang dilapisi kulit sintetis, matanya terbuka namun kosong.

​Tiba-tiba, suara langkah kaki melambat. Pemimpin unit penyerang masuk ke ruangan tersebut. Ia membuka helm taktisnya.

​Itu adalah Thorne—atau setidaknya, seseorang yang memiliki wajah Thorne namun dengan mata mekanis yang bersinar merah. Proyek Icarus telah berhasil menciptakan klon atau sibernetika dari pemimpin lama mereka.

​"Agil, kau melihat ibumu?" Thorne (versi baru) bertanya dengan nada dingin. "Dia adalah masa lalu yang gagal. Kau adalah masa depan yang sempurna. Darahmu mengandung urutan kode yang bisa memberikan keabadian digital bagi siapa pun yang memilikinya."

​Pilihan Terakhir Sang Anak

​Agil menatap ibunya yang menderita di dalam tabung, lalu menatap Thorne yang rakus. Ia menyadari bahwa selama ia hidup, dunia ini akan selalu dipenuhi oleh monster yang menginginkan darahnya.

​Ia memasukkan kartu akses hitam milik Marc ke konsol utama reaktor.

​"Apa yang kau lakukan?!" Thorne berteriak, mengarahkan senjatanya.

​"Aku mengaktifkan pembersihan total, Thorne," ucap Agil dengan suara tenang. "Tempat ini akan meledak dalam tiga menit. Semua data, semua sampel DNA, dan kita semua... akan menjadi abu di bawah gunung ini."

​"Kau gila! Kau akan membunuh istrimu dan anakmu yang belum lahir!"

​Agil menatap Laila. Laila mengangguk pelan, air mata mengalir di pipinya, namun ia memegang tangan Agil dengan kuat. Mereka telah setuju: lebih baik mati merdeka daripada hidup sebagai sumber daya bagi para tiran.

​"Kami tidak akan mati, Thorne," bisik Agil. "Kami hanya akan pulang."

​Tepat saat Agil hendak menekan tombol konfirmasi terakhir, dinding ruangan reaktor meledak. Gito muncul dengan tubuh yang bersimbah darah, namun ia memegang sebuah detonator manual.

​"Pak Agil, Laila, lari ke lift barang! Sekarang!" Gito menerjang Thorne, memicu pertempuran fisik yang brutal di atas lantai baja yang bergetar.

​Agil menarik Laila, berlari sekuat tenaga menuju lift barang di ujung lorong. Mereka masuk dan pintu lift tertutup tepat saat Thorne melepaskan tembakan yang mengenai bahu Agil.

​Ledakan di Puncak Alpen

​Lift meluncur turun dengan kecepatan tinggi menuju terowongan keluar di dasar gunung. Di atas mereka, suara gemuruh ledakan mulai meruntuhkan struktur bunker.

​Agil memeluk Laila di dalam lift yang berguncang hebat. "Maafkan aku, Laila... Maafkan aku."

​"Aku mencintaimu, Agil. Apa pun yang terjadi di ujung lift ini," bisik Laila.

​Saat lift mencapai dasar, pintu terbuka menampakkan cahaya matahari pagi yang menyilaukan di antara salju yang mulai mereda. Di kejauhan, puncak gunung tempat bunker berada meledak dengan dahsyat, menciptakan longsoran salju raksasa yang menelan seluruh fasilitas tersebut—termasuk Thorne, Rina, dan kemungkinan besar... Gito.

​Agil terduduk di atas salju, memegang bahunya yang berdarah. Ia melihat ke arah gunung yang kini sudah rata. Rahasia besar keluarga Baskoro, data Icarus, dan semua penderitaan mereka seolah-olah terkubur di bawah jutaan ton salju dan batu.

​Namun, saat mereka mulai berjalan menjauh dari reruntuhan, Agil merasakan sesuatu di sakunya. Ia merogohnya dan menemukan sebuah alat pelacak kecil yang aktif—alat yang tidak ia sadari kapan masuk ke sakunya.

​Lampu alat pelacak itu berkedip hijau, mengirimkan sinyal ke sebuah lokasi yang jauh di luar sana.

​Vanguard tidak pernah berhenti. Dan perjuangan mereka baru saja memasuki babak yang paling personal.

​n

1
ayu cantik
suka
Rhiy: Terima kasih Kak
total 1 replies
Yeni Nofiyanti
novel yang sangat bagus. cocok di filmkan💪😍
Rhiy: Makasih my reader, aamiin
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!