NovelToon NovelToon
MISI DARI TANAH TERLUKA

MISI DARI TANAH TERLUKA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Balas Dendam / Dokter Genius / Mengubah Takdir / Preman
Popularitas:613
Nilai: 5
Nama Author: Juventini indonesia

cerita yg sangat menarik untuk di baca sampai habis tentang cinta, perjuangan dan action terbaik dari anak bangsa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juventini indonesia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENGOBATI WABAH MALARIA DI DESA AMBULU

DESA AMBULU – MINGGU SORE

Sorak-sorai menggema di lapangan desa.

Lapangan itu jauh dari kata sempurna—rumputnya tidak rata, garis kapurnya tipis, dan gawangnya sedikit miring. Tapi semangat warga Ambulu sore itu utuh dan penuh.

Sebuah pertandingan persahabatan akan digelar.

Tim Desa Ambulu

melawan

Canghegar FC—tim sepak bola yang dipimpin Sersan Bima.

Saat kabar itu sampai ke telinga Sandi, ia hampir tak percaya.

“Bima… di Ambulu?” ulangnya sambil tersenyum lebar.

Sudah lama ia tidak melihat sahabat-sahabatnya itu. Lapangan bola selalu menjadi tempat mereka melepas penat—bahkan sebelum perang, misi, dan luka menjadi bagian hidup.

Sandi datang ke lapangan mengenakan sepatu bola pinjaman dan kaus lusuh.

Begitu Bima melihatnya, ia langsung berteriak dari tengah lapangan.

“WOI, DOKTER PALING SIBUK!”

Tawa pecah.

Mereka berpelukan singkat—keras dan cepat, khas prajurit.

“Kabarnya lu sekarang lebih galak dari sersan,” canda Andri.

“Coba lu yang jaga pasien tiga puluh orang sehari,” balas Sandi sambil tertawa.

Bima menepuk bahunya.

“Masuk. Kita kurang satu pemain.”

Tanpa ragu, Sandi bergabung.

Peluit dibunyikan.

Pertandingan berlangsung sengit tapi penuh tawa. Warga bersorak setiap kali bola mendekati gawang. Anak-anak berlari di pinggir lapangan.

Sandi bermain sederhana. Tak banyak gaya. Umpan pendek, lari tanpa bola.

Saat ia berhasil mencetak gol dari jarak dekat, lapangan meledak oleh sorakan.

Amelia yang berdiri di pinggir lapangan tersenyum lebar—melihat sisi lain Sandi yang jarang ia lihat: lepas, hidup, dan bahagia.

Pertandingan berakhir imbang.

Tak ada piala.

Tak ada hadiah.

Hanya jabat tangan dan tawa.

Malam itu, Balai Desa Ambulu kembali ramai.

Pak Kades mengundang seluruh pemain untuk makan malam bersama. Hidangan sederhana tersaji: nasi hangat, ayam goreng, tempe, sambal, dan teh manis.

Bima duduk bersila berhadapan dengan Sandi.

“Lu kelihatan kurusan,” katanya sambil menyendok nasi.

“Tapi mata lu… beda.”

Sandi tersenyum tipis.

“Karena gue lihat terlalu banyak yang sakit.”

Ia lalu bercerita.

Tentang wabah malaria.

Tentang pasien yang membludak.

Tentang obat gratis.

Tentang poster yang dirusak.

Tentang O Kim Eng dan toko obatnya.

Tentang teror kecil yang mulai terasa besar.

Wajah Bima berubah.

Bukan marah meledak-ledak.

Tapi dingin.

“Obat expired?” tanyanya pelan.

“Iya,” jawab Sandi.

“Dijual mahal. Dan warga takut ke Puskesmas.”

Bima menatap Andri dan Eren sekilas.

“Kita lagi nggak dinas,” katanya akhirnya,

“tapi kalau ada yang mainin nyawa warga…”

Ia berhenti.

“Lu nggak sendirian, Sand.”

Amelia duduk tak jauh dari mereka, mendengarkan diam-diam.

Ia melihat bagaimana Sandi tidak meminta perlindungan.

Tidak memohon bantuan.

Ia hanya bercerita jujur.

Dan justru di situlah kekuatannya.

Bima berdiri, mengangkat gelas tehnya.

“Untuk dokter lapangan,” katanya lantang.

“Yang berani masuk ke desa tanpa senjata, tapi bawa harapan.”

Semua mengangkat gelas.

Sandi terdiam sejenak.

Di dadanya, ia merasakan sesuatu yang sama seperti di lapangan tadi sore—

rasa tidak sendirian.

Namun di sudut balai desa, sepasang mata asing mengintip dari balik gelap.

Bayangan orang-orang O Kim Eng.

Dan malam itu, angin Desa Ambulu berembus pelan—

membawa pertanda bahwa pertandingan yang sebenarnya

belum dimulai.

DESA AMBULU – PAGI YANG TIDAK RAMAH

Pagi itu, suasana Puskesmas Ambulu berbeda.

Antrean yang biasanya mengular kini terpotong separuh. Beberapa bangku kosong. Warga yang datang pun terlihat ragu, saling berbisik, tak lagi seantusias hari-hari sebelumnya.

Sandi merasakannya sejak membuka pintu.

“Ada apa?” tanyanya pada Santi.

Santi menggeleng pelan.

“Sejak subuh… orang-orang O Kim Eng keliling.”

Sandi terdiam.

Tak lama kemudian, intimidasi itu datang terang-terangan.

Dua pria bertubuh besar berdiri di depan Puskesmas. Salah satunya berteriak keras, cukup untuk didengar warga yang lewat.

“Jangan mau diperiksa sama mereka!”

“Mereka itu BUKAN dokter!”

Warga berhenti melangkah.

“Masih mahasiswa! Belum lulus!” lanjutnya.

“Kalau kenapa-kenapa, siapa yang tanggung jawab?!”

Darah Sandi mendidih, tapi ia menahan diri.

Pria itu menunjuk ke arah Puskesmas.

“Lebih baik ke Dukun Bejo! Sudah terbukti! Walau bayar, yang penting sembuh!”

Beberapa warga mulai berbalik arah.

Keraguan bekerja lebih cepat daripada kebenaran.

Di ujung desa, rumah Dukun Bejo justru ramai.

Ia duduk di kursi kayu besar, mengenakan ikat kepala hitam. Di sampingnya, botol-botol obat tanpa label tersusun rapi.

“Ini ramuan khusus,” katanya meyakinkan.

“Obat kuat dari kota.”

Warga menyerahkan uang dengan wajah pasrah.

Tak mereka tahu, obat-obat itu berasal dari suplai O Kim Eng—

obat malaria yang sudah kedaluwarsa, dijual ulang dengan harga berkali lipat.

Penyakit dipelihara.

Ketakutan dijadikan ladang.

Di Puskesmas, Amelia menahan air mata.

“Sand… kalau warga nggak datang, gimana pasien berat?” bisiknya.

Sandi menatap ruang periksa yang sepi.

“Kalau kita berhenti,” jawabnya pelan,

“berarti mereka menang.”

Ia menarik napas panjang.

“Kita tetap buka. Yang datang, kita layani. Tanpa debat. Tanpa marah.”

Sementara itu, di sisi lain desa, Sersan Bima dan Eren bergerak diam-diam.

Mereka sedang cuti dinas, berpakaian sipil. Tak ada atribut. Tak ada gaya tentara.

Hanya naluri.

“Gudang obat Kim Eng ada di belakang tokonya,” ujar Eren pelan.

“Dijaga malam. Tapi siang sepi.”

Bima mengangguk.

Mereka menyamar sebagai pembeli grosir, masuk lewat pintu samping toko.

Di dalam gudang, bau obat menyengat.

Kardus-kardus menumpuk.

Label terkelupas.

Tanggal kedaluwarsa tertera jelas—

lewat berbulan-bulan.

Bima membuka satu dus, mengeluarkan blister obat malaria.

“Ini harusnya sudah dimusnahkan,” katanya dingin.

Eren memotret cepat.

Satu dus.

Dua dus.

Puluhan.

“Untungnya gede,” gumam Eren.

“Pantes dia mati-matian.”

Langkah kaki terdengar.

Mereka segera menutup dus dan keluar seolah tak terjadi apa-apa.

Malamnya, Bima menemui Sandi di teras Puskesmas.

“Lu benar,” katanya pelan.

“Dia jual obat busuk.”

Sandi menatapnya, campuran marah dan sedih.

“Nyawa orang jadi barang dagangan,” ucapnya lirih.

Bima menepuk bahu sahabatnya.

“Kita kumpulin bukti. Jalur hukum.”

Ia menatap gelap desa.

“Di medan perang, musuh kelihatan jelas.

Di sini… mereka pakai senyum dan uang.”

Sandi mengepalkan tangan.

Ia sadar, ujian terberatnya sebagai dokter lapangan

bukan hanya menyembuhkan tubuh—

tapi melawan kebohongan yang membuat orang memilih sakit daripada percaya.

Dan jauh di balik toko obat O Kim Eng,

sebuah kebenaran mulai bergerak menuju cahaya.

DESA AMBULU – SORE MENJELANG MAGHRIB

Angin sore berembus pelan di jalan tanah desa.

Di depan rumah Dukun Bejo, suasana tak lagi seramai hari-hari sebelumnya. Bangku kayu kosong. Warga yang dulu antre kini jarang terlihat.

Penyebabnya satu:

Ustad Halim.

Sesepuh desa itu, dengan sorban putih dan suara yang teduh, telah berkeliling dari rumah ke rumah.

“Berobat itu ikhtiar,” katanya lembut.

“Tapi jangan gantungkan harapan pada kebohongan.”

Ia tak menyebut nama.

Tak menuduh.

Namun warga mengerti.

Dan itu membuat Bejo murka.

Sore itu, Bejo datang ke Puskesmas Ambulu dengan wajah merah padam. Tangannya gemetar, matanya liar.

“PUAS KAMU?!” teriaknya sambil menunjuk Sandi.

“Sejak kamu datang, pasienku habis!”

Warga yang kebetulan berada di sekitar Puskesmas berhenti. Puluhan pasang mata memandang.

Sandi melangkah keluar.

“Pak Bejo,” katanya tenang,

“saya tidak pernah melarang siapa pun berobat ke mana pun.”

Bejo tertawa kasar.

“KAMU MAHASISWA! BUKAN DOKTER!”

Ia mendorong dada Sandi keras.

Amelia refleks berteriak.

“Pak! Jangan—!”

Namun Bejo sudah kehilangan kendali.

Tinju melayang.

Sandi tidak membalas.

Pukulan pertama mengenai bahunya.

Pukulan kedua mengenai rahangnya.

Ia hanya menahan, mundur setapak demi setapak.

“Kenapa kamu nggak lawan?!” teriak Bejo frustasi.

Sandi terengah, tapi suaranya tetap pelan.

“Karena saya ke sini untuk menyembuhkan…

bukan menang.”

Amarah Bejo meledak.

Ia menyerang membabi buta. Tenaganya terkuras oleh emosi.

Dan perlahan—

langkahnya goyah.

Napasnya berat.

Hingga akhirnya, di depan puluhan warga desa,

Dukun Bejo tersungkur dan pingsan di tanah. Kehabisan tenaga.

Sunyi.

Sandi berdiri terdiam, wajahnya lebam, napas tersengal. ia membawa dukun bejobmasul ke ruangan puskesmas. merawatnya. memberinya minuman teh hangat yg mengembalikan tenaganya. hingga dukun bejo siuman dan pergi tanpa pamit. melihat itu sandi hanya tersenyum dan beristihfar dan

Tak satu pun warga bersorak.

Yang ada—

rasa malu dan kesadaran.

Di waktu hampir bersamaan, di sisi lain desa…

Gudang obat O Kim Eng.

Bima dan Eren sedang memeriksa dus terakhir saat suara pintu digedor keras.

“HEY!”

Empat penjaga masuk.

“Kalian ngapain di sini?!”

Tak ada waktu berbohong.

Perkelahian pecah cepat dan senyap.

Satu penjaga roboh oleh bantingan Eren.

Dua lainnya terpental oleh pukulan Bima yang terukur dan efisien.

Yang terakhir lari—

namun terjatuh tersandung dus obat kedaluwarsa.

Bima berdiri di tengah gudang, dadanya naik turun.

“Cukup,” katanya dingin.

Bukti ada di mana-mana.

Malam itu, Balai Desa Ambulu kembali penuh.

Lampu neon menyala terang. Warga duduk melingkar. Pak Kades berdiri di depan.

Di satu sisi:

Sandi, dengan luka di wajah.

Amelia di sampingnya.

Di sisi lain:

Dukun Bejo, tertunduk.

Dan O Kim Eng, wajahnya pucat.

Bima dan Eren berdiri di belakang, membawa dus obat sebagai bukti.

Ustad Halim maju pelan.

“Kita bukan menghakimi,” katanya tenang.

“Kita mencari kebenaran.”

Dus dibuka.

Tanggal kedaluwarsa ditunjukkan.

Warga bergumam marah.

Pak Kades mengetuk meja.

“Mulai malam ini,” katanya tegas,

“praktek pengobatan ilegal dihentikan.

Kasus ini kita serahkan ke pihak berwenang.”

Bejo menunduk lebih dalam.

Kim Eng tak berkata apa-apa.

Sandi berdiri.

Ia menatap warga satu per satu.

“Saya memang belum lulus,” katanya jujur.

“Tapi setiap obat yang saya berikan…

adalah yang saya berikan juga pada keluarga saya sendiri.”

Sunyi.

Lalu seorang ibu berdiri.

“Anak saya sembuh karena kamu.”

Disusul yang lain.

Tak ada tepuk tangan.

Tak ada sorak.

Hanya kepercayaan yang kembali—perlahan.

Amelia menatap Sandi dengan mata berkaca-kaca.

Ia tak mengatakan apa pun.

Namun malam itu, di balik luka dan lelah,

cintanya menemukan alasan paling kuat untuk bertahan.

Dan di Desa Ambulu,

malaria belum sepenuhnya pergi—

namun kebohongan telah kehilangan tempatnya.

KOSAN MAHASISWA – DESA AMBULU, TENGAH MALAM

Malam itu seharusnya tenang.

Hujan baru saja reda. Lampu-lampu rumah warga redup. Di kosan sederhana tempat Sandi dan kawan-kawan menginap, suara kipas angin berdecit pelan menemani lelah yang akhirnya turun.

Bima dan Eren memilih ikut menginap malam itu.

Bukan firasat—

hanya kebiasaan lama sesama sahabat.

Namun ketenangan itu pecah.

BRAK!

Pintu kosan ditendang keras.

Tujuh pria masuk dengan wajah gelap dan napas penuh amarah.

Di depan mereka berdiri seorang pemuda berambut cepak, matanya merah menyala.

O Alung.

“Mana Sandi?!” bentaknya.

“Karena kamu, usaha bapak gue hancur!”

Warga sekitar mulai keluar rumah. Beberapa mengintip dari balik jendela.

Sandi melangkah maju.

“Ini urusan saya,” katanya tenang.

Namun pukulan datang lebih dulu.

Dan di saat itulah, Bima bergerak.

Tanpa teriakan.

Tanpa emosi.

Ia menangkis, menjatuhkan satu penyerang dengan gerakan singkat. Eren menyusul, mengamankan yang lain dengan cekatan.

Perkelahian berlangsung cepat dan kacau.

Sandi tidak brutal.

Ia bertahan, menghindar, melumpuhkan seperlunya.

O Alung menyerang membabi buta—namun kemarahannya justru menghabiskan tenaganya sendiri.

Satu per satu, ia dan enam anak buahnya tersungkur.

Lebam. Terpukul. Tak berdaya.

Tak ada senjata.

Tak ada darah berlebihan.

Hanya harga diri yang runtuh di depan mata warga.

Polisi desa datang terlambat—

keributan sudah selesai.

Bima berdiri di depan Sandi.

“Cukup,” katanya dingin.

“Mereka nggak akan bangun lagi malam ini.”

O Alung menatap Sandi dengan kebencian bercampur takut.

“Ini belum selesai,” gumamnya lemah.

Sandi hanya menatapnya sebentar.

Lalu berbalik masuk.

PAGI HARI – PUSKESMAS AMBULU

Tak ada yang menyangka.

Orang-orang yang semalam membuat keributan—

datang dengan wajah bengkak dan langkah pincang.

O Alung berjalan paling belakang.

Ia menunduk.

Sandi terdiam sejenak saat melihat mereka.

Lalu ia berkata pelan,

“Silakan duduk.”

Amelia menatapnya, terkejut.

Bima menghela napas panjang—paham.

Sandi memeriksa satu per satu.

Membersihkan luka.

Memberi obat.

Menjelaskan perawatan.

Tak satu pun dimarahi.

Tak satu pun dihina.

Saat Amelia menyodorkan catatan biaya, Sandi menggeleng.

“Gratis.”

O Alung akhirnya bicara.

“Kami… cuma disuruh,” katanya lirih.

“Upahnya besar. Kami nggak mikir panjang.”

Sandi menutup kotak obat.

“Kalau kalian mau hidup lebih baik,” katanya pelan,

“jangan jual tenaga untuk menyakiti orang lain.”

Sunyi.

Kalimat itu lebih menghantam daripada pukulan semalam.

Warga yang melihat kejadian itu saling berbisik.

“Mereka dipukuli… tapi masih diobati.”

“Orang begini jarang.”

Kepercayaan yang sempat retak

kini mengeras kembali.

Amelia menatap Sandi dari kejauhan.

Ia sadar—

cintanya pada lelaki ini bukan karena keberanian bertarung,

melainkan karena keberanian memaafkan.

Dan di hati Sandi sendiri, satu hal semakin jelas:

Jika suatu hari ia harus berdiri di medan perang,

maka nilai yang ia bawa bukan kebencian—

melainkan kemanusiaan yang tak bisa dipukul runtuh.

Pagi itu, suasana desa terasa berbeda.

Bukan tegang.

Bukan gaduh.

Melainkan lega.

Sebuah mobil bertuliskan DINAS KESEHATAN berhenti di depan toko obat O Kim Eng. Disusul kendaraan aparat dan petugas BPOM.

Warga berkumpul di pinggir jalan.

Tak ada teriakan.

Tak ada perlawanan.

Pintu gudang dibuka.

Dus demi dus dikeluarkan.

Obat malaria kedaluwarsa.

Label dipalsukan.

Catatan distribusi ilegal.

Petugas mencatat cepat.

“Cukup bukti,” ujar salah satu penyidik.

O Kim Eng diborgol di depan tokonya sendiri. Wajahnya pucat, matanya kosong.

Beberapa anak buahnya ikut diamankan.

Warga tak bersorak.

Mereka hanya saling pandang—

seolah menyadari betapa lama mereka hidup di bawah kebohongan.

Di Puskesmas Ambulu, Sandi menerima kabar itu sambil memeriksa pasien terakhir.

“Sudah ditangkap,” kata Pak Kades lega.

“Resmi. Kasusnya naik.”

Sandi mengangguk pelan.

Ia tidak tersenyum puas.

Tidak juga lega berlebihan.

Baginya, yang terpenting—

tak ada lagi obat busuk di tubuh orang miskin.

Sore hari, hujan turun ringan.

Amelia berdiri di teras Puskesmas, menatap sawah yang mulai hijau.

Sandi keluar membawa dua gelas teh hangat.

“Capek?” tanyanya.

Amelia mengangguk kecil.

“Tapi… rasanya berarti.”

Mereka berdiri berdampingan, sunyi beberapa detik.

Amelia menatap tangan Sandi—

tangan yang pernah memegang nyawa,

menahan pukulan,

dan tetap memilih menyembuhkan.

“Sand…” ucapnya pelan.

Sandi menoleh.

“Aku—”

Kalimat itu terhenti.

Amelia menarik napas, lalu tersenyum gugup.

“Terima kasih,” katanya akhirnya.

“Karena sudah mengingatkan aku… kenapa aku pilih jadi dokter.”

Sandi tersenyum hangat.

“Kita saling ingatkan,” jawabnya.

Amelia menunduk.

Kata cinta tertahan di ujung lidah.

Bukan karena takut ditolak—

melainkan karena ia tahu,

lelaki di depannya menyimpan panggilan yang lebih besar dari hubungan apa pun.

Malamnya, warga mengadakan doa bersama di balai desa.

Ustad Halim memimpin.

“Ilmu tanpa nurani melahirkan kerusakan,” katanya.

“Dan hari ini, kita belajar… ketulusan lebih kuat dari ketakutan.”

Sandi duduk di barisan depan.

Amelia di sampingnya.

Tanpa kata, jemari mereka bersentuhan sebentar.

Tak ada yang menarik diri.

Tak ada yang menggenggam.

Hanya sentuhan singkat—

cukup untuk menyimpan harapan.

Di kejauhan, Bima dan Eren bersiap kembali ke markas.

“Lu sudah tanam sesuatu di desa ini,” kata Bima pada Sandi.

“Bukan cuma obat.”

Sandi mengangguk.

“Dan gue tahu,” katanya pelan,

“jalan ke depan nggak akan lebih mudah.”

Amelia menatapnya—

mata yang ingin berkata aku di sini.

Namun malam itu,

yang pergi hanyalah kejahatan.

Dan yang tertinggal—

perasaan yang belum berani diberi nama.

1
muhamad candra cirebon
mantap 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!