Satu malam di kamar nomor 101 menghancurkan seluruh masa depan Anindira. Dijebak oleh saudara tiri dan terbangun di pelukan pria asing yang wajahnya tak sempat ia lihat, Anindira harus menelan pahitnya pengusiran dari keluarga.
Lima tahun kemudian, ia kembali sebagai asisten pribadi di Adiguna Grup. Namun, bosnya adalah Baskara Adiguna, pria berhati es yang memiliki sepasang mata persis seperti putra kecilnya.
Ketika rahasia malam itu mulai terkuak, Anindira menyadari bahwa ia bukan sekadar korban satu malam. Ia adalah bagian dari rencana besar yang melibatkan nyawa dan harta. Baskara tidak akan melepaskannya, bukan karena cinta, melainkan karena benih yang tumbuh di rahim Anindira adalah pewaris tunggal yang selama ini dicari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Identitas yang disembunyikan
Identitas yang disembunyikan selama ini nampaknya akan segera terkuak melalui lembaran bukti yang sekarang berada di tangan para penguasa. Anindira berdiri dengan kaku di belakang kursi Devan sambil memperhatikan reaksi wajah setiap orang di dalam ruangan itu. Suasana mendadak menjadi sangat dingin dan sunyi saat kertas-kertas laporan itu mulai dibaca secara perlahan-lahan oleh para pemegang saham.
Hendra Adiguna membelalakkan matanya dan meremas pinggiran meja kayu jati tersebut hingga buku jarinya memutih. Ia menatap ke arah Anindira dengan sorot mata yang penuh dengan kebencian sekaligus keraguan yang sangat mendalam. Anindira segera menunduk dan menyesuaikan letak kacamatanya agar wajahnya tetap terlindungi dari pengamatan sang ayah yang sangat jeli.
"Data ini pasti palsu, Devan, tidak mungkin ada transaksi sebesar ini yang luput dari pengawasan departemen keuangan kami!" teriak Hendra sambil menggebrak meja dengan sangat keras.
"Data tidak pernah berbohong, Paman, dan asisten saya telah memverifikasi setiap aliran dana ini langsung dari bank pusat," jawab Devan dengan nada bicara yang sangat tenang.
Seluruh jajaran direksi mulai saling berbisik-bisik dengan ekspresi wajah yang sangat tegang dan penuh dengan kekhawatiran yang nyata. Sarah yang duduk di pojok ruangan nampak terus memperhatikan gerak-gerik Anindira dengan tatapan yang sangat tajam dan tidak bersahabat. Ia merasa ada sesuatu yang sangat familiar dari cara asisten itu berdiri dan bernapas di tengah tekanan yang luar biasa besar.
Sarah bangkit dari kursinya dan berjalan perlahan menuju tempat Anindira berdiri dengan maksud untuk melakukan intimidasi secara langsung. Ia sengaja menyenggol bahu Anindira hingga beberapa berkas yang dipegang wanita itu terjatuh dan berserakan di atas lantai marmer. Anindira terpaksa berjongkok untuk memungut kembali dokumen tersebut sambil tetap menyembunyikan profil wajahnya dari hadapan Sarah.
"Berhati-hatilah saat membawa dokumen penting, atau kamu akan berakhir seperti sampah yang dibuang dari gedung ini," bisik Sarah tepat di samping telinga Anindira.
"Terima kasih atas peringatannya, Nona Sarah, saya akan lebih berhati-hati dalam menjalankan tugas saya," sahut Anindira dengan suara yang dibuat sedatar mungkin.
Devan memperhatikan interaksi tersebut dengan mata yang menyipit dan rahang yang mengeras karena menahan amarah yang mulai memuncak. Ia segera memberikan instruksi agar rapat dihentikan sementara waktu sampai tim auditor independen datang untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh. Hendra dan Sarah keluar dari ruangan dengan langkah kaki yang terburu-buru sambil terus membicarakan rencana balasan untuk menjatuhkan Devan.
Setelah ruangan rapat kosong, Anindira baru berani mengembuskan napas panjang dan menyandarkan tubuhnya yang terasa sangat lemas pada dinding. Ia merasa seolah-olah baru saja keluar dari kandang singa yang sangat lapar dan siap menerkamnya kapan saja. Devan menghampirinya dan meletakkan tangannya di bahu Anindira sebagai bentuk dukungan moral yang sangat berarti bagi wanita itu.
"Anda sudah melakukannya dengan sangat berani, sekarang kita harus segera meninggalkan tempat ini sebelum mereka mengirim orang lain," ujar Devan dengan nada yang sangat serius.
"Ke mana kita akan pergi, Tuan? Bukankah tugas saya hari ini sudah selesai setelah rapat ini berakhir?" tanya Anindira dengan penuh rasa heran yang sangat besar.
Devan menjelaskan bahwa keselamatan Anindira kini sedang berada di ujung tanduk karena identitasnya sebagai asisten kunci sudah diketahui oleh musuh. Ia mengajak Anindira untuk pergi ke sebuah tempat perlindungan rahasia di pinggiran kota yang tidak diketahui oleh anggota keluarga Adiguna lainnya. Anindira nampak ragu karena ia tidak ingin meninggalkan Arkan sendirian lebih lama lagi di rumah Bibi Mirna yang sederhana.
Namun, Devan meyakinkan bahwa ia sudah mengirimkan tim keamanan khusus untuk menjemput Arkan dan membawanya ke lokasi yang jauh lebih aman. Anindira merasa sedikit tenang namun tetap merasa ngeri dengan skala konflik yang kini melibatkan nyawa putranya yang sangat tidak berdosa. Mereka turun melalui tangga darurat untuk menghindari sabotase lift yang mungkin saja kembali terjadi pada siang hari yang terik ini.
Mobil mewah Devan sudah menunggu di pintu keluar belakang gedung dengan mesin yang sudah menyala dan siap untuk melaju dengan sangat cepat. Sepanjang perjalanan, Anindira terus memandangi jalanan melalui kaca spion untuk memastikan tidak ada kendaraan yang sedang membuntuti mereka secara sembunyi-sembunyi. Hatinya baru benar-benar terasa lega saat melihat sebuah mobil lain yang membawa Arkan sudah terparkir di depan sebuah vila mewah yang sangat tersembunyi.
Arkan langsung berlari ke pelukan ibunya begitu Anindira turun dari mobil dengan wajah yang nampak sangat lelah namun penuh kasih sayang. Anindira memeluk putranya dengan sangat erat seolah-olah ia takut akan kehilangan harta karunnya yang paling berharga tersebut untuk selamanya. Devan memperhatikan momen tersebut dari kejauhan dengan tatapan mata yang nampak sedikit melembut dibandingkan biasanya saat berada di kantor.
"Ibu, tempat ini sangat besar dan banyak bunga-bunga yang sangat cantik di halaman depannya!" seru Arkan dengan wajah yang sangat ceria dan sangat polos.
"Iya sayang, kita akan tinggal di sini untuk beberapa hari saja sampai pekerjaan Ibu selesai," jawab Anindira sambil mengusap rambut halus putranya.
Anindira membawa Arkan masuk ke dalam vila yang memiliki fasilitas keamanan sangat canggih dan dijaga oleh orang-orang kepercayaan Devan. Di dalam sana, ia merasa bisa sedikit melepas topeng penyamarannya dan menjadi dirinya sendiri sebagai seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama saat ia melihat Devan sedang menatap sebuah foto lama di ruang tamu vila tersebut.
Foto itu memperlihatkan seorang wanita cantik yang memiliki mata yang sangat mirip dengan mata yang dimiliki oleh Arkan sekarang. Anindira mendekat perlahan dan menyadari bahwa wanita di dalam foto itu adalah kakak perempuan Devan yang sudah lama dinyatakan meninggal dunia. Ada sebuah rahasia besar di balik kematian itu yang nampaknya memiliki hubungan sangat erat dengan kejadian di kamar nomor seratus satu.
"Dia adalah alasan mengapa saya sangat membenci sistem keluarga Adiguna yang sangat busuk ini," bisik Devan sambil menyentuh bingkai foto tersebut.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada beliau, Tuan? Apakah ini juga ada hubungannya dengan pengusiran saya?" tanya Anindira dengan penuh rasa penasaran yang sangat mendalam.
Devan berbalik dan menatap Anindira dengan sorot mata yang sangat tajam, seolah sedang menimbang apakah ia harus menceritakan kebenaran tersebut sekarang. Ia mengajak Anindira untuk duduk di teras belakang vila yang menghadap langsung ke arah pegunungan yang sangat hijau dan sangat asri. Udara pegunungan yang sangat sejuk mulai membelai wajah mereka berdua, memberikan sedikit ketenangan di tengah badai intrik yang sedang berkecamuk.
Saat Devan baru saja hendak membuka mulut untuk bercerita, suara deru mesin mobil yang sangat kencang terdengar mendekat ke arah gerbang vila. Seorang penjaga keamanan berlari masuk dengan wajah yang sangat pucat dan memberikan laporan yang sangat mengejutkan bagi mereka berdua. Pertemuan tak sengaja dengan musuh lama di tempat yang seharusnya menjadi perlindungan rahasia ini membuat nyali Anindira kembali menciut.