Aura Mahendra mengira kejutan kehamilannya akan menjadi kado terindah bagi suaminya, Adrian.
Namun, malam ulang tahun pernikahan mereka justru menjadi neraka saat ia memergoki Adrian berselingkuh dengan adik tirinya, Sisca.
Tidak hanya dikhianati, Aura dibuang dan diburu hingga mobilnya terjun ke jurang dalam upaya pembunuhan berencana yang keji.
Takdir berkata lain. Aura diselamatkan oleh Arlan Syailendra, pria paling berkuasa di Kota A yang memiliki rahasia masa lalu bersamanya.
Lima tahun dalam persembunyian, Aura bertransformasi total. Ia meninggalkan identitas lamanya yang lemah dan lahir kembali sebagai Dr. Alana, jenius medis legendaris dan pemimpin organisasi misterius The Sovereign.
Kini, ia kembali ke Kota A tidak sendirian, melainkan bersama sepasang anak kembar jenius, Lukas dan Luna. Kehadirannya sebagai Dr. Alana mengguncang jagat bisnis dan medis. Di balik gaun merah yang anggun dan tatapan sedingin es, Alana mulai mempreteli satu per satu kekuasaan Adrian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetiyoandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: TANPA IDENTITAS
Suara deburan ombak yang menghantam pasir pantai terdengar seperti detak jantung bumi yang malas. Udara pagi di pesisir barat India terasa kental dengan aroma garam, ikan busuk, dan rempah-rempah yang terbawa angin dari pasar desa terdekat.
Di atas hamparan pasir yang kecokelatan, sebuah sekoci penyelamat berwarna oranye kusam teronggok seperti bangkai ikan paus besi. Dindingnya menghitam karena jelaga ledakan, dan mesinnya telah mati total sejak tiga jam yang lalu saat mereka kehabisan bahan bakar di tengah laut.
Alana adalah yang pertama membuka mata. Kepalanya terasa seolah dihantam palu godam, dan setiap inci tubuhnya menjerit karena kelelahan yang ekstrem. Ia merangkak keluar dari palka sekoci, membiarkan kakinya menyentuh air laut yang hangat. Di sekelilingnya, matahari mulai naik, menyinari deretan gubuk kayu dengan atap rumbia yang berjejer di sepanjang garis pantai. Ini adalah sebuah desa nelayan kecil yang terisolasi, jauh dari gemerlap teknologi Kota A atau kemewahan The Sanctuary.
"Arlan... Lukas... Luna..." suara Alana serak, nyaris hilang.
Arlan muncul dari balik sekoci, memegangi pinggiran kapal untuk menyeimbangkan tubuhnya. Kemeja hitamnya kini compang-camping, memperlihatkan balutan perban di bahu dan pahanya yang sudah basah oleh air garam. Wajah sang "Kaisar Bayangan" yang biasanya dingin dan tak tersentuh kini tampak seperti pengembara yang kalah. Di belakangnya, Lukas menggendong Luna yang masih setengah terlelap.
"Kita di mana, Mummy?" tanya Lukas, matanya yang cerdas menyapu lingkungan sekitar dengan waspada.
"Pesisir India, jika navigasi terakhir sekoci itu benar," sahut Arlan sambil menatap ke arah daratan. "Kita tidak punya paspor. Tidak punya uang tunai. Tidak punya identitas. Di mata dunia, Arlan Syailendra dan Dr. Alana telah tewas dalam ledakan di MV Asteria."
Alana merogoh saku taktisnya. Satu-satunya barang berharga yang tersisa hanyalah botol perak Formula Teratai dan sebuah pisau bedah lipat. Perangkat komunikasi mereka hancur, dan semua kartu kredit telah diblokir secara otomatis oleh protokol keamanan Syailendra begitu status mereka dinyatakan "MIA" (Missing in Action).
"Tanpa identitas berarti kita bebas dari pantulan radar Ouroboros untuk sementara," Alana mencoba melihat sisi positifnya, meski perutnya terasa melilit karena lapar. "Tapi kita butuh perlindungan. Dan kau, Arlan, kau butuh antibiotik segera. Luka di pahamu mulai mengalami infeksi sekunder karena air laut."
Mereka berjalan perlahan menuju desa. Penduduk lokal, yang sebagian besar adalah nelayan dengan kulit terbakar matahari, menatap mereka dengan penuh kecurigaan. Bagi orang-orang desa ini, kehadiran empat orang asing dengan pakaian taktis yang hancur dan luka-luka adalah pertanda bahaya.
Langkah mereka terhenti di depan sebuah gubuk yang agak besar, yang berfungsi sebagai balai desa sekaligus tempat pelelangan ikan. Seorang pria tua dengan janggut putih panjang dan sorban lusuh berdiri menghalangi jalan mereka. Ia memegang tongkat kayu dan berbicara dalam bahasa lokal yang tidak dimengerti Alana.
"Lukas, kau bisa menerjemahkannya?" bisik Alana.
Lukas segera mengeluarkan sebuah gawai kecil yang layarnya retak—satu-satunya perangkat yang berhasil ia selamatkan. "Aku sedang mencoba menyambungkan ke satelit frekuensi rendah... sistem offline, tapi kamus lokalnya masih ada. Dia bilang... 'Siapa kalian dan kenapa kalian membawa sial ke pantai kami?'"
Arlan melangkah maju, meskipun ia harus menyeret kakinya. Ia melepaskan sebuah jam tangan mewah dari pergelangan tangannya—sebuah Patek Philippe edisi terbatas yang nilainya bisa membeli seluruh desa itu. Ia menyodorkannya kepada pria tua itu.
"Katakan padanya, kami adalah korban kapal karam," kata Arlan kepada Lukas. "Kami hanya butuh tempat istirahat dan obat-obatan. Jam ini bisa dia jual untuk memberi makan seluruh desa selama setahun."
Pria tua itu mengambil jam tersebut, mengamatinya sejenak, lalu meludah ke pasir. Ia mengembalikan jam itu ke tangan Arlan. Lukas menerjemahkan dengan wajah bingung: "Dia bilang, jam ini tidak bisa dimakan. Di sini, emas dan besi tidak berguna jika kau tidak bisa membuktikan kau bukan musuh."
Alana menghela napas. Ia melihat seorang wanita muda di belakang pria tua itu yang sedang menggendong bayi yang terus menangis. Bayi itu tampak pucat, dengan bintik-bintik merah di sekujur tubuhnya. Sebagai dokter, Alana langsung tahu itu bukan sekadar demam biasa.
"Berikan aku jalan," kata Alana dalam bahasa Inggris, sambil memberi isyarat tangan bahwa ia ingin memeriksa bayi itu.
Pria tua itu ragu, namun Alana menunjukkan ekspresi yang sangat tenang dan penuh kasih. Ia mendekati wanita itu, menyentuh dahi sang bayi, dan memeriksa denyut nadinya. "Demam berdarah tahap awal," gumam Alana.
Ia membuka botol air minum terakhirnya dan mencampurkannya dengan beberapa tetes cairan dari botol perak—bukan Formula Teratai murni, melainkan residu yang ia kumpulkan dari tutup botol yang mengandung konsentrasi regenerasi rendah. Ia memberikan air itu kepada sang ibu untuk diminumkan kepada bayinya.
"Mummy, apa itu aman?" Lukas bertanya dengan cemas.
"Hanya dosis mikroskopis. Itu akan memicu sistem imunnya untuk bertarung," jawab Alana.
Beberapa menit berlalu dalam ketegangan yang menyesakkan. Penduduk desa mulai mengepung mereka dengan membawa parang dan tongkat. Namun, keajaiban terjadi. Bayi yang tadinya terus merintih pelan tiba-tiba berhenti menangis. Warna kulitnya kembali merona, dan ia mulai menyusu pada ibunya dengan kuat. Sang ibu berteriak kegirangan, memanggil pria tua itu.
Seketika, suasana berubah. Pria tua itu menatap Alana dengan pandangan takjub. Ia membungkuk dalam-dalam, lalu memberikan isyarat agar mereka masuk ke dalam gubuknya.
Malam itu, di dalam gubuk sederhana yang hanya diterangi oleh lampu minyak, mereka duduk di atas tikar pandan. Mereka diberi makan nasi kacang dan ikan bakar—makanan paling lezat yang pernah mereka rasakan setelah pelarian yang panjang.
Arlan duduk bersandar pada tiang kayu, memperhatikan Alana yang sedang mengobati luka penduduk desa lainnya dengan peralatan seadanya. "Dari permaisuri Kota A menjadi dokter desa di India. Kau sangat pandai beradaptasi, Alana."
Alana tersenyum tipis sambil membalut kaki seorang nelayan. "Kekuasaan dan harta bisa hilang dalam semalam, Arlan. Kita sudah merasakannya dua kali. Tapi ilmu pengetahuan dan kemampuan untuk bertahan hidup adalah identitas yang tidak bisa dicuri oleh Ouroboros atau Alfred Mahendra."
Arlan terdiam sejenak, lalu ia menatap Lukas yang sedang mencoba memperbaiki radio tua milik desa tersebut agar bisa menangkap sinyal berita internasional. "Kita tidak bisa tinggal di sini selamanya. Alfred akan mengirim orang untuk menyisir pantai ini begitu mereka menyadari tidak ada mayat di reruntuhan kapal."
"Aku tahu," sahut Alana. "Kita butuh identitas baru. Identitas yang benar-benar bersih. Tidak ada hubungan dengan keluarga Mahendra, tidak ada hubungan dengan Syailendra."
"Lalu siapa kita?" tanya Arlan.
Alana menatap botol perak di atas meja. "Kita adalah 'The Nomads'. Kita akan bergerak di bawah tanah. Aku akan menggunakan jaringan The Sovereign yang tersisa, tapi bukan melalui jalur resmi. Kita akan mencari pengkhianat itu dari sini."
Tiba-tiba, Lukas bersorak kecil. "Aku mendapatkannya! Sinyal radio berita dari Mumbai."
Mereka semua terdiam saat mendengar suara penyiar dalam bahasa Inggris yang kaku: "Otoritas Kota A secara resmi menyatakan kematian CEO Syailendra Group, Arlan Syailendra, dan rekan bisnisnya, Dr. Alana, dalam kecelakaan laut tragis. Saham Syailendra Group terjun bebas, sementara Mahendra Group, di bawah kepemimpinan baru yang misterius, mulai melakukan akuisisi besar-besaran..."
Arlan mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangan. "Kepemimpinan baru yang misterius... itu pasti Alfred. Dia keluar dari bayang-bayang untuk mengambil alih segalanya."
"Biarkan dia merasa menang," kata Alana, matanya berkilat penuh dendam. "Dia pikir dia telah mengubur kita di dasar laut. Dia tidak tahu bahwa dia justru telah membebaskan kita dari semua aturan sosial. Sekarang, kita bisa menyerang dari kegelapan yang paling pekat."
Malam itu, di sebuah desa kecil tanpa nama, rencana perlawanan baru disusun. Mereka mungkin kehilangan identitas mereka di atas kertas, namun mereka baru saja menemukan tujuan yang lebih kuat. Arlan bukan lagi seorang CEO, dan Alana bukan lagi seorang dokter yang hanya ingin membalas dendam pada mantan suaminya. Mereka adalah awal dari kehancuran The Ouroboros.
"Mummy," panggil Luna yang sudah mengantuk di pangkuan Alana. "Apakah kita akan pulang?"
Alana mencium kening putrinya. "Kita akan membangun rumah baru, Luna. Sebuah rumah yang tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh siapa pun."
Di kejauhan, suara mesin perahu patroli terdengar samar di laut. Alana tahu, waktu tenang mereka sangat singkat. Esok, mereka harus meninggalkan desa ini dan memulai perjalanan melintasi benua untuk mengumpulkan kembali kekuatan yang tercerai-berai.