Tiara Mo akan menghadiri kompetisi tinju tahunan, namun dalam perjalanan ia mengalami kecelakaan dengan truk tangki minyak , saat sadar ia sudah menempati tubuh permaisuri 200kg.
" APA APA INI ! APA PEMILIK TUBUH ASLI TIDAK BISA MENAHAN RASA LAPAR !" Pekik tiara mo kesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7 : Lemak Harus Disingkirkan
Setelah pelayan itu pergi, Lin Yue menghela napas panjang. Ia menoleh ke arah jendela, di mana ia merasa seseorang sedang mengamati dari kejauhan. Ia tidak tahu apakah itu Han Shuo atau pengintai lain, tapi ia tidak peduli.
"Xiao Xiao, siapkan lapangan. Hari ini aku akan mulai berlatih pukulan. Meskipun tanganku terasa seperti bantal, aku harus mengembalikan memori ototku," ucap Lin Yue sambil mengepalkan tangannya yang besar.
Ia mulai melakukan gerakan shadow boxing di tengah ruangan. Awalnya lambat, namun perlahan gerakannya menjadi lebih terukur. Satu, dua, jab!
Setiap gerakan membuat keringat bercucuran. Ia merasa sesak, namun ada kepuasan tersendiri saat ia bisa menggerakkan tubuh ini sesuai kehendaknya. Di kehidupan lamanya, Tiara Mo adalah petinju yang tidak pernah menyerah sebelum bel berbunyi. Di dunia ini, bel pertandingan baru saja dimulai.
Di atap paviliun yang jauh, Han Shuo yang tersembunyi dengan sempurna di balik bayangan atap, tertegun melihat gerakan Lin Yue dari kejauhan. Ia adalah seorang ahli bela diri, dan ia bisa melihat bahwa gerakan tangan Permaisuri bukanlah gerakan sembarangan. Itu adalah teknik bertarung yang sangat efisien dan mematikan, meskipun dilakukan dengan tubuh yang berat.
Siapa sebenarnya kau, Lin Yue? batin Han Shuo. Seorang putri yang lemah tidak mungkin memiliki teknik menyerang seperti itu.
Han Shuo merasa rencananya untuk merebut takhta mungkin akan menjadi jauh lebih menarik dengan adanya orang baru ini. Ia memutuskan untuk terus mengawasi, bukan sebagai perintah dari Long Wei, melainkan karena rasa penasaran yang mulai tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam.
***
Sementara itu, di kediaman Selir Ning, terdengar suara keramik pecah.
"Apa?! Dia menyuruhmu memberikan makanan itu pada anjing?!" teriak Selir Ning dengan wajah merah padam.
"Wanita gendut itu berani melawanku? Sepertinya dia butuh pelajaran tentang siapa yang sebenarnya memegang kendali di istana ini!"
Konflik di istana Daxuan mulai memanas. Permaisuri yang tadinya dianggap sampah, kini mulai membakar sampah-sampah yang ada di sekelilingnya.
***
Pagi itu, sebuah gulungan kain sutra berwarna merah darah tiba di Paviliun Teratai. Isinya adalah undangan resmi dari Ibu Suri untuk menghadiri perjamuan teh di Taman Kekaisaran. Ini bukan sekadar undangan; ini adalah perintah yang tidak bisa ditolak.
"Mereka sengaja melakukan ini, Yang Mulia," bisik Xiao Xiao sambil tangannya gemetar memegang gulungan itu. "Selir Ning pasti menghasut Ibu Suri. Mereka ingin mempermalukan Anda di depan para menteri dan bangsawan. Mereka ingin menunjukkan betapa... 'berubahnya' Putri Bangsa Tang yang dulu legendaris kecantikannya."
Lin Yue, yang baru saja menyelesaikan set latihan pernapasannya, hanya melirik undangan itu dengan tenang. Keringat masih menempel di dahinya. "Biarkan saja. Jika aku bersembunyi terus, mereka akan mengira aku sudah mati tertimbun lemak. Jika mereka ingin pertunjukan, aku akan memberikan mereka sesuatu untuk ditonton."
Namun, masalah besar muncul saat memilih pakaian. Tak ada satu pun hanfu milik permaisuri yang muat atau pantas dikenakan. Kebanyakan sudah menyempit, dan yang tersisa hanyalah pakaian longgar yang menyerupai kantong kain besar.
"Gunakan hanfu berwarna hijau lumut yang paling lebar," perintah Lin Yue. "Dan Xiao Xiao, rias aku sesederhana mungkin. Jangan gunakan bedak tebal yang membuatku terlihat seperti bakpao kukus."
Saat Lin Yue tiba di Taman Kekaisaran, suasana mendadak sunyi. Ratusan pasang mata menatap ke arah pintu masuk. Suara bisik-bisik mulai terdengar seperti dengungan lebah yang mengganggu.
"Lihat itu... apakah itu benar-benar Permaisuri?"
"Astaga, dia hampir menghalangi jalan masuk dengan tubuhnya."
"Benar-benar memalukan bagi Kekaisaran Daxuan memiliki ibu negara seperti itu."
Lin Yue berjalan dengan kepala tegak.
Meskipun setiap langkahnya membuat napasnya terasa pendek dan kakinya berdenyut, ia mempertahankan postur seorang juara yang berjalan menuju ring tinju. Tatapannya lurus ke depan, dingin dan tak tergoyahkan.
Di kursi utama, Ibu Suri duduk berdampingan dengan Kaisar Long Wei. Di sisi lain kaisar, Selir Ning duduk dengan senyum kemenangan yang sangat lebar.
"Permaisuri Lin Yue memberi hormat kepada Ibu Suri dan Yang Mulia Kaisar," ucap Lin Yue dengan suara lantang, namun ia tidak berlutut sepenuhnya—ia hanya membungkukkan badannya sedikit karena beban tubuhnya yang tidak memungkinkan untuk bersujud tanpa terjatuh.
"Lancang! Mengapa kau tidak bersujud dengan benar?" tegur salah satu menteri tua yang merupakan sekutu Selir Ning.
Lin Yue menoleh perlahan. "Tubuhku sedang dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk melakukan penghormatan penuh tanpa risiko merusak estetika taman ini. Bukankah menjaga keindahan taman juga merupakan bentuk penghormatan?"
Jawaban itu membuat beberapa bangsawan tersedak teh mereka. Berani sekali dia bersilat lidah?
***
Mohon Dukungan untuk :
• Like
• Komen
• Subscribe
• Follow Penulis
Terimakasih banyak❤️
🧐