Menjadi seorang single parent tak membuat Alleyah berkecil hati. Ia justru semangat dalam usahanya untuk mendapatkan kebahagiaan bagi dirinya dan juga putrinya yang masih berumur enam tahun.
Pekerjaan menjadi seorang sekretaris dari bos yang arogan tak menyurutkan tekadnya untuk terus bekerja. Ia bahkan semakin rajin demi rupiah yang ia harapkan untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan juga anaknya.
Namun, perjuangannya menjadi single parent tak semudah bayangannya sebelumnya. Ditengah isu yang merebak di kantornya dan juga imej seorang janda memaksanya menjadi wanita yang lebih kuat.
Belum lagi ujian yang datang dari mantan suaminya, yang kembali muncul dan mengusik hidupnya.
Mampukah, Alleyah bertahan dan mampu memperjuangkan kebahagiaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.10 Chilla
Alle dan Mbak Imas berjalan cepat menggendong Chilla ke UGD. Mereka begitu panik melihat kondisi Chilla yang mulai lemas.
Di ruang Unit Gawat Darurat, Alle meminta dokter dan perawat untuk segera menangani kondisi Chilla.
"Ibu, tolong tunggu di luar, ya. Kami akan menangani anak ibu," pinta seorang perawat pada Alle.
Sejujurnya Alle tidak rela kalau harus meninggalkan Chilla sendiri tapi Mbak Imas berusaha menguatkan. Ia merangkul bahu Alle dan menuntunnya keluar. "Ayo, All, kita serahkan semua pada dokter."
Bukan hanya kondisi Chila yang lemah, kini tubuh Alle pun terasa lemas. Ibu mana yang tega melihat putrinya sakit.
Di ruang tunggu, Mbak Imas terus memberikan semangat dan menghibur Alle agar tidak panik. "Tenanglah, All, Chilla anak yang kuat, semua akan baik-baik saja."
Alle mengangguk. Ia juga yakin anaknya akan kuat. Doa untuk Chilla terus terpanjat dalam hatinya.
Beberapa saat berlalu, perawat memanggil Alle untuk masuk. "Keluarga anak Chilla."
Gegas Alle bangkit. "Saya, Sus."
"Silakan masuk, dokter ingin bicara."
Alle mengikuti perawat tersebut mengikutinya ke ruangan dokter. Mbak Imas tanpa diminta ikut serta menemani Alle.
"Silakan duduk," ujar dokter wanita yang mengenakan hijab hijau tua itu.
Setelah Alle dan Mbak Imas duduk, dokter pun mulai bicara. "Kami sudah menangani anak Chilla, semoga kondisinya akan berangsur membaik. Menurut diagnosa kami, putri Anda mengalami keracunan makanan. Kalau boleh tahu, apa yang terakhir dimakan oleh Chilla?"
Alle tidak tahu harus menjawab apa karena seharian ini ia bekerja. Ia pun menoleh pada Mbak Imas yang bertugas menjaga Chilla.
Paham maksdu Alle, Mbak Imas menjawab, "Tadi siang kami main ke rumah tetangga, Dok. Di sana tanpa sepengetahuan saya, Chilla ikut makan udang bersama anak tetangga kami. Saat kami pulang, badan Chilla mulai muncul bintik merah dan katanya gatal. Kemudian dia muntah-muntah, tak berselang lama Chilla buang air terus-terusan."
Alle menatap Mbak Imas heran, kenapa Mbak Imas bisa seteledor itu. Padahal pengasuh anaknya itu tahu benar Chilla alergi udang.
Melihat raut kecewa Alle, Mbak Imas berbisik, "Maaf, All."
Sekarang semua sudah terjadi tidak ada gunanya juga ia marah. Yang terpenting sekarang Chila sudah tertangani dengan baik.
"Apa Chilla punya alergi dengan udang?" tanya Dokter.
"Iya, Dok. Anak saya memang tidak bisa makan udang," jawab Alle.
"Kalau begitu sudah jelas penyebab dari muntah dan juga diare yang dialami Chilla, semua karena alergi yang dimiliki oleh Chilla. Meski begitu Chilla tetap harus dirawat di sini dulu ya, Bu. Kita akan memantau kondisi Chilla secara intensif."
"Iya, Dok. Saya ikut saja apa kata dokter."
"Ini resep yang bisa Anda tebus di apotek sambil menunggu Chilla dipindahkan ke ruang rawat." Dokter berkerudung hijau tua tersebut menyerahkan coretan resep yang ia tulis dan mempersilakan Alle menebusnya.
"Biar aku aja, All," ujar Mbak Imas ketika keluar dari ruangan dokter. "Kamu jagain Chilla aja."
Alle pun menyerahkan Resep tersebut pada Mbak Imas. Sebelum Mbak Imas meninggalkan Alle, pengasuh anaknya itu meminta maaf atas keteledoran yang ia lakukan. Karena asik mengobrol ia tak memperhatikan jika Chilla ikut makan udang yang jadi menu makan siang anak tetangganya.
Alle hanya bisa berucap, "Semua udah terjadi Mbak, sekarang fokus kita pada kesehatan Chilla aja. Lagi pula kita tidak pernah menginginkan hal itu terjadi, kan?"
Mbak Imas bisa tersenyum lega melihat kelapangan hati Alle.
Setelah Chilla sudah dipindahkan ke ruang rawat. Alle segera menghubungi Aksa. Ia meminta ijin dua hari untuk menjaga anaknya yang sedang di rawat di rumah sakit. Ia tidak akan bisa bekerja dengan baik jika Chilla masih dirawat. Pikirannya pasti akan terbagi dan membuat pekerjaannya tidak akan bisa maksimal.
Tak butuh waktu berjam-jam, Aksa yang kala itu sedang ada janji dengan kekasihnya langsung membalas pesan Alle. Atasan Alle itu dengan pertimbangan kemanusiaan memberikan ijin pada sekretarisnya untuk merawat anaknya yang sakit.
Pria itu bahkan menanyakan keadaan anak Alle dan kronologis kejadian hingga anak sekretarisnya itu bisa dirawat di rumah sakit. Beberapa kali mereka saling berbalas chat di mana hal itu membuat Bianca tidak suka.
"Sayang, kamu tuh chat dengan siapa, sih? sibuk banget." Bianca kesal melihat Aksa yang lebih sibuk dengan ponselnya dari pada dirinya yang jelas-jelas ada di hadapan Aksa.
"Dengan Alle," jawab Aksa enteng.
Raut Bianca langsung berubah marah. Bibirnya mencebik mendengar nama sekretaris itu disebut.
"Bisa nggak sih kamu nggak sibuk sama sekretaris kamu itu. Aku udah bela-belain untuk ketemu kamu tapi kamu malah asik sendiri." Bianca melipat kedua tangannya di dada.
Aksa meletakkan ponselnya di meja lalu mengambil gelas piala dan meneguk setengah isinya. Kemudian menatap kekasihnya yang merajuk. "Aku tidak akan mengganggu waktumu lagi mulai hari ini."
Bianca yang kesal langsung menoleh. Ia menatap kekasihnya penuh tanya. "Maksud kamu, apa?"
"Hubungan kita berakhir!" Aksa mengambil ponselnya dan mengancingkan kancing jasnya lalu pergi begitu saja.
"Sayang, kamu ngomong apa, sih?" Bianca masing bingung akan maksud Aksa. Ia tidak terima dengan apa yang baru saja ia dengar. Model itu pun berlari mengejar Aksa yang keluar meninggalkan kelab.
"Sayang, tunggu!"
Ketika Bianca akan menarik tangan Aksa untuk menghentikan pria itu, Aksa berhasil menghindar. Ia mengangkat kedua tangannya sebagi tanda agar model itu tak menyentuhnya.
"Tolong jauhkan wanita ini dariku," ujar Aksa pada petugas keamanan yang bersiaga di depan pintu kelab.
Dua petugas keamanan tersebut langsung mendekat.
"Apa-apaan ini, mau apa kalian? Gue lagi ngomong sama cowok gue, ya."
Saat Bianca sedang berdebat dengan petugas keamanan. Aksa langsung melenggang pergi dengan mobilnya.
Bianca berteriak marah melihat kepergian Aksa begitu saja.
"Cowok sialan! Berengsek!" umpatnya tak bisa mengendalikan diri. Wanita itu bahkan melepas sepatunya dan melemparkannya ke arah mobil Aksa melaju.
"Bebz ... ada apa ini, stop ... stop!" teriak pria kemayu yang baru saja datang dengan tergopoh-gopoh.
Ia menarik model tersebut untuk berhenti berteriak agar tidak semakin memancing keributan dan perhatian orang.
"Stop, Bebz, udah kita pergi aja," ajak asisten sang model.
"Gue nggak terima Aksa mutusin gue kayak gini. Enak aja dia mau ninggalin gue seenak jidatnya. Gue udah bela-belain batalin kontrak cuma buat nemuin dia, sekarang lo liat, dia mutusin gue gitu aja," teriak Bianca.
"Udah, lo, jangan teriak-teriak nanti makin banyak yang denger. Nanti lo bakalan malu sendiri." Asisten model itu manarik tubuh Bianca dan membawanya paksa ke mobil.
"Pokoknya, kita harus datang ke apartemennya. Gue mau buat perhitungan sama dia. Gue nggak terima!" Bianca membanting pintu mobilnya begitu ia masuk.
"Jalan, Pak," ujar asisten model itu begitu ia menyusul masuk. "Langsung pulang saja," imbuhnya.
"Nggak, gue nggak akan pulang. Kita ke apartemen Aksa dulu. Gue mau minta penjelasan, gue nggak bisa diputusin kayak gini."
"Udahlah, Bebz, ini juga udah malam. Kita temui Pak Aksa besok aja saat lo udah nggak dalam amarah kayak gini. Biar enak ngomongnya. Kalau sekarang kalian lagi emosi bisa-bisa makin runyam masalahnya."
"Udah, pak, pulang aja." Asisten Bianca kembali mengulang perintahnya pada supir.
Bianca marah karena keinginannya tak dituruti, tapi ia ikuti apa kata asistennya. "Aksa, lo jangan main-main sama gue. Gue nggak terima lo perlakukan gue kayak gini! lihat aja, gue bisa nekat," batin Bianca dengan menahan kesal yang mendalam dalam hatinya.
harta juga nggak jadi penolong Fadil diakhir hidup nya.