Lintni Syahrain seorang wanita yang mengalami pelecehan dalam satu malam yang membuat hidupnya hancur, bahkan terpaksa menikah dengan pria yang tidak disukainya.
Askelan Harrad seorang pria yang berhasil mencapai kekuasaan dengan segala cara, tapi dia sangat mencintai ibunya hingga terpaksa menikah demi membahagiakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Geisya Tin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Istri Sah
Istri Sah
Mobil berbelok ke arah balai kota diana Askelan akan mendaftarkan pernikahannya, di sepanjang jalan itu pula Jordan mengoceh ke sana kemari. Dia mengatakan tentang betapa pentingnya pernikahan bagi seorang wanita sehingga terkadang mereka melakukan hal-hal yang sepele dalam pelaksanaannya. Detail seperti pakaian atau pun aksesoris, sepatu dan lainnya, lebih diperhatikan oleh para wanita daripada laki-laki.
Mendengar suara ocehan dari Jordan itu akhirnya pun berteriak dengan kesal, dia bukannya tidak memperhatikan betapa buruknya pakaian yang dikenakan calon istri yang di pilihkan untuknya itu. Sebenarnya dia tidak habis pikir kenapa ibunya ingin menikah dengan wanita kasar dan baru saja keluar dari penjara.
Sudah sebulan yang lalu Askelan mencari wanita itu tapi, dia kehilangan jejak setelah dia bertemu seorang teman lamanya dulu, yang ternyata seorang pengkhianat dan memberinya minuman memabukkan.
Biar bagaimanapun dia akui kehebatan sang ibu dalam hal detail seperti ini, hingga begitu cepat gerakan asisten kepercayaannya menemukan gadis itu setelah mendapatkan perintah darinya.
“Berhenti sekarang juga!” pinta Askelan.
Jordan pun menghentikan mobil secara mendadak, sesuai perintah Askelan.
“Kau akan berani bertanggungjawab kalau perempuan ini kabur lagi!” kata Askelan lagi.
“Berhenti apa maksudnya, Tuan, apakah saya harus menghentikan mobilnya, tapi, ini belum sampai di Balai kota.”
“Bukan itu, maksudku hentikan ocehanmu! Bawa dia ke butik dekat Balai Kota, seingatku ada pakaian yang lumayan bagus, tidak perlu baju pengantin yang penting dia tidak memakai pakaian gembel seperti ini!”
“Baik.” Jordan berkata sambil memiringkan salah satu sudut bibirnya.
Jordan bersyukur ketika Askelan mulai mengerti maksudnya. Walaupun, yang akan diberikan pada Lintani bukan pakaian pengantin, tapi, setidak-tidaknya, tidak terkesan menikahi seorang pelayan. Mengingat baju yang digunakan Lintani saat ini adalah pakaian pelayan restoran.
Setelah sampai di butik yang dimaksud, Lintani turun dari mobil dengan malas, Jordan menemaninya masuk sementara Askelan menunggu di mobil. Wanita itu pun memilih pakaian yang paling sederhana.
Bagi Lintani, semua yang dikatakan Jordan saat berada di dalam mobil tentang pernikahan, justru berbeda.kali ini sebab tidak ada satu detail pun yang harus diperhatikan olehnya.
“Satu-satunya detail yang harus aku perhatikan adalah bagaimana bisa kabur dari kalian!” kata Lintani saat menunggu pakaiannya di bayar.
Setelah itu dia langsung mengganti pakaian lamanya dengan cepat, di kamar pass, dia sama sekali tidak melihat dirinya di cermin. Lalu, dia keluar setelah mengikat rambutnya ke atas, memperlihatkan leher jenjangnya yang bagus dan serasi dengan bentuk wajahnya yang bulat. Gadis itu tidak sadar kalau penampilannya justru terlihat sangat cantik dan menawan.
Jordan menelan ludahnya sambil menyumpahi Askelan yang pasti akan jatuh cinta setelah beberapa waktu sering melihat kecantikan alami ini di rumahnya.
“Tuan Sopir ...” kata Lintani saat dia sudah memasukkan baju lamanya ke dalam kantong plastik.
“Nama saya, Jordan, Nona. Tuan Askelan biasa memanggil saya Jode. Panggil saya seperti itu. Oh iya, apa ada yang bisa saya bantu?”
“Lupakan saja, itu tidak penting bagi kalian, kan?” Lintani berkata sambil berjalan kembali ke mobil mewah itu, dengan Jordan di belakangnya. Pria itu mengerutkan keningnya dan berpikir tentang apa yang akan dikatakan Lintani padanya.
Setelah berjalan beberapa meter saja, sampailah mereka ke balai kota, Lintani turun dengan tangan Askelan yang tidak pernah lepas dari pergelangan tangannya. Lintani tahu, jika semua yang dilakukannya adalah upayanya agar tidak kabur.
Lintani mencibir dirinya sendiri, dia tidak tahu atas dasar apa Askelan menikahinya dengan cara paksa seperti itu. Mereka saling mengenal pun tidak. Dia hanya tahu lelaki itu bernama Askelan, nama yang disebutkan sang sopir padanya.
“Dengar, aku hanya membutuhkan tanda tanganmu dan kita sah menjadi suami istri, kalau bukan karena ibuku, aku tidak akan sudi menikah denganmu,” kata Askelan saat sedang mengisi formulir di atas meja resepsionis. Hanya ada mereka berdua di meja itu.
“Aneh, aku tidak tahu mantra apa yang sudah kamu berikan padanya,” kata Askelan lagi sambil menggelengkan kepalanya.
“Terserah! Aku juga tidak mau mengikat hubungan dengan orang sepertimu!” sahut Lintani dengan tangan yang mengepal ingin rasanya memukulnya lagi.
Askelan menduga kalau ibunya mungkin sudah dicemari jalan pikirannya, hingga mengira wanita yang di sampingnya yang kasar dan Kumal itu sebagai wanita baik hati dan lemah lembut.
Tiba-tiba dia memikirkan Haifa, gadis itulah yang seharusnya dia nikahi, karena Haifa yang sudah menolongnya saat dia membutuhkan pelampiasan untuk mengeluarkan benihnya. Gadis itu yang lemah lembut dan polos, dia begitu murni dan cantik.
Askelan melirik pada nama Lintani saat dia mengisi formulir bagiannya, lalu berkata, “Apa kau akan mengisi dengan nama aslimu atau yang palsu?”
Lintani tidak menjawab, dia menulis nama aslinya dengan cepat dan menandatanganinya dengan cepat pula. Lalu, dia mengambil foto seorang diri tanpa menunggu Askelan, vas foto yang akan di tempelkan pada surat nikahnya.
Askelan melakukan hal yang sama, dan setelah selesai, tukang Fotografi itu bertanya dengan sopan, “Apa Anda akan mengambil foto berdua dengan posisi yang mesra?”
“Tidak!” kata Lintani dan Askelan secara bersamaan, sambil saling melirik tajam. Jordan yang melihat hanya bisa menarik napas dalam dan mengusap dada.
Lintani dan eskelen berdiri di dekat mobil sambil menunggu Jordan menyelesaikan urusan akta nikah mereka untuk segera disahkan. Mereka berbincang-bincang dan tampak serius.
Askelan berkata langsung pada pokok permasalahannya, “ingat aku menikahimu hanya karena ibuku dan aku akan memberikan kompensasi yang besar padamu kalau bisa membuat ibuku senang, setelah itu kau bebas melakukan apa pun yang kau inginkan, aku tidak peduli apa yang kau lakukan, apa kau mengerti?”
“Kompensasi seperti apa yang kau maksud, aku bukan wanita murahan yang bisa kau beli dan kau pakai sesuka hati!” sahut Lintani kesal.
“Aku aku tahu banyak sekali wanita yang sok punya harga diri dan berkata seperti itu, tapi begitu mereka melihat sejumlah uang, maka, mereka akan rela melakukan apa pun demi mendapatkannya?”
Lintani juga akan bersikap yang sama, tapi dia hanya butuh uang untuk bertahan hidup!
“Benarkah, berapa kompensasi yang akan kau berikan agar aku melakukan apa pun yang kau mau?”
“Jangan kuatir, aku akan memberimu jumlah yang pantas, tidak sedikit, 300.000 dollar!” Askelan menganggap itu uang yang sangat pantas.
Lintani terdiam dia tidak pernah membayangkan akan mendapatkan uang sebanyak itu tetapi, dia harus menunggu karena tidak bisa mendapatkan uang itu begitu saja melainkan setelah membuat ibunya senang. Kemudian lintani berpikir, anaknya saja seburuk ini lalu seburuk apa ibunya nanti? Dia bergidik ngeri.
*****
Lintani dibawa masuk ke sebuah villa besar yang mewah, itu bukan kediaman orang biasa tetapi ini rumah bagi orang-orang kaya yang biasa dilihatnya melalui layar televisi ataupun melalui berita, gadis itu tidak pernah melihat secara langsung.
Dia memang pernah bertemu beberapa orang sosialita tetapi, tidak pernah mengetahui bagaimana rumah mereka. Lalu, sekarang dia melihat villa tempat tinggal keluarga Askelan, membuatnya merasa kecil dan tidak layak. Namun, dia tahu bahwa, tidak bisa berbuat apa-apa atau menolak karena mereka menikah secara sah. Dia kini menjadi istri sah atau sebagai ratu bagi sang pemilik rumah.
Lintani berulang kali mendengar jika Askelan menikahinya hanya karena ibunya ia tidak tahu siapa ibu yang dimaksudkan. Dia hanya mempertimbangkan nyawanya sendiri dan kompensasi besar yang akan dia dapatkan, suatu saat nanti.
“Ayo! Masuklah, dan temui ibuku!”
Bersambung
xixixixxiixixi
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu