NovelToon NovelToon
Sumpah Di Atas Luka

Sumpah Di Atas Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Slice of Life / Teen Angst / Penyesalan Suami / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Romantis
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Peachy

Bagi Brixton, pernikahan ini bukanlah awal dari sebuah kebahagiaan, melainkan lonceng kematian bagi kebebasannya. Di bawah sumpah yang dipaksakan oleh ambisi keluarga, ia harus merelakan wanita yang ia cintai menjadi kenangan pahit, demi bersanding dengan seseorang yang dianggapnya sebagai kutukan hidup: dirimu. Brixton tidak pernah mencoba menyembunyikan kebenciannya. Baginya, setiap inci wajahmu adalah pengingat akan masa depan yang dirampas darinya. Di dalam rumah yang seharusnya menjadi surga, ia membangun tembok tinggi yang terbuat dari hinaan, penolakan, dan tatapan tajam yang menusuk. Puncaknya terjadi saat Brixton jatuh sakit dalam kesendiriannya. Di tengah demam yang membakar tubuh dan harga dirinya, ia tetap memilih untuk menderita daripada menerima uluran tanganmu. Baginya, sentuhanmu lebih panas dari demamnya, dan perhatianmu lebih menjijikkan daripada kematian itu sendiri. "Aku lebih baik merangkak menuju kematian daripada disentuh olehmu." Di antara benci yang mendarah daging dan luka yang tak kunjung kering, akankah sumpah di atas altar itu tetap menjadi penjara? Ataukah di balik rintihan sakitnya, tersimpan sebuah rahasia yang bahkan Brixton sendiri takut untuk mengakuinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang-bayang masa lalu?

Pagi hari di kediaman Vance kini selalu dimulai dengan melodi yang berbeda. Bukan lagi keheningan yang mencekam, melainkan suara tawa kecil yang renyah dan langkah-langkah kaki yang terburu-buru. Leo Alistair Vance, yang kini telah menginjak usia delapan bulan, benar-benar menjadi pusat semesta bagi Brixton dan Alana. Bayi mungil itu tumbuh dengan sangat luar biasa; ia memiliki mata hijau zamrud milik Alana yang jernih, namun dengan garis rahang dan sorot mata tegas yang menurun langsung dari Brixton.

Di ruang bermain yang luas dan penuh cahaya, Alana duduk di atas karpet bulu yang empuk. Ia memperhatikan Leo yang sedang berusaha keras untuk merangkak mengejar bola plastik berwarna biru.

"Ayo, Leo... sedikit lagi, Sayang," bisik Alana menyemangati.

Leo mengeluarkan suara gumaman yang lucu, air liurnya sedikit menetes karena ia sedang tumbuh gigi, namun semangatnya tidak luntur. Saat jemari mungilnya berhasil menyentuh bola itu, ia berbalik ke arah Alana dan memamerkan gusi merah mudanya dalam tawa yang tak bergigi.

"Anak pintar," puji sebuah suara berat dari ambang pintu.

Brixton berdiri di sana, mengenakan setelan jas kantor yang rapi namun tanpa dasi. Ia baru saja pulang dari pertemuan bisnis yang singkat, dan hal pertama yang ia lakukan selalu adalah mencari istri dan anaknya. Brixton segera melepaskan jasnya, melemparkannya ke atas sofa, lalu berlutut di samping Alana.

"Bagaimana kabarnya hari ini?" tanya Brixton sambil mencium kening Alana, lalu beralih mengangkat Leo ke udara, membuat bayi itu tertawa kegirangan.

"Dia sudah mulai mengerti perintah sederhana, Brixton. Dan lihat, dia hampir bisa merangkak dengan sangat cepat sekarang," Alana menjawab dengan binar kebahagiaan di matanya.

Brixton mendekap Leo di dadanya, membiarkan tangan kecil bayinya menarik-narik kerah kemeja mahalnya. Bagi pria yang dulu sangat dingin ini, noda air liur di kemeja sutranya bukan lagi masalah besar. Ia justru menikmatinya. "Kau akan menjadi penguasa kecil yang hebat, Leo. Tapi ingat, kau tidak boleh nakal pada Ibumu."

Namun, di tengah kebahagiaan yang tampak sempurna itu, sebuah guncangan kecil mulai muncul dari arah yang tidak terduga. Masa lalu, seberapa pun dalamnya dikubur, terkadang memiliki cara untuk merangkak kembali ke permukaan.

Beberapa hari kemudian, saat Brixton sedang berada di kantor, seorang tamu tak diundang muncul di lobi Vance International. Wanita itu mengenakan pakaian desainer yang mencolok dan kacamata hitam besar. Namanya adalah Bianca, mantan kekasih Brixton di masa lalu, jauh sebelum ia mengenal Elena, dan satu-satunya wanita yang pernah memiliki ambisi besar untuk menjadi Nyonya Vance namun ditendang keluar oleh keluarga Brixton karena sifatnya yang manipulatif.

Bianca berhasil masuk ke ruangan Brixton setelah bersitegang dengan sekretarisnya.

"Lama tidak bertemu, Brixton," ucap Bianca dengan nada yang sengaja dibuat manis saat ia melangkah masuk tanpa izin. "Aku mendengar kau sudah menjadi seorang ayah. Benar-benar kejutan besar bagi pria sedingin kau."

Brixton tidak beranjak dari kursi kebesarannya. Matanya menatap Bianca dengan sorot mata yang tajam dan tak bersahabat. "Apa yang kau lakukan di sini, Bianca? Aku tidak punya waktu untuk nostalgia yang tidak berguna."

"Oh, jangan kasar begitu. Aku hanya ingin mengucapkan selamat," Bianca mendekati meja kerja Brixton, meletakkan sebuah amplop di sana. "Dan mungkin mengingatkanmu bahwa tidak semua orang senang dengan kebahagiaan kecilmu ini. Ada banyak rahasia tentang bagaimana kau mendapatkan kekayaanmu di awal karir yang mungkin istrimu yang 'polos' itu tidak tahu."

Brixton menyeringai sinis. "Kau pikir kau bisa mengancamku? Kau sudah tidak punya kekuatan apa pun, Bianca. Pergi sekarang sebelum aku memanggil keamanan untuk menyeretmu keluar."

Bianca tersenyum miring, sebuah senyum yang menyimpan racun. "Aku tidak butuh kekuatan untuk menghancurkan perasaan seorang wanita hamil... ah maaf, maksudku wanita yang baru melahirkan. Bagaimana jika aku menceritakan pada Alana tentang hari-hari di mana kau bersumpah tidak akan pernah mencintai siapa pun selain dirimu sendiri?"

"Terserah kau saja," jawab Brixton dingin, meskipun di dalam hatinya ia merasa muak. "Alana tahu segalanya tentangku. Kau tidak lebih dari sekadar debu di masa laluku."

Meski Brixton mencoba bersikap tak acuh, kehadiran Bianca mulai sedikit mengusik ketenangannya. Wanita itu mulai mengirimkan beberapa kiriman bunga tanpa nama ke rumah, atau sesekali menelepon nomor pribadi Alana—yang entah bagaimana ia dapatkan—hanya untuk memberikan ucapan-ucapan misterius yang memancing kecurigaan.

Suatu sore, Alana menerima sebuah kiriman paket berisi foto-foto lama Brixton yang sedang berpesta dengan banyak wanita di masa lalunya, termasuk Bianca. Di dalam paket itu tertulis sebuah catatan: “Apakah kau benar-benar berpikir kau adalah satu-satunya? Dia hanya butuh pewaris, bukan cinta.”

Alana menatap foto-foto itu dengan tenang. Jika ini terjadi setahun yang lalu, mungkin ia akan hancur dan menangis berhari-hari. Namun Alana yang sekarang bukanlah wanita yang sama. Ia telah melewati api penderitaan dan keluar sebagai pemenang. Ia tahu betul siapa Brixton sekarang.

Saat Brixton pulang malam itu dengan gurat kecemasan di wajahnya karena ia sudah mendengar tentang paket tersebut dari penjaga gerbang, ia menemukan Alana sedang duduk di ruang makan, menyuapi Leo bubur buah. Foto-foto itu tergeletak begitu saja di atas meja, tidak disembunyikan.

"Alana, aku bisa jelaskan... itu semua masa lalu. Aku tidak pernah..." Brixton mulai bicara dengan nada panik.

Alana mengangkat tangannya, menghentikan kalimat Brixton. Ia tersenyum tipis, lalu menyodorkan satu sendok bubur ke mulut Leo yang terbuka lebar.

"Aku tahu, Brixton," ucap Alana tenang. "Aku tahu kau dulu adalah pria yang bebas dan mungkin tidak terlalu menghargai wanita. Aku tahu kau pernah berkata tidak akan mencintai siapa pun. Tapi pria di foto itu bukan pria yang sedang berdiri di depanku sekarang."

Alana bangkit, menggendong Leo, dan berjalan mendekati Brixton. "Pria di depanku sekarang adalah ayah yang bangun di tengah malam untuk mengganti popok Leo. Pria yang membatalkan rapat demi menemaniku ke dokter. Jangan biarkan orang dari masa lalumu merusak apa yang sudah kita bangun dengan susah payah."

Brixton merasa hatinya mencair. Ia menarik Alana dan Leo ke dalam satu pelukan besar. "Maafkan aku karena masa laluku masih mencoba mengganggumu."

"Masa lalumu tidak memiliki kuasa di rumah ini, Brixton. Selama ada aku dan Leo, bayang-bayang itu tidak akan pernah bisa masuk," bisik Alana.

Untuk benar-benar mengakhiri gangguan Bianca, Brixton mengambil langkah tegas. Bukannya bersembunyi, ia justru mengundang Bianca untuk datang ke rumahnya secara resmi.

Keesokan harinya, Bianca datang dengan kepercayaan diri tinggi, mengira ia telah berhasil meretakkan hubungan mereka. Namun, ia justru disambut oleh pemandangan yang tidak ia harapkan.

Di taman belakang, Brixton dan Alana sedang bermain bersama Leo di atas rumput. Mereka tampak sangat kompak, tertawa, dan saling melempar pandang penuh kasih. Tidak ada jejak ketegangan atau kecurigaan.

"Kau memintaku datang?" tanya Bianca, suaranya sedikit bergetar melihat kebahagiaan mereka.

Brixton berdiri, namun ia tetap menggandeng tangan Alana. "Aku memintamu datang untuk melihat ini, Bianca. Ini adalah hidupku sekarang. Kau bisa mengirim seribu foto atau seribu ancaman, tapi kau tidak akan pernah bisa mengubah kenyataan bahwa Alana adalah duniaku."

Alana melangkah maju, menatap Bianca dengan tatapan yang tenang namun berwibawa. "Aku tidak membencimu, Bianca. Aku justru merasa kasihan padamu. Kau masih terjebak di masa lalu yang bahkan Brixton sendiri sudah lupa pernah ada. Berhentilah membuang energimu. Kami tidak akan terpengaruh."

Melihat ketenangan Alana dan ketegasan Brixton, Bianca menyadari bahwa tidak ada celah yang bisa ia masuki. Ia seperti mencoba menghancurkan dinding baja dengan selembar kertas. Dengan perasaan malu dan kalah yang telak, ia berbalik dan pergi dari kediaman Vance, tidak pernah kembali lagi.

Setelah gangguan itu hilang, kehidupan mereka kembali fokus pada hal yang paling penting: Leo.

Momen-momen manis pertumbuhan Leo terus berlanjut. Suatu hari, saat mereka sedang duduk di ruang keluarga, Leo yang sedang bermain dengan balok kayu tiba-tiba terdiam. Ia menatap Brixton yang sedang membaca koran di sampingnya.

"Pa... Pa..." suara kecil Leo terdengar pelan namun jelas.

Brixton menjatuhkan korannya. Ia menatap Leo dengan mata membelalak. "Leo? Apa yang kau katakan?"

"Pa... Pa-pa!" Leo tertawa, merentangkan tangannya ke arah Brixton.

Itu adalah kata pertama Leo. Brixton seketika mengangkat Leo dan mencium pipi gempalnya berkali-kali. "Dia memanggilku! Alana, kau dengar itu? Dia memanggilku Papa!"

Alana tertawa haru dari arah dapur. "Sepertinya dia tahu siapa yang paling sering memanjakannya dengan mainan baru."

Malam itu, mereka menghabiskan waktu dengan bermain di karpet. Brixton bahkan rela merangkak di lantai, berpura-pura menjadi kuda untuk Leo, sementara Alana mengabadikan momen itu dengan kamera. Pria yang dulunya sangat peduli dengan citra kekuasaannya, kini merasa sangat bangga menjadi "kuda" bagi anaknya.

Leo tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan cinta. Setiap malam sebelum tidur, Brixton akan membacakan cerita tentang petualangan hebat, sementara Alana akan menyanyikan lagu pengantar tidur yang lembut. Mereka memastikan bahwa meskipun Leo adalah pewaris kekayaan Vance yang melimpah, hal pertama yang ia rasakan dalam hidupnya adalah kasih sayang yang tulus.

Masa lalu memang terkadang mencoba kembali, namun di rumah ini, masa depan jauh lebih bersinar. Setiap tawa Leo, setiap genggaman tangan Alana, dan setiap pelukan Brixton adalah bukti bahwa luka lama tidak lagi memiliki tempat. Mereka telah berhasil membangun benteng yang terbuat dari kepercayaan dan cinta—benteng yang tidak akan pernah bisa ditembus oleh bayang-bayang masa lalu mana pun.

Brixton menyadari bahwa kehadiran Leo bukan hanya sekadar penerus nama keluarga, melainkan simbol pembersihan jiwanya. Dan Alana, wanita yang dulu ia abaikan, kini adalah ratu yang memimpin hatinya menuju kebahagiaan yang sejati. Di bawah atap mansion Vance yang kini hangat, sebuah keluarga kecil telah menemukan surga mereka sendiri.

1
shabiru Al
operasi nya pasti berhasil alana jangan bersedih
shabiru Al
suratnya sedih banget sih thor,, sarat akan perpisahan,, emangnya brixton mau the end ya...
shabiru Al
benar leo sudah besar saatnya menjadi pilar penopang sang ayah dsaat pilar yang satunya baru saja tumbuh jadi tunas,, leo harus jadi laki2 kuat demi ayah adik dan ibunya
shabiru Al
naah kan bener sakit jantung... duh kenapa lagi tuh brixton harus menunda pengobatan dengan dalih tak ingin membuat alana dan anak2nya sedih,, lhaa dipikir brixton kalo udah parah penyakitnya alana sama anak2nya gaka bakalna sedih,, mending kalo sembuh brixtonya kalo gak....
shabiru Al
sakit apa brixton... apa jantung nya bermasalah ya...
shabiru Al
caspian penyempurna hidup brixton
shabiru Al
hadiah yang sepadan untuk brixton
shabiru Al
akhirnya...... beruntung sekali alana dan brixton memiliki anak sedewasa leo
shabiru Al
apa alasan dbalik sikap diam alana ya...
kalea rizuky
cerai aja Alana klo lu masih inget penghianat an dripada berantem trs
kalea rizuky
mau nya ap bumil ini
shabiru Al
udah berumur juga alana nya,, mungkin masuk kehamilan beresiko
shabiru Al
meskipun ngalahirin itu sakit nya luar biasa tpi gak ada kata kapok ya alana🤭
kalea rizuky
kenangan lu kebanyakan pahit dr awal nikah nyakitin ehh berumah tangga lama malah selingkuh g tau diri
Emily
kupikir Alana mati lha kok msih hidup🤪
Emily
tolol juga di Alana kenapa msih mau bertahan
kalea rizuky
males deh bodohnya kasih kesempatan ke laki doyan selingkuh apapun alasannya munafik
kalea rizuky
males deh Thor mending cerai selingkuh lagi nanti dia wong cwok plin plan uda ciuman ma jalang remes2
Peachy: Sabar sengg, suaminya emang agak agak alana nih.🥹
total 1 replies
kalea rizuky
mual. g sih liat suami ciuman ma cwek lain
kalea rizuky
pergi jauh Alana
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!