Di mata orang banyak, Arini dan Adrian adalah sepasang potret yang sempurna dalam bingkai emas. Adrian dengan wibawanya, dan Arini dengan keanggunan yang tak pernah luntur oleh waktu. Namun, rumah mereka sesungguhnya dibangun di atas tanah yang mulai bergetar.
Kehadiran sebuah surat usang yang tiba-tiba, perlahan mengikis cat indah yang membungkus rahasia masa lalu. Arini mulai sadar bahwa selama ini ia tidak sedang memeluk seorang suami, melainkan sebuah rencana besar yang disembunyikan di balik senyum yang paling manis.
Baginya, air mata adalah sia-sia. Di balik keanggunannya yang tetap terjaga, Arini mulai menggeser bidak-bidak catur dengan jemari yang tenang. Kini, ia bukan lagi seorang istri yang dikhianati, melainkan sutradara dari akhir kisah suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gio
Jakarta Selatan selalu punya cara untuk tetap bising meski malam mulai merayap. Di balik jendela kaca besar sebuah apartemen mewah, lampu-lampu kota tampak seperti hamburan berlian yang tidak beraturan.
Sebuah Ferrari Roma berwarna merah rosso cossa meluncur mulus, berhenti tepat di depan lobi. Kilap bodinya memantulkan lampu-lampu kota dengan sempurna. Dari balik kemudi, keluar seorang pria bernama Gio. Tubuhnya atletis, dibalut kemeja linen yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan urat-urat tangan dan otot yang terbentuk keras.
Wajahnya tampan dengan garis rahang yang tegas, namun sorot matanya dingin dan sangar, seolah ia bisa membelah keramaian hanya dengan tatapan.
Ia melangkah masuk menuju kafe di area komersial apartemen tersebut. Di sudut ruangan yang agak tersembunyi, Arini duduk bersantai, menyesap kopinya dengan tenang.
Gio menarik kursi di hadapan Arini tanpa permisi. Ekspresinya datar, tersirat rasa malas yang enggan ia sembunyikan. Sebenarnya, ia enggan berada di sini, namun Arini bilang ini darurat.
"Langsung saja. Ada apa?" suara Gio rendah.
Arini meletakkan cangkirnya, menatap Gio lekat.
"Gua butuh lo meretas CCTV ruangan kerja Adrian. Juga CCTV di apartemen pribadinya, dan akses penuh ke laptopnya."
Alis Gio terangkat sebelah. Permintaan yang spesifik, dan sedikit berisiko. "Untuk apa?"
"Lakukan saja, cepat," potong Arini tanpa ingin menjelaskan lebih jauh.
Jari-jari Gio mulai menari di atas keyboard. Gerakannya tidak panik, melainkan ritmis dan sangat cepat. Layar laptop yang tadinya menampilkan wallpaper standar, kini berubah menjadi deretan baris kode berwarna hijau dan putih yang bergulir cepat seperti air terjun.
Ia tidak menggunakan mouse. Tangannya bergerak lincah melakukan bypass pada protokol keamanan berlapis. Gio melewati firewall apartemen Adrian seolah itu hanya pintu yang tidak terkunci.
Beberapa kali ia mengetikkan perintah script enkripsi untuk menyamarkan jejak digitalnya agar tidak terdeteksi oleh sistem keamanan pusat.
Cahaya biru dari layar memantul di bola matanya yang fokus.
Bagi orang awam, apa yang dilakukan Gio terlihat seperti sihir, namun bagi Gio ini hanyalah soal menemukan celah di antara logika yang cacat.
Tak sampai setengah jam, Gio berhenti mengetik. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, memutar laptop tersebut ke arah Arini.
"Selesai," ucapnya singkat.
Ia mengubah posisi laptop itu dan memberikannya kepada Arini. Di layar, kini terpampang sembilan kotak video real-time. Sudut ruangan kantor Adrian yang sunyi, ruang tamu apartemennya yang mewah, hingga struktur folder di laptop pribadinya kini terbuka lebar tanpa pertahanan.
"Sesuai keinginan lo, tapi kalau ada masalah jangan salahin gua ya," ucapnya beranjak berdiri.
"Wah, good job Gio," ucap Arini dengan senyum senang.
Gio memutar matanya malas, mendengar pujian itu seperti ucapan yang menyebalkan menyapa kedua telinganya.
"Kenapa lo tiba-tiba minta gua lakuin ini?" tanya Gio, jujur ia sedikit penasaran.
Senyum Arini tampak memudar. Tatapannya menjadi tajam, bukan Arini yang Gio kenal selama ini.
Gio masih berdiri namun tangannya tertahan di sandaran kursi. Ia menatap Arini yang kini terpaku pada layar laptop. Ada jeda yang cukup panjang di antara mereka, hanya riuh rendah suara mesin kopi dari kejauhan yang mengisi keheningan.
"Sebenarnya ada apa, Rin?" tanya Gio, suaranya berubah menjadi lebih lembut.
Arini tidak menjawab. Matanya masih terpaku pada satu jendela video yang menampilkan ruang tengah apartemen Adrian yang kosong.
Gio menghela napas pendek. Ia kembali duduk, sedikit condong ke depan. "Adrian suamimu, kan? Apa ini soal dia yang main di belakang?"
Mendengar itu, Arini akhirnya menoleh. Ia tidak marah, tidak juga menangis. Ia hanya memberikan sebuah senyum kecut. Senyum yang membenarkan tebakan Gio tanpa perlu satu kata pun keluar dari mulutnya.
"Klasik," gumam Gio pendek. Ia merasa sedikit menyesal telah bertanya.
Tiba-tiba, salah satu kotak CCTV di layar laptop berkedip. Seseorang masuk ke dalam apartemen Adrian. Arini dan Gio refleks menajamkan pandangan. Di layar yang jernih itu, terlihat Adrian masuk bersama seorang wanita.
Seorang pria dengan wajah yang tak asing, ya itu adalah Adrian! Namun Ia tak sendiri, Ia bersama dengan seorang wanita. Adrian merangkul erat wanita itu. Mereka terlihat mesra dan jauh dari kata "teman dekat". Arini mengepalkan tangannya di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih.
"Mau gua matiin?" tawar Gio. Ia tahu melihat pengkhianatan bukan hal yang mudah bagi siapapun.
"Jangan," ucap Arini.
"Buka folder yang namanya 'Private Docs' di pojok kanan itu, Gio."
Gio mengerutkan kening, lalu tangannya kembali menari di atas keyboard. Ia membuka folder tersebut dan seketika deretan file berisi laporan keuangan dan transaksi gelap muncul. Ternyata ini bukan sekadar soal perselingkuhan.
"Dia bukan cuma menghianati gua, Gio," bisik Arini sambil menunjuk salah satu dokumen transaksi. "Dia menggunakan aset perusahaan atas nama gua untuk mencuci uangnya."
"Sialan tuh orang!" ucap Gio.
Gio menatap Arini, "Ini harus di laporin ke pihak berwajib, Arini! Lo ngga bisa biarin dia seenaknya kayak gitu sama lo,"
Arini menghela napas perlahan. Ia berusaha untuk tetap tenang, tidak sekarang. Namun disampingnya laki-laki yang sudah menjadi temannya lebih dari 20 tahun itu yang justru terlihat sangat emosi melihat kelakuan Adrian yang semakin menjadi-jadi.
"Oke, apa rencana lo sekarang?" tanya Gio, seolah tahu dengan isi pikiran dari wanita itu.
"Kita memang punya bukti, namun semua bukti ini belum bisa untuk membuktikan semuanya. Ada yang perlu kita cari lagi, Gio,"
"Kita ikuti saja dulu permainan dia, dan di waktu yang tepat kita bongkar semuanya,"