"Dokter, tolong! Jantungku berdebar seratus delapan puluh BPM, napasku sesak, dan duniaku berputar-putar!"
Adrian menatap datar gadis berseragam SMA di depannya. "Itu karena kamu lari dari parkiran menuju ruangan saya tanpa sarapan, Lala. Bukan serangan jantung."
Lala malah nyengir tanpa dosa. "Ih, Dokter salah diagnosa! Ini namanya penyakit Cintrong Stadium Akhir. Obatnya cuma satu: Vitamin D. Alias... Vitamin Dari Dokter Adrian!"
Satu rumah sakit gempar. Bagaimana mungkin dokter paling jenius dan dingin bisa dikejar-kejar oleh bocil SMA yang otaknya hanya berisi konten dan drama? Namun, saat masa lalu Adrian yang kelam kembali menghantui, apakah keceriaan alay milik Lala bisa menjadi satu-satunya obat yang ia butuhkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Razia HP dan Foto Candid Dokter Adrian
Penuh dengan tanda-tanda keraguan adalah saat Adrian melihat sebuah rekaman video di dalam kamera tersebut yang menunjukkan sosok seseorang yang sangat ia kenal sedang tersenyum licik. Sosok itu bukan Lala, melainkan rekan sejawatnya sendiri yang selama ini terlihat sangat sopan namun ternyata menyimpan duri dalam daging. Adrian meremas benda kecil itu hingga buku jarinya memutih sambil menatap pintu ruangannya yang masih bergetar karena hentakan kaki Lala tadi.
"Ternyata ada tikus besar yang sedang mencoba menjebak saya menggunakan anak kecil itu," desis Adrian dengan tatapan yang sangat tajam dan membahayakan.
Adrian tidak bisa membiarkan Lala menjadi sasaran kemarahan atau dimanfaatkan lebih jauh oleh orang lain di lingkungan rumah sakit ini. Ia segera menyambar jas putihnya dan berlari menuju area parkir dengan langkah yang sangat lebar dan terburu-buru. Namun, pemandangan di dekat pos penjagaan membuat langkahnya terhenti secara mendadak karena ada keributan yang melibatkan sekelompok siswi sekolah menengah.
"Kembalikan telepon genggamku sekarang juga atau aku akan teriak kalau kalian sedang melakukan perundungan!" teriak Lala dengan suara yang lantang dan menantang.
"Kami tidak akan mengembalikannya sampai semua foto dokter tampan itu dihapus, kamu benar-benar sudah gila ya, Lala?" sahut seorang gadis dengan seragam serupa namun tampak lebih galak.
Ternyata Lala sedang dihadang oleh teman-teman sekolahnya sendiri yang merasa iri sekaligus risih dengan perilaku ugal-ugalan gadis itu di media sosial. Mereka berusaha merampas telepon genggam milik Lala untuk melakukan razia mandiri terhadap koleksi foto rahasia yang selama ini disimpan dengan sangat rapi. Adrian berdiri di kejauhan sambil mengamati bagaimana Lala berjuang mempertahankan harta karun digitalnya dengan gigih dan pantang menyerah.
"Foto-foto itu adalah nyawaku, jangan berani-berani menyentuh satu lembar pun dari galeri pribadiku!" bentak Lala sambil memeluk tas sekolahnya dengan sangat erat.
"Kalau begitu kami akan melaporkan foto-foto tanpa izin ini kepada guru bimbingan konseling agar kamu dikeluarkan dari sekolah!" ancam teman sekolahnya yang berambut kuncir kuda.
Adrian menyadari bahwa situasi ini sudah sangat tidak sehat bagi masa depan pendidikan gadis remaja yang keras kepala tersebut. Ia melangkah mendekati kerumunan itu dengan aura wibawa seorang dokter spesialis yang mampu membungkam suara-suara bising dalam sekejap mata. Para siswi itu seketika terdiam dan mematung saat melihat sosok pria dewasa yang sangat tampan namun menyeramkan itu berdiri tepat di hadapan mereka.
"Berikan telepon genggam itu kepada saya sekarang juga atau saya panggilkan petugas keamanan untuk membawa kalian ke kantor polisi," ucap Adrian dengan nada yang sangat rendah namun menekan.
"D-dokter Adrian? Kami hanya sedang membantu merazia barang yang tidak pantas, Dokter," jawab siswi itu dengan suara yang bergetar-getar karena ketakutan.
Adrian mengambil paksa telepon genggam dari tangan siswi tersebut lalu memberikan isyarat dengan matanya agar mereka segera pergi dari area rumah sakit. Setelah mereka berlari kocar-kacir menjauh, Adrian kini berdiri berdua saja dengan Lala yang tampak sangat berantakan dengan rambut yang sedikit kusut. Ia menatap layar telepon genggam milik Lala yang masih menyala dan menampilkan ribuan foto dirinya dari berbagai sudut secara tidak sengaja.
"Jadi ini yang kamu lakukan setiap hari di sekolah, mengoleksi foto saya seperti sedang mengumpulkan perangko kuno?" tanya Adrian sambil menggelengkan kepala karena rasa heran yang luar biasa.
"Itu adalah vitamin semangat untuk belajarku, Dokter jangan berani-berani menghapusnya atau aku akan mogok makan selamanya!" ancam Lala dengan wajah yang masih memerah karena marah sekaligus malu.
Tanpa banyak bicara, Adrian justru memasukkan telepon genggam tersebut ke dalam saku jasnya sendiri dan mulai berjalan menuju kendaraannya yang terparkir tidak jauh dari sana. Lala ternganga lebar melihat hartanya disita secara sepihak oleh sang pemilik wajah dalam foto tersebut tanpa ada perundingan terlebih dahulu. Ia segera berlari mengejar langkah Adrian yang sangat cepat sambil mencoba menarik-narik ujung jas putih sang dokter dengan sekuat tenaga.
"Dokter Adrian pencuri! Kembalikan punyaku, itu privasi asmaraku yang sangat rahasia dan sangat penting!" teriak Lala dengan suara yang nyaris menangis karena panik.
"Telepon ini akan saya sita sampai kamu bisa menunjukkan nilai ujian matematika yang sempurna di hadapan saya minggu depan," jawab Adrian tanpa menghentikan langkahnya sedikit pun.
Adrian masuk ke dalam mobilnya dan segera mengunci pintu sebelum Lala sempat menyelinap masuk ke dalam kursi penumpang seperti yang biasa ia lakukan. Ia menatap Lala dari balik kaca jendela mobil yang tertutup rapat sambil menunjukkan telepon genggam itu dengan sebuah senyuman tipis yang sangat misterius. Lala menggedor-gedor kaca mobil dengan penuh rasa frustrasi yang sudah mencapai titik didih tertinggi di dalam kepalanya yang mungil.
"Dokter jahat! Dokter benar-benar kulkas yang membeku dan tidak punya perasaan sama sekali kepada rakyat kecil!" seru Lala dari luar dengan wajah yang ditempelkan ke kaca.
Adrian hanya menghidupkan mesin mobilnya dan perlahan meninggalkan area parkir sambil terus melihat wajah Lala melalui cermin pantul di samping kendaraannya. Ia merasa bahwa ini adalah cara terbaik untuk melindungi Lala sekaligus memberinya pelajaran tentang batasan batasan dalam sebuah pengejaran cinta yang liar. Namun, saat ia meraba saku jasnya kembali, ia menyadari ada sesuatu yang tertinggal di tangan Lala yang bisa mengubah seluruh rencana perdamaiannya.
Seluruh rencana perdamaiannya terasa hancur saat Adrian melihat melalui cermin pantul bahwa Lala sedang memegang sebuah lencana pengenal dokter yang sepertinya jatuh saat pergulatan razia tadi.