NovelToon NovelToon
Nafkah 500 Ribu Yang Selalu Diungkit

Nafkah 500 Ribu Yang Selalu Diungkit

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Ayu wulandari yang berusia dua puluh empat tahun ,ia sudah menikah dengan Aris seorang meneger disebuah perusahaan ,setiap bulan ia hanya mendapatkan nafkah 500 ribu untuk kebutuhan rumah tangganya dan itupun selalu Diungkit oleh suami dan mertuanya ,bagaimana Ayu berjuang untuk keluarganya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sidang dan kemenangan

Malam itu terasa berjalan lambat bagi Kirana ,Bukan karena jam berhenti, tapi karena pikiran Kirana masih berkejaran ke mana-mana.

Meski Aris sudah pergi, bayangannya tertinggal seperti debu yang belum sempat disapu—tak terlihat jelas, tapi terasa mengganggu.

Gio tidur di sampingnya, kali ini lebih gelisah. Beberapa kali anak itu terbangun, memastikan Kirana masih ada di situ.

“Mama di sini,” bisik Kirana setiap kali Gio menggenggam bajunya.

Dan setiap kali pula, Gio kembali terlelap.

Menjelang tengah malam, Kirana baru berani bangkit perlahan. Ia duduk di ruang tengah, menyalakan lampu kecil.

Tangannya masih sedikit gemetar saat menuang air putih.

Hari ini ia berdiri. Tapi keberanian, rupanya, juga melelahkan.

Ia membuka ponsel, menatap layar tanpa benar-benar membaca apa pun. Sampai satu pesan masuk dari Arka.

(Arka ):

#"Aku di depan ruko. Tenang aja, cuma mau pastiin aman."

Kirana menatap pintu beberapa detik, lalu membalas.

(Kirana):

#"Masuk aja. Pintu nggak dikunci.

Arka masuk pelan. Wajahnya terlihat lelah, tapi matanya waspada. Ia menutup pintu dengan hati-hati.

“Gio?” tanyanya lirih.

“Tidur,” jawab Kirana. “Agak susah tadi.”

Arka mengangguk. “Wajar.”

Mereka duduk berhadapan di ruang tengah, hanya diterangi lampu kecil. Tidak ada kata-kata berlebihan. Keheningan kali ini tidak canggung—justru menenangkan.

“Aku sudah hubungi ketua RT,” kata Arka akhirnya. “Bilang kalau ada mantan suami kamu yang bikin keributan. Dia janji kalau orang itu datang lagi, langsung lapor keamanan.”

Kirana menatapnya. “Terima kasih. Aku jadi merasa… nggak sendirian.”

Arka tersenyum tipis. “Kamu memang nggak sendirian.”

***

Pagi berikutnya datang dengan hujan tipis.

Kirana bangun dengan kepala sedikit berat, tapi tekadnya tidak berkurang. Ia menyiapkan sarapan sederhana, lalu mengantar Gio ke sekolah dengan langkah yang lebih waspada dari biasanya.

Setiap suara motor membuatnya menoleh. Setiap bayangan lelaki membuat dadanya menegang.

Namun Aris tidak muncul.

Di depan sekolah, Gio memeluknya lebih lama dari biasanya. “Mama jemput aku, kan?”

“Iya,” jawab Kirana lembut. “Mama pasti jemput.”

Setelah Gio masuk, Kirana tidak langsung pulang. Ia duduk di warung kopi kecil seberang sekolah, membuka map dokumen lagi.

Ia membaca ulang semuanya.

Perlindungan sementara.

Hak asuh sementara.

Catatan kejadian kemarin.

Ini nyata. Ini berjalan.

Ia mengirim pesan ke Bu Lusi, melaporkan detail tambahan: jam kedatangan Aris, kata-kata ancaman, saksi yang ada.

Balasan datang cepat.

(Bu Lusi):

#"Kirana, kamu melakukan hal yang sangat tepat. Dengan kejadian ini, posisi kamu makin kuat. Tolong jangan pernah hadapi dia sendirian lagi.

Kirana menarik napas panjang.

Ia merasa sedikit lega

***

Siang itu, ruko kembali ramai. Toko sekarang bukan cuma untuk tempat tinggal ,dan menjalankan bisnis cateringnya bersama Bu Anita ,namun sekarang toko sudah diisi berbagai kebutuhan sehari - hari ,semua itu dengan modal tabungan Kirana selama membuka catering,Bu Anita pemilik Ruko tidak merasa keberatan ,justru ia merasa senang dengan semangat Kirana .

Beberapa tetangga datang dengan alasan berbeda-beda—ada yang beli pulsa, ada yang cuma mampir. Tapi Kirana tahu, ini bukan kebetulan.

Mereka ingin memastikan ia baik-baik saja.

Bu Rini datang membawa sayur asem.

Pak Darto dari ruko sebelah menawarkan nomor satpam komplek.

Bahkan Mbak Sari memeluknya erat begitu datang.

“Bu Kirana, aku bangga sama kamu,” kata Mbak Sari dengan mata berkaca-kaca.“Serius.”

Kirana tersenyum, kali ini tanpa canggung. “Aku masih belajar, Mbak.”

***

Sore menjelang ketika ponsel Kirana kembali bergetar.

Nomor tak dikenal.

Dadanya langsung mengeras.

Ia hampir tidak mengangkatnya.

Tapi kemudian ia ingat: ia tidak bersembunyi lagi.

Ia menjawab.

“Hallo?”

“Bu Kirana?” suara laki-laki terdengar formal. “Saya dari Pengadilan Agama. Ingin mengonfirmasi kehadiran Ibu untuk sidang penetapan perlindungan hari Kamis.”

Kirana duduk tegak. “Iya, Pak. Saya hadir.”

“Baik. Mohon datang tepat waktu dan membawa semua dokumen.”

Setelah telepon ditutup, Kirana menatap dinding kosong beberapa detik.

Kamis,ia berharap hari Itu lebih cepat dari hari biasanya ,perasaannya bercampur aduk :

Takut?

Iya.

Tapi mundur?

Tidak lagi.

Malam sebelum sidang, Kirana hampir tidak bisa tidur.

Ia memeriksa tasnya berkali-kali: KTP, akta Gio, dokumen laporan, salinan kejadian kemarin.

Gio tidur di kamar sebelah, memeluk tas sekolahnya seperti bantal.

Kirana menatap anaknya lama.

“Besok Mama pergi sidang,” katanya pelan, meski Gio sudah terlelap. “Mama bakal ngomong banyak hal. Tentang kita.”

Ia tersenyum kecil. “Doain Mama berani terus, ya.”

***

Hari Kamis tiba.

Langit Jakarta mendung, tapi tidak hujan. Kirana mengenakan kemeja biru muda dan celana hitam. Rambutnya diikat rapi. Wajahnya pucat, tapi matanya teguh.

Arka mengantarnya, lagi-lagi tanpa banyak bicara.

Di depan gedung pengadilan, langkah Kirana sempat melambat. Bangunan itu besar, dingin, dan terasa menekan.

“Aku yakin Kamu bisa,jangan takut ,” kata Arka singkat.

Kirana mengangguk.

Di ruang tunggu, ia melihat Aris.

Duduk beberapa kursi jauhnya.

Jantungnya langsung berdebar keras.

Aris menatapnya, senyum tipis tersungging. Tapi kali ini, Kirana tidak menunduk. Ia membalas tatapan itu—tenang, tanpa gentar.

Sidang berjalan singkat tapi padat.

Kirana bicara.

Tentang ketakutan.

Tentang ancaman.

Tentang anak yang menangis saat dipanggil paksa.

Suaranya sempat bergetar, tapi tidak pecah.

Aris bicara juga. Membela diri, menyalahkan, meremehkan.

Namun kali ini, ceritanya tidak berdiri sendiri.

Ada dokumen.

Ada saksi.

Ada catatan.

Ketika hakim mengetuk palu kecilnya, Kirana hampir tak bernapas.

“Pengadilan menetapkan perlindungan sementara bagi Pemohon dan anak,” kata hakim dengan suara datar. “Termohon dilarang mendekat tanpa izin resmi. Pelanggaran akan diproses hukum.”

Kirana menutup mata.

Selesai.

Di luar ruang sidang, Aris berjalan mendekat satu langkah. Wajahnya keras.

“kamu jangan senang dulu ,Ini belum akhir,” katanya pelan.

Kirana menatapnya. “Buat kamu, mungkin belum. Buat aku, ini sudah awal.”

Ia berbalik, berjalan pergi tanpa menunggu reaksi.

Di luar gedung, udara terasa lebih ringan.

Arka menunggunya di bawah pohon.

“Gimana?”

Kirana tersenyum—senyum kecil, lelah, tapi utuh. “Aku aman.”

Arka ikut tersenyum. “Kita rayain pakai bakso?”

Kirana tertawa kecil. “Boleh.”

Sore itu, Kirana menjemput Gio dengan perasaan berbeda.

Ketika Gio berlari ke arahnya, Kirana berjongkok dan memeluknya erat.

“Mama?” Gio bingung. “Kenapa peluk lama?”

“Karena Mama menang hari ini,” jawab Kirana jujur.

“Menang lawan siapa?”

“Lawan rasa takut.”

Gio tersenyum lebar. “Berarti Mama hebat.”

Kirana mengusap rambut anaknya. “Mama belajar dari Gio.”

***

Malam turun perlahan.

Lampu ruko menyala. Pintu tertutup rapi—bukan karena takut, tapi karena cukup.

Kirana duduk di teras, memandang jalan yang mulai sepi.

Hidupnya belum sempurna.

Masalah belum hilang seluruhnya.

Luka masih ada.

Tapi kini ia tahu satu hal penting:

Ia tidak lagi menunggu diselamatkan.

Ia sedang membangun keselamatannya sendiri.

Selangkah demi selangkah.

1
N Wage
lah tadi di kantong punya uang 800.000rb hasil nguli di pasar.sebelumnya punya uang 3 JT hasil nabung dr uang ngasih les.
Luwi Utami
nha... gitu dong.. kluar dr rumah yg terasa kaya nerak itu
MayAyunda: iya kak ,terimkasih 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!