"Aku membelimu seharga 10 miliar. Jadi, jangan harap bisa melarikan diri dariku, bahkan ke sekolah sekalipun."
Gwen (18 tahun) hanyalah siswi SMA tingkat akhir yang bercita-cita kuliah seni. Namun, dunianya runtuh saat ayahnya kabur meninggalkan hutang judi sebesar 10 miliar kepada keluarga terkaya di kota itu.
Xavier Aradhana (29 tahun), CEO dingin yang dijuluki 'Iblis Bertangan Dingin', memberikan penawaran gila: Hutang lunas, asalkan Gwen bersedia menjadi istri rahasianya.
Bagi Xavier, Gwen hanyalah "alat" untuk memenuhi syarat warisan kakeknya. Namun bagi Gwen, ini adalah penjara berlapis emas. Ia harus menjalani kehidupan ganda: menjadi siswi lugu yang memakai seragam di pagi hari, dan menjadi istri dari pria paling berkuasa di malam hari.
Sanggupkah Gwen menyembunyikan statusnya saat Xavier mulai menunjukkan obsesi yang tak masuk akal? Dan apa yang terjadi saat cinta mulai tumbuh di tengah kontrak yang dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Ancaman Mantan Kekasih Sang Pimpinan Perusahaan
Ancaman mantan kekasih sang pimpinan perusahaan itu nyata saat sebuah gelas kristal pecah berantakan di atas lantai marmer kediaman mewah tepat saat Xavier dan Gwenola melangkah masuk. Seorang wanita dengan gaun sutra berwarna hitam pekat sedang berdiri di tengah ruangan dengan tatapan yang sangat tajam dan penuh dengan api kecemburuan yang membara. Ia adalah Valerie, wanita yang pernah mengisi masa lalu Xavier sebelum kontrak berdarah itu mengubah segalanya menjadi sebuah labirin rahasia yang sangat gelap.
Gwenola tersentak dan secara refleks menyembunyikan tubuhnya di balik punggung lebar Xavier karena merasa terintimidasi oleh kehadiran wanita yang nampak sangat berkuasa tersebut. Ia melihat potongan kaca yang berserakan di bawah lampu gantung yang besar, memantulkan cahaya redup yang membuat suasana menjadi semakin mencekam dan sangat tidak nyaman. Jantungnya berdegup kencang saat menyadari bahwa wanita ini bukan hanya sekadar tamu biasa, melainkan ancaman baru bagi status rahasianya.
"Jadi ini adalah gadis kecil yang kau sembunyikan di dalam rumah ini, Xavier?" tanya Valerie dengan suara yang sangat merendahkan dan sangat penuh dengan kebencian.
Xavier tidak segera menjawab dan justru mempererat rangkulannya pada bahu Gwenola seolah sedang menegaskan wilayah kekuasaannya yang tidak boleh diganggu gugat oleh siapa pun. Wajahnya tetap kaku tanpa ekspresi namun rahangnya yang mengeras menunjukkan bahwa ia sedang menahan amarah yang sangat luar biasa besar di dalam dadanya. Ia menatap Valerie dengan pandangan yang sangat dingin, seolah sedang melihat musuh bisnis yang paling berbahaya yang pernah ia hadapi seumur hidupnya.
"Pergilah dari sini sekarang juga sebelum aku kehilangan kesabaran dan memerintahkan pengawal untuk menyeretmu keluar dengan paksa," ucap Xavier dengan nada yang sangat rendah dan sangat mematikan.
Valerie tertawa sinis sambil melangkah mendekat ke arah Gwenola yang masih gemetar hebat di balik seragam pelayan lusuh yang masih melekat erat di tubuh mungilnya. Ia mencium aroma parfum mahal milik Xavier yang bercampur dengan bau debu dari jalanan pada pakaian Gwenola, sebuah fakta yang membuat hatinya semakin terasa terbakar oleh api cemburu. Dengan gerakan yang sangat cepat, ia mencoba meraih dagu Gwenola namun Xavier segera menepis tangan wanita itu dengan sebuah hentakan yang sangat keras.
"Jangan pernah berani menyentuh apa yang sudah menjadi milikku, Valerie!" terat Xavier dengan suara yang menggelegar ke seluruh penjuru ruangan.
Gwenola merasa dunia di sekelilingnya mulai berputar secara perlahan-lahan karena ia merasa sangat terjepit di antara dua kekuatan yang sangat besar dan sangat bergejolak. Ia tidak memahami mengapa Valerie nampak sangat sangat membencinya padahal mereka baru pertama kali bertemu di tengah kekacauan malam yang sangat melelahkan ini. Rasa malu karena masih mengenakan seragam pelayan murah di depan wanita secantik Valerie membuat harga diri Gwenola terasa semakin hancur berkeping-keping tanpa sisa.
"Milikmu? Dia hanyalah seorang siswi sekolah menengah atas yang kau beli dengan uang sepuluh miliar, jangan berpura-pura seolah ini adalah cinta sejati," ejek Valerie sambil menatap sinis ke arah Gwenola.
Gwenola membelalakkan matanya karena terkejut saat mengetahui bahwa Valerie juga mengetahui isi kontrak rahasia yang selama ini ia jaga dengan segenap kemampuannya yang terbatas. Ia menyadari bahwa rahasia kehidupannya kini sudah menjadi konsumsi bagi orang-orang dari masa lalu Xavier yang sangat kelam dan sangat penuh dengan intrik jahat. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Gwenola saat ia menyadari bahwa ia hanyalah sebuah bidak catur yang terus dipermalukan oleh semua orang di sekitarnya.
"Cukup, Valerie! Keluar dari rumah ini sekarang atau aku akan menghancurkan seluruh aset keluargamu dalam satu malam saja!" ancam Xavier sambil menunjuk ke arah pintu utama yang besar.
Valerie terdiam sejenak namun ia memberikan sebuah senyuman licik yang menyiratkan bahwa ia masih memiliki kartu as yang akan segera ia keluarkan untuk menghancurkan kebahagiaan semu mereka. Ia merogoh tas tangannya yang mahal dan mengeluarkan sebuah foto lama yang memperlihatkan dirinya sedang berpelukan mesra dengan Xavier di sebuah pulau pribadi yang sangat indah. Ia sengaja menjatuhkan foto tersebut tepat di depan kaki Gwenola agar gadis itu bisa melihat dengan sangat jelas betapa dekatnya mereka di masa lalu.
"Ingatlah gadis kecil, kau hanyalah pengganti sementara sementara aku adalah pemegang tahta yang sebenarnya di hati pria iblis ini," bisik Valerie tepat di samping telinga Gwenola.
Gwenola merasakan hatinya seperti ditusuk oleh ribuan jarum yang sangat panas saat melihat foto tersebut dengan mata kepalanya sendiri yang mulai kabur karena air mata. Ia merasa sangat sangat bodoh karena sempat merasa terlindungi oleh Xavier di tengah serangan hotel tadi padahal ia hanyalah alat pengganti yang sangat mudah dibuang. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Gwenola melepaskan diri dari dekapan Xavier dan berlari menuju kamarnya yang berada di lantai atas dengan perasaan yang sangat hancur.
"Gwenola, tunggu! Jangan dengarkan ucapan wanita gila itu!" teriak Xavier mencoba mengejar namun Valerie justru menahan lengannya dengan sangat kuat dan sangat gigih.
Xavier menghempaskan tangan Valerie hingga wanita itu tersungkur di atas sofa kulit yang sangat besar sementara ia terus memanggil nama Gwenola dengan suara yang sangat penuh dengan kecemasan. Namun, Gwenola sudah mengunci pintu kamarnya dari dalam dan ia segera menenggelamkan wajahnya di balik bantal sutra yang sangat dingin untuk meredam suara tangisannya. Ia merasa sangat lelah dengan segala drama kehidupan yang sangat tidak masuk akal ini dan ia hanya ingin segera bangun dari mimpi buruk yang panjang.
Di ruang tengah, Xavier memerintahkan para pengawal untuk membawa Valerie pergi dengan cara apa pun asalkan wanita itu menghilang dari pandangannya detik itu juga. Ia kemudian berjalan menuju pintu kamar Gwenola dan mengetuknya berkali-kali dengan perasaan yang sangat gelisah dan sangat penuh dengan penyesalan yang mendalam. Ia tahu bahwa hatinya mulai tergerak oleh gadis sekolah menengah atas itu, namun masa lalunya terus datang untuk menariknya kembali ke dalam kegelapan yang sangat pekat.
"Buka pintunya, Gwen, aku akan menjelaskan segalanya padamu tanpa ada satu pun kebohongan yang tersisa," ucap Xavier dengan suara yang terdengar sangat parau dan sangat lelah.
Gwenola tidak menjawab dan ia hanya terus menangis hingga matanya menjadi sangat sembab dan sangat perih karena air mata yang terus mengalir tanpa henti sejak tadi. Ia merasa bahwa Xavier tidak akan pernah bisa benar-benar menjadi miliknya karena pria itu sudah terlalu banyak menyimpan rahasia dan masa lalu yang sangat mengerikan bagi jiwanya yang polos. Tiba-tiba, ia merasakan tubuhnya menjadi sangat panas dan kepalanya terasa sangat berat hingga ia tidak mampu lagi untuk sekadar berdiri dari atas tempat tidur.
Rasa sakit yang sangat luar biasa mulai menyerang seluruh persendian tubuhnya dan Gwenola menyadari bahwa tubuhnya mulai menyerah setelah mengalami serangkaian kejadian yang sangat menekan mentalnya. Ia mencoba memanggil nama Xavier namun suaranya hanya terdengar seperti bisikan kecil yang sangat lemah dan sangat tidak berdaya di tengah sunyinya kamar tersebut. Kesadarannya mulai hilang secara perlahan-lahan saat suhu tubuhnya terus meningkat dengan sangat cepat hingga mencapai titik yang sangat membahayakan bagi nyawanya.
Xavier yang berada di luar pintu mulai merasa curiga karena tidak mendengar suara apa pun lagi dari dalam kamar istrinya yang biasanya sangat berisik saat sedang marah. Ia mendobrak pintu tersebut dengan sekali hantaman bahunya yang sangat kuat dan ia mendapati Gwenola sudah tergeletak tidak berdaya dengan wajah yang sangat merah padam. Ia segera berlari mendekat dan menyentuh dahi Gwenola, terkejut saat merasakan panas yang sangat tinggi yang membakar kulit telapak tangannya dengan sangat nyata.
"Panggil dokter pribadi sekarang juga! Gadis kecil ini miliknya tidak boleh mati dalam keadaan seperti ini!" teriak Xavier kepada para pelayan yang mulai berdatangan dengan wajah panik.