“Aku ingin kita kembali seperti dulu lagi, Alisha. Jangan berpikir untuk meninggalkan aku lagi.” Albiru Danzel berkata dengan sangat lembut ketika memohon pada Alisha.
“Bukannya kamu membenciku, Albi?”
“Mungkin dulu aku benci karena ditinggalkan olehmu, tapi sekarang, aku sadar kalau kehadiranmu jauh lebih aku inginkan.” Alisha Malaika menunduk dengan tangan yang masih digenggam oleh Albiru.
Akankah mereka bisa bersama kembali setelah perpisahan di masa lalu yang sempat merebut kebahagiaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjanaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 32
Aksi kejar-kejaran mobil berlangsung cukup lama hingga Theo berhasil mengelabuhi Albiru. Albiru tentu tidak tinggal diam, dia memotret plat mobil Theo dan akhirnya kehilangan jejak pria itu. Albiru memukul setir mobil berulang kali ketika dia kehilangan jejak, kepanikan semakin melanda saat dia tidak menemukan Alisha. Segera dia ke kantor polisi untuk melaporkan kejadian ini dan memberikan plat nomor mobil Theo. Albiru juga menghubungi beberapa anggotanya untuk mencari keberadaan Alisha.
Di sisi lain, Gavin langsung membawa Alisha bersama dengan Theo menggunakan jet pribadi. Mereka tidak mau berlama-lama dan langsung melakukan penerbangan ke Rusia hari itu juga. Sebelumnya, Alisha kembali dibius agar tidak bangun hingga mereka sampai di tempat tujuan.
Cukup lama perjalanan yang ditempuh hingga sampai di kediaman Gavin yang ada di Moskow. Gavin menempatkan Alisha di dalam sebuah kamar sempit yang tidak memiliki jendela sama sekali. Ruangan itu kosong, tidak ada apapun selain lantai yang dingin dan dinding yang polos putih bersih. Gavin menidurkan Alisha di lantai tanpa peduli dengan kondisi Alisha yang tengah hamil muda. Gavin jongkok di depan perempuan itu dan tersenyum, sungguh cantik dia di mata Gavin tapi sayangnya, kecantikan itu sudah dimiliki oleh Albiru— musuh bebuyutannya sedari dulu.
“Kamu akan menderita di sini, Alisha. Anggap saja ini sebagai bentuk rasa sakitku karena sudah ditolak oleh dirimu.” Gavin berkata pelan lalu mengusap pipi Alisha lembut. Dia pergi meninggalkan ruangan sempit itu dan menguncinya dari luar.
“Apa kau sudah mengurus kepergian ini dengan baik? Aku tidak ingin kau meninggalkan jejak.” Gavin memperingati Theo kembali.
“Aku melakukannya dengan baik, Bos. Tidak ada jejak yang mengarah pada anda bahkan Albiru tidak tahu kalau anda yang membawa Alisha. Kepergian kita tidak akan terlacak oleh siapapun termasuk polisi sekaligus.” Theo memberikan penjelasan.
“Bagus. Ini yang aku sukai darimu, Theo.”
Keesokan harinya, Alisha terbangun dengan seluruh tubuh yang terasa sakit, perutnya juga kram dan kepalanya pusing. Dia mengedarkan pandangan ke ruangan serba putih itu dan tersentak kaget. “Ini di mana?” gumamnya lalu berdiri dengan susah payah. Alisha menggedor pintu dan merasa pengap di dalam sana, hanya ada ventilasi kecil di atas pintu tapi tidak ada jalan apapun untuk keluar selain melewati pintu yang dia gedor saat ini.
“Siapapun di luar sana, tolong buka pintunya!” Alisha terus berteriak hingga terdengar suara langkah kaki mendekat, tak lama pintu terbuka dan Alisha bersiap untuk kabur namun Gavin menahannya lebih dulu dan mendorong tubuhnya hingga masuk ke dalam.
“Gavin,” lirihnya ketika melihat pria itu.
Gavin menyeringai tipis. “Sudah bangun?” sapanya pelan.
“Apa-apaan ini? Kenapa kau membawaku? Aku mau pulang,” berontak Alisha yang mencoba melewati tubuh Gavin tapi dengan kasar, Gavin menamparkan kuat hingga kepala Alisha terhuyung ke samping. Dia memegangi pipinya yang terasa amat panas, lalu Gavin menarik rambut Alisha ke belakang hingga kepala Alisha mendongak.
“Pulang ke mana? Kau tenang saja Alisha. Aku akan segera mengantarkanmu pulang ke rumah Tuhan tapi tidak secepat itu, kau akan ke sana secara perlahan.” Alisha menitikkan air mata sambil memegang tangan Gavin yang semakin kuat meremas rambutnya.
“Kenapa kau menculik aku? Salahku apa?” tangis Alisha.
“Salahmu adalah menolak cintaku dan bahagia bersama Albiru. Aku tidak bisa menerima semua itu, Alisha. Dan untuk membalaskan rasa sakit hatiku ini, kau akan aku siksa di sini hingga mati dan Albiru tidak bisa berbahagia dengan dirimu.” Gavin tertawa ketika mengatakan rencananya pada Alisha.
“Jangan Gavin, aku sedang hamil. Tolong jangan lakukan apapun padaku, aku mohon.” Gavin semakin tertawa saat Alisha memohon.
“Bagus kalau begitu, aku bahkan bisa menghilangkan dua nyawa sekaligus. Kau dan calon anakmu.”
“Jangan Gavin, aku mohon.”
“Kenapa dulu kau menolak diriku hah? Padahal kita sudah dekat sejak awal kau masuk SMA dan tiba-tiba kau menjauh dariku lalu menolakku. Disaat kuliah, kau malah menerima cinta dari Albiru, apa kurangku?” hardik Gavin meminta penjelasan.
“Karena aku hanya menganggapmu sebagai saudara, Gavin. Tidak lebih, aku nyaman denganmu karena kau selalu melindungi aku dan aku tidak mencintaimu.”
“Saudara? Cih aku tidak mau menjadi saudaramu Alisha. Aku mencintaimu dan kau sudah menyakiti hatiku. Kini, terima rasa sakit yang akan aku berikan dan itu jauh lebih sakit dari apapun.” Alisha kemudian didorong hingga punggungnya membentur dinding.
Gavin berjalan ke arah pintu dan menguncinya. Lalu dia mendekati Alisha kembali dan melayangkan tamparan berulang kali ke pipi Alisha hingga pipi itu memerah sempurna.
Alisha hanya bisa pasrah menerima karena tidak memiliki tenaga untuk melawan. Gavin yang sudah kesetanan, melirik ke arah perut Alisha lalu menendangnya dengan kuat hingga Alisha memuntahkan darah.
“S-sakit, Gavin. Cukup, ini sakit.” Alisha merintih memegangi perutnya, dia meringkuk kesakitan hingga darah mengucur dari jalan lahirnya. Gavin tersenyum melihat hal itu, dia berjongkok dan mencengkeram rahang Alisha dengan kuat, wanita itu tak lagi mampu melawan atau berontak.
“Aku sudah mengakhiri hidup janinmu, Alisha. Kau tidak boleh mati begitu saja, kita akan lanjutkan penyiksaan besok.” Gavin meninggalkan Alisha di sana lalu menyiapkan mobil, dia akan membawa Alisha ke rumah sakit terdekat agar wanita itu diobati.
Beberapa hari di rumah sakit setelah dinyatakan keguguran, Alisha kembali dibawa pulang oleh Gavin, kedua tangannya dirantai dan kakinya juga. Dia kembali dimasukkan ke dalam ruangan sempit itu namun kali ini, Alisha tak lagi berontak ataupun melawan, dia hanya pasrah menerima perlakuan Gavin yang kerap kali berbuat kasar padanya.
Alisha duduk di pojok ruangan, lingkar matanya menghitam, wajahnya pucat dan rambutnya kusut. Gavin hanya memberikan dia makan sekali sehari dan segelas minuman setiap hari. Pagi ini, Alisha yang masih tertidur di lantai seketika bangun saat Gavin datang, pria itu menaruh piring makanan dengan kasar hingga makanan tersebut tumpah ke lantai.
Alisha segera menghabiskan makanan itu dan memakan yang ada di lantai juga, dia hanya ingin bertahan hidup sampai nanti suaminya datang menolong. Gavin mendekati Alisha dan mencengkeram kembali rahangnya dengan kuat.
“Bagaimana kehidupanmu denganku, Alisha? Bahagia kan?” Alisha tidak menjawab, dia hanya meneteskan air mata lalu menunduk.
“Maafkan aku kalau penolakanku membuatmu sakit hati, tapi sungguh, aku tidak bermaksud begitu. Kau bunuh saja aku, jangan siksa begini, aku tidak kuat,” keluh Alisha sembari menunduk takut, tidak tahan lagi dia kalau harus dipukul oleh Gavin lagi.
“Aku tidak akan membunuhmu semudah itu Alisha. Kau akan tetap hidup sampai aku melihatmu tidak berdaya lagi dan kau akan mati di tanganku, itu pasti.” Gavin melayangkan tinju ke wajah Alisha, tidak cukup kuat tapi sukses membuat Alisha kesakitan.
Pintu ruangan itu dikunci kembali, Gavin sedikit tersentuh dengan ucapan Alisha namun dia masih menahan ego.