Kehidupan Gita semakin berubah dengan kelahiran sang buah hatinya, banyak hal baru yang terjadi di hari-hari yang dia lewati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Budy alifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penggoda
Gita menaruh cangkir berisikan teh
hangat dan beberapa cemilan untuk Gilang, dia juga menyiapkan baju untuk
Gilang. Sembari menunggu selesai mandi Gita menata bunga mawar pemberian Gilang
di kamarnya.
“Enaknya taruh mana ya?” ucapnya sambil
memindah-mindah mawar agar terlihat sesuai.
Ponsel Gilang berdering, awalnya cuek
saja karena itu privasi Gilang jadi dia tidak ingin tahu. Namun setelah
beberapa kali berdering membuat Gita terganggu. Dia melihat ke layar ponsel
Gilang yang ada di atas kasur.
“Sayang ada telepon!” teriak Gita.
“Siapa?”
“Nggak tahu, nggak ada namanya.”
“Angkat aja.” Gilang menyuruh Arumi mengangkat
teleponnya.
“Nggak apa-apa aku yang angkat?” Gita
ragu.
“Iya, bilang saja kamu wakilnya kalau
memang dia ingin menyampaikan hal penting.” Gilang tidak pernah keberatan kalau
Gita mengangkatkan telepon untuknya.
“Iya sayang.” Gita mengkat teleponnya,
dia menaruh di telinga.
“Selamat sore Pak Gilang, kenapa Pak
Gilang tadi tidak datang meeting.” Katanya centil dan Gita bisa menebak kalau
nomor ini pasti milik cewek ganjen yang sedang tergila-gila sama Gilang.
“Bapak kenapa selalu menyuruh asisten
bapak sih, padahal kan saya selalu membawakan makanan spesial untuk bapak.” Cerocosnya
yang membuat Gita panas hati.
“Halo, lo bisa nggak berhenti mengganggu
suami gue. Apa tidak bisa lo mencari lelaki lain di luaran sana yang masih
singgel. Gilang sudah mau memiliki anak kenapa lo terus mengubernya. Segitu
tidak lakukah lo?” Gita geram dia ingin sekali menjambak rambut Lia.
“Iini.. istrinya Pak Gilang?” Lia gugup.
“Iya, gue istrinya. Selama ini gue diam
karena masih sabar sama anak kecil macam lo. Tapi lama kelamaan lo itu tidak
tahu diri. Lo pikir dengan begini Gilang bakalan tergoda sama lo. Tidak, dia
jijik sama lo, lagian dia itu cinta mati sama gue. Jadi buang jauh-jauh niatan
lo buat gaet Gilang atau lo akan tahu akibatnya.” Kata Gita tegas. Dia
mengancam Lia kalau sampai macam-macam dengannya. Yang pasti Gita akan kerahkan
teman-temannya untuk mengurusnya.
“Jangan terlalu percaya diri, kalau
Gilang itu cinta mati sama lo. Lihat saja perbedaan kita, harusya lo sadar diri
Gilang itu bisa mendapatkan orang yang lebih baik dari lo. Karena lo hanya
beban buat dia. Lihat saja nyonya Gita, kalau Gilang akan segera pindah tangan.”
“Coba saja kalau lo mampu.” Gita
mematikan sambungan teleponnya dan melepar ponsel Gilang ke kasur.
Gita memejamkan matanya, mengkontrol
emosinya agar tidak meledak. Dia menghirup napas panjang lalu menghelaikannya
perlahan.
Gilang mengerutkan keningnya, “Kamu mau
lahiran sayang?” Ucapnya sambil berjalan mendekati Gita.
Gita hanya diam, dia duduk di kasur dan
menaikan kakinya, dia menyelimuti tubuhnya sampai kepala.
“Ada apa lagi nih, pasti ada yang tidak
beres.” Batin Gilang, dia mengambil ponsel miliknya yang ada di sampingnya.
“Siapa yang telpon sayang?” Gilang
mengecek ponselnya. Sedangkan Gita tidak respon sama sekali.
Gilang membuka selimut Gita, dia
menghela napas melihat wajah Gita yang manun.
“Kamu kenapa lagi sayang? Baru saja aku
melihat kamu senyum manis sudah cemberut lagi.”
Gita duduk, dia menatap tajam Gilang
ingin sekali dia marah-marah namun dia tidak kuasa yang ada pasti dia hanya
akan menangis.
“Kamu selingkuh ya?” katanya dengan
kedua mata yang sudah berkaca-kaca.
“Kamu ngomong apaan sih sayang, mana
mungkin aku selingkuh dari kamu.”
“Cewek gatel itu terus menelpon kamu,
dia sudah menyiapkan inilah itulah. Aku tahu memang aku tak sebanding dengan
dia. Aku hanya karyawab biasa, jelek dan tidak sexy seperti dia.” Gita
mengeluarkan kekesalanya.
“Sayang..”
“Kalau kamu memang sudah tidak suka aku,
tinggalkan saja aku tak perlu kamu mendua.” Gita terus saja nyerocos sampai
Gilang tidak memiliki kesempatan untuk menjelaskan.
Gilang kesal, dia langsung membungkam
Gita dengan mencium bibirnya. Seketika Gita terdiam, matanya sedikit terbelalak
karena dia kaget.
Gita mendorong Gilang, “Kamu jangan
menggodaku, aku sedang marah sama kamu.” Ucapnya.
“Bukan aku yang menggoda kamu, tapi kamu
yang terus menggodaku.” Kata Gilang. Dia kembali mencium Gita, perlahan dia
menidurkan Gita sehingga dia bisa menikmati ciumannya yang lebih dalam.
“Aku kan sudah bilang sedang marah sama
kamu.” Kata Gita kembali mendorong Gilang agar menjauh darinya.
“Tapi aku sedang merindukan kamu.”
Gilang mencium belakang leher saat Gita menghindar untuk di cium bibirnya.
“Kamu perlu tahu, kalau kamu itu selalu
membuat aku jatuh cinta lagi dan lagi. Kamu selalu membuat aku ketagihan, kamu
makanan favorit aku bagaimana bisa aku pindah ke lain hati yang belum tentu
senikmat kamu.” Gilang mulai mencium dada Gita yang membuat Gita berubah panas
dingin.
“Dasar gombal.” Ucap Gita.
“Ini bukan gomalan semata, tapi ini
benar-benar keseriusan dari aku. Aku sama sekali tidak pernah bertemu dia lagi.
Kalau ada kerjaan sama dia pasti Lila yang aku suruh kesana.” Perlahan Gilang
menjelaskan sama Gita. Dia tidak akan pernah bisa menjelaskan langsung disaat
Gita emosi yang ada hanya akan berantem.
“Tapi dia bilang..”
“Jangan dengarkan dia.” Gilang mengecup
bibir Gita lagi, dia tidak mau membuat Gita berasumsi lain dengan ucapan Lia yang
pasti aneh-aneh.
“Cukup dengarkan aku, percaya sama aku.
Kamu mengerti?” Gilang menatap Gita dengan penuh harapan kalau sang istri
bakalan percaya dengannya di bandingkan orang lain. Gita mengangguk, meskipun
suka labil tapi sebenarnya dia percaya sama suaminya itu.
“Terima kasih sayang, kamu sudah mau
percaya sama aku.”
“Iya sayang, maafkan aku yang suka
labil.”
“Tidak masalah bagi aku, asal kamu tidak
pernah meninggalkanku.” Gilang mencium kening Gita.
Gilang ingin kembali menikmati Gita,
namun kembali di tahan.
“Minum dulu tehnya nanti dingin.”
Ujarnya sambil mendorong Gilang. Gita pun ikut duduk di samping Gita.
“Aku tidak mau teh, aku maunya kamu.”
Gilang kembali menaikan Gita di ranjang. Dia ingin melepas penatnya dengan
bermesraan dengan Gita.
“Dasar nakal.” Kata Gita.
“Kok nakal sih, kan aku cuma mau
beristirahat.” Ucapnya.
“Kalau istirahat itu tidur, istirahat
kok malah mau lembur.” Goda Gita dengan menggeser tubuhnya.
“Ya kalau sama kamu itu bukan lembur,
tapi happy-happy.” Kata Gilang sambil cengar-cengir. “Sinilah sayang, aku tuh
haus banget.”
“Kalau haus itu ada teh udah aku siapin.”
“Aku hausakan ciuman kamu.” Gilang
memeluk Gilang dan menutup selimut sampai kepala mereka berdua.