NovelToon NovelToon
Wa'Alaikumsalam Mantan Imam

Wa'Alaikumsalam Mantan Imam

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Pernikahan Kilat / Romansa / Konflik etika
Popularitas:22.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Reza telah memiliki Zahra, model ternama dengan karier cemerlang dan ambisi besar. Namun, demi keluarga, ia dipaksa menikahi Ayza, perempuan sederhana yang hidupnya penuh keterbatasan dan luka masa lalu.

Reza menolak pernikahan itu sejak awal. Baginya Ayza hanyalah beban yang tak pernah ia pilih. Pernikahan mereka disembunyikan, Ayza dikurung dalam peran istri tanpa cinta, tanpa ruang, dan tanpa kesempatan mengembangkan diri.

Meski memiliki bakat menjahit dan ketekunan luar biasa, Ayza dipatahkan perlahan oleh sikap dingin Reza. Hingga suatu hari, talak tiga dijatuhkan, mengakhiri segalanya tanpa penyesalan.

Reza akhirnya menikahi Zahra, perempuan yg selalu ia inginkan. Namun pernikahan itu justru terasa kosong. Saat Reza menyadari nilai Ayza yg sesungguhnya, semuanya telah terlambat. Ayza bukan hanya telah pergi, tetapi juga telah memilih hidup yg tak lagi menunggunya.

Waalaikumsalam, Mantan Imam adalah kisah tentang cinta yg terlambat disadari dan kehilangan yg tak bisa ditebus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Sah, Tapi Tak Singgah

Pagi itu Reza mengenakan kemeja putih dan jas hitam. Ayza duduk di sampingnya dengan gamis putih gading yang jatuh menutup tubuhnya rapi. Keduanya berdampingan di saf depan masjid.

Aini, Rahman, Siti, penghulu, serta beberapa warga sekitar hadir dalam diam yang khidmat.

Penghulu menjabat tangan Reza.

“Saudara Reza Pratama bin Muhammad Rahman, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Ayza Humaira binti Aini dengan mas kawin seperangkat alat salat, dibayar tunai.”

Jabatan tangan sedikit dihentakkan.

Reza memejamkan mata sesaat. Dadanya naik turun sekali.

“Saya terima nikah dan kawinnya Ayza Humaira binti Aini dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai,” ucapnya datar.

“Sah?” tanya penghulu.

“Sah.”

“Sah.”

Penghulu mengangguk. Nasihat singkat disampaikan, doa dibacakan, lalu suasana kembali hening.

“Silakan pakaikan cincin,” ujar penghulu.

Reza menyelipkan cincin sederhana ke jari manis Ayza. Tangannya dingin. Ayza melakukan hal yang sama. Setelahnya, ia menunduk, menyalami dan mengecup punggung tangan Reza dengan takzim.

Tak ada pelukan. Tak ada kecupan di kening. Reza tetap diam, wajahnya tak berubah.

Di depan masjid, Aini memeluk Ayza erat. Tangannya sedikit gemetar saat menahan bahu putrinya.

“Mulai hari ini kamu seorang istri,” ucapnya pelan. “Jalani kewajibanmu karena Allah.”

“Insyaallah, Bu,” jawab Ayza. “Ibu jaga kesehatan baik-baik.”

Aini mengangguk pelan, lalu menatap Reza. Tatapannya tenang, namun dalam.

“Ibu titipkan Ayza padamu,” ucapnya lirih. “Bukan hanya raganya… tapi hatinya yang sudah Ibu jaga selama ini.”

Ia berhenti sejenak, seolah memberi Reza waktu untuk benar-benar mendengar.

“Kalau suatu hari kamu tak sanggup mencintainya,” lanjut Aini pelan, “jangan biarkan dia merasa kurang. Jangan buat dia menunggu di tempat yang hatimu tak pernah singgah.”

Napasnya tertahan sesaat. Matanya tak lepas dari Reza.

“Dan kalau suatu hari hatimu memilih perempuan lain,” ucapnya kemudian. Suaranya tetap tenang, tapi ada ketegasan yang tak memberi ruang tawar.

“Jangan jadikan Ayza persinggahan,” ucap Aini lirih namun tegas.

“Kembalikan dia pada Ibu… sebelum hatinya terlanjur tertambat pada orang yang tak pernah berniat menetap. Kembalikan dia dengan utuh. Dengan martabatnya. Jangan dengan luka yang tak bisa kami sembuhkan.”

Reza mengangguk. “Saya mengerti.”

Suaranya terdengar tenang, nyaris datar. Namun dadanya terasa sesak. Bukan karena terharu, melainkan karena kata mengerti itu memaksanya mengakui sesuatu yang sejak awal ia hindari.

Ia tahu persis apa yang dimaksud Aini.

Jarinya mengepal sesaat sebelum kembali rileks. Ada dorongan untuk mengatakan lebih, menjanjikan sesuatu yang terdengar benar. Namun ia menelannya bulat-bulat.

Karena ia sadar, janji yang tak sanggup ditepati hanya akan menjadi bentuk pengkhianatan tak terlupakan.

Dan untuk sesaat, ia membenci dirinya sendiri… karena bahkan dalam detik sakral itu, bayangan Zahra masih lebih dulu muncul di kepalanya daripada perempuan yang baru saja ia nikahi.

Reza menyalami Aini, mengecup punggung tangannya. Ayza melakukan hal yang sama.

Aini memeluk Siti sebentar.

“Semoga pengobatannya lancar. Semoga Allah segera mengangkat penyakit Ibu,” ucapnya tulus.

“Aamiin,” sahut Siti, diikuti yang lain.

“Kami pamit,” ujar Rahman.

Aini mengangguk. Ia memeluk Ayza sekali lagi sebelum putrinya masuk ke dalam mobil.

Dari balik kaca, Ayza melambaikan tangan. Aini membalasnya pelan.

Mobil melaju menjauh, tapi Aini tetap berdiri di sana, menatap hingga kendaraan itu hilang dari pandangan. Dadanya terasa kosong, seolah ada sesuatu yang ikut pergi dan belum tentu kembali.

“Semoga kalian selalu dalam lindungan-Nya,” gumamnya lirih. “Dan menemukan bahagia kalian masing-masing.”

 

Di dalam mobil, Siti menggenggam tangan Ayza. Telapak itu dingin, tapi genggamannya hangat.

“Nak, kami tak bisa mengantar sampai rumah. Bunda harus segera ke bandara,” ucapnya lembut.

Ayza mengangguk. “Saya mengerti, Bun,” katanya sedikit kaku, lidahnya masih belum terbiasa memanggil Bunda, bukan Tante.

Siti tersenyum, meski pucat di wajahnya tak sepenuhnya tersembunyi. Ia meraih sebuah gantungan kunci, tersusun rapi, lalu meletakkannya di telapak Ayza.

“Bunda percayakan rumah padamu.”

Sejenak Ayza terdiam, menatap kunci-kunci itu. Rasanya berat. Bukan massa logamnya, tapi tanggung jawabnya. “Bun—”

“Ini tanggung jawabmu sebagai nyonya rumah,” potong Siti pelan, suaranya tegas namun penuh percaya. “Jaga rumah ini… dan jaga dirimu sendiri.”

Dari kursi sebelah Reza, Rahman menoleh. “Kami pergi lama, Ayza,” katanya tenang. “Kalau ada apa-apa, jangan dipendam. Hubungi kami. Rumah itu milikmu, tapi kau tak sendirian menjaganya.”

“Iya, Yah.” Ayza mengangguk kecil.

Reza tak melirik, apalagi menoleh. Tatapannya tetap tertuju pada jalan di depan. Siti menepuk punggung tangan Ayza sekali, seakan menitipkan sesuatu. Mobil terus melaju.

Ayza menggenggam kunci di telapak tangannya, di sana ada peran dan tanggung jawab baru yang tak bisa ia tolak.

 

Reza dan Ayza mengantar Siti serta Rahman hingga bandara. Setelah itu, mereka kembali ke mobil.

Ayza ragu sesaat sebelum masuk. "Aku harus duduk di depan atau tetap di belakang?"

Mereka tak akrab, masih canggung. Namun tak bisa dipungkiri, kini mereka suami istri.

Ayza memejamkan mata sejenak sebelum jemarinya menyentuh gagang pintu belakang. Ia sedikit tersentak ketika suara itu memotong keraguannya.

“Duduk di depan,” ucap Reza datar. “Aku bukan sopir taksi.”

Ayza mengangguk tanpa kata. Ia beralih, membuka pintu depan, lalu duduk di samping Reza.

Sepanjang perjalanan, Reza tak mengucap apa pun. Ayza pun tak tahu harus memulai dari mana. Yang ada hanya keheningan, dan jarak yang tak kasat mata di antara mereka.

Jarak yang tak pernah benar-benar bisa Ayza singkirkan. Karena hati Reza telah lebih dulu memilih.

Mobil terus melaju hingga memasuki kompleks perumahan yang terasa asing bagi Ayza. Hingga akhirnya berhenti di pekarangan sebuah rumah megah.

Tanpa sepatah kata, Reza keluar lebih dulu. Ia membuka bagasi, mengambil barang-barangnya, lalu berjalan masuk ke dalam rumah, tanpa menoleh.

Ayza terdiam sejenak. Sikap Reza tetap cuek. Sama seperti dulu.

“Mungkin memang begitu sifatnya,” gumamnya lirih, disusul helaan napas pelan.

Ia sempat menatap punggung Reza yang kian menjauh, lalu menyusul turun. Sebuah koper ukuran sedang ia tarik keluar dari bagasi, berisi pakaian dan perlengkapan pribadinya. Sebelum melangkah masuk, Ayza melafalkan doa dan Ayat Kursi, lalu mengucap salam.

Kakinya akhirnya menapak ke dalam.

Sejenak ia berdiri di ambang pintu, tak tahu harus melangkah ke mana, sampai suara Reza terdengar dari dalam.

“Cepat masuk. Aku tunjukkan kamarmu.”

Ayza melangkah ke ruang tengah. Reza sudah berdiri di sana. Jasnya terlepas, tergantung di lengannya. Sebelum Ayza benar-benar mendekat, suara itu kembali terdengar.

“Itu kamar ayah dan bunda,” katanya menunjuk. “Itu kamar Fahri, adikku. Itu kamarku. Dan itu kamar tamu.”

Reza berhenti sejenak.

“Selama ayah dan bunda tak ada, kau tidur di kamar tamu.”

Spontan Ayza menoleh. “Kita… pisah kamar?”

Reza menatapnya datar. “Apa yang kau harapkan dari pernikahan ini?”

Deg.

...🔸🔸🔸...

...“Tak semua yang sah di hadapan Allah, sungguh-sungguh dihadirkan oleh hati.”...

...“Ia menikah, bukan untuk tinggal—hanya untuk menunaikan.”...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
phity
tentu sja zahra tdk akan mau merawatmu krn kerjaannya lbh penting drpd mo merawat orng sakit nanti tangan nya jd kasar kuku cantiknya jadi rusak...
asih
cantik Karna visual akan rapuh saat bertambahnya usia
LibraGirls
Oh my god gk sangup sampai ayza tau wlpn dia gk ada perasaan sm rezza tp dia udah bertangung jwb sebagai istri sirih nya reza
LibraGirls
Km percaya dia tertidur pules bisa² dia clubbing ma teman² nya dunia model begitu kenapa elo bego banget si za gk suruh org ngikutin si Zahra 😤
Dew666
💎🌹
Dek Sri
lanjut
Anitha Ramto
tentu saja si Zahra menghindar buru² karena tidak mau merawatmu dan kamu akan menjadi beban buat si Zahra.

Fahri selalu ngingetin Ayza jangan sampai jatuh Cinta sama Pria Bestard kaya si Reza🤣,tenang saja Fahri...Ayza tidak akan pernah jatuh cinta sama kakakmu,Ayza mh sudah ada yang nungguin Cinta sejatinya Ayza...Kaisyaf😍
Mundri Astuti
emang y love is blind, jadi bikin org ilang ke warasannya macam si Reza
Hanima
lama amat Thor sadarrrr nya 🤭
Diana Dwiari
dr situ dah keliatan kan bahwA wanita yg kamu kejar hanya mau senangnya saja.....makan tuh jalangmu
Felycia R. Fernandez: tapi sayangnya Reza kuat nafsu kk,bukan cari yang beneran tulus 😆😆😆
total 1 replies
Jumi Saddah
nah kapan semua akan terungkap,,,pasti kita bilang wow gitu😄
Sugiharti Rusli
karena sekali lagi apa yang diucapkan oleh Fahri menemukan kebenaran, dia hanya berperan sebagai art bagi Reza,,,
Sugiharti Rusli
entah bagaimana nanti kali Ayza lebih memilih lepas dari si Reza setelah dia sembuh,,,
Sugiharti Rusli
dan Ayza tahu ini bukan awal akan tumbuhnya perasaannya terhadap suaminya itu sih,,,
Sugiharti Rusli
sedang Ayza istri yang dipilihkan oleh kedua ortu kamu yang tidak pernah kamu anggap, dia tetap hadir ke rumah sakit meski sudah tengah malam
Sugiharti Rusli
kita lihat nanti tanggapan perempuan pilihan kamu sendiri Reza yang katanya sangat kamu cintai sampai mau berzinah
Puji Hastuti
Ayza kenapa kamu masih mau peduli sih!
Puji Hastuti
Siapa yang nelpon reza? Zahra kah?
Sugiharti Rusli
entah apa nanti yang akan Ayza tanggapi dengan kejadian yang menimpa 'suami' nya itu, bahkan si Zahra yang sudah pernah Reza sentuh belum tentu mau merawatnya
Sugiharti Rusli
ternyata Allah memiliki takdirnya sendiri dengan apa yang menimpa si Reza sekarang yah,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!