SEASON 1
Tentang Azzahra yang memiliki kehidupan rumit dan dicintai banyak laki-laki sampai hampir kehilangan nyawa.
SEASON 2
Tentang kehidupan Azzahra setelah menikah dan kehidupan kakaknya yang telah mendapatkan jodohnya masing-masing. Juga cerita laki-laki yang mendapat cinta tulus dari wanita lain setelah patah hati karena Azzahra.
SEASON 3
Tentang perjuangan cinta Azam dan Aisha dengan anak-anak dari sahabat orangtua mereka.
Penuh suka duka, juga perjuangan yang kuat dan tangguh dari mereka.
***
Ig. Karlina_sulaiman
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karlina Sulaiman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Sesampainya di rumah sakit Aldo langsung di bawa ke UGD, saat Aldo sedang di tangani Kak Arvie juga meminta seorang dokter untuk mengobati luka goresan di lengan Azzahra dan juga lebam di wajahnya.
"Dokter Azzahra mari ikut saya, saya akan mengobati luka di lengan, Anda," ucap Dokter Arum.
Azzahra pun mengikuti Dokter Arum, luka di lengan Azzahra lumayan dalam jadi harus di jahit, setelah di jahit lalu di perban.
"Pasti ini sangat sakit," ucap Dokter Arum.
"Tidak Dok, ini tidak sakit, hanya sedikit perih saja ...," balas Azzahra.
"Bagaimana Anda bisa mendapatkan luka ini Dokter? Anda juga membawa seorang pemuda yang terluka akibat tusukan dan kakak Anda juga ada memiliki beberapa memar di wajahnya. Apa yang terjadi sebenarnya kepada Anda Dokter Azzahra?" tanya Dokter Arum penasaran.
"Tadi saya bermain-main dengan geng motor, Dok," ucap Azzahra.
"Apa? Anda bilang bermain-main?" kata Dokter Arum seakan tidak percaya.
"Ya Dokter, itu kenyataan," ucap Azzahra santai.
***
Azzahra dan Kak Arvie memutuskan untuk pulang, sebelumnya mereka telah menghubungi keluarga Aldo.
Keluarganya meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada mereka, karena hampir mencelakai mereka.
Keluarga Aldo juga menceritakan mengapa Aldo sampai bersikap seperti itu. Dan Azzahra serta Kak Arvie pun memakluminya.
🍁🍁🍁
Saat mendapat telephone dari rumah sakit keluarga Aldo segera pergi ke rumah sakit.
Saat mereka sampai, Azzahra dan Kak Arvie menyambut mereka, karena mereka tanya kenapa Aldo bisa sampai terluka, akhirnya Kak Arvie menceritakan tentang apa yang terjadi.
"Maafkan anak saya, saya tidak mengira bahwa Aldo akan berbuat seperti itu, saya telah gagal mendidiknya, tapi saya mohon kepada kalian, tolong jangan menjebloskan anak saya ke dalam penjara," mohon mama Aldo sambil menangis tetisak-isak.
"Maaf, Nyonya... kami tidak bisa memutuskan ini begitu saja, karena, Aldo dan gengnya hampir mencelakai adik saya, dan juga karena telah meresahkan pengguna jalan, ucap Kak Arvie tegas.
Dokter yang menangani Aldo keluar dari ruangan.
"Keluarga Aldo?" ucap Dokter Aris.
"Saya ayahnya Dok.Bagaimana kondisi anak saya." Kepanikan terlihat jelas di wajah papa Aldo.
"Sebaiknya Anda ikut saya keruangan saya Pak, saya akan menjelaskan di sana,dan Aldo sudah bisa di temui," ucap Dokter Aris.
Papa Aldo pun ikut dengan Dokter Aris, sedangkan mamanya menemui Aldo.
Azzahra dan Kak Arvie juga ikut menemui Aldo.
Mama Aldo berbicara banyak dengan Aldo. Aldo hanya diam mendengarkannya, Aldo yang melihat Azzahra dan Kak Arvie ada di sana seketika itupun langsung meminta maaf kepada mereka.
"Maafkan saya!" ucap Aldo.
"Kami sudah memaafkan Anda, tapi Anda tetap harus mempertanggung jawabkan perbuatan, Anda," kata Kak Arvie masih merasa kesal dengan Aldo.
"Saya akan menyerahkan diri saya ke Polisi," ucap Aldo menyesali perbuatannya.
"Jangan, Nak. Masa depan kamu akan buruk jika kamu sampai di penjara. Nona Azzahra dan Tuan Arvie, mohon jangan jebloskan anak saya ke penjara," mohon mama Aldo sampai berlutut di depan Azzahra dan Kak Arvie, mama Aldo tau nama mereka karena tadi mereka memperkenalkan diri.
"Bangunlah Nyonya, apa yang Anda lakukan?" Azzahra berjongkok kemudian mengajak mama Aldo untuk berdiri.
"Ma, jangan membuatku malu! Apa yang mama lakukan? Aldo memang sudah sepantasnya di penjara karena Aldo memang salah, Ma," ucap Aldo.
"Saya tidak akan bangun kalau Aldo sampai di penjara."
Azzahra dan Kak Arvie saling pandang, kemudian mereka mengangguk.
"Baiklah, tapi tolong bangunlah Nyonya, jangan berlutut seperti ini karena ini perbuatan yang paling kami benci," ucap Kak Arvie.
"Aldo, tolong berjanjilah untuk berubah, urusan Polisi biar saya yang urus," ucap Kak Arvie pada Aldo.
"Terima kasih, Tuan," ucap Aldo dan mamanya bersamaan.
"Kalau begitu kami pamit, karena hari sudah semakin larut, dan untuk Anda , semoga lekas sembuh," ucap Azzahra.
Azzahra dan Kak Arvie langsung keluar dari UGD dan pulang karena pasti Abdullah dan Aisyah menunggu mereka, karena mereka tidak mengabari orangtua mereka, karena takut khawatir.
***
Kak Arvie dan Azzahra sampai di rumah sekitar pukul 01.00 dini hari, Azzahra tadi mengecek HP nya saat masih di mobil.
Banyak pesan masuk dan panggilan tak terjawab dari kedua orang tuanya.
"Kak tolong jangan bertihu umi dan abi kalau tangan Azzahra terluka," pinta Azzahra kepada Kak Arvie.Setelah mereka di depan pintu utama.
"Kalau kakak nggak ngasih tau, nanti kalau mereka tau sendiri, kamu bakal di hukum, De." tolak Kak Arvie.
"Kak Azzahra nggak mau,"
"Nggak mau apa Azzahra? Mau bohong sama umi iya?" Umi tiba-tiba membuka pintu dan langsung memotong kalimat Azzahra.
"Um-Umi belum tidur?" Azzahra mengalihkan pembicaraan.
"Jangan mengalihkan pembicaraan Azzahra, apa yang terjadi kepada kalian sebenarnya, wajah mu ada beberapa lebam, dan baju Azzahra ada darahnya, apa kalian berkelahi lagi hm?" Aisyah menunjuk Kak Arvie dan Azzahra secara bergantian.
Azzahra menyenggol lengan kakaknya, berharap kakaknya yang menjawab. Namun Kak Arvie juga hanya diam karena takut akan amarah umi.
Akhirnya Azzahra yang bicara pada umi.
"Umi, apa umi akan membiarkan kedua anak umi berdiri di depan pintu seperti ini? Apa umi tidak mempersilakan kami masuk?" ucap Azzahra lirih.
"Memang umi tidak akan memperbolehkan kalian masuk!" kata umi kemudian langsung menutup pintu utama.
"Umi, buka pintunya dong, apa umi nggak kasian sama kami? Luka Kak Arvie kalau nggak di obati lagi nanti gantengnya luntur gimana, Mi? Nanti Azzahra punya kakak jelek dong, kan Azzahra nggak mau." Azzahra membujuk umi nya dari luar.
Mendengar ucapan Azzahra, Kak Arvie langsung menjitak kepala adiknya itu.
"Apa gara-gara berkelahi otak mu jadi pindah ke lutut? Kenapa kau jahat sekali sih,mengataiku jelek," kata Kak Arvie.
"Sudahkah Kak, jangan mengataiku lagi, Kak bagaimana kalau kita pindah ke Mars saja, kalau umi tidak mau membuka pintu?" usul Azzahra dengan suara, berharap umi mendengarnya.
Mars merupakan sebuah villa yang sangat mewah, villa itu milik keluarga Abdullah, yang jaraknya lumayan jauh dari rumah utama.
Dan Villa Mars letaknya tersembunyi dan penjagaannnya sangat ketat.
"Usulan mu boleh juga, kalau begitu ayo kita pergi," ajak Kak Arvie.
Umi yang masih berdiri di balik pintu mendengar pembicaraan kedua anaknya, umi kira kalau mereka hanya ingin mencari simpati umi, karena sudah menjadi hal biasa jika umi marah pasti mereka bilang akan ke Mars, pasti amarah umi akan hilang, karena tidak mau kalau anaknya pergi jauh.
Namun kali ini Azzahra dan Kak Arvie benar-benar pergi ke Mars.
Azzahra dan Kak Arvie kembali masuk ke mobil kemudian langsung pergi ke Villa Mars.
Umi yang mendengar suara mobil keluar dari halaman, seketika itu langsung membuka pintu, namun sayang mobil yang dilajukan Kak Arvie telah jauh.
Apa mereka benar-benar pergi ke Mars? Apa aku terlalu keterlaluan membiarkan kedua anakku kesusahan seperti tadi? Tapi mereka kan memang bersalah... jadi aku akan membiarkan mereka... ah tapi tadi baju Azzahra sobek dan ada darahnya.Apa yang terjadi?
Umi mondar-mandir di depan pintu sampai tidak menyadari kalau tingkahnya di perhatikan Abdullah.
"Kenapa Umi nyetrika di sini?" ucap Abdullah.
"Astaghfirullahhaladzim, Abi ngagetin aja. Siapa yang nyetrika Abi?" jawab Aisyah polos.
"Lha itu Umi dari tadi mondar mandir kayak setrikaan gitu, nggak bisa diam kaya kincir angin gitu," kata Abdullah sambil tertawa.
"Hehe, umi sedang bingung, Abi, anak kita pergi ke Mars," ucap Aisyah.
"Sudahlah Umi, besok mereka juga pulang." kata Adullah menenangkan Aisyah yang terlihat gelisah.
"Apa Abi tau kalau mereka," kata Aisyah terpotong.
"Iya, abi, sudah tau, Umi, jadi sekarang lebih baik kita tidur lagi, abi tidak bisa tidur tadi karena guling abi pergi." Abdullah menggoda Aisyah.
"Ingat umur, Abi!" Aisyah mengingatkan.
"Baiklah, ayo sayang kita ke kamar!" Abdullah menggendong istrinya ke kamar.
"Abi..." teriak Aisyah, wajahnya sudah merah seperti kepiting rebus.