Dua orang yang pernah saling sangat mencintai, memutuskan untuk tidak saling mengenal ketika bertemu, memutuskan untuk saling berhenti mencintai.
Bagaimana kalau takdir tetap mempertemukan mereka setelah sama-sama dewasa?
Cinta pertama yang tidak mungkin dilupakan dan harus berpisah karena pahitnya perbedaan yang terbentang di antara mereka.
IG Madammeyellow
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madamme Yellow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Think About You
Nara menahan lapar dalam tidurnya, bagaimana bisa Ronald meninggalkannya sampai malam seperti ini dengan tangan terikat dan kaki yang juga terikat.
Nara menikmati tidurnya di ranjang Ronald karena Ronald memang mengikatnya dekat ranjang.
"Bangun honey!"
Ronald pulang dalam keadaan mabuk karena ikut pesta keluarganya malam ini. Dia lupa diri menikmati anggur yang dibawa keluarganya dari Jerman.
Ronald bahkan lupa kalau dia sangat membenci wanita yang diikatnya ini.
"Ronald, lepaskan tanganku! Aku lapar sekali Ronald, kamu tidak harus mengikatku seperti ini, kamu bahkan tidak memberikan aku minum," ucap Nara menyerahkan tangannya untuk Ronald berbaik hati membuka ikatannya.
Dengan tanpa sadar, Ronald membuka ikatannya sambil mengelus wajah Nara. Nara benar-benar lemah saat ini, dia sangat lapar sekali dan perutnya sudah meronta-ronta agar segera di isi.
"Tanganmu sakit, honey?" tanya Ronald ketika selesai membuka ikatan tangan Nara.
"Tidak, aku hanya lapar sekali," jawab Nara dengan lemah. Dia menunggu Ronald kembali sampai akhirnya tertidur.
Saat Nara berdiri ingin menuju dapur, Ronald menariknya dan langsung mendaratkan kecupan basah di bibirnya, Nara berusaha keras melepaskannya tetapi tidak bisa karena dia terlalu lelah untuk melawan. Dia belum makan dan minum, tidak ada yang masuk dalam perutnya sampai Nara akhirnya pasrah dengan apa yang dilakukan Ronald.
"Aku tahu kamu masih sangat mencintaiku, aku tahu kalau kamu juga merindukanku, kamu kejam sekali, Nara! Setiap hari, setiap waktuku, tidak pernah sekalipun aku memikirkan wanita lain dan kamu malah bahagia bersanding dengan laki-laki lain, apa salahku? Katakan apa salahku?" Ronald menepuk dadanya keras dengan suara lantangnya tepat di telinga Nara.
Ronald sedang mabuk saat ini, percuma saja mengajak Ronald berbicara. Besok pasti dia akan melupakannya. Lebih baik saat ini dia mengisi tenaganya.
"Apa kamu membawa makanan ketika pulang tadi?" tanya Nara mengalihkan pertanyaan Ronald.
"Kamu belum makan, honey?" kembali Ronald bertanya padahal berulang kali Nara mengatakan kalau dia sangat lapar sekali.
"Kalau begitu kamu bisa makan aku," bisik nakal Ronald di telinga Nara.
"Ronald, aku sedang tidak ingin bermain-main, aku lapar sekali dan kalau kamu tidak membawa makanan, aku ingin membuatnya di dapurmu," ucap Nara menepiskan tangan Ronald dan berlari cepat menuju dapur sambil memegang perutnya.
Bahkan pertama kali yang Nara lakukan adalah mengambil segelas air dan meneguknya sampai habis. Sepertinya Nara baru habis berlari berkilo meter, yang menghabiskan banyak tenaganya.
Setengah sadar, Ronald mengikuti Nara ke dapur. Dia kembali mengingat kebenciannya dengan Nara. Dari belakang Ronald memeluk Nara sekaligus mencekik leher Nara. Hampir tidak bisa bernafas Nara dengan apa yang dilakukan Ronald.
Namun, langsung Ronald lepaskan. Dia hanya sesaat berpikir untuk membunuh Nara, lalu kembali otaknya berpikir. Tanpa Nara hidupnya begitu hampa.
Sial sekali wanita ini.
"Ronald, apa yang kamu lakukan, aku hampir mati kehabisan nafas, kamu terlaluan sekali," ucap Nara dengan tegas tetapi suara yang lembut.
Nara memegang lehernya yang merah karena ulah Ronald.
"Kalau kamu berusaha meninggalkan aku, berusaha keluar dari apartemenku, aku akan membunuhmu," ucap Ronald membalik tubuh Nara.
Nara baru saja sibuk memasak air untuk membuat mie instant. Dia sudah tidak punya tenaga lagi untuk menghadapi Ronald dan apapun yang Ronald katakan saat ini, Nara hanya akan diam.
Setelah selesai masak, Nara menghidangkannya di meja dan menyuruh Ronald untuk duduk. Karena dia membuat dua mangkuk mie instan.
"Makanlah! Aku tidak memasak banyak, aku sedang lapar sekali, kamu sudah makan?" tanya Nara dengan lembutnya. Masih seperti memperlakukan Ronald sebagai kekasihnya.
Keadaan seperti ini mengingatkan dia ketika masih pacaran dengan Nara. Ditatapnya Nara lekat-lekat sambil menyendok mie dihadapannya.
"Kamu bisa memasak yang lain, bukan makanan tidak bergizi seperti ini," ucap Ronald dengan ketus tetapi masih tangannya sibuk menyendok mie dan masuk ke dalam mulutnya.
"Ronald, lain kali jangan mengikatku seperti itu, aku sungguh kelelahan tadi. Bagaimana kalau kekasihmu datang dan melihat wanita lain di ranjang yang sama denganmu," ucap Nara yang malah membangkitkan emosi Ronald.
"Yang kamu pikirkan selalu perasaan orang lain, kamu tidak pernah berpikir kalau aku juga punya perasaan, Nara! Aku melakukan semua itu karena aku tidak ingin jauh darimu, aku ingin kita kembali seperti dulu dan aku tidak peduli dengan wanita lain, tidak ada yang penting dihatiku kecuali kamu," ucap Ronald dengan sangat tegas dan sangat sadar apa yang dikatakannya saat ini.
Nara kembali diam dan menunduk, menikmati makanannya. Dia tidak ingin lagi kembali dengan Ronald, tidak ingin lagi menjadi kekasih yang sangat berarti dalam hidup Ronald. Nara hanya ingin bebas dan tidak lagi bertemu dengan Monica. Wanita itu jelas tidak akan melepaskan Nara.
Pikirannya selalu ingin menghancurkan Nara tetapi hatinya selalu tidak menginginkannya.
"Ronald sadarlah, lihat dirimu! Kamu begitu sempurna, semua wanita suka denganmu, tidak ada yang lebih dariku, seperti yang kamu katakan, aku hanya tamatan SMA, tidak layak bersanding denganmu, kamu pasti akan malu dengan keluargamu kalau sampai menjadikan aku orang yang penting dalam hidupmu, biarkan seperti ini," ucap Nara lirih. Kenyataanya mereka tidak akan pernah bersama karena perbedaan mereka terlalu sulit untuk disatukan.
Ronald tertawa palsu, Nara tidak ingin lagi kembali padanya lalu bagaimana caranya membuat Nara kembali mencintainya?
Kenapa aku harus mencintai wanita sepertimu? Sudah tahu kamu melukai perasaanku dan aku tetap berharap kamu menjadi kekasihku.
"Tidak akan kubiarkan kalau kamu ingin menikah dengan laki-laki lain sedangkan aku terus berharap denganmu, aku tidak akan ikhlas melihatmu bahagia dengan lelaki manapun," ucap Ronald tegas. Ronald meninggalkan Nara ke kamarnya. Dia lelah berpikir saat ini.
Kepalanya masih pusing dan dia tidak ingin berdebat dengan Nara. Setidaknya Nara sudah paham untuk tidak meninggalkannya.
Satu jam Ronald menunggu Nara di dalam kamar tetapi Nara tidak kunjung kembali, Ronald kembali turun ke bawah mencari keberadaan Nara dan menemukan Nara tidur di dalam kamarnya.
"Kamu bisa tidur sedangkan aku terus memikirkan untuk tidur bersama denganmu," gumam Ronald sinis. Ronald masuk kamar Nara yang memang tidak dikunci karena rusak akibat ulah Ronald yang mendobrak kamar Nara.
Ronald sedikit membungkuk dan menggendong Nara naik ke atas kamarnya, Nara yang memang belum tidur sepenuhnya, kaget luar biasa.
"Ronald turunkan aku!"
"Tidak! Satu jam aku menunggumu di atas, aku sudah katakan padamu siang tadi untuk menjadi teman tidurku," ucap Ronald dengan sinis.
"Ronald jangan seperti ini, aku tidak ingin bermasalah dengan kekasihmu," ucap Nara yang sangat menjengkelkan telinga Ronald.
Dia tidak ada kekasih! Siapa yang akan marah?
To Be Continued ….