Greta Oto Wright terlahir sebagai putri dengan mata yang berbeda warna (Heterochromia) sama seperti ayahnya, sebuah tanda yang diyakini membawa nasib buruk. Sejak dalam kandungan, seekor kupu-kupu kaca tembus pandang telah berterbangan di sekitar istana, seolah-olah menjaga dan mengawasinya.
Ketika tragedi menimpa kerajaan, Greta menjadi terisolasi, terperangkap oleh mitos, ketakutan, dan rahasia orang-orang terdekatnya. Dalam keheningan dan keterasingan, ia perlahan menyadari bahwa apa yang disebut kutukan itu mungkin adalah kekuatan yang tersembunyi dari dunia.
Note: Non Romance
Follow ig: gretaela82
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greta Ela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Sembuh Perlahan
Hari-hari berikutnya berjalan lebih tenang dari sebelumnya. Setiap pagi, Grace datang dengan ramuan yang sama, disajikan dalam gelas kecil dengan takaran yang selalu tepat.
Hampir satu bulan Chelyne mengalami batuk yang lumayan parah itu. Perlahan, perubahan itu terlihat.
Batuk Chelyne tidak lagi separah itu. Dalam hitungan hari, ia sudah mampu duduk sendiri di tepi ranjang. Seminggu kemudian, dengan bantuan pelayan, ia bisa berjalan pelan menyusuri lorong dalam castle.
Arion melihat semua itu sebagai bukti. Bukti bahwa keputusannya benar, bahwa ia telah memilih orang yang tepat untuk dipercaya.
"Kau lihat itu, Thaddeus? Sudah ayah katakan padamu berkali-kali. Kita tidak perlu memanggil tabib, ibumu sudah mulai sembuh di tangan Grace." ucapnya suatu pagi pada Thaddeus.
"Jadi, ibu sudah mulai membaik." ujarnya ragu.
Thaddeus hanya mengangguk. Ia sungguh ingin percaya pada ayahnya. Tapi keraguan itu masih muncul dipikirannya.
Mungkin Thaddeus terlalu curiga dan mungkin pikirannya sendiri yang berlebihan.
Di hari berikutnya, Chelyne akhirnya menggendong Greta lagi.
Di sebuah sudut halaman dalam, dekat air pancuran yang mengalir pelan, Chelyne duduk di bangku batu dengan tubuh yang masih lemah tapi senyum yang lebih hidup. Greta duduk di pangkuannya, bersandar di dada ibunya.
"Ibu, apakah aku berat?" tanya Greta polos.
"Tidak, sayang" jawab Chelyne sambil mengelus rambutnya.
Greta tersenyum lebar. Sudah lama ia menunggu saat ini, meski tidak pernah mengeluh. Beberapa kupu-kupu kaca berterbangan rendah di sekitar mereka, sayap beningnya berkilau tertimpa cahaya. Greta tertawa kecil, menunjuk satu per satu.
"Ibu, lihat! Kupu-kupu kaca." gumam Greta
Chelyne mengangkat pandangan. Untuk sesaat, matanya berkaca-kaca.
Thaddeus tidak ada di sana.
...****************...
Pagi itu, ia memilih pergi ke hutan. Ia membawa kantong kecil dari kain kasar, berniat mengisinya dengan apa pun yang bisa ia temukan.
Sebentar lagi Greta berusia empat tahun. Ia tahu adiknya tidak tertarik pada perhiasan atau mainan mahal. Greta hanya menyukai makhluk hidup yang kecil dan sering tak diperhatikan.
Capung, kumbang, serangga-serangga yang dianggap remeh.
Thaddeus mulai berjalan ke hutan. Ia lebih suka sendirian dari pada diawasi oleh pengawal.
Di dekat tumpukan kayu yang setengah terikat, ia melihat sosok yang dikenalnya.
Orang itu adalah Hugo.
Anak itu sedang mengikat potongan kayu dengan tali kasar. Mereka saling memandang. Tidak ada sapaan apalagi senyuman.
Sudah tiga tahun berlalu sejak kejadian itu. Tiga tahun cukup lama untuk mengubah persahabatan menjadi jarak.
Hugo ingin menunduk tapi dilarang oleh Thaddeus
"Jangan menunduk." potong Thaddeus langsung
"Maaf." balas Hugo
"Kau... sering ke sini?" tanya Thaddeus.
Hugo mengangguk singkat.
"Hanya terkadang." jawabnya
Hanya percakapan singkat lalu hening kembali diantara mereka berdua.
Hugo kembali mengikat kayu yang sudah dikumpulkannya.
"Hugo, biar aku bantu." tawar Thaddeus
Hugo ragu sejenak, lalu mengangguk.
Mereka berjalan bersama menuju rumah kecil di tepi hutan. Langkah mereka tidak sejajar, tapi tidak saling menjauh. Perlahan, kecanggungan itu melunak.
"Greta baik-baik saja?" tanya Hugo, suaranya pelan.
"Iya," jawab Thaddeus.
"Dia masih suka dengan serangga?" tanya Hugo
Thaddeus mengangguk pelan.
"Adikku memang menyukai serangga. Terkadang, aku menangkap serangga untuk Greta."
Hugo tersenyum tipis. "Itu bagus."
Mereka hanya berbincang sedikit diperjalanan itu. Thaddeus membantu Hugo membawa kayu. Sudah lama mereka tidak sedekat ini lagi.
...****************...
Di depan rumah Hugo, Thaddeus menurunkan kayu dan membersihkan tangannya. Ia menoleh, seolah baru teringat sesuatu.
"Hugo, Ibumu biasanya pulang jam berapa?"
Hugo berpikir sejenak. "Tidak tentu. Kadang sore, kadang sudah malam."
Thaddeus mengangguk, seolah pertanyaan itu tidak berarti apa-apa.
"Silakan masuk, Pangeran-"
"Tidak usah panggil aku dengan sebutan itu. Kita sudah biasa memanggil nama masing-masing, bukan?" potong Thaddeus
Hugo mengangguk pelan dan mulai merasakan kecanggungan itu sedikit berkurang.
"Silakan masuk, Thaddeus." ujar Hugo agak canggung.
Perlahan, Thaddeus masuk ke rumah Hugo. Sebenarnya tiga tahun yang lalu, Thaddeus sering bermain ke rumah Hugo. Ia kembali mengingat masa-masa kecil mereka.
Thaddeus seketika mengingat tentang botol yang dilihatnya waktu itu. Matanya mencari apakah botol itu ada dirumah ini.
"Mungkin Grace menyembunyikannya." gumamnya
Hugo menyadari seperti ada yang dicari oleh Thaddeus
"Apa kau sedang mencari sesuatu?" tanya Hugo
"Tidak ada." jawabnya singkat.
Tidak ada tanda-tanda mencurigakan dari rumah Hugo. Mungkin Grace sudah menyimpan botol itu disesuatu tempat.
Tapi Thaddeus juga tidak tega menuduh Grace karena kecurigaannya. Karena Grace adalah ibu dari temannya sendiri, Hugo.
"Hugo, aku harus kembali ke castle."
"Terima kasih sudah membantuku, Thaddeus." ujar Hugo sambil mengantarkan Thaddeus ke depan pintu rumahnya.
Saat ia berpamitan dan kembali ke castle, pikirannya terasa lebih berat. Jawaban itu sederhana, tapi membuka celah kecil dalam kepalanya. Celah yang berani ia sebut sebagai kecurigaan.
...****************...
Di halaman dalam castle, ia melihat Chelyne dan Greta di dekat air pancuran. Beberapa pengawal berdiri berjaga dengan jarak yang tidak terlalu dekat. Chelyne tertawa pelan saat Greta bermain dengan percikan air.
Lalu batuk kecil itu terdengar, batuk itu tidak keras dan tidak separah seperti waktu itu. Hanya satu sampai dua kali.
Thaddeus berhenti melangkah.
Chelyne menutup mulutnya dengan sapu tangan, lalu tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa. Greta menepuk-nepuk dadanya dengan tangan kecilnya.
"Ibu baik-baik saja," kata Chelyne lembut.
Greta perlahan turun dari gendongan ibunya. Ia beralih pada kupu-kupu kaca yang berterbangan didekat mereka.
"Ibu, aku suka ini." ujar Greta sambil menunjuk kupu-kupu kaca itu.
Kupu-kupu kaca masih berterbangan, membuat Greta bersorak kecil.
Thaddeus ingin percaya bahwa semuanya benar-benar membaik. Bahwa obat itu bekerja. Bahwa ia salah menilai. Ia tidak tega mencurigai Grace, ibu dari Hugo, orang yang pernah ia anggap keluarga sendiri.
Namun, di sudut halaman, Grace berdiri memperhatikan.
Wajahnya tenang, tapi mulutnya tidak ikut tersenyum. Tatapannya singgah sejenak pada Chelyne, lalu berpindah pada Greta, lalu kembali kosong.
Hanya sesaat. Cukup singkat untuk dilewatkan siapa pun.
Kecuali Thaddeus.
Ia merasa Grace tidak menyukai ibunya. Entah itu hanua firasatnya saja atau memang fakta.
Greta menyadari Thaddeus yang sudah pulang dari luar castle lalu ia berlari menghampiri kakaknya itu.
"Kakak..." panggil Greta
Karena terlalu bersemangat, Greta akhirnya terjatuh. Chelyne yang panik langsung berlari ke arah Greta.
Tapi anehnya, Greta tidak menangis. Bahkan tidak ada luka pada kulitnya. Saat Greta jatuh, kupu-kupu kaca itu langsung mendekati Greta dan berterbangan disekitarnya.
"Greta, kau tidak apa-apa sayang? Apa ada yang sakit?" tanya Chelyne khawatir
Greta tidak menjawab ibunya, Ia malah kembali berlari menemui Thaddeus.
"Greta, hati-hati. Nanti kau jatuh lagi." ujar Thaddeus sambil menggendong Greta.
Chelyne perlahan berjalan ke arah Thaddeus dan batuk itu terdengar dua kali.
"Bagaimana perasaan ibu?" tanya Thaddeus yang
sambil menggendong Greta
"Sudah membaik. Ayo kita masuk, mungkin ayahmu sudah menunggu."
Thaddeus mengangguk lalu ia masuk ke castle bersama ibunya. Tapi matanya langsung sigap ke arah Grace yang masih berdiri di sudut halaman dan rasa kecurigaan itu muncul kembali.