NovelToon NovelToon
Darah, Dendam Dan Tahta, Mojopahit Cronicle

Darah, Dendam Dan Tahta, Mojopahit Cronicle

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:485
Nilai: 5
Nama Author: Mokhammad Soni

cerita fantasi berlatarbelakang zaman majapahit, ada plot twistnya, ada pengkhianatannya, penghiatan cinta, sahabat, ada percintaan, percintaan sebelah tangan, cinta segitiga, ada intrik sosial ada intrik politik, pemeran utama adalah anak penguasa yang terbuang, dihinakan, terlunta-lunta dengan dibenci karena orang tuanya yang dicap penghianat, pada akhirnya dia menapak sedikit demi sedikit dengan menyembunyikan identitas, merangkak naik kekuasaan untuk membalas dendam, pemeran utama tidak baik-baik amat, dia juga menggunakan cara-cara untuk mencapai tujuan baik itu cara licik, pura2 menjalin hubungna asmara, pura-pura bersahabat untuk mencapai tujuan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 30 — “ABU DAN JALAN BARU”

Sunyi yang Menyelamatkan)

Api unggun itu mulai kehilangan apinya, sekeliling meredup. Bergoyanggoyang untuk menyelesaikan tugasnya.

Ia telah selesai untuk menyala.

Yang tersisa hanyalah abu, abu basah bercampur darah, lumpur dan daun-daun hutan yang remuk diinjak manusia. Bau bekas pertempuran masih menggantung di udara, samar tapi menusuk, seperti ingatan yang enggan pergi.

Raka berdiri terpaku.

Ia tidak tahu sudah berapa lama dia berdiri mematung. Dia terpaku.

Langit telah berubah warna, dari kelabu menuju biru pucat. Semburat sinar matahari mulai menyapa permukaan bumi. Pagi datang tanpa suara, seolah dunia ingin berpura-pura bahwa malam tadi tak pernah ada.

Di sekelilingnya, tubuh-tubuh tergeletak begitu saja. Ada yang ia kenal dari rombongan. Ada yang wajahnya asing, tapi matanya terbuka lebar, menatap kosong ke arah tubuh-tubuh yang tanpa nyawa. Darah mengalir mengikuti lekuk tanah, membentuk parit kecil yang segera diserap bumi.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada tangis.

Sunyi mencekam, sunyi yang lebih menakutkan daripada jerit perang.

Raka menarik napas, tapi dadanya terasa sempit. Setiap tarikan udara seolah membawa kembali bayangan-bayangan semalam: kilatan besi, napas terputus, suara daging robek tanpa teriakan panjang. Ia ingin muntah, tapi tak ada apa pun yang tersisa di perutnya.

Langkah kaki terdengar pelan di belakangnya.

Ia menoleh refleks.

Bayangan seorang perempuan tua yang selalu dia ikuti, Si Nenek yang belum sekalipun menyebutkan namanya. Nama menjadi misteri yang tidak ingin terbuka. Nenek itu masih hidup.

Tubuhnya bersandar pada tongkat—tongkat yang kini lebih gelap oleh noda kering. Bahunya dibalut kain kasar yang tidak sepenuhnya menahan darah. Wajahnya pucat, tapi matanya tetap tajam, seperti batu sungai yang telah lama digerus arus.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada kata lega.

Mereka hanya saling menatap, dua orang yang selamat dari sesuatu yang tidak seharusnya bisa dilewati.

“Jangan terlalu berdiri di situ, mari cepat menyingkir dari tempat ini” kata nenek akhirnya. Suaranya serak, bukan karena lemah, tapi karena terlalu banyak diam. “Kalau mereka kembali, kau akan mudah ditemukan.”

“Mereka?” Raka bertanya pelan.

Nenek tidak menjawab. Ia berjalan tertatih, lalu berhenti di balik rumpun bambu yang masih berdiri. Di sana, tanah lebih tinggi, lebih kering. Tempat orang-orang biasa berlindung—atau mengintai.

Raka mengikutinya tanpa bertanya lagi.

Di balik bambu, dunia terasa lebih sempit. Bau amis dan anyir darah masih terasa, tapi tertahan daun-daun yang rapat. Raka duduk, memeluk lutut. Tangannya gemetar tanpa ia sadari.

“Nek, apa… kejadian ini sudah selesai?” katanya, hampir seperti bertanya pada dirinya sendiri.

Nenek menatap ke kejauhan. “Masih jauh dari kata selesai Raka, mereka selalu berdatangan selalu ada pengganti.”

Jawaban itu tidak menenangkan. Tapi entah kenapa, Raka mempercayainya.

Beberapa saat berlalu tanpa suara. Burung-burung mulai kembali, ragu-ragu. Alam bergerak lagi, seolah kematian hanyalah gangguan kecil dalam rutinitas panjangnya.

Lalu, suara lain muncul.

Bukan langkah berat. Bukan pula gemerisik panik. Ini langkah yang teratur, yakin. Dua pasang.

Raka menegang. Tangannya refleks mencari apa pun yang bisa dipegang—tanah, batu, dahan dan apa saja.

Dua sosok muncul dari sela-sela pepohonan.

Mereka tidak membawa panji. Tidak memakai warna yang jelas. Pakaian mereka sederhana, seperti pejalan jauh. Tapi cara mereka berdiri—cara mata mereka menyapu medan—itu bukan milik orang biasa.

Salah satu dari mereka menatap sekeliling, lalu berkata pelan, seolah hanya ingin didengar rekannya,

“Ada yang masih hidup.”

Yang lain mengangguk. “Berarti ini belum selesai.”

Raka menahan napas.

Nenek tidak bergerak. Wajahnya tetap datar, seolah dua orang itu hanyalah bayangan pohon.

Salah satu dari mereka melangkah lebih dekat. Tidak terlalu dekat—cukup untuk memastikan, tapi cukup jauh untuk tidak mengancam secara terang-terangan.

“Bagaimana tanggapan Mahapatih tentang ini, yang dianggap bisa cepat selesai ternyata.......”kata-kata itu mengantung. ”Masih ditolerir sama Mahapatih, ndoro ingin tangkapan yang lebih bermakna, mancing ikan besar harus penuh kesabaran,” katanya datar. Bukan pengumuman. Lebih seperti catatan.

Raka tidak tahu apa arti kalimat itu. Tapi dadanya terasa semakin berat.

“Ya umpan harus tetap hidup,” sambung yang lain, nyaris berbisik.

Kata itu—umpan—menggantung di udara lebih lama daripada yang seharusnya.

Raka ingin bertanya. Ingin berteriak. Ingin menyangkal. Tapi tidak satu pun keluar dari mulutnya.

Nenek menatap mereka sebentar, lalu mengalihkan pandangan. Tidak ada bantahan. Tidak ada persetujuan. Hanya diam.

Dua orang itu tidak menunggu jawaban.

Mereka berbalik dan pergi, menghilang secepat mereka datang, meninggalkan jejak langkah yang sengaja tidak disamarkan—atau mungkin terlalu yakin untuk peduli.

Hening kembali.

Raka merasakan sesuatu runtuh di dalam dirinya. Bukan karena kata-kata itu, tapi karena cara kata-kata itu diucapkan. Seolah hidupnya hanyalah bagian kecil dari rencana besar yang tidak pernah ia pahami.

“Apa maksud mereka?” akhirnya ia bertanya.

Nenek menutup mata sejenak. Saat membukanya, ada sesuatu yang berbeda—bukan kelembutan, bukan pula dingin. Sesuatu yang lebih sulit dibaca.

“Tidak semua yang kau dengar perlu kau pahami sekarang,” katanya. “Yang penting, pada saat ini kau masih bisa bernapas.”

“Dan setelah ini?” Raka menekan.

Nenek berdiri dengan susah payah. “Setelah ini, kita akan berjalan kembali.”

“Ke mana?”

“Menjauh,” jawabnya singkat.

Mereka meninggalkan tempat itu saat matahari mulai naik. Tidak ada upacara perpisahan. Tidak ada doa. Hanya langkah-langkah yang menjauh dari medan yang kini menjadi kuburan tanpa nama.

Saat berjalan, Raka menoleh sekali lagi. Di antara abu dan tubuh-tubuh yang tertinggal, ia melihat sesuatu—bukan bendera, bukan tanda jelas. Hanya ukiran kecil pada sebilah kayu patah, setengah tertutup lumpur.

Ia tidak tahu artinya.

Tapi ia tahu satu hal:

Ia sedang dintai dan diawasi dari jauh.

Pelariannya tidak membuatnya bebas.

Pelariannya membuatnya berharga.

Dan di dunia seperti ini, menjadi berharga berarti satu hal—

Diburu, tetapi tidak untuk dibunuh.

Raka mengepalkan tangan. Tidak ada air mata. Tidak ada sumpah.

Hanya satu kesadaran pahit yang tumbuh pelan, seperti api di balik abu:

Dunia lama telah runtuh.

Dan apa pun yang menunggunya di depan…

tidak akan membiarkannya pergi begitu saja.

Nenek dan Raka berjalan pelan. Dan sepasang mata yang tajam tidak lepas kearah Raka, ”Awasi terus...” begitu perintah itu turun kelebat bayangan mengikuti ke arah perjalanan Raka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!