NovelToon NovelToon
Keluarga Ningratku, Menjodohkan Aku

Keluarga Ningratku, Menjodohkan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

​“Antara kewajiban keluarga, perjodohan, dan cinta yang tumbuh tanpa rencana…”

Maizara​ merindukan kebebasan, sementara Dimas hanya peduli pada tahta dan bisnisnya. Ketika perjodohan membawa mereka dalam satu atap, setiap tatapan menjadi perang dingin, dan setiap sentuhan menjadi ancaman bagi hati mereka.

​Saat dua dunia menuntut kepatuhan, akankah rasa di antara mereka menyerah pada gengsi, atau tunduk pada cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Kejutan di Stasiun

Suasana malam di Ndalem Natakusumah terasa begitu tenang. Di dalam kamarku, aku sedang mengemasi beberapa pakaian dan keperluan pribadi ke dalam koper sedang. Menurut aturan kaku keluarga, terutama hukum tak tertulis Romo, seorang anak perempuan Natakusumah harus sudah berada di rumah sebelum jam delapan malam dan sama sekali tidak diizinkan memiliki agenda di luar rumah melewati jam tersebut.

Namun untuk urusan kali ini, Romo justru menjadi orang yang paling bersemangat mendorongku berangkat. Sungguh sebuah ironi yang menggelikan, bagaimana aturan adat bisa menjadi begitu lentur saat berhadapan dengan sebuah aliansi perjodohan yang dinilai prospektif.

Saat aku sedang melipat gaun pemberian Dimas, pintu kamarku yang terbuat dari kayu jati tebal berderit pelan.

"Nduk," panggil sebuah suara berat yang sangat kukenali dari arah ambang pintu.

Aku menoleh kaget. "Ya, Romo?"

Romo Gusti Raden Mas Haryadi Natakusumah melangkah masuk perlahan. Beliau berdiri di dekat meja kerjaku, memperhatikan koper yang terbuka. Garis-garis tegas di wajahnya tampak sedikit melunak di bawah remang lampu kamar.

"Romo sudah kirim alamat rumahnya Pak Arjowibowo ke ponselmu," ucap Romo dengan nada suara yang tak lagi kaku. "Kamu baik-baik di sana."

Aku tertegun di tempat. Siapa yang pernah menyangka bahwa pria yang selama tiga puluh tahun hidupku selalu bersikap keras, dingin, dan penuh tuntutan ini, tiba-tiba mengutarakan kalimat yang begitu menyentuh hati? Ada nada kekhawatiran yang samar namun amat tulus dari seorang ayah yang bersiap melepas putri tunggalnya menuju petualangan baru di kota orang.

Rasa haru mendadak menyeruak memenuhi dadaku. Tanpa memikirkan sekat adat atau jarak yang selama ini membentang di antara kami, aku melangkah mendekati Romo dan langsung memeluk tubuh tegapnya yang kini mulai dimakan usia.

Romo sempat terdiam sejenak, terkejut atas tindakan impulsifku. Namun perlahan, tangannya yang kekar mengelus punggungku dengan lembut.

Aku tahu, di balik segala ketegasannya, di balik keberpihakannya pada anak-laki-laki, dan di balik caranya yang kaku dalam mendidikku, beliau sebenarnya hanya menginginkan yang terbaik untuk putri satu-satunya ini. Tidak ada hal yang lebih mendalam dan hangat selain momen obrolan serta pelukan jujur antara seorang anak perempuan dengan ayahnya.

*

*

Pagi hari berikutnya, matahari baru saja muncul tipis saat aku sudah berada di Stasiun Lempuyangan. Daripada menggunakan pesawat terbang seperti yang dijadwalkan Dimas, aku sengaja memilih menaiki KRL/kereta api menuju ibu kota. Perjalanan dengan kereta selalu memberiku ruang untuk berpikir, merenung, dan menyiapkan mental.

Sebelum kereta melaju, sebuah notifikasi pesan dari Mbak Dinar masuk ke ponselku:

Mei, nanti sesampainya di stasiun tujuan di Jakarta, yang akan menjemput kamu langsung Pak Arvino ya. Beliau kebetulan ada urusan di sekitar sana.

Aku tersenyum tipis membalas pesan Mbak Dinar. Baguslah, urusan pekerjaan dan janji temu kencan bisa berjalan efisien.

Di dalam gerbong kereta yang melaju membelah pemandangan hijau, aku duduk dengan tenang. Aku mengeluarkan laptop dari tas kerja dan memasang earphone kabelku. Mbak Dinar baru saja mengirimkan beberapa draf dokumen email mengenai detail produk makanan olahan saus Korea yang akan kami garap. Aku mulai fokus membaca setiap poin strategi pemasarannya.

Di Tempat Lain: Kantor Arjowibowo Group, Jakarta

Sementara itu, di dalam ruang kerja megahnya di ibu kota, Dimas Arjowibowo terus memasang wajah penuh tanya dan kekesalan yang tertahan.

Sudah jam sepuluh pagi, namun layar ponsel pintarnya di atas meja kerja yang bersih itu masih sepi dari notifikasi yang ditunggunya. Dimas menyandarkan punggungnya di kursi eksekutif, jemarinya refleks bergerak mengetuk-ngetuk meja, dan ibu jarinya sesekali menggigit kuku jari telunjuknya sendiri, sebuah kebiasaan refleks yang selalu dilakukannya setiap kali dia sedang cemas, bingung, atau penasaran setengah mati.

Satu-satunya pesan dariku yang masuk adalah pesan singkat tadi malam pukul sembilan.

Aku berangkat naik kereta aja, soalnya sekalian ketemu client.

Pesan itu dibalasnya singkat dengan gaya khasnya:

Ok, aku tunggu setelah urusanmu selesai.

Dan pesan balasan Dimas itu hanya dibaca olehku (read) tanpa ada balasan lanjutan.

"Aku terlalu excited menunggu kabar Mei ya?" gumam Dimas sendiri di dalam ruang kerjanya yang luas dan hening. Pria itu mengacak rambut gondrongnya pelan, menggelengkan kepala tidak percaya pada perilakunya sendiri.

"Bahkan di saat dia sibuk akan kesibukannya, aku menunggu balasan chat-nya seperti ini... Ini fasenya orang lagi cinta-cintaan, ya?"

Perasaan asing itu terus mengusik fokus kerjanya. Semua aktivitasnya hari itu diwarnai dengan gerakan refleks melirik layar ponsel yang tak kunjung memperlihatkan notifikasi pesan masuk dariku. CEO muda yang biasanya sangat disiplin itu kini bertekuk lutut di hadapan rasa penasarannya sendiri.

Stasiun Gambir, Jakarta – Siang Hari

Kereta api yang kunaiki akhirnya merapat mulus di peron Stasiun Gambir. Aku menurunkan koper sedangku dari bagasi atas, merapikan blazer santai dan pakaian yang kukenakan, lalu melangkah keluar membaur dengan hiruk-pikuk penumpang ibu kota.

Sambil menarik koper dengan tangan kanan, tangan kiriku memegang ponsel untuk mencari keberadaan Pak Arvino perwakilan klien yang dijanjikan Mbak Dinar akan menjemputku.

Tiba-tiba, di dekat pintu keluar area kedatangan VIP, seorang pria jangkung berpakaian kemeja kasual yang rapi melambaikan tangannya padaku. Wajahnya tampan, dengan senyuman ramah dan aura yang sangat hangat, sangat berbeda dari aura dingin mencekam yang biasa dibawa oleh Dimas.

"Maizara Paramita?" panggil pria itu saat aku berjalan mendekat.

"Iya, betul. Pak Arvino?" tanyaku sopan sambil menghentikan langkah.

Pria itu tersenyum makin lebar, menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan secara profesional. "Iya, saya Arvino. Panggil Vino saja, tidak usah terlalu formal, Mei."

Aku membalas jabat tangannya dengan senyuman hangat. "Baik, Pak... eh, Mas Vino. Terima kasih banyak sudah menyempatkan waktu menjemput saya di stasiun."

Vino dengan sigap dan sopan mengambil alih pegangan koper sedangku dari tanganku, membuatku agak terkejut dengan keramahannya.

"Eh, tidak usah repot-repot, Mas Vino, saya bisa bawa sendiri... "

"Santai saja, Mei," sela Vino santai sambil tertawa kecil, melangkah beriringan denganku menuju area parkir mobil VIP.

"Di tim kita, kenyamanan staf ahli dari Jogja adalah prioritas utama. Lagipula, aku memang sekalian ada urusan ke arah sini."

Kami berjalan menyusuri lorong stasiun. Pembawaan Vino yang sangat terbuka dan pandai mencairkan suasana membuat rasa canggungku menguap dalam hitungan detik.

"Gimana perjalanannya? Capek naik kereta?" tanya Vino membuka percakapan saat kami berada di dalam lift menuju tempat parkir.

"Sama sekali enggak, Mas. Justru menyenangkan karena aku bisa sekalian menyelesaikan draf email pemasaran yang dikirim Mbak Dinar tadi di jalan," jawabku jujur.

Vino menaikkan sebelah alisnya, menatapku dengan kekaguman yang terang-terangan. "Wah, profesional banget ya. Pantesan Dinar memuji kamu setinggi langit waktu pertemuan minggu lalu. Katanya kamu otak di balik kesuksesan banyak kampanye produk lokal di Jogja."

"Mbak Dinar terlalu berlebihan, Mas," balasku sambil tertawa kecil, pipiku agak memerah menerima pujian itu. "Aku cuma berusaha melakukan yang terbaik."

Mobil SUV mewah milik Vino sudah terparkir rapi. Setelah memasukkan koperku ke dalam bagasi, Vino membukakan pintu penumpang untukku dengan sangat sopan sebelum dia sendiri masuk ke kursi kemudi.

Saat mobil mulai membelah kemacetan siang Jakarta menuju arah kantor pusat mereka, Vino melirikku sekilas melalui kaca spion dalam.

"Ngomong-ngomong, Mei..." ujar Vino, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman misterius. "Kamu tahu tidak kalau proyek saus Korea yang akan kamu garap selama tiga bulan ke depan ini adalah produk milik sahabat karibku sendiri?"

Aku pura-pura tidak tahu, meski di dalam hati jantungku sudah berdebar kencang. "Oh ya? Sahabat Mas Vino?"

Vino terkekeh renyah, menggeleng-gelengkan kepala. "Orangnya dingin banget, agak kaku, dan juteknya minta ampun. Tapi dia CEO utama perusahaan ini. Namanya Dimas. Dimas Arjowibowo."

Mendengar nama itu disebut secara langsung oleh Vino, aku memalingkan wajahku ke arah jendela mobil, berusaha keras menahan senyuman dan rona merah di pipiku agar tidak terbaca oleh sahabat calon suamiku ini.

"Oh... Mas Dimas," bisikku pelan dengan nada seolah baru mendengarnya.

"Iya, Dimas," lanjut Vino tanpa curiga, fokus pada kemudi. "Anehnya, dari kemarin si Dimas itu kelihatan gelisah banget di kantor. Sebentar-sebentar ngecek HP, sebentar-sebentar gigit jari. Katanya sih lagi nunggu tunangannya atau calon istrinya datang dari Jogja."

Aku menelan ludah. Gelisah? Gigit jari? Nungguin aku?

"Masa sih, Mas?" tanyaku memancing, berpura-pura santai.

"Iya! Padahal biasanya itu orang cueknya setengah mati," cerocos Vino antusias, gembira menemukan teman mengobrol yang asyik. "Aku sampai penasaran setengah mati sama cewek Jogja yang bisa bikin es batu kayak Dimas mendadak mencair begitu. Kata Dimas lusa kemarin, cewek itu unik banget. Kamu kan dari Jogja nih, memang cewek disana unik? Boleh dong nanti kenalin temen kamu yang jomblo."

Pertanyaan polos dari Vino itu membuatku tak sanggup lagi menahan tawa kecil. Aku merapikan dudukku, menatap Vino melalui kaca tengah dengan pandangan yang tenang dan anggun.

"Kalau wanita Jogja yang unik itu..." ucapku pelan, "...mungkin wanita yang saat ini sedang duduk di sebelah Mas Vino."

Sret!

Vino refleks menginjak rem agak dalam saat mobil berada di lampu merah. Pria jangkung itu memutar tubuhnya sepenuhnya, menatapku dengan mata membelalak lebar dan mulut sedikit terbuka karena terkejut setengah mati.

"T-tunggu... APA?!" pekik Vino tidak percaya. "Kamu... kamu Maizara? Mei... Maizara Paramita yang dijodohkan sama Dimas?!"

Aku tersenyum manis, mengangguk pelan. "Iya, Mas Vino. Saya Maizara Paramita."

Vino memegangi kepalanya, lalu tertawa berderai dengan sangat lepas di dalam mobil. "Ya Tuhan! Jadi staf ahli pemasaran dari agensi Dinar itu adalah calon istrinya Dimas Arjowibowo?! Dunia sempit banget!"

Kejutan manis di stasiun dan di dalam mobil sore itu menandai awal baru yang tak terduga di Jakarta. Perjalanan kencan perkenalan ini kini berjalin erat dengan profesionalisme kerja, dan aku sudah tak sabar ingin melihat reaksi wajah Dimas saat mengetahui bahwa wanita yang ditunggunya seharian ini ternyata dijemput oleh sahabat karibnya sendiri.

1
Adira🍓
Karena Hati Mei masih ragu 🤪🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Yah,,, gagal ngerasain lolipop nya Dimas lagi donk /Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
Adira🍓
Kan Dimas udah pernah bilang pas pertama kalian ketemuan Mei 🤪🤪🤪
Adira🍓
gara-gara Video oh no oh yes mu sama Kartika 🤪🤪🤣🤣🤣
Adira🍓
Gak bakal.... yang ada bakal ketagihan oh yes oh no 🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Habis lolipop nya Dimas enak 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Adira🍓: AQ masih setia nungguin gempurannya Dimas ini lho Thor 🤣🤣 kapan Dimas nggempur lagi ini ..... Waiting /Applaud/
total 2 replies
falea sezi
buat bapaknya dimas laki kayak dimas g cocok dpet cwek baik🤣 dia cocok sama kartika sama sama sampah😒
NinLugas: kasihan yg SDH cinta wkwk
total 1 replies
Mia Camelia
lanjut thor😁
Adira🍓
Sedang menyalakan kembang api Dim 🤪🤪🤪
Adira🍓
Belum apa^ mo jadi benalu si Kar ini 🤮🤮🤮
Adira🍓
Kartika bukan mantannya Dimas kan 🤔
NinLugas: mantan ena2😄
total 1 replies
Adira🍓
Tapi x ini aq tak setuju dengan keputusan kau Dim 🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Pelajaran apa Romo??? menggugurkan janin???🤪🤪 nambah dosa iy 🤣🤣🤣
Adira🍓
Tapi janin itu tak punya dosa apa^ 😔 apa salahnya lahirkan sja nanti biar Mei dan keluarganya yg besarkan... dan Alya bisa fokus dengan masa depannya lagi 🤪🤪🤪
NinLugas: kita lihat aja nnti kk
total 1 replies
falea sezi
🤣🤣 adam lugu dpet alya pemain🤣 s kayaknya sering gugurin bayi si alya ini😒
NinLugas: hmm by pertama kak 😄✌️
total 1 replies
Adira🍓
Bisa y Adam yg diperkosa Alya yg hamil 🤣🤣🤣🤣🤣 cek dulu Dam, x aja itu bukan anakmu,,, Alya kan dah lihai, psti dah sering celap-celup 🤪🤪
NinLugas: 🤭🤭🤭 kasihan Adam
total 1 replies
Adira🍓
Es batunya udah meleleh Mi,,, udah dikasih jatah soalnya 🤣🤣🤣🤣
NinLugas: 😄😄😄😄 hahah ssttt
total 3 replies
Adira🍓
Sekarang kapanpun dimanapun bisa cap cip cup y Dim 🤪🤪🤪
Adira🍓
Tumben bab ini agak rancu Thor tulisannya,,,, bagian atasnya banyak yg disekat^ gtu...
NinLugas: iy eh lupa KLO dari word bnyak Sekat KLO SDH d publish dsni
total 1 replies
Adira🍓
Masih formal aja si Dimas 😜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!