“Ketika aku masih menjadi Tuan Muda, kalian semua menghormatiku. Namun, setelah dantianku hancur, bahkan keluargaku sendiri menganggapku sampah.”
“Aku telah mengorbankan segalanya untuk kalian. Apakah penghinaan dan pengkhianatan ini balasan yang pantas kuterima?”
Dikhianati sekte, dihina keluarga, dan ditinggalkan orang-orang yang dicintainya, Qin Xuan kehilangan segalanya.
Namun, ketika semua orang menganggapnya tidak berguna, sebuah pagoda misterius justru memilihnya sebagai penguasa.
Mereka telah menghancurkan hidupnya. Kini, Qin Xuan akan membuktikan bahwa mereka telah meremehkan orang yang salah.
🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Siasat Qin Xuan
Api hitam menyelimuti Pedang Iblis Hitam ketika Qin Xuan mengayunkannya.
Energi dari sekeliling berkumpul di sepanjang bilah, kemudian berubah menjadi gelombang api sepanjang hampir sepuluh meter. Serangan itu melesat menyambut Tebasan Haus Darah milik Qin Xingqiong.
Kedua cahaya pedang bertabrakan di tengah ruangan.
Ledakan keras mengguncang seluruh bangunan. Lantai paling atas hancur, sementara pecahan kayu dan batu berhamburan ke segala arah.
Qin Xuan berhasil menahan sebagian besar serangan Qin Xingqiong. Namun, perbedaan kekuatan mereka terlalu besar. Sisa benturan tetap menghantam tubuhnya hingga membuat darah di dadanya bergejolak.
Ia segera menoleh ke belakang.
Tempat tidur Ling'er mulai jatuh bersama lantai yang runtuh.
“Ling'er!”
Qin Xuan menerobos puing-puing, memutus tali yang mengikat adiknya, lalu mengangkat tubuh gadis itu.
Dengan teknik gerak yang pernah dipelajarinya di Sekte Bintang Langit, ia melompat keluar sebelum seluruh lantai ambruk.
Mereka mendarat di halaman.
“Kakak, kau terluka?” tanya Ling'er dengan suara lemah.
Qin Xuan menggeleng. Ia menyingkirkan rambut yang menutupi wajah adiknya, lalu memeriksa apakah ada luka baru di tubuhnya.
“Kakak baik-baik saja. Kita akan pulang.”
Ling'er memeluk leher kakaknya erat-erat. Tubuhnya masih gemetar setelah kejadian di kamar tadi.
Qin Xuan membiarkannya bersandar. Ia tahu adiknya masih ketakutan, tetapi mereka belum benar-benar aman.
Tidak jauh dari sana, Qin Xingqiong berdiri di antara reruntuhan dengan wajah muram.
Ia tidak menyangka Qin Xuan mampu menahan Tebasan Haus Darah. Teknik tersebut merupakan teknik bela diri tingkat Bumi kelas menengah yang sangat cocok dengan Tubuh Pembunuh Haus Darah miliknya.
Dengan kekuatan tujuh belas banteng, serangan itu seharusnya cukup untuk mengalahkan Qin Xuan.
Namun, Pedang Iblis Hitam dan teknik pedang yang baru saja digunakan Qin Xuan ternyata jauh lebih hebat daripada perkiraannya.
Kalau aku bisa mendapatkan keduanya, kekuatanku pasti meningkat pesat.
“Qin Xuan, kau tidak akan selalu bisa mengandalkan keberuntungan!” serunya.
Qin Xingqiong kembali mengangkat Pedang Rohnya.
Kali ini ia menggunakan serangan yang berbeda. Pedangnya bergerak cepat, melepaskan beberapa cahaya pedang yang berkumpul membentuk bunga teratai berdiameter sekitar tiga meter.
Bunga teratai yang terbentuk dari energi itu langsung melesat ke arah Qin Xuan.
Qin Xuan sedang menggendong Ling'er sehingga tidak leluasa menghadapi serangan tersebut.
“Ling'er, pegang Kakak erat-erat.”
Dengan tangan yang bebas, ia melemparkan Pedang Iblis Hitam ke arah serangan itu.
Pedang hitam melesat dan menembus cahaya berbentuk bunga teratai. Serangan Qin Xingqiong langsung hancur, tetapi Pedang Iblis Hitam terus bergerak ke arahnya.
Qin Xingqiong terkejut. Ia segera mengayunkan Pedang Rohnya untuk menangkis.
Benturan keras terjadi berulang kali.
Meski sudah menangkis puluhan kali, Qin Xingqiong tetap tidak mampu menghentikan laju Pedang Iblis Hitam. Kedua tangannya mulai mati rasa, sementara Pedang Roh miliknya akhirnya hancur berkeping-keping.
Qin Xingqiong terpaksa melompat ke samping untuk menghindar.
Pedang Iblis Hitam melewatinya, kemudian menghantam tanah dengan keras. Bilahnya menancap begitu dalam hingga hanya sebagian kecil yang terlihat di permukaan.
Qin Xingqiong memandangi senjata itu dengan napas memburu.
Ketika kembali menoleh kepada Qin Xuan, ia mendapati pemuda tersebut sudah menghilang bersama Ling'er.
“Mereka kabur?”
Ia hendak mengejar, tetapi pandangannya kembali tertuju pada Pedang Iblis Hitam.
Senjata itu terlalu berharga untuk ditinggalkan.
Qin Xingqiong mendekat dan menggenggam gagangnya. Namun, ketika mencoba menariknya, pedang tersebut sama sekali tidak bergerak.
Ia mengerahkan seluruh kekuatannya.
Tujuh belas bayangan banteng muncul di belakang tubuhnya. Otot-otot lengannya menegang, tetapi pedang itu tetap tertancap tanpa bergeser sedikit pun.
“Mustahil!”
Dengan kekuatan delapan puluh lima ribu kilogram, ia seharusnya mampu mengangkat senjata yang digunakan Qin Xuan.
Namun, kenyataannya berbeda.
Qin Xingqiong tidak mengetahui bahwa Pedang Iblis Hitam merupakan senjata peninggalan Iblis Pedang. Qin Xuan sendiri hanya mampu menggunakannya karena bantuan Pagoda Pemakaman Langit.
Sebelum Qin Xingqiong menemukan cara mengangkatnya, sebuah jeritan terdengar dari aula.
Ia segera meninggalkan pedang tersebut dan berlari menuju sumber suara.
Di dalam aula, Qin Huai tergeletak dengan tubuh mengering. Kulitnya menempel pada tulang, seolah seluruh kehidupannya telah direnggut.
Sun Ming berdiri tidak jauh dari sana dengan wajah pucat.
“Apa yang terjadi?” tanya Qin Xingqiong.
“Qin Xuan kembali ke sini,” jawab Sun Ming dengan suara gemetar.
“Dia mencengkeram Tetua Kedua, lalu menggunakan teknik aneh. Tubuh Tetua Kedua langsung mengering.”
Qin Xingqiong memandangi jasad Qin Huai.
Ia segera menyadari bahwa Qin Xuan telah mempermainkannya.
Pedang Iblis Hitam sengaja dibiarkan tertancap di halaman untuk menarik perhatiannya. Sementara ia sibuk mencoba mengangkat senjata itu, Qin Xuan kembali ke aula dan menghabisi Qin Huai.
Qin Xingqiong bergegas kembali ke halaman.
Benar saja, Pedang Iblis Hitam sudah tidak ada.
“Qin Xuan!”
Ia menghantam dinding hingga retak. Kemarahannya semakin besar karena berkali-kali gagal menghadapi sepupunya sendiri.
Namun, setelah beberapa saat, Qin Xingqiong mulai berpikir lebih tenang.
Qin Xuan telah membunuh Sun Guangde, Sun Youcai, dan Qin Huai. Setelah kejadian itu, ia pasti akan menjadi musuh Keluarga Sun dan Keluarga Qin.
Tidak mungkin Qin Xuan tetap tinggal di Kota Qingquan tanpa mencari tempat aman.
Lalu Qin Xingqiong teringat sesuatu.
Liu Qingyue masih berada di kediaman Keluarga Qin.
“Dia pasti kembali untuk menjemput ibunya.”
Qin Xingqiong segera berlari menuju kediaman keluarga.
Sementara itu, Qin Xuan telah membawa Ling'er pulang.
Begitu melihat putrinya, Liu Qingyue langsung bergegas menghampiri mereka. Ia memeluk Ling'er sambil menangis lega.
“Ling'er, syukurlah kau kembali.”
“Ibu...” jawab Ling'er lirih.
Gadis itu terlalu lemah untuk berbicara lebih banyak. Setelah memastikan ibunya dapat menjaga Ling'er, Qin Xuan segera menjelaskan keadaan mereka.
“Ibu, kita harus pergi dari sini.”
Liu Qingyue menatapnya dengan cemas. “Apa yang terjadi?”
“Aku membunuh Sun Guangde, putranya, dan Qin Huai. Keluarga Sun pasti akan membalas. Keluarga Qin juga tidak akan membiarkan kita pergi begitu saja.”
Wajah Liu Qingyue semakin pucat.
“Lalu kita harus ke mana?”
“Pergilah ke Gedung Empat Taman Plum, halaman Bunga Plum. Aku pernah membeli tempat itu secara diam-diam. Tidak ada anggota keluarga yang mengetahuinya.”
Ketika masih menjadi Tuan Muda Sekte Bintang Langit, Qin Xuan telah menyiapkan tempat tersebut untuk berjaga-jaga.
Ia tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari tempat persembunyian itu justru dibutuhkan untuk melindungi ibu dan adiknya dari keluarga sendiri.
“Bagaimana denganmu?” tanya Liu Qingyue.
“Aku masih harus mengambil Pil Pemulih Roh.”
“Tapi Xuan'er, keluarga pasti sedang mencarimu.”
“Kalau aku tidak mendapatkan pil itu, luka Ling'er tidak akan sembuh.”
Liu Qingyue menatap putrinya yang mulai kehilangan kesadaran. Ia memahami alasan Qin Xuan tidak bisa meninggalkan urusan tersebut.
“Baiklah. Ibu akan membawa Ling'er ke sana. Tapi kau harus segera menyusul kami.”
Qin Xuan mengangguk.
Liu Qingyue kemudian masuk ke kamar dan mengambil sebuah kantong kecil yang selama ini ia sembunyikan. Setelah itu, ia menggendong Ling'er dan meninggalkan kediaman mereka.
Qin Xuan memastikan ibunya telah pergi sebelum berbalik menuju gudang harta keluarga.
Empat penjaga Alam Bela Diri Sejati menghadangnya ketika ia tiba di depan bangunan tersebut.
“Qin Xuan! Kau tidak boleh masuk!”
Mereka menghunus golok dan menyerang bersamaan.
Qin Xuan mengayunkan Pedang Iblis Hitam. Cahaya pedang menghantam keempat penjaga hingga mereka terlempar dan memuntahkan darah.
Ia kemudian membelah pintu gudang.
Di dalamnya tersimpan banyak peti berisi emas, perhiasan, obat, dan barang berharga lainnya.
Qin Xuan masih ingat ketika dahulu menyerahkan Pil Pemulih Roh kepada keluarga. Tiga tetua secara langsung menyimpan pil tersebut di gudang ini.
Karena itulah ia datang untuk mengambilnya kembali.
Namun, setelah membuka beberapa peti, ia belum menemukan pil yang dibutuhkan.
Waktu terus berjalan.
Qin Xuan akhirnya menghancurkan peti-peti yang terkunci agar bisa memeriksa isinya dengan lebih cepat.
Emas dan perhiasan berserakan di lantai. Berbagai botol obat juga ditemukan, tetapi tidak ada Pil Pemulih Roh.
“Ke mana mereka memindahkannya?”
Qin Xuan mulai menduga bahwa pil tersebut disimpan langsung oleh salah seorang tetua.
Tetua Agung Qin Cangming dan Tetua Ketiga Qin Cangshan merupakan dua ahli terkuat keluarga. Keduanya telah mencapai Alam Bintang Langit.
Mengambil pil dari tangan mereka tentu tidak mudah.
Namun, Qin Xuan tidak memiliki pilihan lain. Ia mengambil beberapa botol obat yang mungkin berguna, lalu keluar dari gudang.
Baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba cahaya pedang merah melesat ke arahnya.
Qin Xuan segera menghindar.
Serangan itu menghantam tanah dan meninggalkan bekas panjang hingga mendekati dinding halaman.
Qin Xingqiong berdiri di hadapannya dengan pedang baru.
“Kau membunuh Tetua Kedua dan anggota Keluarga Sun. Sekarang kau bahkan berani merampok gudang keluarga!”
Qin Xuan menggenggam Pedang Iblis Hitam lebih erat.
Ia tidak ingin bertarung terlalu lama. Ibunya mungkin belum berhasil meninggalkan kediaman keluarga.
Namun, Qin Xingqiong justru mengerahkan energi dan berteriak keras hingga suaranya terdengar ke seluruh halaman.
“Semua anggota Keluarga Qin, dengarkan! Tangkap Qin Xuan, Liu Qingyue, dan Qin Ling'er! Siapa pun yang berhasil menangkap salah satu dari mereka akan mendapat pil bermutu tinggi dan Teknik Bela Diri tingkat Bumi!”
Qin Xuan langsung memahami maksudnya.
Qin Xingqiong sengaja mengumumkan hadiah besar agar seluruh anggota keluarga ikut memburu ibu dan adiknya.
Qin Xuan segera menggunakan teknik gerak dari Sekte Bintang Langit untuk melewati lawannya.
“Jangan harap kau bisa kabur!”
Qin Xingqiong mengejar sambil mengayunkan pedang.
Qin Xuan terus menghindar. Ia tidak ingin membuang waktu bertarung ketika keselamatan ibu dan adiknya belum terjamin.
Tiba-tiba, rasa bahaya yang jauh lebih kuat membuatnya berhenti.
Ia melompat mundur tepat ketika sebuah telapak tangan raksasa yang terbentuk dari energi menghantam tempatnya berdiri.
Tanah meledak dan membentuk lubang besar.
Di atas atap, seorang lelaki tua memandangnya dengan wajah muram.
“Qin Xuan, kau sudah membuat terlalu banyak masalah. Hari ini, aku akan menghukummu!”
Qin Xuan mengenal lelaki itu.
Qin Cangshan, Tetua Ketiga Keluarga Qin.
Seorang ahli Alam Bintang Langit.
Qin Xuan segera berbalik untuk melarikan diri. Ia tahu bahwa kekuatannya saat ini belum cukup untuk menghadapi Qin Cangshan secara langsung.
Namun, lelaki tua itu bergerak jauh lebih cepat.
Dalam sekejap, Qin Cangshan sudah berada di belakangnya dan menghantamkan telapak tangan.
Qin Xuan hanya sempat mengangkat Pedang Iblis Hitam untuk melindungi tubuh.
Benturan keras membuatnya terlempar jauh dan menghancurkan dinding bangunan di belakangnya.
Debu tebal memenuhi halaman.
Qin Xingqiong menyusul sambil tersenyum puas.
“Tetua Ketiga memang luar biasa. Qin Xuan bahkan tidak mampu menahan satu serangan.”
Qin Cangshan menatap reruntuhan di hadapannya. Beberapa saat berlalu, tetapi Qin Xuan tidak muncul.
Qin Cangshan mengibaskan lengan untuk menyingkirkan debu. Ketika pandangannya kembali jelas, ia hanya melihat lubang besar dan dinding yang hancur.
Qin Xuan sudah menghilang.
“Dia memanfaatkan seranganku untuk melarikan diri,” gumam Qin Cangshan.
Qin Xingqiong mengatupkan rahang. Sekali lagi, Qin Xuan berhasil lolos.
Qin Cangshan segera naik ke atap dan memeriksa seluruh halaman. Namun, ia tidak menemukan keberadaan Qin Xuan.
Sesaat kemudian ia teringat sesuatu.
Qin Xuan sedang mencari Pil Pemulih Roh. Gudang keluarga sudah dibongkar, tetapi pil itu tidak ditemukan.
Jika Qin Xuan menduga pil tersebut disimpan oleh salah seorang tetua, tempat berikutnya yang mungkin ia datangi adalah kediamannya.
Wajah Qin Cangshan berubah.
“Ruang rahasiaku!”
Ia segera berlari menuju kediamannya sendiri.
Sementara itu, Qin Xuan sudah tiba di halaman Qin Cangshan.
Ia menahan rasa sakit di dada sebelum memuntahkan sedikit darah.
Serangan tadi ternyata cukup kuat untuk melukai bagian dalam tubuhnya. Meskipun Pedang Iblis Hitam telah menahan sebagian besar kekuatan serangan, sisanya tetap mengenai tubuhnya.
Namun, Qin Xuan tidak berhenti.
Dua penjaga yang melihat kedatangannya langsung berteriak.
“Qin Xuan!”
Sebelum mereka sempat menghunus senjata, Qin Xuan menghantam keduanya dengan energi hingga pingsan.
Ia segera memasuki ruang kerja Qin Cangshan.
Sebagai mantan genius keluarga, Qin Xuan mengetahui bahwa terdapat sebuah ruang rahasia di balik dinding ruangan tersebut.
Tempat itu digunakan Qin Cangshan untuk menyimpan berbagai harta yang dikumpulkannya selama bertahun-tahun.
Qin Xuan mengangkat Pedang Iblis Hitam dan menghancurkan dinding yang menutupi pintu masuk ruang rahasia.
Berbagai barang berharga terlihat di dalamnya.
......................
Bersambung...