Diusir ke jalanan di tengah badai hujan bersama sepasang anak kembarnya yang menangis kelaparan, hidup Jiang Muchen hancur berkeping-keping saat istrinya memilih pergi demi gemerlap harta seorang tuan muda kaya.
Namun, tepat ketika keputusasaan nyaris menelan kewarasannya, "Sistem Ayah Super Tajir" tiba-tiba aktif, mengubah takdirnya dalam semalam dengan menjanjikan kekayaan tak terhingga hanya lewat satu syarat mutlak: membahagiakan anak-anaknya.
Kini, dengan kekuatan finansial yang perlahan mampu menggenggam ekonomi seluruh Kota Jiangcheng, Jiang Muchen bersumpah untuk membangun surga dunia bagi putra-putrinya, Zihan dan Ziyue, sembari memastikan siapa pun yang pernah menginjak-injak harga diri keluarganya... terutama sang mantan istri akan berlutut dalam penyesalan yang terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Dengan tangan yang masih gemetar hebat, Zhao Qiming merogoh saku celananya dengan panik. Ia menarik keluar ponsel pintarnya, menggeser layar yang basah oleh keringat dingin, lalu mencari sebuah nomor kontak rahasia tanpa nama. Itu adalah nomor darurat yang hanya boleh dihubungi saat Keluarga Zhao menghadapi krisis kejatuhan absolut.
'Tuan Besar Lei... ya, aku harus menelepon Tuan Besar Lei. Dia adalah raja dunia bawah Jiangcheng yang sesungguhnya! Jiang Muchen mungkin petarung yang kuat, tapi dia tidak akan bisa melawan peluru dari pembunuh bayaran Sindikat Naga Hitam!' batin Qiming putus asa.
Ia menekan tombol panggil.
Tuuut... tuuut...
Setelah beberapa nada dering yang terasa seperti selamanya, sebuah suara berat, serak, dan mengintimidasi terdengar dari seberang sambungan.
"Tumben sekali pewaris tahta Keluarga Zhao mencariku malam-malam begini. Ada yang bisa kubantu, Anak Muda?"
Mendengar suara serak itu, Qiming merasa seolah baru saja menemukan pelampung raksasa di tengah lautan badai.
"T-Tuan Besar Lei! Saya butuh bantuan Anda, segera!" Suara Qiming pecah dan bergetar. "Ada seorang pria bernama Jiang Muchen. Dia memiliki kemampuan bertarung jarak dekat yang tidak masuk akal. Dia baru saja melumpuhkan Geng Macan Hitam sendirian! Saya... saya berani membayar lima ratus juta Yuan tunai malam ini juga, asalkan Anda mengirimkan algojo elit Anda untuk memenggal kepalanya!"
Hening sejenak di ujung telepon.
Tak lama, tawa serak nan meremehkan dari Tuan Besar Lei terdengar menggelegar.
"Lima ratus juta Yuan hanya untuk satu nyawa? Tuan Muda Zhao memang terkenal sangat murah hati. Dengar, Macan Hitam itu hanyalah preman jalanan amatir yang mengandalkan otot. Menghadapi mereka sendirian bukanlah hal yang mustahil bagi seorang petarung bela diri terlatih. Tapi... di hadapan moncong peluru penembak jituku, sekuat apa pun kulit orang itu, dia pada akhirnya hanyalah setumpuk daging."
"K-kirimkan yang terbaik, Tuan Lei! Kirimkan orang-orang Anda yang tidak pernah gagal!" mohon Qiming setengah meratap.
"Jangan khawatir. Aku akan mengirimkan empat Algojo Bayanganku sekarang juga. Mereka akan mengunjunginya malam ini. Siapkan saja uangmu untuk besok pagi."
Klik.
Panggilan terputus.
Qiming menghela napas panjang hingga bahunya merosot. Ia mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dingin, lalu menoleh menatap Lin Yueran yang masih duduk memeluk lutut di atas karpet.
"Berhenti menangis, Jalang," desis Qiming, kembali menemukan sedikit sisa kesombongannya. "Tuan Besar Lei sudah bergerak. Jiang Muchen tidak akan pernah melihat matahari terbit besok pagi."
Namun, di dalam relung hati Yueran yang paling gelap, teror itu tak kunjung surut. Wanita itu sangat mengenal Jiang Muchen. Ketenangan pria itu... selalu menyembunyikan badai yang jauh lebih besar.
Malam harinya, di kawasan puncak bukit Dragon Bay.
Suasana di Vila Raja terasa sangat damai dan syahdu. Di halaman belakang yang berupa hamparan rumput luas, lampu-lampu taman berwarna kuning hangat menyala temaram, memantul di atas permukaan air infinity pool yang tenang.
Muchen sedang duduk bersandar di kursi santai rotan yang empuk. Di pangkuannya, Ziyue sudah tertidur pulas dengan napas teratur setelah kelelahan bermain air dan berlarian di taman. Tangan besar Muchen menepuk-nepuk punggung putrinya dengan ritme lembut.
Di karpet rumput tepat di samping kursi itu, Zihan sedang duduk bersila, mengerutkan kening dengan fokus tingkat tinggi menyusun blok-blok bangunan raksasa untuk membuat miniatur kastil.
Tap... tap...
Kepala Pelayan Chen datang mendekat dengan langkah nyaris tanpa suara. Ia menunduk, menyajikan sebuah nampan perak berisi secangkir teh herbal yang asapnya masih mengepul hangat.
"Tuan Jiang," bisik Chen sangat pelan agar tak mengusik tidur Ziyue. "Angin malam di perbukitan mulai turun dan terasa dingin. Apakah sebaiknya Nona Ziyue saya pindahkan ke kamar tidurnya sekarang?"
"Tunggu sebentar lagi, Chen. Biarkan dia menikmati pelukanku sedikit lebih lama," jawab Muchen pelan. Ia menarik selimut kasmir tipis untuk menutupi punggung kecil putrinya.
Namun, tepat di detik yang sama, insting Penguasaan Bela Diri Master milik Muchen tiba-tiba berkedut.
Suara kepakan sayap burung hantu di pepohonan hutan yang membatasi vilanya mendadak terhenti total. Suhu udara di sekitar tembok pembatas luar terasa anjlok beberapa derajat dalam hitungan detik.
Ada empat niat membunuh yang sangat pekat dan mematikan merayap masuk, menyusup dengan lincah melalui titik buta kamera pengawas vila. Muchen tahu persis, mereka bukanlah preman jalanan berisik seperti Macan Hitam. Mereka adalah pembunuh profesional yang telah dilatih secara khusus untuk menyembunyikan ritme napas dan detak jantung mereka dari mangsanya.
Muchen tidak menoleh. Ia juga sama sekali tidak mengubah posisi duduknya yang sedang menggendong Ziyue. Pria itu hanya mengangkat tangan kirinya perlahan, memberikan sebuah isyarat dua jari yang sangat sederhana ke arah bayangan gelap pepohonan.
'Bersihkan mereka. Dan pastikan... jangan buat suara setitik pun yang bisa membangunkan putriku.'
Titah telepati absolut itu terkirim.
Wushhh...
Di dalam pekatnya bayang-bayang kegelapan taman, sepuluh entitas berjubah hitam pekat mendadak bermanifestasi dari ketiadaan. Mereka adalah Pengawal Bayangan Tingkat Dewa yang terikat pada jiwa Muchen. Sepasang mata mereka di balik topeng kain tidak memancarkan emosi apa pun; yang ada hanyalah kesetiaan mutlak dan efisiensi algojo.
Di atas tembok pembatas, empat pembunuh elit kiriman Tuan Besar Lei baru saja melompati pagar. Tangan mereka merogoh sarung pistol, bersiap mencabut pistol Glock berperedam suara.
Namun, sungguh malang. Sebelum ujung sepatu bot mereka sempat menyentuh lembutnya rumput taman Vila Raja... bayangan-bayangan hitam melesat dari empat arah buta secara bersamaan.
Sret!
Krek!
Sama sekali tidak ada suara tembakan peluru. Tidak ada jeritan putus asa. Bahkan tidak ada suara langkah kaki.
Yang terdengar di udara malam itu hanyalah suara sangat halus dari empat tulang leher manusia yang dipelintir dan dipatahkan secara serentak tepat di udara!
Tubuh keempat algojo itu langsung lemas. Sebelum mayat mereka menghantam tanah dan menimbulkan bunyi debuk yang berisik, Pengawal Bayangan telah menangkap tubuh-tubuh itu di udara dengan kelembutan yang sangat mematikan.
Dalam waktu kurang dari dua detik, empat algojo pembunuh bayaran paling mematikan dari Sindikat Naga Hitam telah berubah menjadi mayat bersuhu dingin, tanpa pernah punya kesempatan untuk melihat wajah dewa kematian yang mencabut nyawa mereka.
Sepuluh Pengawal Bayangan itu segera membersihkan area tembok pembatas, melenyapkan mayat-mayat itu ke dalam kegelapan hutan, menyisakan rumput halaman yang tetap hijau dan bersih seolah tidak pernah terjadi apa pun di sana.
Di kursi santainya, Muchen meraih cangkir porselennya dan menyesap teh herbalnya dengan sangat tenang.
Ding!
[Peringatan Sistem: Empat ancaman mematikan dari faksi musuh telah dieksekusi diam-diam tanpa sisa oleh Pengawal Bayangan.]
[Area pertahanan Vila Raja kembali ke status aman absolut 100%.]
Muchen meletakkan kembali cangkirnya. Sepasang mata hitam pekatnya menatap lurus ke arah kelap-kelip lautan lampu Kota Jiangcheng yang membentang luas di bawah bukit.
'Zhao Qiming...'
Rahang Muchen mengeras perlahan, memancarkan kengerian yang membuat darah membeku.
'Kau berani mengirim anjing-anjing pembunuh ini menerobos masuk ke rumah, tepat ke tempat anak-anakku sedang tertidur. Mulai detik ini, aku tidak hanya akan mengambil lehermu. Aku akan mencabut dan membakar seluruh akar pohon pelindungmu sampai menjadi abu.'
"Ayah...?"
Suara lembut Zihan memanggil, menarik Muchen kembali dari aura pembunuhnya. "Kastil Zihan sudah jadi."
Muchen segera menoleh. Kengerian maut di matanya sedetik yang lalu menguap tak bersisa, berganti menjadi senyuman yang luar biasa hangat.
"Wah, ini kastil yang sangat luar biasa, Jagoan," puji Muchen tulus, mengusap kepala putranya. "Kau menempatkan blok merah di paling atas sebagai benderanya, ya? Sangat cerdas dan presisi."
Malam di Vila Raja kembali diisi oleh kedamaian dan kehangatan seorang ayah.
Namun di luar sana, di seberang kota yang tak tertidur... lonceng kematian yang berjalan sunyi baru saja mulai bergerak mengetuk pintu kediaman Tuan Besar Lei dan Keluarga Zhao.