Dea, alias Althea Twina Darmawan, tumbuh sebagai anak angkat yang kehilangan kasih sayang setelah ibu angkatnya melahirkan anak kandung. Terbiasa disalahkan, ia memilih mengabdikan hidupnya sebagai dokter.
Namun, hidupnya berubah ketika Linjaryani, calon istri Elden Zarreti, seorang tuan tanah kaya raya yang dingin dan berkuasa, meninggal secara misterius. Dea dijadikan kambing hitam, sementara Elden, dibutakan dendam, menghukumnya tanpa mencari kebenaran.
Pernikahan paksa dan perlakuan kejam Elden meninggalkan luka mendalam dalam diri Dea. Ketika bukti baru mengungkap pengkhianatan di balik kematian Linjaryani, Elden menyadari kesalahannya.
Mampukah ia menebus kehancuran yang diciptakannya, atau kebencian Dea telah menutup pintu maaf selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4. Ibu yang Tidak Berpihak
Perempuan itu melirik Elden, lalu merapikan ujung kebayanya sendiri seolah obrolan mereka hanya merusak penampilannya.
“Sudahlah. Dia suamimu sekarang. Daripada kamu dipenjara, lebih baik kamu terima saja. Setidaknya keluarga kita tidak perlu ikut menanggung malu lebih jauh lagi”
Dea mematung mendengar sesuatu yang keluar dari bibir ibunya.
Bukan karena ia tidak memahami ucapan perempuan itu. Hal ini karena ia begitu memahami sesuatu yang selama ini berusaha ia sangkal. Bagi perempuan yang selalu dipanggil dengan 'ibu' itu, dirinya bukan anak yang harus dilindungi.
Ia hanyalah masalah yang harus disingkirkan sebelum mempermalukan keluarga lebih jauh.
“Ibu....”
Namun, ibunya sudah berbalik.
Tak ada pelukan perpisahan. Tak ada ucapan agar ia harus berhati-hati dalam mengurus rumah tangga. Bahkan tak ada satu pun gerakan yang menunjukkan bahwa perempuan itu merasa kehilangan seorang anak.
Dea berdiri dengan mata kosong, menyaksikan punggung ibunya menjauh.
“Berhenti membuang-buang waktu,” bentak Elden.
Cengkeraman tangannya kembali menguat.
Dea tersentak ketika tubuhnya ditarik menuju pintu keluar. Kali ini, ia tak lagi mencoba mencari pertolongan.
Sebab, ahirnya ia mengerti bahwa tidak semua orang yang disebut dengan keluarga akan memilih untuk menyelamatkannya.
.
.
Mobil hitam milik Elden berhenti di depan sebuah hotel mewah. Lampu-lampu keemasan menyinari halaman luas, sementara petugas keamanan bergegas membukakan pintu.
Dea tetap duduk di dalam mobil.
Tangannya menggenggam ujung kebaya, sementara matanya menatap pintu masuk hotel yang menjulang di hadapannya.
“Turun!”
Dea menoleh perlahan. “Biarkan aku pulang.”
Elden tertawa pendek, tanpa ada rasa geli. “Pulang ke mana? Kepada keluarga yang bahkan tidak menginginkanmu?”
Kalimat itu menusuk tepat ke bagian dirinya yang paling rapuh.
Dea tak mampu menjawab. “Turun, Dea. Jangan sampai aku mengatakan hal yang sama untuk ketiga kalinya!”
Kali ini, nada suara Elden terdengar lebih rendah. Bukan terasa lebih lembut, melainkan lebih mengancam.
Dengan kaki gemetar, Dea akhirnya turun.
Sesampainya di kamar suite, ia berhenti tepat di ambang pintu. Ruangan itu luas dan mewah, dengan lampu gantung berkilauan serta jendela besar yang memperlihatkan gemerlap kota. Segalanya tampak sempurna, kecuali perasaan takut yang membuat dadanya sesak.
“Aku tidak mau masuk.”
Elden berbalik. “Apa?”
“Aku tidak melakukan apa yang kamu tuduhkan. Tolong, biarkan aku pergi.”
Tatapan Elden mengeras. “Berhenti bersandiwara, Pembunuh.”
“AKU BUKAN PEMBUNUH!!!” Dea meninggikan suaranya.
Air mata menggenang dan perlahan jatuh membasahi pipi, tetapi ia berusaha tetap berdiri tegak.
“Aku sudah berusaha bekerja dengan baik! Tapi aku tak bisa mengendalikan sesuatu yang ada di luar jangkauanku."
Dea mengusap air mata yang membasahi pipinya dengan lengan kebaya. Ternyata, rasanya cukup kasar hingga terasa perih di pipinya. Namun, Dea mengabaikan rasa sakit itu karena ada yang lebih menyakitkan dibanding itu.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Linjaryani. Aku tidak tahu siapa yang menulis resep obat itu. Aku hanya menjalankan tugasku berdasarkan informasi yang diberikan kepadaku!”
Elden melangkah mendekat. “Dan kau pikir, aku harus mempercayai ucapanmu begitu saja?”
“Aku hanya meminta waktu agar kamu bisa menyelidikinya terlebih dahulu!”
“Cukup!” Elden mencengkeram dagu Dea, memaksanya mendongak menatap lurus ke matanya.
“Aku akan memastikan kamu menyesal telah lahir ke dunia ini.”
Dea berusaha melepaskan diri. “Lepaskan aku!”
Namun, Elden tak mengindahkannya.
Apa yang terjadi setelah itu menjadi mimpi buruk yang tak pernah bisa dihapus Dea dari ingatannya.
Ia didorong dengan kasar hingga jatuh di atas kasur king size kamar itu. Ketika ia berusaha melawan dan memohon agar Elden berhenti, pria itu justru mengabaikan ketakutannya.
Elden menggunakan kekuatan dan kedudukannya untuk memaksakan kehendak, seolah kebencian memberinya hak atas tubuh perempuan yang kini berstatus sebagai istrinya.
Dea menangis, memohon, dan berusaha melindungi dirinya sendiri.
Tak ada yang mendengarkan. Tak ada yang datang menyelamatkannya.
Malam itu, di balik pintu kamar hotel yang tertutup rapat, Dea mengalami kekerasan yang merenggut rasa aman dan kendali atas tubuhnya sendiri.
Bukan karena ia mencintai Elden. Bukan karena ia memilih berada di sana.
Melainkan karena seorang pria yang dibutakan dendam telah memutuskan bahwa penderitaan orang lain adalah harga yang pantas dibayar atas kehilangan yang dialaminya.
Dan Dea menjadi korban diketidaktahuan sabotase yang dilakukan oleh seseorang.
.
.
Kejadian Lanjutan Usai Prolog
Dea berdiri di dekat pembatas, memandang ke bawah dengan pikiran yang tak lagi mampu menyusun harapan.
Ia teringat surat beasiswa yang dahulu digenggamnya dengan rasa bangga yang luar biasa.
Ia menunjukkan kepada dunia bahwa eorang anak petani miskin juga memiliki kesempatan untuk meraih impian yang setinggi bintang.
Ia teringat malam-malam ketika ia harus tetap belajar meski dengan perut kosong.
Ia teringat janjinya kepada diri sendiri bahwa suatu hari nanti, ia akan hidup tanpa harus memohon kasih sayang kepada siapa pun.
Namun, malam ini, semua janji itu terasa semakin jauh.
“Untuk apa aku bertahan?” bisiknya.
Air matanya kembali jatuh.
“Aku sudah berusaha.... Aku sudah melakukan semuanya dengan benar....”
Suaranya tenggelam oleh angin.
“Kenapa tidak ada yang percaya kepadaku?”
Ia memejamkan mata, diliputi keputusasaan yang membuatnya sulit melihat jalan keluar.
'Kalau aku jatuh sekarang, semuanya akan selesai. Tak ada lagi yang bisa menyakitiku.'
*bersambung*
Ingat Dea sedang mengandung anakmu
Aneh klo tidak dipantau & dilindungi bodyguard bayangan keluarga, ceroboh !!
Dan Josep berusaha melindungi Stella.
Yang pasti...kali ini Dea tidak akan tinggal diam.
Jangan2 ada main dia dengan Stella