Setelah 8 tahun, Dara bertemu lagi dengan Luth, mantan pacarnya saat SMA yang dulu koma karenanya. Bukan hanya fisik sang mantan yang berubah jadi tampan, tapi ternyata, Luth juga tak mengenalinya.
"Kamu benar-benar tidak mengenaliku?" Dara menatap tak percaya.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Luth terlihat bingung.
Dara semakin merasa bersalah, karena kemungkinan Luth hilang ingatan karena benturan keras yang sampai membuat dia koma 8 tahun lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Jam 4 sudah lewat 15 menit, tapi Dara belum beranjak dari meja kerjanya. Sengaja ia menunggu karyawan lain pulang, baru ia akan pulang. Kejadian di lift tadi pagi, membuat ia sedikit trauma.
"Belum pulang?" Luth yang baru keluar dari ruangannya berhenti di depan meja Dara.
"Masih ada kerjaan." Dara pura-pura sibuk dengan komputernya.
Luth merogoh saku jasnya, mengeluarkan salep yang kemarin lalu meletakkan di atas meja Dara.
"Kasih obat lagi pipi kamu, biar gak ada bekasnya."
Dara menatap sekilas obat tesebut, lalu kembali menatap layar komputernya. "Terimakasih," ujarnya tanpa melepas pandangannya dari layar.
"Saya pulang dulu. Kamu buruan pulang juga. Selesaikan besok saja kerjaannya."
"Iya." Sahut Dara malas.
Setelah memastikan Luth jauh, Dara menyandarkan punggung ke kursi. Tatapannya jatuh pada salep di atas meja, lalu tersenyum kecut. Ia bingung dengan Luth, adakalanya laki-laki itu baik, perhatian, tapi tak jarang juga, sangat menyebalkan.
Dari jendela di belakang meja kerjanya, Dara menatap ke arah halaman kantor. Terlihat para karyawan dengan kendaraan mereka, meninggalkan kantor. Tapi ia masih belum mau pulang sekarang, mungkin setengah jam lagi, saat kantor sudah benar-benar sepi.
Setengah jam kemudian, Dara membereskan mejanya. Tatapannya jatuh pada obat dari Luth. Ia mengambil benda kecil tersebut, memasukkan ke dalam laci meja, tak berniat membawa pulang. Ia melewati koridor yang sudah sepi, juga lift yang hanya dia seorang yang mengisi. Kantor sudah hampir kosong, mungkin hanya sisa beberapa orang yang lembur dan sekuriti. Sepertinya besok dan seterusnya hingga 30 hari kedepan, ia harus berangkat lebih awal dan pulang lebih telat.
Sudah hampir magrib, jalanan padat merayap. Mobil Dara hanya bisa melaju dengan kecepatan rendah, bahkan beberapa kali terpaksa berhenti karena macet.
Tak sengaja saat terjebak macet, dari spion melihat seseorang yang ia kenal. Ia menoleh untuk lebih memastikan.
"Valerie." Dara sampai menyipitkan mata, melihat lebih fokus pada motor yang berhenti di sebelah mobilnya, agak kebelakang, takut salah mengenali. Tapi sepertinya tidak salah, mengingat pakaian yang dipakai sama dengan baju Valerie pagi tadi saat ke kantor. "Dia dengan siapa?"
Valerie tampak sedang memeluk seorang laki-laki yang memboncengnya. Rasanya tak mungkin ojol, mengingat laki-laki itu pakai motor sport mahal.
"Apa Valerie selingkuh?" Dara menutup mulutnya yang terbuka dengan telapak tangan. Dugaan itu langsung muncul begitu saja. Bukti. Iya, dia butuh bukti yang tak bisa disangkal. Buru-buru ia mengambil ponsel, mengambil video Valerie.
"Sial!" Dara berdecak saat motor yang dinaiki Valerie bisa lepas dari kemacetan, sementara mobilnya masih terjebak, jadi tak bisa mengejar.
Tin tin tin
Dara menekan klakson beberapa kali, berharap mobil di depannya segera maju, tapi sepertinya macet cukup panjang, hingga percuma saja karena mobil di depannya juga tidak bisa bergerak.
Dara mengusap wajah frustasi. Harusnya ia bisa mengambil video lebih panjang yang menunjukkan wajah Valerie lebih jelas. Sayangnya ia sudah kehilangan jejak Valerie. Video yang ia rekam hanya sekitar 10 detik, mana wajah Valerie tak terlalu kelihatan jelas karena tertutup laki-laki yang memboncengnya.
Apakah ia harus menunjukkan video tersebut pada Luth besok? Kasihan sekali dia padanya, setiap pacaran bucin, tapi selalu diselingkuhi.
Tepat saat adzan maghrib berkumandang, Dara tiba di rumah. Ia bersyukur, karena kemungkinan besar, orang di rumahnya pada sholat, jadi tak ada yang akan melihatnya. Dari kemarin, ia menghindar dari keluarganya, tak mau ada yang melihat luka di pipi hingga lehernya.
"Baru pulang, Ra?"
Dara mengumpat dalam hati. Bisa-bisanya pas ia membuka pintu kamar, bersamaan dengan Elang yang keluar dari kamar sebelah.