NovelToon NovelToon
Dua Wajah Cinta

Dua Wajah Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Demi memenuhi permintaan terakhir Dewi—sahabatnya yang berjuang melawan kanker—Gladys rela menikahi Raka, suami Dewi. Namun, pernikahan tanpa cinta itu membawanya pada kesepian mendalam, sebab hati Raka tetap tertambat sepenuhnya pada almarhumah istrinya.
Mencari pelarian dari rumah tangga yang hampa, Gladys membuka sebuah kafe. Di sana, ia bertemu dengan Praduta, seorang pria berparas tampan yang mengagumi kopi buatannya. Di balik kesan pertama yang sekilas penuh godaan, Gladys melihat ketulusan dalam diri Praduta. Kedekatan yang hangat itu perlahan berubah menjadi benih-benih cinta—sebuah perasaan yang tak seharusnya hadir di tengah ikatan pernikahannya.
Namun, Gladys tidak menyadari bahwa Praduta menyimpan rahasia kelam: kehadiran pria itu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari dendam masa lalu terhadap keluarga Raka. Kini, Gladys terjebak di persimpangan jalan yang menyiksa—harus memilih antara kesetiaan pada janji pernikahan atau cinta terlarang yang memberi kebahagiaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Jam dinding di sudut ruangan kafe menunjukkan pukul enam sore. Hari pertama grand opening DeGla Cafe resmi berakhir dengan sukses besar.

Kursi-kursi yang tadinya penuh kini sudah kembali rapi, meninggalkan sisa aroma kopi segar dan kehangatan di setiap sudut ruangan.

Kelelahan yang amat sangat tampak jelas tercetak di wajah Gladys dan Kirana, namun rasa lelah itu terbayar lunas oleh senyum kepuasan yang merekah di bibir mereka atas ramainya pengunjung hari ini.

Setelah menghitung rekap hasil penjualan hari pertama yang sangat memuaskan, Gladys segera bersiap untuk menutup kafe. Ia melihat ke arah jam dan hari yang sudah mulai beranjak petang.

"Pak Minto, tolong antarkan Kirana pulang dulu ya ke rumah kalian. Biar tidak kemalaman di jalan," ujar Gladys ramah kepada sopirnya yang setia membantu sejak pagi.

"Baik, Bu Gladys. Kalau begitu kami pamit duluan ya, Bu," balas Pak Minto sopan.

Kirana turut membungkuk pamit, tersenyum lebar sembari mengucapkan terima kasih atas hari pertama kerjanya.

Setelah mobil Pak Minto meluncur meninggalkan halaman ruko, Gladys berjalan keluar untuk mengunci pintu kaca utama kafe.

Namun, langkahnya terhenti saat menyadari sebuah mobil sport mewah masih terparkir di dekat pelataran.

Praduta berdiri bersandar di pintu mobilnya, menatap ke arah Gladys dengan senyuman hangat yang khas.

"Masih belum mau pulang, Owner hebat?" sapa Praduta lembut, melangkah mendekati Gladys.

Gladys menghela napas pelan, merapikan tas selempangnya.

"Ini mau pulang, kok. Terima kasih banyak ya, Praduta, sudah bantu-bantu dari tadi. Tanpa kamu, mungkin aku tadi sudah kewalahan."

"Sama-sama. Bantu kamu itu bonus menyenangkan. Biar saya antar pulang ya. Sudah gelap, tidak baik perempuan jalan sendirian malam-malam."

Gladys langsung menggelengkan kepalanya pelan, merasa tidak enak hati jika harus merepotkan pria yang baru ia kenal itu lebih jauh lagi.

"Ah, tidak usah, Praduta. Terima kasih tawarannya, tapi aku bisa naik taksi online atau kendaraan umum sendiri. Tidak enak merepotkanmu."

Namun, Praduta sama sekali tidak mengindahkan penolakan halus itu.

Alih-alih mendengarkan, pria berpostur tegap tersebut melangkah lebih dekat.

Dengan gerakan yang begitu cepat namun sangat lembut, Praduta meraih pergelangan tangan Gladys—menggenggamnya dengan mantap, memberikan sentuhan kehangatan sekaligus ketegasan yang kontras dengan sikap dingin yang biasa ia terima dari suaminya.

Gladys seketika terpaku. Sentuhan hangat itu membuat detak jantungnya berdegup sedikit lebih kencang, menepis sepersekian detik akal sehatnya untuk meronta.

Tanpa memberinya kesempatan untuk protes, Praduta membimbing Gladys dengan lembut berjalan melintasi pelataran menuju ke arah kursi penumpang mobil sport-nya, membukakan pintu mobil dengan sopan seolah tak menerima kata 'tidak' sebagai jawaban.

Bayangan mobil sport mewah Praduta meluncur perlahan meninggalkan pelataran ruko DeGla Cafe, membawa Gladys yang duduk terpaku di kursi penumpang sebelah pengemudi.

Di tengah keheningan malam di Jalan Ahmad Yani, tidak ada yang menyadari bahwa sepasang mata tengah mengawasi kepergian mereka dari balik bayang-bayang pilar beton di seberang jalan.

Nayla, yang tadinya berniat menghampiri Praduta untuk mengajak pria itu pulang bersama, mendadak menghentikan langkahnya seketika.

Tubuhnya menegang kaku. Wanita itu buru-buru menarik diri, bersembunyi di balik badan sebuah mobil SUV yang terparkir rapat demi menghindari pandangan.

Nayla membelalakkan matanya lebar-lebar. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena cemburu, melainkan oleh gelombang kejutan luar biasa yang menghantam kepalanya.

Di bawah temaram lampu jalanan kota, ia berhasil mengenali siluet dan wajah wanita yang baru saja diperlakukan begitu manis oleh Praduta.

Dengan napas tertahan dan jemari yang mencengkeram erat sisi pakaiannya, Nayla membatin dalam-dalam, menolak percaya pada apa yang baru saja disaksikannya.

“Bukankah itu Gladys, istri dari putra keluarga Devandra?!”

Kepala Nayla langsung berputar cepat merangkai kepingan-kepingan teka-teki.

Praduta—pria yang selama ini bergerak dalam bayang-bayang balas dendam dan sengaja mendekati lingkaran keluarga Devandra—kini justru tampak begitu akrab, bahkan menaruh perhatian khusus pada Gladys.

Seketika itu juga, bulu kuduk Nayla merinding. Ia menyadari bahwa kedekatan antara Praduta dan Gladys bukanlah sebuah kebetulan semata.

Ada rencana jauh lebih berbahaya dan gelap yang sedang dimainkan oleh Praduta, dan Gladys—tanpa tahu apa-apa—kini telah melangkah tepat ke dalam perangkap mematikan pria itu.

Sementara itu di tempat lain, mobil sedan mewah Raka memasuki pekarangan rumah keluarga Devandra dengan mulus.

Pria itu turun dengan langkah tegap, membuka jas kantornya yang terasa kaku, lalu masuk ke dalam rumah.

Suasana rumah terasa senyap. Biasanya, pada jam-jam seperti ini, aroma masakan malam atau sambutan lembut dari Gladys selalu menyambut kepulangannya.

Raka mengedarkan pandangannya ke ruang tengah hingga area dapur yang tampak kosong. Keningnya berkerut dalam.

"Dimana dia?" gumam Raka dingin pada diri sendiri.

Bibi yang kebetulan sedang merapikan meja makan mendekat dengan sopan.

"Bu Gladys belum pulang, Den."

Mendengar jawaban itu, Raka terdiam sejenak. Sebelum ia sempat berbalik, langkah kaki pelan terdengar dari arah ruang baca.

Papa Devandra berjalan mendekat ke arah putranya dengan tatapan tajam dan rahang mengeras, jelas menyimpan kemarahan atas sikap Raka pagi tadi.

"Untuk apa kamu mencari Gladys?" suara Papa Devandra memecah keheningan malam, terdengar begitu dingin dan menusuk.

'Bukankah kamu sendiri yang mengatakan kalau dia di sini hanya selayaknya pembantu? Kenapa sekarang kamu mencarinya?"

Raka menghela napas kasar, memalingkan wajahnya ke samping dengan gestur tidak sabaran.

"Pa, sudahlah. Jangan campuri urusan rumah tanggaku."

"Bagaimana bisa Papa tidak mencampurinya kalau kamu memperlakukan istrimu sendiri seperti orang asing?!" bentak Papa Devandra tertahan, emosinya meluap.

"Gladys sedang berjuang dengan hari pertama pembukaan kafenya hari ini! Dan, kamu sebagai seorang suami, apa yang kamu lakukan? Jangankan mendukung, menengok pun tidak!"

Tekanan dari sang ayah membuat pertahanan sabar Raka runtuh.

Ia menatap papanya dengan sorot mata lelah sekaligus keras kepala.

"Sudah, Pa, aku capek," ucap Raka tandas dengan nada suara meninggi.

Tanpa menunggu sang ayah merespons lebih jauh, Raka berbalik begitu saja dan melangkah lebar menaiki tangga menuju kamar utamanya, meninggalkan Papa Devandra yang menggelengkan kepala kecewa di lantai bawah.

Raka membanting pintu kamarnya pelan, melangkah menuju tempat tidur lalu melempar jas serta kunci mobilnya begitu saja di atas kasur.

Ia merebahkan tubuhnya, memejamkan mata erat-erat demi mengusir rasa penat yang menghantam kepalanya secara bertubi-tubi.

Namun, bukannya ketenangan yang didapat, bayangan perkataan papanya justru terus bergema di benaknya. Gladys sedang pembukaan kafenya. Dan kamu sebagai suami, apa yang kamu lakukan?

Raka melirik jam di dinding kamar yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam lewat.

Dada pria itu mendadak berdesir aneh. Ada perasaan tidak tenang yang perlahan merayap di hatinya, sesuatu yang enggan ia akui sebagai rasa khawatir.

Sementara itu, suasana di dalam mobil sport mewah Praduta terasa begitu hangat dan tenang.

Alunan musik instrumental mengalun pelan, memecah kecanggokkan di antara mereka.

Gladys duduk agak kaku di kursi penumpang, memandangi gemerlap lampu kota yang memantul di kaca jendela.

Sesekali ia melirik ke arah Praduta yang menyetir dengan satu tangan yang santai, memancarkan aura ketenangan yang jarang Gladys temui.

"Terima kasih ya, Praduta," ucap Gladys pelan, membuka percakapan.

"Untuk hari ini, kamu sudah banyak sekali membantu. Dari buka pintu, promosi pakai mik, sampai ikut antar pesanan."

Praduta tertawa kecil, senyum manisnya terukir di kegelapan kabin mobil.

"Sudah kubilang, itu bonus. Lagi pula, melihat DeGla Cafe ramai dan melihat senyum kamu bahagia, rasa lelahku hilang begitu saja."

Gladys merona tipis, cepat-cepat menoleh ke arah jendela untuk menyembunyikan debaran di dadanya.

Perhatian dan kehangatan kecil seperti ini adalah hal yang sangat ia rindukan, hal yang tak pernah ia dapatkan dari Raka.

Tak lama kemudian, mobil mewah itu berhenti tepat beberapa meter sebelum gerbang utama kediaman keluarga Devandra, sesuai permintaan Gladys yang tidak ingin menimbulkan kecurigaan.

"Terima kasih sudah mengantarkanku sampai sini, Praduta. Hati-hati di jalan," ujar Gladys seraya melepas sabuk pengamannya.

Saat Gladys hendak membuka pintu mobil, Praduta menahan gerakan wanita itu dengan panggilan lembut.

"Gladys,"

Gladys menoleh. Praduta menatapnya lurus dengan binar mata yang begitu dalam dan sulit diartikan.

"Besok, apakah aku boleh datang ke kafe lagi?" tanya Praduta seraya tersenyum tipis.

Gladys sempat terpaku sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan.

"Pintu DeGla Cafe selalu terbuka untuk pelanggan sepertimu."

"Terima kasih, Gladys." ucap Praduta sambil tersenyum tipis.

Kemudian ia kembali melajukan mobilnya dan meninggalkan Gladys.

Melihat mobil sport Praduta yang sudah menghilang, Gladys melangkah masuk ke dalam rumah megah keluarga Devandra dengan langkah lelah namun hati yang masih sedikit berbunga setelah hari pertama kafenya sukses.

Namun, begitu ia menjejaki lantai ruang tengah, udara di sekitarnya mendadak membeku.

Raka baru saja keluar dari arah kamar utama, berdiri tegak di ambang pintu dengan tatapan mata yang menyalang tajam dan rahang mengeras menahan amarah yang meledak-ledak.

"M-Mas Raka." cicit Gladys tertahan, terkejut mendapati suaminya menunggunya dengan ekspresi semengerikan itu.

Raka melangkah cepat mendekati Gladys, matanya memindai penampilan istrinya dengan tatapan merendahkan.

"Hebat ya kamu. Sudah berani pulang malam?" cibir Raka, suaranya bergetar penuh kemurkaan.

"Kamu itu buka kafe atau diskotik? Sampai jam segini baru pulang!"

Gladys menggeleng panik, mencoba meraih lengan suaminya.

"Mas, aku bisa menjelaskannya,"

"Menjelaskan apa?!" potong Raka dengan suara membentak yang menggema ke seluruh sudut rumah.

Pria itu menepis tangan Gladys kasar. "Menjelaskan kalau kamu menjual diri di luar sana dengan alasan mengurus kafe?!"

Brak!

"RAKA?!" bentak Papa Devandra keras, seketika keluar dari kamarnya dengan napas memburu dan mata melotot marah mendengar tuduhan keji yang dilontarkan putranya.

"DIAM, PA! DIA MEMANG WANITA MURAHAN!!" teriak Raka gelap mata.

PLAKKK!

Suara tamparan keras memecah keheningan malam di ruang tengah.

Dengan sisa tenaga dan harga diri yang diinjak-injak begitu rupa, melayangkan tangannya telak ke pipi suaminya.

Air matanya menetes dengan luka yang teramat dalam tumpah seketika di wajahnya.

"J-Jahat kamu, Mas!" raung Gladys dengan suara parau.

Gladys tidak sanggup lagi menahan hantaman rasa sakit, sesak, dan penghinaan yang luar biasa dari pria yang berstatus sebagai suaminya itu, Gladys membalikkan badan.

Ia berlari keluar rumah meninggalkan segala kemegahan yang terasa seperti sangkar burung.

Di luar, malam sudah semakin larut. Gladys berjalan cepat sambil terisak hebat di bawah temaram lampu jalanan.

Banyak orang atau pengendara yang kebetulan melawat menoleh, melihat bagaimana seorang wanita menangis sesenggukan berjalan kaki seorang diri menuju arah kafenya di Jalan Ahmad Yani yang jaraknya tidak dekat.

Gladys benar-benar tidak peduli lagi. Kakinya yang sudah lelah dan tubuhnya yang remuk redam akibat lelah bekerja seharian melayani pelanggan pertamanya seolah tak lagi terasa.

Ia ingin menjauh dari rumah itu, dari tatapan dan ucapan keji Raka yang telah menghancurkan sisa-sisa harapannya.

1
nining cahyaningrum
akur jelas cerita bagud
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!