NovelToon NovelToon
Kebangkitan Prajurit Nomer Satu!

Kebangkitan Prajurit Nomer Satu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:804
Nilai: 5
Nama Author: kabutmalam

Renzo, mantan prajurit elite nomer satu indonesia dengan julukan beruang baja, dipenjara di Nusakambangan setelah membantai geng yang membunuh tunangannya. Ia berniat hidup tenang, sampai kabar adiknya dianiaya anak pejabat tertinggi dan keluarganya di sembunyikan membangkitkan amarahnya. Diliputi amarah, Renzo mengumpulkan para tahanan paling berbahaya—algojo kartel, yakuza, psikopat, ahli kungfu, hingga perancang bom—membentuk geng kriminal paling berbahaya dalam sejarah untuk kabur dari penjara, membalas dendam, dan menumbangkan penjahat manipulatif yang bahkan dilindungi pasukan militer!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kabutmalam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTUNJUKAN COLOSEUM YANG SEBENARNYA

Keheningan mematikan menyelimuti lapangan. Beberapa narapidana tak kuat menahan mual hingga memuntahkan sarapan mereka ke tanah basah. Di tengah kepanikan itu, Chalk berdiri kaku — otot-otot wajahnya berkedut hebat, urat di lehernya menegang keras, wajahnya merah padam penuh amarah sekaligus tak percaya.

Renzo perlahan mendongak menatapnya lurus ke manik mata. "Aku sudah bilang... enyahlah... aku hanya ingin ketenangan." ucapnya pelan namun berat hingga terdengar jelas di telinga semua orang.

Tanpa menunggu balasan Renzo bangkit berdiri, lalu mengangkat kakinya menendang narapidana yang berdiri terdekat di depannya.

Duar!

Tubuh orang itu melayang jauh menghantam temannya satu demi satu bagai pinang roboh beruntun. Jalan pun terbuka lebar di hadapannya. Renzo melangkah tenang meninggalkan tempat itu seakan tak ada seorangpun yang berani menghalanginya.

"Brengsek!! Kau bertindak terlalu jauh!" raung Chalk meledak. Ia melesat bagai kilat ke arah Renzo, tinju kanannya terbenam di udara berputar membawa angin menderu — kekuatan yang cukup untuk menghancurkan batu berkeping-keping!

Para tahanan membelalak takjub sekaligus ngeri. Mereka tahu betul betapa ganasnya pukulan itu. Sebagai orang kedua terkuat di Gedung Naga Neraka, kekuatannya hanya berada sedikit di bawah Kaneo. Bahkan di antara enam gedung penjara, tak lebih dari lima belas orang yang sanggup menandinginya.

Namun langkah Renzo terhenti seketika. Tubuhnya berputar cepat, sepasang matanya tajam menatap tinju yang meluncur ke wajahnya. Renzo mengepalkan kedua tangannya... dan dalam sekejap mata.

Duaarrr..!!!!

Dua tinju bertabrakan. Suara benturan itu dahsyat bagaikan guntur menyambar bumi. Gelombang getaran menjalar ke segala arah hingga tanah di bawah kaki mereka bergetar pelan.

Sraaaakkk!!!

Tubuh Chalk terhuyung mundur kebelakang, tumitnya menggerus tanah meninggalkan bekas panjang hingga berjarak belasan langkah. Sedangkan Renzo masih berdiri tegak di tempat semula, wajahnya datar seakan baru saja mengusir lalat.

Mulut para tahanan ternganga tak percaya — pendatang baru itu mendorong mundur tangan kanan penguasa gedung?! Para sipir menahan napas, saling pandang penuh gugup. Pertunjukan Colosseum sesungguhnya baru dimulai.

Di samping sana Ivan tersenyum kecil, matanya berkilat liar antusiasme membara. "Menarik... menarik sekali... kekuatannya memang bukan sekadar omong kosong." gumamnya pelan.

Sementara itu tangan kanan Chalk gemetar hebat dari ujung jari hingga bahu, rasa mati rasa merayap ke seluruh lengan seakan tak lagi menjadi miliknya. Ia menatap Renzo tak percaya. "Tidak mungkin..." gumamnya dalam hati nyaris tak bernapas. Namun nyeri yang menjalar di sekujur lengannya adalah bukti nyata yang tak bisa dibantah.

"Aku sudah bilang..." suara Renzo terdengar tenang di tengah keheningan mencekam, "aku hanya ingin ketenangan..." tatapannya beralih menyapu seluruh wajah yang menatapnya takut-takut, "tapi jangan paksa aku untuk membantai kalian semua."

Amarah murni meledak di dada Chalk. Ia mengepalkan tangan kirinya yang masih sanggup digerakkan, wajahnya merah padam menahan malu sekaligus murka. Tanpa suara ia menerjang maju kembali seakan tak kenal menyerah.

Renzo diam saja di tempatnya. Matanya tak berkedip sedikitpun menatap sosok yang mendekat bagai badai. Hingga jarak mereka tinggal sehamparan tangan — Renzo mengangkat kaki kanannya menendang tepat ke ulu hati.

Bugh!!!

"Hueeekkk...!!!" Darah segar menyembur deras dari mulut Chalk, gerakannya terpaku mendadak. Belum sempat tubuhnya jatuh, Renzo sudah melangkah mendekat, mengepalkan tangan erat lalu menghantam wajahnya sekuat tenaga.

Tubuh Chalk melayang melintasi udara sebelum membentur lantai batu dengan bunyi tulang remuk yang mengerikan. Ia merangkak susah payah berusaha bangkit — wajahnya berlumuran darah, hidungnya hancur tak berbentuk, pandangannya kabur seakan nyawanya separuh sudah tercabut.

Tap.. tap.. tap..

Langkah kaki pelan namun berat mendekat dari belakang. Renzo berdiri tegak di belakang tubuh merintih itu. Tatapannya dingin menyapu ratusan orang yang terpaku mematung — para tahanan, para sipir, semuanya tak luput dari pandangan tajamnya.

"Dengarkan baik-baik!" suaranya menggema berdentang ke segala penjuru lapangan bagaikan petir menyambar tanah, "jangan pernah menggangguku lagi! Jika ada yang berani mengusik kedamaianku, tanggung sendiri akibatnya!"

Swaaassshhh!!!

Tangan kanannya berubah telapak, menghantam keras tepat ke tengkuk Chalk.

Hening sesaat. Lalu...

Pfffffffff...!!!

Darah menyembur tinggi ke udara. Dua bola mata terlempar keluar rongga matanya diikuti urat-urat halus bagai benang putus.

Bruuuukkk!!!

Tubuh Chalk ambruk terkulai lemas. Ia mati bukan sekadar mati — otaknya hancur lumat di dalam tempurung kepala.

Jeritan melengking pecah dari kerumunan anak buahnya, histeria memenuhi udara. Namun suara tepuk tangan perlahan terdengar menimpali — pelan, santai, penuh kekaguman tak tersembunyikan.

Prok... prok... prok...

Dari balik kerumunan muncullah sosok pria pendek gemuk berwajah putih bersih merona, rambutnya berkilat seakan diolesi minyak. Meski terpidana mati, pakaian dan penampilannya jauh lebih rapi daripada penghuni lain di neraka ini.

"Halo saudara Renzo..." sapanya ramah, senyumnya seakan sengaja dilatih, "perkenalkan... aku adalah Belly, penguasa Gedung Taring Serigala. Pukulan telapak tanganmu tadi sungguh mengesankan hingga benar-benar membuka mataku." Ia mengangkat kedua tangan terbuka tanda damai. "Aku tak pernah belajar bela diri, namun aku selalu mengagumi orang-orang kuat sepertimu. Bagaimana kalau ku urus pemindahanmu ke selku? Di sana kau bisa hidup tenang tanpa diganggu siapa pun. Bagaimana?"

Belum sempat Renzo menjawab, suara serak tua terdengar mendengus dari sisi lain kerumunan.

"Huh! Si Gendut, cepat sekali tanganmu merekrut orang baru ya? Terlalu mencolok, tidakkah kau pikir begitu?"

Muncul seorang lelaki tua berambut separuh putih berjalan santai seakan sedang berjalan di taman rumahnya.

"Aku sedang tak urus urusanmu, Kael, jangan campuri!" sahut Belly kesal.

"Siapa bilang aku mau mengganggumu? Kau terlalu percaya diri.." Pangeran Kael tersenyum sinis. "Aku hanya ingin mengundang saudara Renzo minum teh sore nanti. Itu urusanku, bukan urusanmu. Atau kau merasa terancam?"

Suasana menegang seketika. Pengikut Belly dan pengikut Kael saling maju selangkah, tangan terkepal dengan tatapan tajam siap bertarung.

"Cukup! Jika kalian ingin mencari berandalan, carilah di tempat lain!" suara lain memotong sarkastik, cukup keras didengar semua orang.

Semua mata beralih serentak. Mata membelalak tak percaya melihat sosok itu Ivan Dragos. Di tangan kanannya bertumpu batu besar sebesar setengah tubuh manusia, diangkat dengan satu tangan seakan tak berbobot.

Swussssshhh!!!

Batu meluncur membelah udara bagai jatuh dari langit. Orang-orang berlarian panik saling dorong saling injak. Batu menghantam tanah dan pecah berhamburan debu.

Dan di tengah kepanikan itu, Ivan menerjang ke depan bagaikan binatang liar yang baru lepas dari kandang.

DUAGHH!! DUAGHHH!! DUAAAGHHH!!

Langkahnya menggetarkan tanah mendekati Renzo secepat kilat. Ia melompat tinggi membelah udara, tubuh berputar lalu melontarkan tendangan keras ke arah Renzo.

Renzo menyilangkan kedua lengan menahan benturan itu.

BAAAAMMM!!!!

Dentuman dahsyat meledak di pertemuan keduanya. Tubuh Renzo langsung terdorong mundur sepuluh langkah sebelum menghantam tembok batu hingga retak memanjang.

Darah segar merembes dari sudut bibirnya. Untuk pertama kalinya semenjak masuk ke neraka ini, Renzo mengeluarkan darah.

Di seberang sana Ivan mendarat tegak, menyeringai lebar menampakkan gigi tajam, matanya menyala membara tak pernah seriang itu sebelumnya.

"Kau kuat...!!! SANGAT KUAT!!!" raungnya gembira nyaris histeris. "Sudah lama sekali... terlalu lama aku mencari lawan sepadan. Akhirnya kau datang, Beruang Baja!" Ia menunjuk Renzo sambil tersenyum lebar penuh tantangan. "Mari buat kesepakatan!"

Renzo menyeka darah di bibirnya dengan punggung tangan, menatapnya tajam tak goyah sedikitpun. "Kesepakatan?"

"Bertarung denganku sungguh-sungguh! Tanpa menahan tenaga sedikitpun!" serunya menantang. "Jika aku menang kau tunduk padaku dan menjadi tangan kananku selamanya. Tapi jika aku kalah aku akan patuh pada setiap perintahmu, dan aku jamin, tak akan ada satu pun yang berani mengganggu ketenanganmu di sini sampai mati!"

Hening mencekam kembali merengkuh lapangan. Para sipir, para tahanan, semuanya menahan napas hingga dada sesak. Mereka tahu — pertunjukan Colosseum yang sebenarnya baru saja diumumkan. Pertarungan dua petarung sejati yang tak takut mati!!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!