Setelah akar spiritual emasnya dirampas secara paksa oleh sepupunya sendiri dan tubuhnya dibuang ke Jurang Abu Api, Lin Xuan—seorang pemuda klan cabang yang sekarat—justru menyatu dengan Tungku Abu Takdir peninggalan zaman purba. Dari abu kehancuran, ia menempuh jalur kultivasi terlarang yang mampu melebur kutukan, meracik pil dari racun mematikan, dan menebas tatanan langit yang korup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Pedang Besi Hitam
Kembali dari Pasar Gelap menjelang dini hari, Lin Xuan tidak beristirahat barang sekejap pun. Setelah memastikan Lin Wan'er masih tertidur pulas di dalam kamar Paviliun Bambu yang telah ia pasangi bubuk penangkal serangga dan alarm benang tipis, ia pergi ke gua tersembunyi di balik air terjun kecil di lereng belakang gunung.
Di dalam gua yang lembap dan tertutup tirai air itu, Lin Xuan mengeluarkan lima kati Biji Besi Meteor Hitam beserta pedang hitam patah milik Tetua Gu.
"Tetua Gu, pedang ini terlalu mencolok jika bilahnya tetap patah dan berkarat seperti ini, lagi pula permukaannya retak sehingga belum bisa menyalurkan seluruh beban Qi Abu milikku," ujar Lin Xuan sambil duduk bersila. "Apakah Tungku Abu Takdir bisa melebur Biji Besi Meteor ini untuk menambal bilahnya?"
Bayangan Tetua Gu melayang keluar dari pedang dengan mata berbinar. "Bukan hanya menambal, bocah! Pedang hitamku ini dulunya ditempa dari Inti Besi Bintang Jatuh, hanya saja segel rohnya rusak saat pertarungan tiga ribu tahun lalu. Jika kau melebur Biji Besi Meteor Hitam menggunakan Api Abu di dalam tungkumu, lalu melapiskannya ke bilah pedang ini, ia akan pulih menjadi Senjata Roh Tingkat Satu Puncak yang bahkan bisa tumbuh seiring peningkatan kultivasimu!"
Lin Xuan segera memusatkan pikirannya. Ia memanggil proyeksi Tungku Abu Takdir ke hadapannya, lalu melemparkan lima kati Biji Besi Meteor Hitam bersama tiga tangkai Rumput Api Darah ke dalam pusaran api kelabu.
Wussshhh!
Bagi pandai besi senjata roh biasa, mencairkan Biji Besi Meteor membutuhkan api tanah selama tujuh hari tujuh malam. Namun di dalam Tungku Abu Takdir, bongkahan logam sekeras berlian itu meleleh menjadi cairan hitam pekat hanya dalam waktu kurang dari satu menit! Seluruh kotoran logamnya menguap menjadi abu, menyisakan sari logam bintang yang paling murni.
Lin Xuan kemudian menelan sari Rumput Api Darah yang telah dimurnikan bersamaan dengan dua ratus Batu Roh Tingkat Rendah.
Boom!
Energi dahsyat meledak di dalam tubuhnya. Sekat penghalang menuju lapisan berikutnya hancur lebur bagai kertas tipis yang diterjang gelombang pasang!
Alam Pemurnian Tubuh Lapis Tujuh!
Tidak berhenti di situ, sisa energi murni dari dua ratus batu roh terus mendorong aliran Qi Abu di dalam meridiannya yang luas hingga mencapai Lapis Tujuh Puncak! Kini, kekuatan fisik murni di satu lengan Lin Xuan saja telah melampaui beban seribu lima ratus kati—setara dengan kultivator Pemurnian Tubuh Lapis Sembilan biasa!
Pada saat yang tepat, Lin Xuan mencelupkan bilah pedang hitam patah ke dalam cairan logam meteor di dalam tungku, lalu meneteskan setetes darah dari ujung jarinya.
Cringgg!
Suara dengungan pedang yang berat namun jernih bergema di seluruh gua di balik air terjun. Ketika kabut kelabu mereda, di tangan Lin Xuan kini tergenggam sebilah pedang lurus berwarna hitam legam sepanjang empat kaki dengan lebar tiga jari. Tidak ada kilau perak ataupun hiasan permata di gagangnya, namun di sepanjang punggung bilahnya yang tajam, mengalir garis-garis halus berwarna abu-abu bara yang tampak hidup.
"Mulai hari ini, namamu adalah Pedang Abu Hitam," gumam Lin Xuan sambil mengayunkan pedang barunya ke arah sebongkah batu granit raksasa di sudut gua.
"Jurus Kedua Pedang Abu: Bara Membelah Hampa!"
Seberkas gelombang Qi berbentuk bulan sabit berwarna kelabu gelap melesat keluar dari ujung pedang—sesuatu yang seharusnya baru bisa dilakukan oleh kultivator Alam Pembukaan Meridian!
Krak... Boooom!
Batu granit setinggi dua tombak itu terbelah dua dengan potongan sehalus cermin, sebelum akhirnya bagian tengahnya hancur menjadi gumpalan abu halus!
Belum sempat debu di dalam gua mengendap, telinga Lin Xuan yang kini memiliki pendengaran tajam tiba-tiba menangkap getaran benang peringatan yang ia pasang di sekitar halaman Paviliun Bambu.
Sepasang mata pemuda itu langsung memancarkan kilatan dingin yang mematikan.
"Tampaknya anjing-anjing Lin Tianhao sudah tidak sabar mengantar nyawa mereka pagi ini."