NovelToon NovelToon
Asrama Hati

Asrama Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: indah Mayaddah f

Sinopsis

Zain Arvendra Atmaja, seorang remaja yang seakan tak pernah lelah terlibat masalah di sekolahnya. Setelah berbagai kejadian yang menumpuk, ayahnya akhirnya mengambil keputusan Zain harus pindah ke sebuah SMA berbasis asrama yang dikenal mampu membimbing anak-anak yang sedang kehilangan arah.

Awalnya Zain menolak keras. Namun seiring berjalannya waktu, ia perlahan mulai menerima kenyataan itu. Di asrama inilah ia bertemu dengan Vanya, seorang gadis ceroboh yang dengan polosnya kerap menyeret Zain ke dalam berbagai situasi baru yang tak terduga.

Cerita terasa semakin rumit ketika Keira Cattleya Wiratama, kekasihnya yang selama ini jauh dari sana, tiba-tiba memutuskan untuk pindah ke asrama yang sama pula.

Tiga orang, satu atap, dan hati-hati yang mulai saling bersilang. Bagaimana kelanjutan cerita mereka ? Baca selengkapnya !

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 Langkah Kecil Untuk Berdamai

Setelah Zain selesai bercerita, keheningan yang hangat menyelimuti mereka di teras asrama. Tidak ada yang langsung berbicara, seolah kata-kata Zain baru saja meresap perlahan ke dalam hati masing-masing. Rian adalah orang pertama yang menyuarakan perasaannya.

"Terima kasih sudah percaya sama kita, Zain" Ucap Rian tulus, menatap Zain itu dengan pandangan yang penuh rasa hormat.

"Aku tahu berat banget cerita yang kamu simpan sendirian selama ini, kalau nanti ada yang mulutnya lancang soal ibumu, jangan dipukul dulu. Bilang ke kita, kita temanmu dan kita akan berdiri di sampingmu tanpa harus berkelahi." Ucap Dimas

Zain tersenyum tipis, rasa hangat yang lembut menjalar di dadanya.

"Makasih, teman-teman. Aku janji akan berusaha lebih sabar meski tidak gampang, setiap kali nama mama disebut buruk, rasanya ada yang menarik tanganku untuk meledak. Tapi aku akan coba, demi kalian dan juga demi diriku sendiri." Jawab Zain sambil tersenyum

Malam itu menjadi awal yang baru bagi Zain, ia merasa tidak lagi menyembunyikan bagian terpenting dari dirinya. Beban yang selama ini ia pikul sendirian, terasa sedikit lebih ringan karena kini ada bahu-bahu lain yang siap menopangnya.

*****

Seminggu berlalu, dan kabar itu seolah menyebar secara alami di antara penghuni asrama. Bukan sebagai bahan tertawaan atau gosip yang dibesar-besarkan, melainkan sebagai rasa hormat yang tumbuh secara perlahan. Orang-orang mulai memahami mengapa Zain kadang terdiam saat pembicaraan beralih ke soal orang tua, mengapa ia begitu protektif terhadap hal-hal yang ia sayangi, dan mengapa ketenangannya begitu rapuh setiap kali ada suara tawa yang terdengar mengejek.

Namun tentu saja, tidak semua orang memahaminya. Dunia ini terlalu luas untuk membuat semua orang berpikir sama, dan Zain pun sadar akan hal itu.

Suatu siang saat jam istirahat di kantin, sekelompok siswa dari kelas lain duduk di meja yang berdekatan dengan meja mereka. Zain sedang makan bersama Keira, Bayu, Rian, dan Laras, Sari, Dina, Aldo, Bayu dan Eko. Suasana terasa tenang, hingga potongan pembicaraan dari meja sebelah terdengar jelas ke telinga Zain.

"Lihat dia, duduk sok tenang. Padahal ibunya sendiri saja tidak mau tinggal bersamanya. Siapa yang tahu kenapa ibunya pergi, mungkin saja sifatnya yang memang susah diatur sejak awal" Bisik salah satu dari mereka, sengaja dikeraskan sedikit agar terdengar ke meja Zain, diikuti tawa sinis yang tajam.

Tangan Zain yang sedang memegang sendok berhenti bergerak, tubuhnya menegang seketika. Napasnya tertahan di tenggorokan, tepalan tangannya terbentuk di bawah meja, kuku menancap lembut ke telapak tangan. Ingatannya seketika melayang kembali ke lorong sekolah lamanya, suara teriakan, kerumunan yang mengelilinginya, dan hari yang mengubah seluruh hidupnya. Detik itu terasa berhenti.

Keira yang duduk di sebelahnya menyadari perubahan itu, ia tidak berkata apa-apa agar tidak menarik perhatian, hanya meletakkan tangannya perlahan di atas kepalan tangan Zain yang gemetar pelan. Zain menoleh perlahan, dia melihat kekhawatiran di mata teman-temannya bukan ketakutan akan dirinya, tapi kekhawatiran untuknya. Ia menarik napas dalam-dalam, menahannya sejenak di dada, lalu mengeluarkannya perlahan-lahan melalui mulut yang tertutup. Kepalan tangannya perlahan terbuka, dia menyentuh punggung tangan Keira dengan lembut sebagai tanda terima kasih, lalu menatap tajam namun tenang ke arah kelompok siswa itu.

"Kalian boleh berpikir apa saja," Ucap Zain dengan suara yang tenang namun tegas, terdengar jelas di tengah keheningan mendadak di sekitar meja mereka.

"Pendapat kalian tidak mengubah siapa ibuku bagiku, dan tidak mengubah siapa diriku. Tapi ketahuilah, mencela orang lain tidak akan membuat diri kalian menjadi lebih baik. Aku mencintai ibuku, dan aku akan menunggunya pulang kapan pun itu terjadi. Kalau menghinaku membuat kalian merasa hebat, silakan saja. Tapi bagiku, aku tidak perlu membuktikan apa pun kepada kalian." Ujar Zain dengan sangat lantang

Setelah itu, Zain berdiri perlahan, mengambil nampan makannya dan berkata pada teman-temannya dengan senyum yang tenang,

"Ayo kita pindah ke meja lain, udara di sini rasanya kurang enak untuk dinikmati makanan kita." Ajak Zain

Semua orang di meja itu tertegun, termasuk siswa-siswa yang tadi mengejeknya. Mereka tidak siap dengan respons yang begitu tenang dan dewasa, tidak ada teriakan, tidak ada amarah yang meledak-ledak, tidak ada pukulan. Hanya keanggunan jiwa yang membuat mereka merasa kecil dan malu sendirian.

Saat mereka berjalan menjauh menuju meja lain yang lebih sepi, Bayu menepuk pelan punggung Zain.

"Itu jauh lebih hebat daripada memukul mereka, Zain. Aku bangga padamu," Bisik Bayu dengan tulus.

Zain tersenyum, kali ini lebih tulus dari sebelumnya.

"Terima kasih, rasanya memang masih berat, jantungku masih berdebar kencang sekarang. Tapi aku tahu kalau aku menahan diri, aku bukan kalah. Aku cuma memilih untuk tidak menjadi seperti mereka." Ujar Zain

*****

Sore harinya, setelah semua kegiatan selesai, Zain menghabiskan waktu sendirian di bangku kayu favoritnya di pinggir halaman asrama. Angin sore berhembus lembut, menerbangkan dedaunan kering yang berputar pelan di udara. Ia mengeluarkan sebuah foto kecil yang dilapisi plastik bening dari saku bajunya, foto ibunya yang tersenyum lembut, diambil saat ia masih berusia lima tahun, di taman kota yang dulu sering mereka kunjungi bersama.

"Ma, di mana pun mama berada aku baik-baik saja di sini" Batin Zain pelan pada foto itu, matanya menatap wajah yang begitu ia rindukan.

"Tadi aku hampir marah, tapi aku tidak membalas mereka. Aku berusaha sabar, ma. Aku belajar menjadi laki-laki yang kuat dengan caraku sendiri, bukan dengan kemarahan dan aku harap mama bangga padaku." Lanjut Zain

Angin sore kembali berhembus lembut, seolah menjawab bisikannya. Cahaya matahari terbenam menyinari wajahnya dengan keemasan yang hangat. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Zain tidak merasa kesepian meski sedang sendirian. Ia punya teman yang mendukungnya, orang-orang yang melihat dirinya bukan sebagai anak yang bermasalah, bukan sebagai anak yang ibunya pergi, melainkan sebagai Zain sebagai dirinya apa adanya.

Saat ia berjalan kembali menuju asrama, langkah kakinya terasa lebih ringan. Ia tahu perjalanan ini masih panjang, dan pasti akan ada hari-hari sulit lainnya. Tapi ia juga tahu satu hal penting, ia tidak lagi harus menghadapi semuanya sendirian.

Malam itu, saat semua sudah tertidur lelap, Zain menulis di halaman baru buku hariannya.

“Hari ini aku belajar bahwa kekuatan terbesar bukanlah tinju yang keras, melainkan hati yang sabar dan kemampuan untuk tetap menjadi dirimu meski orang lain berusaha memprovokasiku. Aku tidak tahu kapan mama akan pulang, atau apakah dia tidak akan pulang sama sekali. Tapi aku tahu satu hal bahwa aku tidak akan membiarkan kepergiannya menghancurkan diriku, aku akan tumbuh menjadi laki-laki yang kuat, bijaksana, dan layak dibanggakan untuk papa, untuk mama, dan terutama untuk diriku sendiri.” Batin Zain

1
Miu.Nuha
betul. keputusan apapun yg kamu ambil akan mempengaruhi hidupmu nanti.
😏 jdi jalanin seadanya aja, gk usah milih
hehe pis ya mas Zain...
Luneya
dua figura hadir dalam masa yang sama..yang mana satu Zain akan memilih..tapi Aku sama Vanya..🌹
Hamzah [Hiatus]
waduh.. akankah balikan sama mantan. gak mungkinlah gak mungkin😁
Hamzah [Hiatus]
loh kenapa ditutup🤔
Myz Pena
keira.. kamu harus sadar dan tahundiri sepertinya zain nggak nyaman dekat dengan mu sekaligus segala perhatian mu padanya.. jadi stop
Myz Pena
jadi bagaiaman zain ,, apa kaira sikapnya itu membuatmu sangat tidak nyaman kah ?
aefpe fp
ah kalau gini ceritanya jadi bestie sahabat aja ndak si...kayaknya lebih seru daripada pacaran pacaran🤣
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Ya Allah akhirnya Zain bisa dapetin kawan yang pas sejauh ini... Ya Semoga semakin berubah juga Zain... 💪💪💪
Maya 摩耶
kenapa tidak keduanya saja? 👀 ahik ahik ahik kwkwkw
Siti Aisyah
Gimana nih membuat hati zain jadi bimbang antara memilih vanya atau keira😆
Maya 摩耶
naah she is just wanna impress you 🤭
Pencari Cerita
pikirin matang matang zain sebelum memilih ya
ginevra
pantas saja Zain merasa nyaman di dekat vanya. karna vanya tidak pernah memaksa dan menekan Zain.
aefpe fp
bakal banyak drama kehidupan yang akan menantimu bersiaplah dan itu tidak akan sesederhana yang kau kira💪
Hamzah [Hiatus]
kamu menemukan seseorang yang berharga di masa depan nanti Zain, jangan lupakan itu 🗿
Myz Pena
ia memang banyak suka dan dukanya.. intinya kamu akan belajar banyak hal lagi.. jadi kuatlah
Luneya
Mereka benar-benar sama geng. Mereka saling membantu. bagus sekali jika ada teman satu komplotan.☺️
Myz Pena
berarti zain sekarang kamu dah nyaman ya di asrma berkat vanya hari hari mu lebih ceria dan bwrwarna 😂👍
Maya 摩耶
emang matanya kenapa? ada saringgannya kah? 🤭
Maya 摩耶
mo balikan kah kamu? 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!