Dea, alias Althea Twina Darmawan, tumbuh sebagai anak angkat yang kehilangan kasih sayang setelah ibu angkatnya melahirkan anak kandung. Terbiasa disalahkan, ia memilih mengabdikan hidupnya sebagai dokter.
Namun, hidupnya berubah ketika Linjaryani, calon istri Elden Zarreti, seorang tuan tanah kaya raya yang dingin dan berkuasa, meninggal secara misterius. Dea dijadikan kambing hitam, sementara Elden, dibutakan dendam, menghukumnya tanpa mencari kebenaran.
Pernikahan paksa dan perlakuan kejam Elden meninggalkan luka mendalam dalam diri Dea. Ketika bukti baru mengungkap pengkhianatan di balik kematian Linjaryani, Elden menyadari kesalahannya.
Mampukah ia menebus kehancuran yang diciptakannya, atau kebencian Dea telah menutup pintu maaf selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10. Rumor dan Stroberi
Seperti biasa, Dea bangun di pagi hari.
Sejak mengetahui kehamilannya, Dea berusaha menjaga dirinya sebaik mungkin. Ia tak akan lagi mengabaikan kesehatannya. Apalagi kini ada kehidupan kecil yang bergantung padanya.
Meskipun begitu, ia tetap harus menjalani rutinitas seperti biasa. Pendidikan kedokterannya belum selesai, dan ia tidak ingin masa depannya hancur hanya karena seseorang telah memperlakukannya dengan kejam.
Setelah memastikan semua barang masuk ke dalam tas, Dea berangkat menuju kampus.
Sesuai jadwal, ia masih dalam masa praktik koas di rumah sakit yang ditunjuk pihak kampus.
Awalnya, semuanya berjalan seperti biasa. Dea mengikuti pengarahan, memeriksa kembali catatan yang dibawanya, dan menyapa beberapa rekan sesama mahasiswa.
Namun, suasana berubah ketika ia memasuki ruang istirahat.
Beberapa mahasiswa yang sedang berkumpul mendadak terdiam. Ada yang saling melirik, ada pula yang berbisik sambil sesekali mencuri pandang ke arahnya.
Dea mengernyit.
'Ada apa?'
Ia tidak terlalu memedulikan mereka dan berjalan menuju meja untuk meletakkan tasnya.
Namun, belum sempat ia duduk, suara seseorang terdengar dari sudut ruangan.
“Eh, kalian sudah dengar kabar tentang Dea?”
Dea mengenali suara itu. Suara itu tak lain milik Stella.
Perempuan itu berdiri di antara beberapa mahasiswa lainnya dengan raut wajah akan membagikan rahasia besar.
“Memangnya kenapa?” tanya seorang mahasiswa.
Stella melirik Dea sekilas. Senyum tipis terbit di bibirnya.
“Sepertinya Dea sedang hamil anak Profesor Adam. Jadi, wajar kan, waktu baru dinikahi Tuan Elden, tuan kaya itu malah langsung pergi?”
Ruangan mendadak riuh oleh bisikan. “Apa? Serius?”
“Jadi, selama ini ...?”
“Pantas saja dia disayang sama Prof. Adam. Ternyata dia begitu?”
Beberapa koas melirik ke arah Dea.
Dea yang mendengar semuanya terdiam sesaat. Bukan karena ia merasa bersalah. Melainkan karena ia tidak habis pikir bagaimana seseorang bisa begitu mudah mengarang kebohongan tentang sesuatu yang tak ia ketahui?
Stella bahkan tidak terlihat sedikit pun merasa bersalah. Sebaliknya, ia menikmati perhatian yang didapatkannya.
“Kasihan juga, ya, Profesor Adam. Kalau benar anaknya, bagaimana nanti?” sambung Stella, pura-pura prihatin.
Dea akhirnya menoleh. Tatapannya bertemu dengan mata Stella.
“Sudah selesai?” tanyanya tenang.
Stella sedikit terkejut. “Apa?”
“Kalau sudah selesai mengarang cerita, aku mau bersiap untuk praktik lagi.”
Beberapa orang langsung terdiam.
Wajah Stella berubah masam. “Kenapa? Kamu tersinggung? Kalau memang tidak benar, kenapa harus marah?”
Dea merapikan buku catatannya. “Menurutmu? Aku hanya tidak memiliki waktu untuk menanggapi tuduhanmu.”
Setelah mengatakan itu, Dea berjalan meninggalkan ruangan.
Ia tidak ingin menghabiskan tenaga dan pikirannya untuk meladeni Stella. Ia masih punya tanggung jawab yang harus diselesaikan, dan kesehatan dirinya jauh lebih penting daripada meladeni gosip.
Namun, ketika melangkah menyusuri koridor rumah sakit, pikirannya justru kembali pada satu hal.
Stella membuat ingatannya melayang pada hari-hari sebelum Linjaryani meninggal.
Saat itu, Dea masih menjalani tugas di rumah sakit bersama Stella. Mereka berada dalam satu tim, mengikuti arahan para dokter yang bertanggung jawab atas pasien.
Dea masih ingat bagaimana Profesor Adam menjelaskan penanganan pasien Linjaryani.
Ia juga ingat bahwa profesor itu telah menyampaikan dengan jelas siapa yang akan bertugas menangani pasien tersebut.
Dea.
Namun, ada sesuatu yang baru disadarinya sekarang. Stella juga berada di sana ketika Profesor Adam menyampaikan hal itu.
Dan Stella mendengarnya.
Langkah sedikit lebih pelan. Ingatan lain muncul, semakin jelas.
Saat mengetahui bahwa dirinya yang akan bertugas menangani Linjaryani, Stella sempat mengamuk. Perempuan itu terlihat begitu kesal, bahkan melontarkan protes dengan terang-terangan.
Namun, setelah itu, Stella menghilang.
Dea masih mengingatnya dengan jelas. Stella tidak terlihat lagi sampai kabar kematian Linjaryani menyebar.
Saat itu, Dea terlalu sibuk menghadapi situasi yang terjadi. Ia tidak sempat memikirkan keanehan tersebut lebih jauh.
Terlebih lagi, setelah kematian Linjaryani, semua orang seolah sepakat menjadikannya pihak yang paling bertanggung jawab.
Elden sang tunangan pun mempercayai tuduhan itu.
Hidup Dea hancur sebelum ia sempat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Namun, sekarang, ketika ia mengingat kembali semua kejadian tersebut, ada sesuatu yang terasa janggal.
Mengapa Stella begitu marah ketika mengetahui bahwa Dea yang akan menangani Linjaryani?
Mengapa ia menghilang setelah itu?
Dan mengapa sekarang ia begitu bersemangat menyebarkan fitnah tentang Dea?
Dea mengepalkan tangannya perlahan.
Ia tidak boleh terburu-buru menuduh seseorang hanya berdasarkan kecurigaan. Namun, ia juga tidak bisa terus mengabaikan hal-hal yang terasa ganjil.
Jika ingin membersihkan namanya, ia harus menemukan bukti.
Bukan sekadar dugaan.
Dea menarik napas panjang, lalu kembali melangkah.
“Stella ... aku harap dugaanku salah.”
Dea mulai menyadari untuk mempertimbangkan kemungkinan keterkaitan Stella pada kematian pasien Linggaryani.
Dea menatap lurus ke depan. “Aku harus menyelidikinya.”
.
.
Di kediaman keluarga Zarreti, suasana berbeda justru sedang terjadi.
Nindy baru saja datang dengan membawa sebuah kantong berisi stroberi segar.
Ia melewati ruang keluarga dan mendapati Mireya sedang duduk di sofa. “Lah, kamu datang kok nggak kasih kabar?” tanya Mireya.
Nindy mengangkat kantong yang dibawanya. “Aku membawa stroberi.”
Mireya melirik buah tersebut dengan heran. “Untuk siapa?”
“Untuk Elden. Tadi dia bilang sedang ingin makan stroberi.”
Mireya langsung mengerutkan kening. “Elden?”
“Iya.”
“Perasaan Elden tidak suka stroberi.”
*bersambung*
Ingat Dea sedang mengandung anakmu
Aneh klo tidak dipantau & dilindungi bodyguard bayangan keluarga, ceroboh !!
Dan Josep berusaha melindungi Stella.
Yang pasti...kali ini Dea tidak akan tinggal diam.
Jangan2 ada main dia dengan Stella