Alya Renata adalah aktris terkenal yang hidupnya selalu berada di bawah sorotan kamera.
Arka Pratama hanyalah seorang mahasiswa yang terlihat biasa—tenang, sederhana, dan tidak tertarik dengan dunia selebritas.
Pertemuan tak sengaja di tengah hujan membuat dua dunia yang berbeda mulai saling mendekat.
Alya tidak pernah menyangka bahwa pria yang membuatnya merasa nyaman itu menyimpan identitas besar di balik kehidupannya yang sederhana.
Arka bukan sekadar mahasiswa.
Ia adalah pewaris keluarga Pratama, salah satu keluarga konglomerat terbesar di negeri ini.
Ketika cinta mereka mulai diketahui publik, mereka harus menghadapi usia, keluarga, media, karier, dan perbedaan dunia yang semakin sulit diabaikan.
Karena mencintai seseorang ternyata mudah.
Yang sulit adalah memilih untuk tetap berjalan bersamanya ketika seluruh dunia meminta mereka berpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rutinitas Baru dan Tanggung Jawab Lama — Part 2
Namun sayangnya, sore itu Arka tidak berniat langsung pulang ke indekosnya di sekitar kampus. Ia melangkah menuju tempat parkir mobil tamu.
Ia harus pulang ke rumah utama keluarganya.
Pesan dingin dari ayahnya kemarin malam belum ia lupakan.
"Malam ini pulang. Ada pembahasan penting mengenai Skysea Group. Jangan telat."
Arka menarik napas panjang. Sudah cukup lama ia menghindari acara makan malam keluarga demi menjaga jarak dari urusan perusahaan.
Namun kali ini sang ayah meminta secara langsung dengan nada perintah. Dan bagi seorang anak tunggal pewaris, itu berarti sebuah panggilan yang tidak bisa ditolak.
Kediaman utama keluarga Pratama berada di kawasan elite yang jauh dari hiruk-pikuk pusat kota Jakarta.
Bangunan berpagar tinggi itu sangat besar dengan arsitektur modern klasik, namun tidak terlihat norak atau berlebihan. Menunjukkan kelas 'old money' yang sesungguhnya.
Arka turun dari mobil jemputan Alphard hitam setelah menempuh perjalanan yang cukup memakan waktu.
Begitu ia melangkahkan kaki melewati pintu utama, suasananya langsung terasa sangat berbeda dibandingkan dengan kehidupan kampusnya yang bebas.
Di rumah ini, segalanya terasa lebih dingin, lebih teratur, dan lebih formal.
Seorang kepala pelayan rumah berseragam rapi langsung menyambutnya dengan membungkuk hormat.
"Selamat sore, Tuan Arka. Bapak sudah menunggu Anda di ruang kerja utama."
Arka mengangguk singkat. "Terima kasih, Pak."
Ia berjalan menyusuri lorong berlantai marmer menuju ruang kerja ayahnya. Pintu kayu jati berukir itu diketuknya dua kali.
"Masuk." Suara berat dan berwibawa terdengar dari dalam.
Arka memutar kenop dan membuka pintu.
Seorang pria paruh baya mengenakan kemeja tanpa dasi duduk tegak di balik meja kerja kayu mahoni yang sangat besar.
Rambut pria itu mulai memutih di bagian pelipis, namun postur tubuhnya dan sorot matanya masih memancarkan aura intimidasi yang sangat tajam.
Itulah Darmawan Pratama. Ayah Arka. Sang nahkoda yang selama ini mengendalikan sebagian besar gurita bisnis keluarga.
Darmawan meletakkan pulpennya dan menatap putranya. "Sudah makan?"
"Belum."
Ayahnya menggeleng pelan dengan raut tidak setuju. "Kamu masih sama cerobohnya seperti dulu soal kesehatan."
Arka menarik kursi kulit berlengan di seberang meja dan duduk dengan tenang. "Ayah bilang di pesan kemarin, ada pembahasan penting."
Pria itu tidak langsung menjawab. Ia justru menarik sebuah map tebal berlogo perusahaan dari tumpukan di mejanya.
"Bagaimana kuliahmu di semester akhir ini?" tanya sang ayah.
"Baik."
"Skripsi?"
"Sedang diselesaikan. Bab tiga butuh revisi."
"Setelah lulus?"
Arka terdiam. Jantungnya berdetak satu ketukan lebih lambat.
Pertanyaan yang sama persis seperti yang dilontarkan Alya beberapa hari lalu lewat pesan. Namun kali ini, konteks dan tekanannya sangat berbeda. Ini bukan pertanyaan basa-basi. Ini adalah interogasi masa depan.
"Aku belum menentukan arah pastinya," jawab Arka tenang.
Darmawan menatap mata putranya tajam. "Kamu sudah tidak bisa terus menghindar dengan jawaban itu, Arka."
Arka menghela napas tertahan. "Aku tahu, Yah."
"Perusahaan keluarga ini membutuhkan penerus sah untuk duduk di jajaran manajemen."
"Ayah masih sehat dan ada di sana."
"Bukan berarti Ayah akan duduk di kursi itu selamanya. Pemegang saham mulai bertanya-tanya soal suksesi kepemimpinan."
Ruangan besar itu seketika menjadi sunyi senyap. Hanya terdengar detak jam dinding kuno di sudut ruangan.
Arka menatap map berlogo perusahaannya di atas meja. Ia sangat tahu percakapan konfrontasi seperti ini pasti akan datang. Cepat atau lambat.
Selama empat tahun ini, ia bisa bernapas lega hidup sebagai mahasiswa biasa karena keluarganya memberikan kompensasi ruang privasi tersebut.
Tetapi begitu ia lulus nanti, batas ruang kebebasan itu akan ditarik paksa hingga menyempit habis.
Darmawan membuka map tersebut dan mendorongnya ke hadapan Arka.
"Skysea Group sedang bersiap masuk ke tahap ekspansi baru di sektor properti dan perhotelan tahun depan," ucap ayahnya dengan nada bisnis murni.
Arka mendengarkan dalam diam.
"Ada beberapa keputusan sangat besar dan perombakan struktur yang harus disiapkan dari sekarang."
"Dan Ayah ingin aku ikut dalam rapatnya?"
"Bukan hanya sekadar ikut hadir dan diam." Darmawan menatap lurus ke dalam bola mata putranya. "Ayah ingin kamu mulai belajar masuk ke manajemen. Belajar mengambil keputusan."
Arka bersandar di kursinya, mencoba mencerna beratnya instruksi itu. "Sekarang?"
"Mulai sekarang. Paruh waktu sebelum kamu sidang skripsi."
Arka tidak langsung menjawab.
Ada bagian besar dalam dirinya yang berteriak ingin menolak mentah-mentah. Ia masih ingin fokus menyelesaikan kuliah. Ia masih ingin hidup normal. Masih ingin menjadi Arka sang mahasiswa biasa yang bisa bebas nongkrong makan pecel lele.
Bukan Arka sang putra mahkota, calon penerus dari salah satu grup bisnis konglomerasi terbesar di negeri ini.
Namun, di sisi lain, logika dan nuraninya juga menyadari satu hal absolut. Terlahir sebagai bagian dari keluarga ini berarti ia memikul utang tanggung jawab yang tidak bisa dihindari.
"Aku... akan pikirkan penawaran Ayah."
Darmawan mengangguk tegas, menutup kembali map tersebut. "Baik. Ayah tunggu jawaban pastimu minggu depan."
Arka berdiri dari kursinya, bersiap undur diri.
Namun tepat sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, suara ayahnya kembali menghentikan langkahnya.
"Arka."
Arka berhenti. Menoleh dari balik bahunya.
Darmawan menatap punggung putranya. "Pesan Ayah cuma satu. Jangan terlalu lama dan terlalu nyaman bersembunyi dari siapa dirimu yang sebenarnya."
Arka tidak menjawab petuah tajam itu. Ia hanya mengangguk sopan sekilas, kemudian keluar dari ruangan tersebut, menutup pintu di belakangnya.
Malam semakin larut ketika Arka akhirnya kembali ke kamar indekosnya.
Ia duduk di tepi tempat tidur dengan pikiran yang sangat kacau. Kepalanya masih dipenuhi gema percakapan dengan ayahnya tadi. Tuntutan perusahaan seolah mulai merantai lehernya.
Ponsel di saku celananya bergetar.
Alya: Udah sampai kosan belum?
Arka menatap pesan itu. Pikirannya yang kusut mendadak terurai. Sebuah senyum tipis yang tulus merekah di wajahnya.
Arka: Sudah. Barusan banget sampai.
Beberapa detik kemudian tanda 'typing' muncul:
Alya: Sibuk urusan hari ini bikin capek ya?
Arka berpikir sejenak menatap layar.
Arka: Lumayan. Menguras pikiran.
Alya: Kalau begitu, mandi terus langsung istirahat tidur. Besok masih ada hari.
Arka mengetik perlahan:
Arka: Kamu juga. Jangan begadang terus.
Kemudian Alya mengirimkan satu pesan penutup.
Alya: Selamat malam, Arka.
Arka menatap layar itu lekat-lekat, meresapi setiap hurufnya, sebelum membalas:
Arka: Selamat malam juga, Alya.
Ia meletakkan ponselnya di atas nakas. Kamar indekosnya kembali sunyi.
Namun sebelum merebahkan tubuh, Arka membuka laci terkunci di meja belajarnya.
Di bagian terdalam laci itu, terdapat sebuah kotak kecil berbahan beludru hitam. Di dalamnya, tersimpan tumpukan kartu nama berbahan kertas tebal premium.
Desainnya sangat elegan dan minimalis.
Kartu nama itu tidak pernah ia bawa selangkah pun ke area kampus. Tidak pernah ia tunjukkan kepada teman-temannya.
Di bagian tengah kartu tersebut, tertulis satu nama dan satu jabatan:
ARKA PRATAMA Direktur Pengembangan Strategis SKYSEA GROUP
Arka mengambil satu lembar kartu itu dan menatapnya cukup lama. Tangannya mengusap lambang perusahaan yang dicetak timbul.
Kemudian ia menyimpannya kembali dengan gerakan cepat, mengunci laci tersebut rapat-rapat seolah sedang mengunci monster.
Selama empat tahun ini, ia berhasil dengan sempurna memisahkan dua garis kehidupannya.
Arka, sang mahasiswa biasa dari Universitas Bina Bangsa. Dan Arka, pewaris sah dari keluarga penguasa Skysea Group.
Tetapi malam ini, untuk pertama kalinya... ia mulai menyadari dengan perasaan gentar, bahwa kedua jalur kehidupannya itu perlahan mulai bergerak mendekat satu sama lain.
Dan seiring berjalannya waktu... cepat atau lambat... kedua dunia itu pada akhirnya akan bertabrakan dengan sangat keras.
Bersambung...
Arka yang lebih dewasa cara mikirnya "panik juga gak bikin kita bisa terbang" dan kalem nutupin Alya pas ketahuan Dina, bikin Alya yang hidupnya capek jadi artis tuh ngerasa aman, bukan diatur. Bukan yang posesif "kamu gak boleh syuting", tapi yang support "Aku respect sama kamu, Al" habis lihat Alya take 9x.
Itu bedanya age gap yang mateng vs yang maksa. Protective tapi tetap ngasih ruang buat Alya berkarir. Suka banget dinamikanya!
Semangat kak, ditunggu update-nya!
Arka: "Belum tentu, skripsi belum kelar"
AKU SEBAGAI PEMBACA: Arka, skripsimu bisa nunggu, Alya gak bisa! 😭
Next bab tolong Arka jangan ilang dulu, sponsor Alya lagi di ujung tanduk nih!
Alya yang udah 10 tahun dianggap trofi, baru kali ini ada yang ngeliat capeknya sebagai manusia. Dan Alya yang bilang 3x "Jangan pulang dulu" itu gemes banget. Tapi endingnya Riko manajer produksi + nomor portal gosip ngechat "Selamat sore Mas Arka Pratama?" MERINDING. Skysea Group mau kebongkar!
Di sini baru Arka ngerti kenapa Alya bisa jadi aktris bayaran termahal - bukan karena cantik doang, tapi pas kamera nyala, Alya beneran lenyap dan jadi karakternya. Dan Arka yang dateng bawa 2 es kopi langganan mereka 😭 simple tapi sweet banget!
Alya seumur hidup: Langsung hangat dadanya
Kalimat paling tulus di novel ini. No gombal, cuma jujur. Love!