Satu lagi cerita tentang salah satu Garis Keturunan Keluarga Nugraha hadir kembali, Sean, laki-laki yang mengalami kecacatan pada kekuatan Supranatural nya bisa di sempurna kan kembali tanpa terduga, dengan sosok Wanita biasa yang mempunyai tekad kuat di tengah kepungan keterpurukan perekonomian keluarga, bagaimana kelanjutan ceritanya?, yuk kita ikuti_
Salam Autor Sinho, semangat, sehat dan jangan lupa Bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Kuliner Pinggiran di Meja Eksekutif
Jarum jam analog di dinding koridor utama rumah sakit menunjukkan tepat pukul satu siang ketika Lentera melangkah keluar dari area loker staf.
Alih-alih membawa stetoskop atau berkas medis seperti biasanya, tangan kanannya kini menjinjing sebuah boks plastik anyaman kecil berwarna merah muda terang.
Boks itu tampak sangat mencolok, bahkan terkesan salah tempat di antara dinding-dinding rumah sakit yang bercat putih steril dan bernuansa formal.
Hari ini, setelah lelah membagi-bagikan kiriman logistik mewah dari Sean kepada rekan sejawatnya di UGD bawah, Tera memutuskan bahwa ini saatnya untuk membalas budi.
Tentu saja, dengan caranya sendiri yang tidak biasa. Dia berjalan mantap menuju lift khusus eksekutif di sayap barat gedung.
Dengan percaya diri, Tera mengeluarkan sebuah kartu akses darurat berwarna hitam dengan logo emas—kartu yang sengaja diberikan oleh Profesor Baskoro kepadanya atas perintah rahasia Sean beberapa minggu lalu.
Begitu pintu lift berdenting dan terbuka di lantai dua puluh, atmosfer di sekeliling Tera mendadak berubah total. Riuh rendah tangisan pasien, deru roda brankar, dan bau karbol khas UGD bawah lenyap seketika, digantikan oleh keheningan yang anggun dan eksklusif.
Lantai ini dilapisi karpet tebal sewarna kedalaman samudra yang sangat empuk, membuat langkah kaki dari flat shoes murah milik Tera sama sekali tidak mengeluarkan suara saat berjalan menyusuri koridor.
Tera berhenti di depan sebuah pintu ganda besar yang terbuat dari kayu jati berukir megah—pintu masuk menuju ruang kerja pimpinan tertinggi.
Setelah menarik napas panjang untuk mengumpulkan keberanian, dia mengetuk pintu itu sebanyak tiga kali.
"Masuk,"
Sebuah suara bariton yang berat, dingin, dan penuh wibawa terdengar dari dalam.
Tera mendorong pintu kayu besar itu dengan bahunya, lalu melangkah masuk tanpa ragu, membawa gaya tanpa filter yang sudah menjadi ciri khasnya.
Di balik sebuah meja kerja kaca raksasa yang berkilau bersih dari debu, Sean Eagle Nugraha sedang duduk dengan tegak.
Pria itu tengah menatap layar monitor ganda yang menampilkan grafik saham dan laporan analitik rumit. Keningnya berkerut dalam, memancarkan aura ketegasan seorang predator bisnis yang siap menerkam mangsa.
Namun, begitu sepasang mata elang Sean menangkap sosok mungil Tera yang berdiri di ambang pintu sambil menjinjing boks plastik merah muda, garis-garis tegang di wajah tampannya mendadak mengendur secara alami.
Sudut bibirnya hampir saja terangkat, meski ia berhasil menahannya.
"Dokter Tera," ucap Sean, menyandarkan tubuh tegapnya pada kursi kulit premium buatan Italia.
"Apakah kiriman nutrisi berkala pagi tadi masih kurang memuaskan, sampai kamu harus mendatangi ruangan saya di jam istirahat dengan wajah protes seperti biasanya?"
Tera berjalan mendekat tanpa rasa takut sedikit pun. Dengan gerakan santai yang disengaja, dia meletakkan boks plastik merah mudanya tepat di atas tumpukan dokumen laporan keuangan triwulan Nugraha Group yang bernilai miliaran rupiah.
Brak!
Suara hantaman boks plastik itu memecah keheningan ruangan yang kedap suara.
"Tuan Sean yang terhormat," Tera langsung menduduki salah satu kursi tamu kulit mewah di depan meja tanpa menunggu dipersilakan. Dia menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap Sean dengan senyum menantang.
"Kiriman sarapan pagi tadi luar biasa memuaskan, untuk seluruh perawat, dokter residen, bahkan petugas kebersihan di UGD bawah! Kami sampai mengadakan syukuran kecil di konter perawat karena porsi wagyumu itu bisa dipakai untuk pesta rakyat. Nah, karena aku ini anak petani yang tahu adat dan tidak suka berutang budi pada miliarder, siang ini aku bawakan makanan balasan untukmu. Ini kuliner asli, buatan tangan ibuku sendiri di rumah kontrakan."
Sean menurunkan pandangannya, menatap boks plastik merah muda yang tampak sangat kontras dan aneh di atas meja kaca mahalnya.
Jari-jarinya yang kokoh dan bersih bergerak perlahan, membuka pengait plastik boks tersebut dengan hati-hati, seolah-olah dia sedang membuka kotak bom yang siap meledak.
Begitu tutupnya terbuka, aroma yang sangat berbeda dari biasanya langsung menguar memenuhi ruangan eksekutif itu. Tidak ada aroma cumi-cumi impor, saus truffle, atau minyak zaitun premium.
Yang tercium adalah aroma khas minyak goreng, bawang putih, dan ketumbar yang digoreng garing.
Di dalam boks itu, terdapat tiga buah tempe mendoan tebal yang dibalut tepung dengan potongan daun bawang yang royal.
Di sudut lain, ada semangkuk kecil sambal kecap manis dengan ulekan cabai rawit desa yang kasar, serta sebungkus nasi putih yang dibungkus rapi menggunakan daun pisang yang layu karena panas.
"Apa ini?" tanya Sean datar. Alisnya bertaut, menatap tempe mendoan itu dengan kening berkerut seolah sedang meneliti jenis mikroorganisme baru di laboratorium.
"Itu namanya tempe mendoan, Tuan! Makanan legendaris lintas generasi yang kadar gizinya bisa membuat otot-otot kaku di leher bisnismu itu rileks dalam sekali gigit!" cetus Tera heboh.
Dia membuka sebuah kantong plastik kecil dan menyodorkan sepasang sumpit bambu murah—jenis sumpit sekali pakai yang harus dipatahkan terlebih dahulu—yang dia bawa dari warung bawah.
"Ibuku menggorengnya subuh-subuh tadi setelah selesai mencuci baju laundry pakaian tetangga. Nasi putihnya juga sengaja dibungkus daun pisang agar aromanya lebih wangi dan menggugah selera. Ayo, tanggalkan dulu gengsi sultan mu itu dan rasakan makanan asli dari bumi."
Sean menatap sepasang sumpit bambu murahan yang disodorkan Tera, lalu beralih menatap wajah gadis di depannya.
Tera sedang memandangnya dengan binar mata penuh antusiasme, bercampur dengan sedikit rasa ingin tahu yang konyol.
Pria berusia tiga puluh lima tahun itu tidak menolak. Dia mengabaikan sumpit bambu pemberian Tera, lalu dengan santai menggunakan jari-jarinya yang bersih untuk mengambil sepotong tempe mendoan yang masih sedikit hangat.
Tanpa ragu, Sean mencocol ujung tempe tersebut ke dalam sambal kecap yang penuh potongan cabai rawit, lalu memasukkannya ke dalam mulut.
Tera seketika menahan napas.
Jemarinya bertautan di bawah meja, mengamati setiap perubahan ekspresi di wajah Sean dengan cermat. Di dalam benaknya, dia mulai menebak-nebak, Apakah pria ini akan langsung memuntahkannya? Apakah lambung premiumnya yang terbiasa dengan makanan steril berbintang lima akan menolak makanan berminyak ini?
Namun, ekspresi wajah Sean tetap sedatar papan tripleks. Dia mengunyah tempe mendoan itu dengan gerakan pelan, ritmis, dan penuh keanggunan seorang bangsawan.
Sesaat kemudian, gerakan mengunyahnya sempat terhenti selama satu detik. Sepasang mata gelapnya yang biasanya tajam dan dingin tampak sedikit melebar.
Rasa gurih yang kaya dari tepung berbumbu ketumbar, tekstur tempe yang lembut di dalam namun garing di luar, berpadu sempurna dengan manis pedasnya sambal kecap desa buatan Bu Sulis.
Itu adalah sebuah ledakan rasa yang sangat mentah, jujur, dan belum pernah dia rasakan sepanjang hidupnya di dunia kuliner elit.
"Bagaimana, Tuan Sean? Apakah lidah premiummu mendadak mengalami syok anafilaktik karena makanan rakyat jelata?" tanya Tera dengan nada menggoda, senyum jenakanya terkembang lebar.
Sean menelan kunyahan pertamanya dengan tenang. Tanpa sepatah kata pun, tangannya kembali bergerak maju, mengambil potongan tempe mendoan yang kedua dengan gerakan yang kali ini terasa jauh lebih cepat dan tidak sabar dari sebelumnya.
"Rasa ketumbarnya sangat pas," ucap Sean akhirnya, setelah kunyahan kedua selesai.
"Dan sambal kecap ini, memiliki tingkat ketajaman rasa yang menarik. Cukup membakar lidah, tapi membuat ingin mencobanya lagi."
Tera langsung tertawa renyah Mendengar pujian jujur itu. Sebuah tawa lepas dan merdu yang seketika memecah ketegangan di ruang kerja pimpinan yang biasanya terasa dingin dan menakutkan.
Ruangan itu mendadak dipenuhi oleh energi kehangatan yang murni dan menghidupkan.
"Hahaha! Lihat kan? Sudah kubilang! Bahkan seorang raja bisnis berdarah dingin pun tidak akan bisa menolak pesona tempe mendoan hangat buatan Bu Sulis!" seru Tera riang, matanya menyipit membentuk bulan sabit.
"Nasi bungkus daun pisangnya juga dimakan, Tuan Sean. Itu kalau dikombinasikan dengan tempe dan sambal, bisa meningkatkan fokus otakmu seratus persen lebih baik daripada kopi hitam tanpa gula yang biasa kamu minum setiap pagi itu."
Sean menuruti saran itu. Dia membuka bungkusan daun pisang secara perlahan, menikmati makan siangnya yang sangat sederhana di atas meja kaca mahalnya, benar-benar mengabaikan seluruh aturan protokoler kuliner VVIP Nugraha.
Sembari menyuap nasi menggunakan jemarinya, sepasang matanya tidak pernah lepas dari sosok Lentera yang duduk di depannya.
Gadis itu terus bercerita tanpa henti dengan gaya nya yang lepas seputar kejadian-kejadian konyol pasien di UGD bawah, mulai dari pria yang jarinya tersangkut di botol sirup hingga perawat yang salah mengira dokter konsulen sebagai keluarga pasien.
Di dalam hati kecil Sean, rasa damai yang sangat mendalam kembali merayap naik.
Energi supranatural di dalam tubuhnya yang sering kali bergejolak tidak stabil akibat stres dan tekanan kutukan keluarga, perlahan-lahan mulai tenang dan menyeimbang secara sempurna, hebatnya kali ini terjadi tanpa perlu adanya sentuhan fisik sama sekali di antara mereka.
Melihat bagaimana Tera menikmati hidup dengan segala kesederhanaan dan keceriaannya, secara perlahan telah mulai mengetuk dinding tebal di hati Sean, mengubah cara pandangnya yang kaku tentang arti dari sebuah kebahagiaan hidup yang sejati.
Yuk komen, jangan lupa LIKE dan HADIAH nya.
sean anaknya siapa ini?
jd kangen dgn opa dan oma 🤭🤭