**Perjodohan Pembunuh Naga dan Putri Naga**
Veronica, seorang naga setengah manusia, harus menikah dengan Altres Vanguard, kesatria terkenal yang dijuluki pembunuh naga. Pernikahan mereka merupakan syarat perdamaian antara bangsa naga dan manusia yang telah lama bermusuhan. Namun, menyatukan dua makhluk dari ras berbeda bukanlah perkara mudah. Veronica yang tidak memahami kehidupan manusia sering berselisih dengan Altres, sementara Altres sulit menerima kenyataan bahwa wanita yang menjadi istrinya adalah seekor naga.
Di balik pertentangan mereka, tersimpan luka masa lalu yang perlahan terungkap. Veronica kehilangan ibunya yang seorang manusia, menyaksikan bagaimana usia singkat sang ibu memisahkan mereka untuk selamanya. Sementara itu, Altres kehilangan ayah dan kedua kakaknya dalam perang melawan bangsa naga, meninggalkan kebencian yang sulit dihapuskan.
Seiring waktu, keduanya mulai memahami kesedihan dan ketakutan masing-masing. Di antara perbedaan, dendam, dan luka masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EMPIRE RAJA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 kesedihan sang mertua
Setelah puas menikmati makanan di restoran, Erin dan Veronica berjalan menyusuri jalan menuju deretan pertokoan. Emma melangkah di belakang keduanya bersama tiga kesatria yang ditugaskan menjaga mereka, dan langkah sepatu bot para kesatria itu terdengar teratur di atas batu jalan. Veronica melirik ke belakang dengan alis terangkat, jelas tak senang dengan pengawalan sebanyak itu. "Aku tidak butuh mereka, Ibu," bisiknya sambil mendekat ke telinga Erin. "Kalau ada yang berani macam-macam, aku bisa menghadapinya sendiri dengan kekuatanku."
"Itu bukan cara yang benar, Veronica," balas Erin sambil menggeleng pelan tanpa menghentikan langkahnya. "Lagi pula kita datang untuk berbelanja, bukan untuk bertarung. Dengan adanya Emma dan para kesatria itu, kita bisa membawa semua belanjaan tanpa repot sedikit pun."
Veronica mengerucutkan bibir dan melipat tangan di depan perut, tetapi tak membantah lagi. Ia menatap deretan toko di kiri dan kanan jalan, kain-kain warna-warni yang digantung di depan kios, dan para pedagang yang berseru menawarkan dagangan, lalu menghela napas kecil. "Baiklah," gumamnya, "asal mereka tidak berdiri terlalu dekat." Salah satu kesatria di belakang berdehem pelan untuk menyembunyikan tawanya. Erin lalu menggandeng tangannya dan menariknya masuk ke sebuah toko aksesoris yang etalasenya dipenuhi kilau perhiasan. Aroma minyak wangi dan kayu cendana memenuhi ruangan kecil itu, bercampur dengan denting halus lonceng di atas pintu, dan Erin memperhatikan satu per satu barang yang tertata di rak kaca, berharap menemukan sesuatu yang cocok untuk menantunya, hingga pandangannya berhenti pada sebuah hiasan rambut dan bros berbentuk bunga yang halus buatannya. Sementara itu mata Veronica berkilat liar menyapu seluruh isi toko. Sebagai naga yang terbiasa menimbun harta di guanya, ia merasa seluruh benda berkilau itu seharusnya berpindah ke dalam genggamannya, dan jarinya bergerak-gerak kecil seolah ingin menyapu semuanya sekaligus.
Pemilik toko bergegas keluar dari balik meja begitu melihat Erin, tahu bahwa wanita itu adalah ibu Duke Vanguard. "Duchess Erin, sungguh suatu kehormatan," sapanya dengan senyum lebar. Namun senyum itu membeku begitu pandangannya jatuh pada Veronica yang menatapnya tajam, dan tubuhnya mulai gemetar tak terkendali. Ia membungkuk memberi hormat dengan lutut yang bergetar, tak berani mengangkat kepala karena sorot mata naga yang mengintimidasi itu seakan menembus dadanya.
Veronica menyadari tatapannya terlalu tajam, lalu menarik napas dan mengingat pelajaran Erin. Ia menyunggingkan senyum lembut, menegakkan punggung, dan menerima salam hormat itu dengan anggukan kecil yang anggun. "Tolong tunjukkan padaku beberapa aksesori terbaik di toko ini," pintanya dengan nada yang dibuat setenang mungkin. "Aku ingin mencobanya."
Pemilik toko hampir terhuyung karena lega, lalu bergegas membuka lemari-lemari kaca dan mengeluarkan berbagai perhiasan mahal, dari kalung, gelang, hingga cincin bertatah permata yang tersusun di atas kain beludru. Erin mengangkat sebuah kalung, menempelkannya di dekat leher Veronica, lalu memiringkan kepala menilai apakah warnanya cocok. "Yang ini membuat kulitmu terlihat lebih cerah," ucapnya puas sambil memasangkan sebuah bros bunga di dada gaun merah itu.
Veronica menatap bayangannya di cermin kecil, menyentuh kelopak bros itu dengan ujung jari seolah takut merusaknya, dan mengangguk senang, lalu memutar tubuhnya sedikit agar bros itu tertangkap cahaya lampu, tetapi sebelum Erin sempat melepaskannya, ia sudah menyambar sebuah jepit rambut perak berhias batu biru. "Aku juga ingin memilihkan sesuatu untuk Ibu," katanya dengan mata berbinar, sedikit canggung karena belum terbiasa memberi hadiah. Erin tertegun sejenak, lalu tertawa pelan dan menunduk sedikit, membiarkan menantunya menyematkan jepit itu di rambutnya dengan jari-jari yang hati-hati. Keduanya tampak seperti ibu mertua dan menantu pada umumnya yang sedang berbelanja bersama sambil saling menggoda soal selera masing-masing.
"Duchess Erin? Benarkah itu Anda?" Sebuah suara riang membuat keduanya menoleh. Seorang wanita muda berpakaian anggun menghampiri dengan senyum manis, dan Erin mengenalinya sebagai Rose Valen, bangsawan muda dari wilayah Brune. "Sudah lama sekali Anda tidak terlihat di wilayah ini. Kami semua sempat bertanya-tanya ke mana Anda pergi."
"Aku hanya ingin menenangkan diri di desa untuk sementara waktu," jawab Erin ramah sambil membalas senyumnya. "Udara di sana sangat baik untuk pikiran."
Pandangan Rose beralih pada Veronica, dan senyumnya sedikit menipis, meski ia tetap menunduk memberi hormat dengan anggun. Veronica membalas dengan anggukan kecil, tetapi sudut matanya mengeras karena merasakan ketidaksenangan di balik sikap sopan itu, seperti duri yang disembunyikan di bawah kelopak mawar. Ia teringat pesan Erin tadi siang dan menahan diri untuk tetap tersenyum. "Anda sungguh baik hati, Duchess Erin," ucap Rose sambil menyentuh dadanya, suaranya manis dan penuh simpati. "Bisa menerima menantu yang seekor naga, padahal suami dan kedua putra Anda tewas di tangan naga-naga yang kejam."
Udara di dalam toko seolah membeku. Veronica yang sedang memegang cincin permata langsung kaku, dan cincin itu hampir terlepas dari jemarinya. Ia tidak tahu apa pun tentang hal itu, tentang suami Erin, tentang kedua putranya, atau tentang siapa yang membunuh mereka. Perlahan ia menoleh pada Erin dengan wajah murung, seakan baru menyadari ia telah melakukan kesalahan besar dan tak tahu bagaimana menebusnya.
Erin sempat terdiam sepersekian detik, dan jemarinya yang memegang tepi meja tampak memutih. Namun suaranya tetap tenang saat ia menjawab, tangannya diletakkan lembut di lengan Veronica. "Aku sudah tidak mempermasalahkan hal itu, Rose," ujarnya tegas, "dan kurasa itu bukan hal baik untuk diungkit di tempat seperti ini."
Rose menutup mulutnya dengan telapak tangan, matanya membulat dengan keterkejutan yang tampak terlalu rapi untuk disebut tulus, seolah baru menyadari kesalahannya. "Maafkan aku, Duchess Erin. Aku tidak bermaksud membuka luka lama Anda." Ia menunduk sekali lagi, lalu berpamitan dengan senyum yang tak sepenuhnya tulus. "Kalau berkenan, semoga Anda mau mengundangku ke rumah untuk minum teh suatu hari nanti."
"Aku akan mencari waktu yang tepat untuk mengundangmu," sahut Erin sambil tersenyum sopan, dan baru setelah punggung Rose menghilang di balik pintu toko ia menurunkan senyum itu dari wajahnya. Ia menoleh pada Veronica yang masih mematung dengan bahu merosot dan mata yang tak lagi berani menatapnya. "Veronica, kau tidak perlu merasa bersalah. Itu bukan perbuatanmu."
Veronica menggeleng pelan, jemarinya meremas ujung gaun merahnya hingga kainnya kusut. Cincin permata yang tadi ia pegang sudah diletakkannya kembali di atas beludru tanpa ia sadari. "Tapi aku naga, Ibu," gumamnya dengan suara nyaris tak terdengar, matanya menatap lantai toko yang mengilap. "Aku tidak bisa menganggap itu bukan urusanku."
Erin menatap menantunya yang kehilangan seluruh semangat, lalu menghela napas pelan, sadar bahwa nasihat apa pun tak akan menembus kemurungan itu di tengah toko yang ramai. Ia yakin Rose sengaja menyerang Veronica dengan kata-kata seperti itu, dan kini yang terpenting baginya adalah mengembalikan semangat menantunya yang tampak begitu tertekan. "Kita pulang saja hari ini," katanya lembut sambil merangkul bahu Veronica dan mengusap lengannya perlahan. "Belanjanya sudah cukup, dan kita bisa melanjutkannya lain kali kalau kau sudah ingin."
Emma yang memahami suasana segera memberi isyarat pada para kesatria untuk berjaga, lalu keluar dan memanggil kusir agar menjemput mereka. Pemilik toko yang sejak tadi menahan napas di sudut ruangan membungkuk dalam-dalam melepas kepergian mereka, kali ini dengan lega yang tak ia sembunyikan. Di belakang mereka, ketiga kesatria yang tadi terlihat santai kini berdiri tegak dan diam, tak ada lagi yang berani bergurau. Tak lama kereta kuda berhenti di depan toko, dan Erin menuntun Veronica yang masih diam menuju pintu keluar, sementara Emma membawa beberapa belanjaan yang telah dibeli, berjalan mengikuti keduanya dengan langkah pelan. Di dalam kereta, Veronica duduk menunduk dengan kedua tangan terkatup di pangkuan, menatap jepit rambut perak yang masih terselip di rambut Erin, sementara Erin menggenggam tangannya sepanjang jalan pulang tanpa berkata apa-apa lagi, membiarkan roda kereta dan derap kuda mengisi keheningan di antara mereka.