Mita Septia, seorang gadis manis yang berprofesi sebagai Guru PJOK di sekolah terpencil Kecamatan Entikong, kabupateng Sanggau perbatasan Kalimantan Barat dengan negeri jiran Malaysia. Ia telah menjalin hubungan asmara dengan Denis yang menjabat sebagai CSR Supervisor di salah satu perusahaan pertambangan ternama di Kalimantan Barat. Hubungan yang telah berjalan hampir 3 tahun, membuat keduanya berencana meresmikan di akhir tahun. Tetapi kenyataan tak sesuai harapan Mita. Denis telah berpaling hati, hingga membuat rekan kerjanya hamil. Tak bisa menghindari tanggung jawab, Denis melupakan janji yang telah ia susun bersama Mita. Keputusan Denis tentu saja menghancurkan hati Mita, dalam kelukaan atas kabar yang dikirim Denis mempertemukan ia dengan seorang Abdi Negara berpangkat Kapten yang bernama Reihan. Akan kah Kapten Reihan mampu menyembuhkan segala luka yang dialami Mita....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leny Fairuz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Nama yang Mengusik Pikiran
Sementara itu, di bagian lain pos perbatasan, Reihan baru saja menyelesaikan pemeriksaan laporan patroli harian. Sejak pagi, berbagai tugas telah menyita perhatiannya. Mulai dari mengevaluasi hasil patroli malam sebelumnya, memeriksa kesiapan personel, hingga memastikan seluruh kegiatan operasional berjalan sesuai prosedur.
Sebagai seorang kapten yang bertanggung jawab atas keamanan wilayah perbatasan, Reihan terbiasa menempatkan tugas di atas kepentingan pribadi. Baginya, kedisiplinan bukan sekadar kewajiban yang harus dipatuhi, melainkan prinsip yang menjadi dasar setiap keputusan.
Setelah membubuhkan tanda tangan pada lembar terakhir laporan, ia merapikan berkas-berkas di atas meja, kemudian berdiri dan melangkah keluar dari ruang kerjanya.
Udara sore menyambutnya dengan hembusan angin yang membawa aroma tanah kering. Di halaman pos, beberapa anggota sedang mempersiapkan kendaraan untuk kegiatan pelayanan masyarakat di desa sekitar. Sebuah mobil operasional diperiksa kondisinya, sementara dua prajurit lainnya sibuk mengangkat kardus berisi perlengkapan bantuan ke bagian belakang kendaraan.
Suasana terlihat sibuk, tetapi tetap tertib.
Reihan berhenti sejenak di ambang pintu, mengamati aktivitas tersebut. Pandangannya menyapu halaman sebelum akhirnya tertuju pada dua anggota yang sedang berbicara di dekat kendaraan.
Awalnya, ia tidak berniat memperhatikan percakapan mereka. Namun, sebuah nama yang terdengar di antara obrolan itu membuat langkahnya terhenti.
"Mita katanya ikut mendampingi kegiatan sore ini, ya?"
"Iya. Tim dari desa sudah menghubungi panitia. Sepertinya dia akan datang bersama beberapa orang dari kelompok pelayanan masyarakat."
Reihan yang semula hendak melanjutkan langkahnya mendadak terdiam.
Nama itu lagi.
Saat ia berusaha melepas ingatan sesaat atas nama profesionalisme, nama bahkan senyumnya semakin sering muncul dalam pikirannya, bahkan ketika ia sedang berusaha berkonsentrasi pada pekerjaan. Perempuan itu tidak pernah melakukan sesuatu yang istimewa untuk menarik perhatiannya secara berlebihan. Justru kesederhanaannya, caranya berbicara dengan orang lain, dan kepeduliannya terhadap masyarakat membuat Reihan tanpa sadar ingin mengenalnya lebih jauh.
Ia masih mengingat bagaimana Mita berusaha menyelesaikan pekerjaannya meskipun hari itu cukup melelahkan. Ia juga mengingat ekspresi perempuan itu ketika mendengarkan keluhan warga, seolah setiap persoalan yang disampaikan kepadanya benar-benar layak mendapatkan perhatian.
Hal-hal kecil semacam itulah yang perlahan meninggalkan kesan di benaknya.
Reihan mengembuskan napas pelan, kemudian mengalihkan pandangan. Ia tidak boleh membiarkan perasaan pribadi mengaburkan penilaiannya sebagai seorang komandan. Terlebih, Mita bukan anggota satuannya. Perempuan itu memiliki kegiatan dan tanggung jawab sendiri, sementara dirinya harus memastikan setiap personel tetap menjalankan tugas dengan profesional.
Namun, mengetahui Mita mungkin akan terlibat dalam kegiatan sore itu, ada dorongan kecil dalam dirinya untuk memastikan semuanya berjalan lancer dan ia bisa menikmati senyumnya sebagai menyemangat menjelang senja.
Dorongan yang berusaha ia anggap sebagai bagian dari tanggung jawab semata, namun tak bisa ia elakkan.
"Siapa yang bertanggung jawab atas kegiatan sore ini?" pertanyaan itu membuat salah seorang anggota segera menghampirinya.
"Siap, Kapten! Sertu Budi yang mengoordinasikan persiapan awal."
Reihan mengangguk, "Sertu Budi sudah memeriksa kondisi kendaraan dan perlengkapan yang dibutuhkan?"
"Siap, sudah, Kapten. Tinggal mengabsen anggota yang ditugaskan ke lapangan."
"Bagus. Pastikan semuanya aman tanpa kendala. Jangan sampai terjadi miskomunikasi di lapangan. Koordinasikan setiap perubahan dengan penanggung jawab kegiatan."
"Siap, Kapten!"
Anggota itu segera kembali menjalankan tugasnya.
Reihan berdiri beberapa saat di teras, memandangi halaman pos yang semakin ramai. Dari kejauhan, ia melihat Budi sedang berbicara dengan dua anggota lainnya sambil memeriksa daftar perlengkapan.
Budi memang salah seorang prajurit yang dapat diandalkan. Meski masih berada di bawah komandonya, pemuda itu memiliki inisiatif yang baik dan tidak pernah segan mengambil tanggung jawab. Dalam beberapa kegiatan sebelumnya, Budi juga menunjukkan kemampuan berkomunikasi yang cukup baik dengan masyarakat.
Reihan tidak memiliki alasan untuk meragukan kemampuan bawahannya itu.
Setidaknya, sampai saat ini.
Ia tidak mengetahui bahwa beberapa waktu sebelumnya, sebuah percakapan antara Budi dan Yanto telah membuka rahasia yang selama ini disimpan rapat oleh pemuda itu. Ia juga tidak menyadari bahwa Budi kini mulai melihat dirinya bukan hanya sebagai seorang kapten, melainkan sebagai seseorang yang mungkin menjadi saingan dalam urusan perasaan.
Persaingan yang tidak pernah mereka rencanakan.
Persaingan yang bahkan belum tentu disadari oleh perempuan yang menjadi pusat perhatian mereka.
Mita.
Sore semakin bergerak menuju penghujung hari ketika Yanto kembali menghampiri Reihan untuk menyerahkan laporan tambahan. Ia menemukan sang kapten sedang berdiri di dekat meja kerja, memeriksa jadwal kegiatan satuan untuk beberapa hari ke depan.
"Sore, Kapten!"
Reihan mengangkat wajah, "Ada apa, Sersan?"
Ia pun segera duduk di kursi mengalihkan pandangan lurus ke depan.
Yanto berdiri tegak, kemudian menyerahkan dokumen yang dibawanya, “Siap, Kapten. Laporan tambahan untuk kegiatan patroli sektor utara."
Reihan menerima dokumen itu dan membuka lembar terakhir, "Sudah diperiksa?"
"Sudah, Kapten. Saya juga sudah mencocokkan data personel dengan laporan sebelumnya."
Reihan mengangguk singkat. Namun, Yanto belum segera beranjak pergi. Ia justru berdiri di tempatnya dengan ekspresi yang berusaha dibuat sesantai mungkin.
Reihan meliriknya, "Masih ada yang ingin kau sampaikan?"
"Tidak ada apa-apa, Kapten. Saya hanya ingin memastikan Kapten tetap fokus pada tugas."
Tangan Reihan yang sedang membalik halaman laporan berhenti sejenak. Ia mengangkat wajah dan menatap bawahan sekaligus sahabatnya itu dengan sorot mata penuh kecurigaan, "Kenapa tiba-tiba kau peduli sekali?"
Yanto memasang senyum lebar, "Karena saya prajurit yang penuh perhatian, Kapten."
"Begitu?"
"Siap!"
Reihan menyipitkan mata, "Kau sedang merencanakan sesuatu?"
Yanto hampir tertawa mendengar pertanyaan itu. Seandainya Reihan tahu apa yang baru saja dibicarakannya dengan Budi, mungkin atasannya itu tidak akan sesantai sekarang.
Namun, Yanto segera menahan diri, “Tidak, Kapten."
Reihan kembali menunduk, membubuhkan tanda tangan pada laporan yang telah diperiksanya. Ia mengenal Yanto terlalu lama untuk tidak menyadari perubahan kecil dalam sikap sahabatnya itu.
Mereka telah melewati banyak hal bersama sejak mengikuti pendidikan militer di Magelang. Yanto mengenal Reihan bukan hanya sebagai seorang perwira yang tegas, tetapi juga sebagai laki-laki yang terkadang menyembunyikan persoalan pribadinya di balik sikap tenang.
Sebaliknya, Reihan pun memahami kebiasaan Yanto yang kerap menggunakan humor untuk menutupi sesuatu.
Karena itulah, senyum Yanto justru membuatnya semakin curiga.
"Sersan."
"Siap, Kapten!"
"Saya tahu kau sedang memikirkan sesuatu."
Senyum Yanto menegang sesaat, "Siap, Kapten?"
Reihan meletakkan pena, kemudian bersandar pada kursinya.
"Kau boleh saja menyimpan rahasia pribadi. Saya tidak punya kepentingan untuk mencampuri urusanmu selama tidak mengganggu tugas. Tetapi, saya tidak suka jika ada sesuatu yang berpotensi menimbulkan masalah di antara anggota dan saya justru menjadi orang terakhir yang mengetahuinya."
Yanto terdiam. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi cukup untuk membuatnya berpikir ulang mengenai apa yang telah dilakukannya.
Ia memang ingin membantu Budi. Ia ingin sahabatnya itu berani memperjuangkan perasaannya, alih-alih terus menyimpan harapan tanpa pernah mengambil langkah. Namun, ia juga menyadari bahwa Reihan memiliki kedekatan dengannya yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Jika persoalan ini berkembang menjadi kesalahpahaman, bukan hanya perasaan ketiga orang itu yang akan terpengaruh. Hubungan profesional di dalam satuan pun berpotensi menjadi canggung.
"Siap, Kapten. Saya mengerti."
Reihan memperhatikan wajahnya selama beberapa detik, seolah sedang menimbang apakah jawaban itu cukup meyakinkan.
"Bagus. Jangan sampai apa pun yang kau pikirkan mengganggu tugasmu."
"Siap, Kapten!" Yanto memberi hormat, kemudian berbalik menuju pintu.
Namun, sebelum ia sempat melangkah keluar, suara Reihan kembali terdengar, “Sersan."
Ia menoleh, "Siap, Kapten?"
"Bagaimana persiapan kegiatan pelayanan masyarakat sore ini?" Reihan berusaha menelisik apa yang tersembunyi di benak bawahannya itu.
Pertanyaan itu membuat Yanto terdiam sepersekian detik, "Sejauh ini baik, Kapten. Sertu Budi sedang mengoordinasikan persiapan akhir."
Reihan mengangguk, "Pastikan semua berjalan sesuai rencana."
"Siap." Yanto kembali memberi hormat, lalu meninggalkan ruangan.
Di sepanjang lorong, langkahnya terasa lebih lambat daripada biasanya. Ia tahu Reihan tidak sedang menginterogasinya. Sahabatnya itu hanya menjalankan tanggung jawab sebagai seorang komandan. Namun, justru karena mengenal Reihan dengan baik, Yanto memahami bahwa lelaki itu bukan tipe orang yang mudah melepaskan sesuatu ketika sudah merasa ada yang tidak beres.
Dan kali ini, ada sesuatu yang memang tidak beres.
Bukan karena Budi melakukan kesalahan. Bukan pula karena Reihan memiliki perasaan terhadap perempuan yang sama. Masalahnya terletak pada kemungkinan bahwa keduanya belum benar-benar memahami apa yang sedang mereka hadapi.
Budi baru saja memperoleh keberanian untuk mengakui perasaannya sendiri. Sementara itu, Reihan menyadari bahwa perhatiannya terhadap Mita mungkin telah melampaui batas ketertarikan biasa. Tapi belum berani mengambil Keputusan.
Jika keduanya terus berjalan tanpa mengetahui posisi masing-masing, suatu saat mereka mungkin akan berhadapan dengan kenyataan yang tidak mudah diterima.
Yanto mengusap tengkuknya. Ia ingin membantu Budi, tetapi tidak ingin mengkhianati kepercayaan Reihan. Ia ingin sahabatnya yang lebih muda itu mendapatkan kesempatan, tetapi tidak ingin membuat Reihan merasa dipermainkan.
Untuk pertama kalinya, menjadi orang yang mengetahui terlalu banyak rahasia terasa jauh lebih sulit daripada yang pernah dibayangkannya.
Dan ia mulai menyadari bahwa persoalan ini mungkin tidak akan sesederhana yang ia kira.