Merelakan masa mudanya merantau demi modal bisnis, Nesa berhasil membangun brand kosmetiknya seorang diri. Sebagai wujud bakti, ia memberikan posisi nyaman di perusahaan untuk kakak kandungnya, Sasya, dan mempercayakan hatinya pada Dika, suami yang dipacarinya sejak SMA.
Namun, dunia Nesa runtuh seketika saat ia mendapati kenyataan paling menjijikkan: Dika berselingkuh dengan Sasya. Di saat yang sama, Sasya memanfaatkan fasilitas perusahaan untuk merintis skincare tandingan di bawah dukungan penuh Dika. Syok luar biasa akibat pengkhianatan berlapis itu merenggut nyawa bayi yang tengah dikandung Nesa.
Berada di titik terendah setelah keluar dari rumah sakit, air mata Nesa berubah menjadi bara. Mengabaikan rasa sakitnya, Nesa bersiap membalas setiap tetes air matanya, membongkar kebusukan suami dan kakak kandungnya, serta merebut kembali apa yang sepenuhnya menjadi hak miliknya.
Satu Atap, Seribu Dusta ketika bakti dibalas duri dan pengkhianatan harus dibayar mahal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SATU ATAP SERIBU DUSTA
Suara mesin mobil sedan hitam bergemuruh pelan di halaman depan, meninggalkan jejak asap tipis yang bergesekan dengan udara pagi ibu kota. Dari balik jendela kaca kamar utama di lantai dua, Nesa berdiri mematung. Tatapannya lurus menembus tirai tipis, memerhatikan sosok Dika yang melangkah masuk ke dalam mobil setelah melambaikan tangan perpisahan yang terakhir kalinya.
Begitu mobil itu berbelok keluar gerbang perumahan elite dan menghilang di tikungan jalan, Nesa menghembuskan napas panjang. Udara di dalam kamar mendadak terasa begitu tipis dan menyesakkan. Tangannya yang sejak tadi mencengkeram erat piyama tidur perlahan melemas. Ada rasa hampa, namun di saat yang sama, ada pula adrenalin yang berdesir tajam di sekujur tubuhnya.
Keberangkatan Dika pagi ini bukanlah sebuah akhir dari tanda tanya, melainkan awal dari babak baru yang jauh lebih berbahaya.
Nesa melirik jam dinding di atas nakas yang menunjukkan pukul tujuh lebih seperempat. Tidak ada waktu untuk bermuram durja atau meratapi kecurigaan yang belum terbukti. Sebagai CEO NesAura Skincare, ia harus bergerak cepat sebelum jejak-jejak digital yang ditinggalkan oleh sindikat pengkhianat di perusahaannya keburu dihapus atau dibersihkan.
Nesa segera bergegas membersihkan diri, mengenakan setelan blazer formal berwarna navy yang tampak rapi namun longgar di bagian perutnya untuk melindungi kehamilan tiga bulannya, lalu melangkah turun ke lantai bawah. Sebelum berangkat ke kantor, ia meraih ponselnya dan mengirimkan pesan singkat rahasia kepada Bila, asisten setianya.
"Bil, aku langsung ke kantor sekarang. Jangan sambut aku di lobby. Langsung kunci ruanganku dari dalam begitu aku tiba. Ada hal penting yang harus kita lacak pagi ini."
Tak lama berselang, mobil yang dikemudikan oleh sopir pribadi Nesa membelah jalanan ibu kota yang mulai padat oleh kendaraan. Setibanya di gedung pencakar langit NesAura Skincare, Nesa melangkah masuk melalui lift eksekutif khusus direksi yang langsung membawanya ke lantai paling atas. Suasana koridor lantai tersebut tampak tenang, steril, dan sibuk seperti biasa. Namun, bagi Nesa, setiap sudut dinding kaca di sana kini terasa menyimpan rahasia kelam yang siap meledak kapan saja.
Begitu pintu ruang kerjanya tertutup rapat dan terkunci dari dalam, Bila sudah berdiri di dekat meja kerja dengan tablet digital di tangannya. Wajah asisten muda itu tampak pucat, menyiratkan bahwa ia baru saja menemukan sesuatu yang jauh lebih mengejutkan daripada temuan kemarin malam.
"Bu Nesa... Anda sudah datang," sapa Bila setengah berbisik, langsung menyerahkan tablet digital tersebut ke tangan Nesa. "Sebelum Ibu tiba di kantor, saya sempat mengecek ulang metadata dari agensi periklanan yang menangani produk tiruan Glow Series kemarin. Dan... ada satu hal besar yang terlewat oleh kita."
Nesa menatap layar tablet dengan kening berkerut. "Terlewat apa, Bil? Coba jelaskan pelan-pelan."
Bila menarik napas dalam-dalam, menelan ludahnya sebelum melanjutkan. "Kemarin kita fokus pada tanda tangan otorisasi anggaran yang ditandatangani oleh Ibu Sasya selaku Kepala Divisi Humas. Tapi, setelah saya menelusuri aliran transaksi dana digital dari rekening agensi periklanan itu lebih mendalam, dana hasil penjualan produk tiruan tersebut ternyata tidak berhenti di rekening agensi."
Jantung Nesa berdegup kencang. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya tajam menatap grafik aliran keuangan yang terpampang di layar. "Lalu? Ke mana dana itu mengalir?."
"Dana itu ditransfer secara bertahap dalam nominal besar ke sebuah rekening penampung sekunder," ungkap Bila dengan suara gemetar. "Dan setelah saya melacak pemilik sah dari rekening sekunder tersebut... nama yang terdaftar di bank bukanlah atas nama Ibu Sasya."
Nesa menahan napasnya. Tenggorokannya mendadak tercekat. "Bukan... Kak Sasya? Kalau begitu, milik siapa?."
Bila mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam manik mata Nesa dengan sorot penuh kepedulian dan kehati-hatian. "Rekening itu terdaftar atas nama sebuah perusahaan cangkang (shell company) fiktif yang dikelola oleh agen independen. Tapi, alamat domisili hukum dan verifikasi email pembuat akun tersebut... terhubung langsung dengan nomor identitas dan e-mail pribadi milik Bapak Dika suami Anda sendiri."
Bumm!
Dunia di sekitar Nesa seketika runtuh dalam satu detik. Suara di dalam ruangan itu mendadak senyap, menyisakan deru napasnya yang memburu dan dengung tajam di kedua telinganya.
"Dika? Suaminya? Pria yang selama bertahun-tahun merawatnya, pria yang selalu menggenggam tangannya dengan penuh kehangatan, pria yang tadi pagi mencium keningnya sebelum berangkat ke luar kota... adalah dalang utama di balik perusahaan cangkang yang menampung uang hasil pengkhianatan terhadap perusahaannya sendiri?."
Nesa menggelengkan kepalanya perlahan, air matanya serta-merta tumpah membasahi pipinya. "Tidak... Tidak mungkin, Bil! Kamu pasti salah mengecek data. Dika suamiku! Dia tidak mungkin berbuat sekejap itu padaku!" teriak Nesa frustrasi, menolak mentah-mentah kenyataan pahit yang menghantam ulu hatinya bagaikan hantaman palu godam.
Bila tidak membantah. Ia membiarkan atasannya meluapkan emosi, meski hatinya sendiri terasa perih melihat kehancuran di wajah Nesa. Bila tahu persis, kebenaran ini terlalu kejam untuk diterima oleh seorang perempuan yang tengah berbadan dua dan mencintai suaminya setengah mati.
"Bu Nesa, saya sangat berharap saya salah," ucap Bila lirih, memegang pundak Nesa dengan lembut. "Tapi data digital tidak bisa dimanipulasi. Selama ini, Ibu Sasya mungkin memang bertindak sebagai pihak depan yang arogan dan menonjol di kantor sehingga semua orang, termasuk karyawan, secara otomatis menuduh beliau sebagai biang keladinya. Tapi di balik layar... suami Anda dan kakak Anda tampaknya bekerja sama secara rapi. Ibu Sasya memegang kendali promosi, sementara Pak Dika mengatur celah operasional dan aliran dananya."
Mendengar nama Sasya dan Dika disebut dalam satu kalimat pengkhianatan yang sama, pertahanan diri Nesa benar-benar hancur berkeping-keping. Selama ini ia membela Sasya karena nasihat Dika. Selama ini ia mempercayai Dika karena pria itu selalu melindunginya dari kemarahan Sasya. Ternyata, itu semua adalah skenario busuk yang dimainkan oleh dua orang paling ia sayangi di bawah satu atap rumah yang sama.
Mereka berdua tidak sedang saling berseteru; mereka sedang bersekongkol untuk merampas dan menghancurkan seluruh jerih payah hidup Nesa dari titik yang paling tak terduga.
Di tengah Isak tangisnya yang tertahan, Nesa tiba-tiba teringat sesuatu. Koper hitam yang disiapkan Dika pagi tadi. Alasan darurat tentang masalah teknis logistik di pabrik cabang luar kota.
Itu semua adalah kebohongan besar. Dika tidak pergi ke luar kota untuk mengurus pabrik pria itu pergi untuk menemui sindikat produsen produk tiruan Glow Series atau mengamankan aset hasil pengkhianatan mereka sebelum kedoknya terbongkar.
"Dia... dia pergi ke luar kota bukan karena urusan pabrik..." gumam Nesa dengan suara bergetar hebat, air matanya menetes deras tanpa henti. Tangannya meraba perut buncitnya secara refleks, seolah melindungi bayi yang tidak tahu apa-apa di dalam kandungannya dari badai kehancuran yang sedang melanda hidup ibu mereka.
Bila menatap Nesa dengan cemas. "Bu, apa yang harus kita lakukan sekarang? Kalau dugaan kita benar, kepergian Pak Dika ke luar kota pasti ada kaitannya dengan gudang penyimpanan rahasia tempat produk tiruan Glow Series itu diproduksi massal."
Nesa menarik napas panjang, berusaha keras mengumpulkan serpihan-serpihan harga diri dan keberaniannya yang tersisa. Air matanya diseka dengan punggung tangan. Di balik sorot matanya yang sembab, sebuah kilatan tekad yang dingin dan tajam mulai menggantikan kepedihan. Ia bukan lagi perempuan lemah yang bisa dibohongi dan dimanipulasi semaunya.
"Bil," ucap Nesa dengan suara tegas, dingin, dan penuh wibawa seorang CEO sejati. "Hubungi Miya dan Kara sekarang juga. Katakan pada mereka, kita butuh melacak tiket penerbangan atau plat nomor kendaraan yang digunakan Dika pagi ini. Kita harus tahu ke mana persisnya suami tercintaku itu pergi."
Bila mengangguk cepat. Ia segera meraih ponselnya untuk menghubungi kedua sahabat Nesa.
Di luar jendela ruangan CEO, langit ibu kota tiba-tiba mendung, bersiap menurunkan hujan deras yang akan membasahi bumi seolah menjadi saksi atas hancurnya sebuah mahligai rumah tangga yang dibangun di atas fondasi kebohongan dan duri pengkhianatan. Nesa bersumpah di dalam hatinya, ia akan membongkar topeng busuk itu dengan tangannya sendiri, apapun taruhannya.