Sambil membawa surat hasil pemeriksaan kehamilannya, Kinan berlari menuju ruangan suaminya. Dia tidak sabar menyampaikan pada suaminya kalau dia hamil. Tapi saat akan membuka pintu,
"Bima, istriku mengantarkan istrimu ke rumah sakit. Katanya ke dokter kandungan, mungkin Kinan hamil. Lantas bagaimana dengan Agnes?"
"Bagaimana apanya? tiga tahun ini baik-baik saja kan? tinggal 2 tahun lagi, Agnes tidak perlu lagi sembunyi di luar negeri!"
Deg
Mata Kinan memerah, wanita yang telah menabrak ibunya hingga tewas. Dan mendapatkan hukuman selama lima tahun di penjara, bagaimana bisa berada di luar negeri?
"Kamu keterlaluan, kalau sampai Kinan mengetahuinya. Dia akan sangat marah padamu! jangan bawa-bawa aku ya, Bella itu sahabat baik Kinan. Kalau dia tahu, habislah aku!"
Hati Kinan hancur mendengar suaminya malah tertawa.
"Dia tidak akan tahu, kalaupun tahu dia bisa apa? Kinan sudah tidak punya siapa-siapa selain aku. Satu kata dariku, dia akan patuh!"
'Tega kamu mas' batin Kinan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Pengacara Gustaf, Rudi, Bella dan Kinan sudah turun dari dalam mobil. Mereka berjalan dengan cukup cepat menuju ke villa Agnes.
Sementara di dalam villa. Makan malam yang juga di hadiri tiga teman Agnes berlangsung santai. Bima yang tadi datang dengan kado di sambut dengan begitu hangat oleh Agnes.
"Sepertinya kami menganggu, kalian jadi canggung tidak mengobrol sejak tadi" kata wanita yang berambut keriting.
"Tidak juga, Bima memang tidak banyak bicara. Tapi aku tahu, dia sangat mencintaiku!"
"Manis sekali!"
"Tadi kadonya apa?" tanya yang hidungnya mancung.
"Aku belum buka, akan aku buka berdua dengan Bima nanti!"
Ting tong
Suara bel terdengar dari luar. Pelayan villa tentu saja membuka pintunya.
"Kalian mau cari siapa?" pelayan itu berusaha menghalangi Bella yang memang sejak tadi sudah sangat gemas ingin melihat perselingkuhan Bima dan Agnes.
Bella yang pertama kali masuk, semua orang di ruang makan, segera menoleh ke arah Bella.
Agnes sampai berdiri, dia tentu saja kenal Bella. Bella beberapa kali menemani Kinan saat proses persidangan.
"Bella Tanisa!"
Mendengar suara Agnes menyebut nama Bella. Bima yang sejak tadi hanya fokus pada ponselnya menoleh. Tapi, arah pandangannya bukan tertuju pada Bella. Melainkan pada Kinan yang berjalan di belakang Bella.
"Kinan!" suara Bima terdengar seperti orang yang benar-benar terkejut.
"Cih! ternyata benar kamu menyembunyikan pembunuhh ini di sini? dasar pasangan selingkuh busuk tidak tahu diri!" pekik Bella dengan mata merah berkaca-kaca, dan wajah merah padam.
Ketiga teman Agnes tentu saja sangat terkejut. Mereka saling pandang, dan kemudian memutuskan pergi dari tempat itu. Mereka berasal dari keluarga ternama, tidak mau juga sampai terlihat masalah. Ketiganya langsung kabur.
Bima baru saja mau melangkah maju untuk menghampiri Kinan. Tapi, Agnes sudah lebih dulu merangkul lengan Bima. Sementara Rudi juga sudah mulai merekam dengan kamera di pulpen yang ada di saku jasnya.
"Bima..." lirih Agnes takut.
Meski langkahnya terhenti, tapi tatapan Bima terus tertuju pada Kinan.
"Kinan..."
"Jadi, selama tiga tahun ini. Setiap tanggal di bulan ini, kamu selalu bilang ada urusan pekerjaan di luar negeri. Itu bohong?" tanya Kinan dengan suara rendah.
Kinan sungguh tidak marah, dia hanya mencoba menahan diri, menahan keinginan untuk menjambakk rambut Agnes. Karena Rudi butuh waktu untuk bisa merekam semua yang terjadi sebagai bukti.
Bima tampak gelisah, mungkin ada rasa bersalah di dadanya. Sikapnya benar-benar tak sekeras biasannya.
"Jadi, selama tiga tahun. Kamu sembunyikan orang yang harusnya mendekam di penjara. Di villa mewah ini?" tanya Kinan lagi dengan suara yang masih sama datarnya dengan sebelumnya.
Bella mendengus kesal, dia mundur dan membiarkan Kinan bicara. Kalau dia yang bicara, itu semua nama-nama hewan buas yang ada di kebun binatang bisa keluar semua.
Bima semakin terlihat gusar. Tatapan matanya bergetar.
"Jadi, kamu bersikap sangat baik selama ini. Hanya untuk membuatku berpikir, kalau wanita itu sudah mempertanggungjawabkan perbuatannya di penjara?"
"Kinan..." lirih Bima.
"Dia harusnya mendekam di penjara, Bima!" pekik Kinan.
Akhirnya suara itu meninggi. Tadinya Kinan hanya fokus pada Bima. Jadi, dia tidak begitu emosional. Tapi begitu sudut matanya melihat ke arah perempuan yang merangkul lengan Bima dan sedikit memeluk Bima itu. Emosinya tidak lagi dapat dia tahan.
Bayangan masa lalu melintas begitu saja. Bagaimana mobil itu bahkan menabrak dengan sengaja ibunya, padahal ibunya sudah berada di tepi jalan. Bagaimana ibunya berusaha bangkit tapi di tabrak lagi oleh Agnes dengan mobilnya. Dalam keadaan mabukk, beraninya wanita itu mengemudikan mobilnya di jalan raya, hingga menjaga ibunya meninggal.
Tangan Kinan terkepal, kebenciannya pada Agnes sungguh sudah sampai merasuk ke dalam tulang.
Dan tanpa bisa dia kendalikan air mata Kinan mengalir begitu saja. Air mata yang keluar sangking marahnya.
"Bima, aku takut!" lirih Agnes semakin memeluk erat lengan Bima.
"Kinan, dengarkan penjelasanku..."
"Kamu kejam Bima!" ungkap Kinan yang kembali mengarahkan pandangan pada Bima, "kamu benar-benar orang yang sangat kejam. Kamu menempatkan orang yang harusnya tinggal di tempat dimana dia bisa instrospeksi diri, mempertanggungjawabkan perbuatannya. Di villa mewah dengan segala fasilitas yang sangat mempermudah hidupnya. Dengan begini dia tidak akan pernah menyesal Bima. Lihat bagaimana dia!" kata Kinan menunjuk ke arah Agnes.
Dan ketika hal itu dia lakukan, dadanya kembali bergemuruh.
"Dia bahkan tidak terlihat menyesal sedikit pun! kamu memberinya uang saku 200 juta setiap bulan, kamu memanjakan seorang pembunuhh. Kamu sangat kejam, Bima!"
Pengacara Gustaf mendekati Bella.
"Waktu rekaman sudah cukup!" kata pengacara Gustaf berbisik pada Bella.
Bella segera menganggukkan kepalanya. Dia melihat Rudi sudah mematikan kamera perekam di pulpennya.
Bella yang memang sangat murka, segera berjalan ke arah meja makan. Dia menarik taplak meja dari sudut dengan sangat kuat.
Prangg
Prangg
Semua makanan, gelas, piring, kue dan semua yang ada di atas meja terjatuh ke lantai dengan sangat keras.
Agnes semakin memeluk erat lengan Bima. Dan wanita itu entah bagaimana, cepat sekali sudah terisak-isak.
"Bima... hiks... hiks..."
Bima jadi sangat bingung, tapi pada akhirnya dia menepuk lengan Agnes beberapa kali dengan sangat lembut. Kinan melihat itu dengan kelas. Dan Kinan tersenyum getir.
"Bahkan kamu sangat berusaha menenangkannya" kata Kinan menyindir.
"Kinan, kita bicarakan ini baik-baik. Kamu tidak bisa datang dan menakutinya seperti ini! Kinan, aku salah. Aku akui aku salah, aku sudah katakan kompensasi apapun yang kamu mau..."
"Aku mau cerai!"
Mulut Bima terkatup rapat. Lagi-lagi kata itu yang Kinan ucapkan.
Bella berjalan ke arah mereka lagi setelah melampiaskan rasa kesalnya. Dan saat dia berjalan melewati Bima dan Agnes.
"Agkkkk!"
Bima yang tadinya fokus pada Kinan, terkejut karena Agnes berteriak.
Dan penyebabnya adalah Bella. Bella sengaja menarik kuat rambut Agnes, menjambakk wanita itu sampai kepalanya tertekuk ke arah belakang beberapa detik.
"Bima, sakit!" lirih Agnes lagi dengan air mata berderaian di wajahnya.
"Sudahlah Kinan. Tidak ada gunanya bicara dengan bahasa manusia untuk dua iblis yang ada di depan kamu itu. Bima Dirgantara, kamu telah melakukan sebuah kejahatan yang tidak mungkin Kinan maafkan. Jadi, kami juga tidak akan menghabiskan waktu kami untuk dua bedebah seperti kalian. Yang satu pembunuhh yang satu lagi munafik. Kalian berdua, siap-siap saja. Kasus tiga tahun yang lalu, akan kami buka kembali!" tegas Bella.
Bima dan Agnes kaget bukan main. Bima segera menatap Kinan. Berharap istrinya tidak benar-benar melakukan itu.
"Kinan..."
"Bima, sampai bertemu di pengadilan!" kata Kinan dengan penuh keyakinan.
***
Bersambung...