Tiga tahun Alyssa Kirana Sastro duduk di meja makan keluarga Narendra, dan tiga tahun pula ia dituduh jadi penyebab lumpuhnya Nadine. Suaminya, Devan, tak pernah mau mendengarnya.
Malam ini Alyssa meletakkan surat gugatan cerai dan cincin nikahnya di meja kerja Devan, lalu pergi tanpa membawa apa pun. Dua jam kemudian, mobilnya ditemukan hancur di dasar jurang. Jasadnya tidak ada.
Devan masih ingin percaya itu hanya drama. Namun di rumahnya tertinggal selembar catatan.
Ke mana Alyssa pergi, dan apa yang akan Devan lakukan saat sadar apa yang sudah ia buang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zikri Cahyandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taruhan Nyawa
Jeritan Siska membelah kamar penthouse yang remang, melengking sampai suaranya sendiri patah.
Pecahan botol aerosol berserakan di marmer. Wanita itu jatuh berlutut di samping tubuh putranya. Kulit leher dan dada Devan memerah, melepuh di bawah kemeja yang basah.
"Devan... bangun!" Tangan Siska yang gemetar meraba dada anaknya. "Bukan kamu. Ibu tidak berniat menyemprotmu!"
Di belakang Alyssa, Sarah terpaku. Pisau bedahnya sudah jatuh, dan wajahnya pucat. Rencana yang ia kira sempurna baru saja berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali.
Alyssa tidak menyia-nyiakan celah itu. Kedua tangannya masih terikat, tapi siku kanannya menghantam rusuk Sarah dengan seluruh tenaga. Sarah terhuyung dan menabrak tepi meja rias.
Pintu ganda terhempas terbuka.
Vito menerobos masuk bersama lima personel taktis. Senter senjata membelah gelap.
"Jangan bergerak! Angkat tangan!"
Sarah lari ke pintu balkon, tapi dua polisi menjatuhkannya ke lantai dan memborgol tangannya. Dua polisi lain mengangkat Siska dari samping tubuh Devan. Wanita itu tidak melawan. Pandangannya terkunci pada putranya, mulutnya hanya mengulang satu nama.
Vito memotong tali nilon di pergelangan Alyssa. "Nona! Anda terluka?"
Alyssa tidak menjawab. Ia sudah berlutut di sisi Devan, dua jarinya menekan leher laki-laki itu. Nadinya lemah dan tidak teratur. Dadanya nyaris tidak bergerak.
"Panggil tim medis di bawah!" Suaranya bergetar, dan ia sudah berhenti peduli. "Sekarang!"
***
Dua petugas medis gedung berlari masuk membawa tabung oksigen dan kantong resusitasi.
"Paparan organofosfat dosis tinggi!" seru yang pertama sambil memasang masker. "Saturasi di bawah enam puluh!"
"Atropin dua miligram, sekarang!"
Auto-injector menembus kain celana di paha Devan. Tubuhnya berkedut sekali, tapi napasnya tidak kembali.
"Pindahkan ke rumah sakit. Sepuluh menit, tidak lebih!"
Empat orang mengangkat Devan ke tandu lipat. Alyssa berdiri dengan tangan yang masih bernoda cairan itu, lalu menyusul tanpa menoleh.
Aris muncul di ambang pintu dengan napas terengah, jasnya kusut. "Nona, tolong tetap di sini bersama pengawal. Rumah sakit mungkin belum..."
"Saya ikut, Aris."
"Tapi..."
"Saya ikut."
Aris menutup mulutnya. Ia menatap punggung Alyssa yang menghilang ke lift, lalu menoleh ke Vito.
"Kartu saya digandakan," katanya pelan. "Saya sadar dari log lobi dan langsung memanggil polisi. Teleponnya diblokir. Itu sebabnya saya tidak bisa dihubungi."
Vito mengangguk. Matanya tidak ikut lega. "Berarti ada yang punya akses ke kartu itu minimal tiga hari terakhir."
Keduanya tidak melanjutkan. Sirene sudah meraung di bawah.
***
Ambulans menerobos Sudirman dengan sirene penuh menuju Rumah Sakit Medika Utama.
Di kabin belakang, Alyssa duduk di samping tandu. Dua petugas menekan dada Devan bergantian. Kurva di layar monitor bergerak tidak stabil.
Ia meraih tangan kanan Devan. Dingin, kaku, jemarinya setengah terkepal. Ada sesuatu yang terjepit di antara jarinya.
Alyssa mengurai genggaman itu pelan-pelan.
Di telapak tangan Devan terbaring cincin perak murah, cincin pernikahan yang dulu ia tinggalkan bersama semua yang lain. Devan menyimpannya di saku jasnya sepanjang malam. Ia menggenggamnya bahkan saat melompat menghalangi semprotan itu.
Air mata yang ditahan Alyssa sejak malam tadi jatuh ke cincin itu.
Tiga tahun ia berjanji tidak akan memaafkan laki-laki ini. Tiga tahun ia memelihara benci seperti api kecil yang tidak boleh padam. Malam ini api itu tidak menemukan apa pun untuk dibakar.
"Kenapa?" bisiknya, menempelkan cincin itu ke kening Devan yang dingin. "Kenapa kamu harus sebodoh ini?"
Monitor berbunyi nyaring. Garis di layar berubah menjadi getaran kacau, tanpa irama.
"Fibrilasi ventrikel! Siapkan defibrilator, dua ratus joule!"
Dua dayung menempel di dada Devan.
Brak.
Tubuh Devan terangkat dari tandu, lalu jatuh lemas.
"Belum ada respons! Tiga ratus!"
Alyssa memegang dinding kabin erat-erat. Matanya terpaku pada layar yang seolah menyedot napas dari dadanya.
Brak.
Garis di layar bergetar, berhenti, lalu muncul satu puncak tipis. Disusul satu lagi.
"Nadi kembali! Tekanan empat puluh per tiga puluh!"
Ambulans mengerem di depan UGD. Pintu terhempas dan tim dokter menyambut tandu itu tanpa bicara.
***
Dua jam kemudian, lantai empat Unit Perawatan Intensif.
Lampu merah di atas pintu ruang resusitasi masih menyala. Di depan kaca buramnya, Alyssa berdiri menatap pantulan dirinya sendiri. Blazer putih gadingnya ternoda racun dan darah Devan di bagian lengan.
Dua polisi berjaga di ujung koridor. Rumah sakit ini baru saja dipakai Siska untuk kabur, dan tidak ada yang mau mengulangi kesalahan itu.
Aris datang membawa dua cangkir kopi kertas. Alyssa tidak menyentuhnya.
"Siska dan Sarah sudah diamankan di Polda," lapor Aris pelan. "Siska terus memanggil nama Devan di selnya. Dokter jiwa menilai kondisinya berat."
"Ambulans yang di Puncak?"
"Tim Vito menemukannya di Km 45. Kosong. Sopirnya dibayar tunai oleh orang yang tidak dikenal, dan tidak pernah melihat wajahnya."
Alyssa mengangguk tanpa suara. Umpan, persis seperti dugaan Devan sebelum ia berangkat ke Tower. Laki-laki itu benar sejak awal, dan ia membayar kebenarannya malam ini.
Semua musuh yang dulu menghancurkannya sudah tumbang. Wira dan Henry di tahanan, Siska di sel, hak suara dan aset Mahendra Corp kembali ke tangannya. Kemenangan yang ia rancang bertahun-tahun sudah digenggam.
Dadanya kosong.
Pintu kaca terbuka. Dokter kepala tim toksikologi keluar sambil melepas masker.
"Bagaimana, Dokter?"
"Kami berhasil menetralkan sebagian besar racun dengan atropin dan pralidoksim dosis tinggi."
"Artinya dia sudah lewat masa kritis?"
Dokter tidak mengangguk. "Jantung dan paru-parunya selamat. Tapi selama henti jantung di ambulans, otaknya kekurangan oksigen lebih dari lima menit."
Darah Alyssa seperti membeku kembali. "Apa dampaknya?"
"Beliau koma toksik yang dalam. Kami tidak bisa memperkirakan kapan beliau sadar. Atau dalam kondisi seperti apa."
"Terapi khusus? Apa pun?"
"Perawatan penunjang, dan ketahanan tubuhnya sendiri." Dokter menatapnya. "Beliau sudah dipindahkan ke isolasi ICU lantai lima. Anda boleh masuk lima belas menit."
***
Ruang isolasi beraroma antiseptik tajam. Dengung ventilator dan bunyi monitor jantung memenuhi udara yang dingin.
Devan terbaring dengan selang terpasang di mana-mana. Wajah yang selalu tegas itu tampak tirus dan pucat di bawah lampu medis.
Alyssa mendekat pelan. Setiap langkah terasa seperti menyeret sesuatu yang berat.
Ia menyentuh telapak tangan kanan Devan di atas seprai. Hangat dari selimut pemanas, tapi tidak ada gerakan balasan.
Dari saku blazernya, ia mengeluarkan cincin perak itu. Tangannya gemetar sampai cincin itu hampir jatuh. Ia menarik tangan kiri Devan dan menyelipkan cincin itu ke jari manisnya.
"Kamu sudah membayar semuanya, Devan," bisiknya, dan tangis yang ia tahan akhirnya pecah dalam ruangan sunyi itu. "Perusahaan, ibumu, nyawamu sendiri..."
Ia menempelkan tangan Devan ke pipinya yang basah. Ibu jarinya menyentuh pergelangan kirinya sendiri, di tempat gelang berukir daun itu melingkar.
"Sekarang bangunlah. Jangan tinggalkan aku dengan rasa bersalah yang baru."
Tidak ada jawaban. Monitor di samping ranjang terus berdetak dalam irama datar yang dingin, satu-satunya tanda bahwa laki-laki itu masih ada di sisi dunia yang sama dengannya.
***
Di luar ruangan, Vito berdiri di depan dinding kaca dengan tablet di tangan. Wajahnya berbeda dari beberapa jam lalu, lebih dingin dan lebih hati-hati.
Alyssa keluar. Ia melihat tablet itu lebih dulu daripada wajah Vito.
"Alat di telinga Sarah," kata Vito pelan. "Tim forensik membukanya di Polda. Bukan alat komunikasi biasa. Dia menerima suara dari saluran langsung, dan kami berhasil melacak sinyal terakhirnya."
"Dari mana?"
Vito menelan ludah. Ia memutar layar tablet ke arah Alyssa.
Titik merah di peta berhenti di satu gedung. Bukan di Puncak. Bukan di dermaga. Bukan di mana pun yang pernah mereka curigai.
Mahendra Tower. Lantai lima puluh.
"Itu ruang kerja saya," ucap Alyssa.
"Ya, Nona. Seseorang mengawasi dan mengarahkan Sarah dari dalam ruangan Anda sendiri, tepat saat Anda disandera satu lantai di bawahnya."
Alyssa menatap titik merah itu. Di balik kaca, mesin di samping ranjang Devan terus berdetak.
Seseorang di gedungnya sendiri tahu persis kapan harus menekan tombol.
.....
.....
Bersambung.