NovelToon NovelToon
Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aqilaa Kezia

Alisha Amanda hanyalah seorang gadis sederhana yang bekerja di sebuah toko roti demi menghidupi dirinya dan sang ibu. Sejak kepergian ayahnya, ibunya menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Namun, hidup Alisha berubah ketika penyakit sang ibu semakin parah. Operasi dengan biaya yang sangat mahal menjadi satu-satunya harapan untuk menyelamatkan wanita yang paling ia cintai. Sayangnya, tabungan Alisha tidak cukup, bahkan untuk membayar sebagian kecil dari biaya tersebut.
Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran tak terduga datang kepadanya.
Adrian Mahendra, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa, membutuhkan seorang istri demi mempertahankan posisinya di perusahaan keluarga. Terdesak oleh tuntutan orang tuanya dan ancaman kehilangan jabatan, Adrian menawarkan pernikahan kontrak selama satu tahun kepada Alisha.
Sebagai gantinya, Alisha akan mendapatkan uang yang cukup untuk membiayai operasi ibunya.
Bagi Adrian, pernikahan itu hanyalah kesepakatan bisnis. Tidak ada cinta, tidak ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilaa Kezia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17 — Pagi Pertama di Rumah yang Sama

Suara ketukan pelan terdengar dari balik pintu kamar Alisha.

"Nona Alisha, apakah Anda sudah bangun?"

Alisha yang masih berbaring di tempat tidur perlahan membuka matanya. Dia sempat menatap langit-langit kamar sebelum menyadari bahwa dirinya tidak sedang berada di kamar lamanya.

Beberapa detik kemudian, ingatannya kembali.

Pernikahan.

Rumah Adrian.

Dan kehidupan barunya yang baru saja dimulai.

Alisha bangkit dari tempat tidur, merapikan rambutnya dengan tangan, kemudian berjalan menuju pintu.

"Iya, sebentar."

Dia membuka pintu dan mendapati seorang pegawai rumah berdiri sambil tersenyum sopan.

"Selamat pagi, Bu Alisha. Sarapan sudah disiapkan. Tuan Adrian berpesan bahwa Anda bisa turun jika sudah siap."

Alisha sedikit terkejut mendengar nama suaminya disebut.

"Adrian sudah turun?"

"Belum, Bu. Tuan Adrian masih berada di ruang kerjanya."

"Oh, begitu."

"Apakah ada sesuatu yang ingin Ibu minta siapkan?"

Alisha menggeleng.

"Tidak. Terima kasih. Saya akan bersiap sebentar lagi."

"Baik, Bu."

Pegawai rumah itu membungkuk kecil sebelum meninggalkannya.

Alisha menutup pintu, lalu berjalan menuju lemari pakaian.

Dia memilih pakaian sederhana yang nyaman untuk dikenakan di rumah. Setelah mencuci muka dan merapikan rambut, dia mengambil ponselnya untuk memeriksa apakah ada pesan dari rumah sakit.

Tidak ada pesan baru.

Alisha menghela napas lega.

Dia berharap kondisi ibunya tetap stabil.

Setelah memastikan barang-barangnya tidak ada yang tertinggal, Alisha meninggalkan kamar dan berjalan menuju ruang makan.

Rumah itu masih terasa asing baginya.

Setiap sudut terlihat rapi dan luas. Perabotan tertata dengan baik, sementara suasananya cukup tenang karena tidak banyak orang yang berlalu-lalang.

Alisha berjalan melewati ruang tengah sebelum akhirnya tiba di ruang makan.

Meja panjang telah disiapkan dengan beberapa hidangan sederhana. Ada nasi, telur, roti, buah, dan minuman hangat.

Dia menarik kursi, lalu duduk di salah satu sisi meja.

Untuk beberapa saat, Alisha makan sendirian.

Dia tidak tahu apakah Adrian biasanya sarapan di rumah atau langsung berangkat ke kantor. Karena itu, dia memilih tidak menanyakannya kepada pegawai rumah.

Baginya, yang terpenting adalah tidak mengganggu kebiasaan siapa pun.

Namun, ketika baru saja mengambil segelas air, suara langkah terdengar dari arah lorong.

Adrian muncul dengan kemeja kerja berwarna putih dan celana panjang hitam. Rambutnya tertata rapi, sementara sebuah jam tangan melingkar di pergelangan tangannya.

Dia tampak sudah siap menjalani hari.

Adrian berhenti sebentar ketika melihat Alisha duduk di meja makan.

"Kamu sudah bangun."

Alisha menoleh.

"Iya. Selamat pagi."

"Pagi."

Adrian menarik kursi di sisi meja yang tidak terlalu jauh darinya, kemudian duduk.

Seorang pegawai rumah segera menghampiri dan meletakkan secangkir kopi di hadapannya.

Adrian mengucapkan terima kasih singkat, lalu mulai memeriksa beberapa pesan di ponselnya.

Alisha kembali makan.

Suasana di antara mereka terasa canggung.

Mereka duduk di meja yang sama, tetapi tidak tahu harus membicarakan apa.

Alisha beberapa kali ingin membuka percakapan, tetapi setiap kali melihat Adrian yang sibuk membaca pesan, dia mengurungkan niatnya.

Dia tidak ingin mengganggu.

Sementara itu, Adrian menyelesaikan pesan di ponselnya, lalu meletakkannya di samping cangkir kopi.

"Kamu berencana pergi ke mana hari ini?" tanyanya.

Alisha sedikit terkejut.

Dia tidak menyangka Adrian akan memulai percakapan terlebih dahulu.

"Aku ingin mengunjungi Ibu di rumah sakit. Setelah itu, mungkin aku akan mengurus beberapa keperluan pribadi."

Adrian mengangguk.

"Baik."

Alisha menunggu sebentar, tetapi Adrian tidak melanjutkan pertanyaannya.

Akhirnya, dia memberanikan diri bertanya.

"Kalau kamu?"

"Saya ke kantor."

"Sepagi ini?"

Adrian melirik jam tangannya.

"Masih ada rapat yang harus saya hadiri."

"Oh."

Percakapan kembali berhenti.

Alisha menunduk dan melanjutkan sarapannya.

Dia tidak merasa tersinggung. Sejak awal, dia memang tahu bahwa Adrian memiliki banyak pekerjaan dan tidak terbiasa menghabiskan waktu untuk percakapan yang tidak diperlukan.

Namun, ada satu hal yang membuatnya sedikit penasaran.

"Adrian."

Laki-laki itu menoleh.

"Ya?"

"Kalau aku pergi bekerja nanti, apakah aku perlu memberi tahu kamu terlebih dahulu?"

Adrian memperhatikan Alisha sejenak sebelum menjawab.

"Kamu tetap boleh bekerja seperti biasa. Kamu tidak perlu meminta izin kepada saya untuk menjalankan pekerjaanmu."

Alisha mengangguk pelan.

"Baik."

"Kalau ada perubahan jadwal yang memengaruhi urusan rumah, cukup beri tahu saya atau Daniel. Itu saja."

"Baik, aku mengerti."

Adrian kembali mengambil cangkir kopinya.

Bagi Adrian, persoalan itu sudah selesai.

Namun, bagi Alisha, jawaban tersebut sedikit melegakan.

Dia tidak ingin pernikahan ini membuatnya kehilangan pekerjaan yang selama ini menjadi salah satu sumber penghasilannya.

Setidaknya, Adrian tidak berniat melarangnya bekerja.

Setelah selesai sarapan, Adrian berdiri dan merapikan ujung lengan kemejanya.

"Saya berangkat sekarang."

Alisha juga berdiri.

"Hati-hati di jalan."

Adrian menatapnya sebentar.

"Iya."

Dia kemudian meninggalkan ruang makan.

Alisha kembali duduk setelah Adrian pergi.

Dia memperhatikan kursi kosong yang baru saja digunakan suaminya, lalu mengembuskan napas kecil.

Sarapan pertama mereka setelah menikah ternyata berlangsung sangat sederhana.

Tidak ada percakapan panjang.

Tidak ada perhatian yang berlebihan.

Namun, setidaknya mereka mulai memahami sedikit kebiasaan masing-masing.

Dan untuk sekarang, Alisha merasa itu sudah cukup.

---

Di dalam mobil, Adrian membuka dokumen yang dikirimkan oleh sekretarisnya.

Daniel yang duduk di kursi depan sesekali memeriksa jadwal pada tablet.

"Pak, rapat dengan tim keuangan dimulai pukul sembilan. Setelah itu, ada pertemuan dengan calon mitra bisnis."

Adrian membaca dokumen di tangannya.

"Baik. Pastikan laporan terbaru sudah tersedia sebelum rapat dimulai."

"Sudah, Pak."

Daniel berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

"Apakah ada keperluan lain yang perlu saya urus untuk rumah?"

Adrian mengangkat pandangan.

"Tidak ada. Semua kebutuhan rumah sudah disiapkan."

"Baik, Pak."

Daniel kembali melihat jadwal.

Adrian melanjutkan pekerjaannya tanpa membicarakan kehidupan pribadinya.

Bagi dirinya, pernikahan tidak mengubah tanggung jawab yang telah dijalankannya selama bertahun-tahun.

Dia tetap harus mengelola perusahaan, mengambil keputusan, dan memastikan seluruh pekerjaan berjalan sesuai rencana.

Namun, sebelum kembali membaca dokumen, Adrian sempat teringat pertanyaan Alisha saat sarapan.

Perempuan itu tampaknya khawatir apakah dirinya masih bisa bekerja setelah menikah.

Adrian mengernyit tipis.

Dia tidak pernah berniat melarang Alisha bekerja.

Justru, selama Alisha mampu mengatur waktunya sendiri, Adrian tidak melihat alasan untuk mencampuri urusan tersebut.

Dia kemudian kembali menatap dokumen.

Pikirannya tidak lagi tertuju pada percakapan pagi tadi.

Setidaknya, untuk saat ini.

---

Sementara itu, Alisha sedang bersiap meninggalkan rumah.

Dia mengenakan pakaian sederhana, membawa tas kecil, dan memastikan ponselnya terisi cukup daya.

Sebelum pergi, dia menemui salah seorang pegawai rumah yang sedang merapikan ruang tengah.

"Permisi, Bu. Saya mau pergi sebentar."

Pegawai itu menoleh.

"Baik, Bu Alisha. Apakah perlu disiapkan kendaraan?"

Alisha menggeleng.

"Tidak perlu. Saya bisa pergi sendiri."

"Baik. Apakah Anda akan pulang sebelum makan malam?"

Alisha berpikir sebentar.

"Saya belum tahu pasti. Saya ingin mengunjungi ibu saya di rumah sakit. Setelah itu, mungkin saya akan mampir ke tempat kerja."

"Baik, Bu. Jika ada sesuatu yang dibutuhkan, silakan hubungi kami."

"Terima kasih."

Alisha kemudian meninggalkan rumah.

Tujuan pertamanya adalah rumah sakit tempat Ratih dirawat.

Sepanjang perjalanan, dia beberapa kali memeriksa ponselnya untuk memastikan tidak ada panggilan dari rumah sakit.

Sesampainya di sana, Alisha langsung menuju kamar ibunya.

Ratih sedang duduk bersandar di tempat tidur ketika Alisha masuk.

"Alisha?"

Alisha tersenyum lebar.

"Iya, Bu. Bagaimana keadaan Ibu hari ini?"

Ratih membalas senyumnya.

"Lebih baik. Tadi perawat juga sudah datang memeriksa keadaan Ibu."

Alisha mendekat dan duduk di kursi samping ranjang.

"Syukurlah."

Dia membantu ibunya merapikan selimut, kemudian meletakkan tas di dekat kursi.

Ratih memperhatikan wajah putrinya.

"Kamu sudah sarapan?"

"Sudah, Bu."

"Di rumah baru?"

Alisha mengangguk.

"Iya."

Ratih tersenyum kecil.

"Bagaimana rasanya tinggal di sana?"

Alisha terdiam sejenak.

Dia tidak ingin membuat ibunya khawatir dengan menceritakan bahwa suasana di rumah Adrian masih terasa asing.

Namun, dia juga tidak ingin berbohong terlalu jauh.

"Masih menyesuaikan diri, Bu. Rumahnya cukup besar, jadi aku masih belum terbiasa."

Ratih tertawa pelan.

"Tentu saja. Kamu harus beradaptasi. Jangan memaksakan diri untuk langsung merasa nyaman."

"Iya, Bu."

Ratih menggenggam tangan putrinya.

"Bagaimana Adrian memperlakukanmu?"

Alisha terdiam sebentar.

Pertanyaan itu sebenarnya sederhana, tetapi dia harus memikirkan jawabannya.

Adrian tidak bersikap kasar kepadanya. Laki-laki itu memberikan kamar sendiri, tidak melarangnya bekerja, dan menghormati ruang pribadinya.

Hanya saja, mereka memang tidak banyak berbicara.

"Dia baik-baik saja, Bu," jawab Alisha akhirnya. "Kami masih sama-sama menyesuaikan diri."

Ratih mengangguk.

"Itu wajar. Kalian baru menikah. Yang penting, kamu tetap menjaga dirimu dan jangan takut menyampaikan sesuatu kalau memang ada yang mengganggumu."

Alisha membalas genggaman tangan ibunya.

"Iya, Bu."

Dia tidak menceritakan kesepakatan sebenarnya kepada Ratih. Rahasia itu masih harus disimpannya.

Alisha hanya berharap ibunya bisa terus membaik sehingga tidak perlu terlalu banyak memikirkan kehidupan putrinya.

Mereka berbincang cukup lama.

Alisha menceritakan beberapa hal sederhana tentang acara pernikahan, termasuk sesi foto yang membuatnya sangat canggung.

Ratih tertawa ketika mendengar cerita itu.

"Kamu memang tidak terbiasa berfoto."

"Iya, Bu. Apalagi harus berpose seperti pasangan yang sudah lama bersama."

Ratih menggeleng sambil tersenyum.

"Pelan-pelan saja. Kamu tidak harus langsung terbiasa dengan semuanya."

Alisha mengangguk.

Dia merasa sedikit lebih tenang setelah berbicara dengan ibunya.

Sebelum pulang, Alisha membantu merapikan barang-barang di sekitar tempat tidur Ratih.

Setelah memastikan ibunya tidak membutuhkan sesuatu, dia berpamitan.

"Aku pulang dulu, Bu. Nanti aku datang lagi."

"Hati-hati di jalan."

"Iya."

Alisha memeluk ibunya sebentar sebelum meninggalkan kamar.

---

Dalam perjalanan pulang, Alisha memutuskan untuk mampir ke Sweet Morning Bakery.

Dia sudah beberapa hari tidak masuk kerja karena mengurus persiapan pernikahan. Meskipun telah mengambil izin secara resmi, dia tetap ingin memastikan tidak ada masalah dengan jadwalnya.

Ketika memasuki toko, lonceng kecil di atas pintu berbunyi.

Mira yang sedang menyusun roti di etalase langsung menoleh.

"Alisha!"

Alisha tersenyum.

"Hai, Mir."

Mira menghampirinya dengan wajah penasaran.

"Bagaimana? Sudah resmi menjadi istri orang sekarang?"

Alisha tertawa kecil.

"Iya."

Rani yang sedang membawa nampan ikut mendekat.

"Wah, pengantin baru datang!"

Alisha menggeleng pelan.

"Jangan begitu. Aku cuma mampir."

Mira menatapnya dari atas sampai bawah.

"Kamu kelihatan sama saja."

"Memangnya aku harus terlihat bagaimana?"

"Entahlah. Mungkin lebih bahagia atau bagaimana."

Alisha tersenyum tipis.

"Aku tetap Alisha yang sama."

Rani mengangguk.

"Benar juga."

Mira kemudian menarik kursi di dekat meja kerja.

"Duduk dulu. Ceritakan bagaimana pernikahanmu kemarin."

Alisha duduk sambil meletakkan tasnya.

"Acaranya berjalan lancar."

"Cuma itu?"

Mira menatapnya tidak percaya.

Alisha tertawa.

"Memangnya kamu mau aku bercerita apa?"

"Tentu saja tentang suamimu!"

Rani ikut menyela.

"Iya! Apakah dia romantis? Apakah dia perhatian? Apakah dia membawamu ke tempat istimewa setelah acara?"

Alisha terdiam sesaat.

Dia tidak mungkin menceritakan seluruh keadaan pernikahannya.

Namun, dia juga tidak ingin membuat cerita yang tidak sesuai kenyataan.

"Dia cukup sibuk dengan pekerjaannya," jawab Alisha. "Setelah acara selesai, kami pulang ke rumah."

Mira mengerutkan kening.

"Lalu?"

"Ya, aku beristirahat. Dia juga mengurus pekerjaannya."

Rani mengangkat alis.

"Kalian langsung sibuk masing-masing?"

Alisha tersenyum canggung.

"Kami masih menyesuaikan diri."

Mira dan Rani saling pandang.

Mereka tampaknya ingin bertanya lebih jauh, tetapi akhirnya Mira mengangguk.

"Baiklah. Yang penting kamu tidak merasa kesulitan."

Alisha mengangguk.

"Iya."

Mira berdiri kembali.

"Kalau begitu, kapan kamu mulai masuk kerja seperti biasa?"

"Besok aku bisa mulai lagi."

"Bagus. Beberapa pesanan mulai meningkat. Kami membutuhkan bantuanmu."

"Aku siap membantu."

Rani tersenyum.

"Kalau begitu, jangan lupa membawa cerita baru besok."

Alisha tertawa kecil.

"Kalian ini."

Setelah berbincang sebentar, Alisha berpamitan dan meninggalkan toko.

Dia merasa senang karena masih memiliki pekerjaan dan teman-teman yang bisa diajak berbicara.

Di tengah perubahan besar dalam hidupnya, setidaknya ada sesuatu yang masih terasa sama.

---

Sore mulai menjelang ketika Alisha kembali ke rumah Adrian.

Dia memasuki rumah dengan langkah pelan, lalu menyapa pegawai yang ditemuinya di ruang tengah.

"Selamat sore."

"Selamat sore, Bu Alisha."

Alisha meletakkan tasnya di kamar, kemudian turun kembali untuk mengambil air minum.

Saat melewati ruang kerja, dia mendengar suara Adrian sedang berbicara melalui telepon.

Pintunya tidak tertutup sepenuhnya.

Alisha sempat melihat Adrian duduk di belakang meja, dengan beberapa dokumen tersusun di hadapannya.

Wajahnya terlihat serius.

"Pastikan laporan itu diperiksa kembali sebelum dikirimkan kepada saya," ujar Adrian melalui telepon. "Saya tidak ingin ada kesalahan yang sama terulang."

Dia berhenti sejenak, mendengarkan jawaban dari orang di seberang.

"Baik. Kirimkan hasil revisinya malam ini."

Panggilan berakhir.

Alisha hendak melanjutkan langkahnya ketika Adrian mengangkat kepala.

"Kamu sudah pulang?"

Alisha berhenti.

"Iya. Baru saja."

Adrian meletakkan ponselnya.

"Bagaimana keadaan ibumu?"

Alisha sedikit terkejut.

Dia tidak menyangka Adrian akan menanyakan hal tersebut.

"Kondisinya lebih baik. Ibu masih harus beristirahat di rumah sakit."

Adrian mengangguk.

"Syukurlah."

"Terima kasih."

Adrian kembali melihat dokumen di atas mejanya.

Alisha berdiri sebentar, menunggu apakah ada hal lain yang ingin dibicarakan.

Namun, Adrian kembali berkonsentrasi pada pekerjaannya.

Akhirnya, Alisha berkata, "Kalau begitu, aku ke dapur dulu."

"Baik."

Alisha melanjutkan langkahnya.

Sesampainya di dapur, dia mengambil segelas air dan meminumnya perlahan.

Percakapan tadi berlangsung singkat, tetapi ada sesuatu yang membuatnya merasa sedikit berbeda.

Adrian mengingat ibunya.

Laki-laki itu bahkan bertanya tentang keadaan Ratih tanpa perlu diingatkan.

Bagi Alisha, itu merupakan bentuk perhatian kecil yang tidak ingin dibesar-besarkannya.

Dia tidak akan menganggap satu pertanyaan sederhana sebagai tanda bahwa Adrian mulai memiliki perasaan kepadanya.

Namun, setidaknya dia tahu bahwa suaminya tidak sepenuhnya mengabaikan keadaan di sekitarnya.

Setelah meletakkan gelas di tempatnya, Alisha kembali ke kamar.

Dia masih memiliki beberapa barang yang perlu dirapikan sebelum malam tiba.

---

Malam itu, ruang makan terasa lebih tenang daripada biasanya.

Alisha turun ketika diberi tahu bahwa makan malam telah disiapkan.

Dia mengira akan makan sendirian seperti pagi tadi, tetapi ternyata Adrian sudah duduk di meja makan.

Laki-laki itu tidak mengenakan jas lagi. Dia hanya memakai kemeja kerja yang bagian lengannya telah digulung sampai siku.

Sebuah ponsel terletak di samping piringnya.

Alisha menghampiri meja.

"Selamat malam."

Adrian mengangkat pandangan.

"Malam."

Alisha duduk di kursi yang berseberangan dengannya.

Seorang pegawai rumah menyajikan makanan, lalu meninggalkan mereka.

Selama beberapa menit, keduanya makan dalam diam.

Alisha tidak merasa perlu memulai percakapan hanya untuk mengisi suasana.

Namun, ketika Adrian selesai minum, dia menoleh kepadanya.

"Besok kamu bekerja?"

Alisha mengangguk.

"Iya. Aku sudah memberi tahu teman-teman di toko bahwa aku akan kembali."

"Baik."

Adrian berhenti sebentar sebelum melanjutkan.

"Kalau kamu pulang terlambat, beri tahu pihak rumah supaya mereka tidak menunggu untuk menyiapkan makan malam."

Alisha mengangguk.

"Baik. Terima kasih."

"Itu saja."

Alisha menunduk dan kembali makan.

Setidaknya, sekarang dia mengetahui bahwa Adrian tidak keberatan jika dirinya kembali menjalani rutinitas pekerjaan.

Setelah makan malam selesai, Adrian berdiri lebih dahulu.

"Saya masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan."

Alisha ikut berdiri.

"Iya. Selamat bekerja."

Adrian menatapnya sebentar.

"Jangan tidur terlalu malam."

Alisha terdiam.

Sebelum dia sempat menjawab, Adrian sudah berjalan meninggalkan ruang makan menuju ruang kerjanya.

Alisha masih berdiri di tempatnya.

Kalimat itu terdengar biasa saja.

Mungkin Adrian hanya mengatakan sesuatu yang menurutnya wajar setelah melihat Alisha terlihat lelah sepanjang hari.

Alisha tidak ingin menafsirkan lebih jauh.

Dia hanya tersenyum kecil, kemudian kembali ke kamarnya.

---

Malam semakin larut.

Alisha sudah selesai menyiapkan pakaian untuk bekerja keesokan harinya. Dia meletakkan tas di dekat meja, mengisi daya ponselnya, lalu duduk di tepi tempat tidur.

Dari luar kamar, rumah terdengar sunyi.

Dia tidak tahu apakah Adrian masih bekerja atau sudah beristirahat.

Mereka memiliki kamar masing-masing, sehingga Alisha tidak bisa mengetahui rutinitas suaminya setiap saat.

Dan untuk sekarang, dia tidak merasa perlu mengetahuinya.

Dia mengambil buku kecil dari dalam tas dan memeriksa beberapa catatan tentang jadwal kunjungan ibunya.

Setelah memastikan semuanya tersusun rapi, dia menutup buku itu.

Pikirannya kembali pada percakapan singkat dengan Adrian saat makan malam.

Jangan tidur terlalu malam.

Alisha menggeleng pelan.

"Mungkin dia memang selalu mengatakan hal seperti itu," gumamnya kepada diri sendiri.

Dia tidak ingin terlalu cepat menyimpulkan sesuatu.

Hubungan mereka masih jauh dari kata dekat.

Besok, Adrian akan kembali ke kantor.

Sementara Alisha akan kembali bekerja di Sweet Morning Bakery.

Mereka akan menjalani kesibukan masing-masing seperti biasa.

Namun, meskipun belum ada perubahan besar, hari ini telah memberinya sedikit pemahaman tentang kehidupan barunya.

Adrian bukan laki-laki yang banyak berbicara.

Dia tidak menunjukkan perhatian melalui kata-kata manis atau tindakan yang berlebihan.

Jika ada sesuatu yang ingin disampaikan, dia akan mengatakannya secara singkat dan langsung.

Alisha sendiri masih belajar menyesuaikan diri dengan kebiasaan tersebut.

Dia tidak ingin menjadi beban bagi Adrian.

Dia juga tidak ingin kehilangan dirinya sendiri hanya karena sekarang menyandang status sebagai istri seorang CEO.

Alisha mematikan lampu utama, lalu berbaring di tempat tidur.

Di kamar lain, Adrian masih menyelesaikan laporan yang harus diperiksanya.

Beberapa saat kemudian, dia menutup laptop dan melihat jam dinding.

Sudah cukup larut.

Adrian merapikan dokumen di atas meja sebelum meninggalkan ruang kerja dan berjalan menuju kamar pribadinya.

Ketika melewati lorong, dia melihat pintu kamar Alisha sudah tertutup.

Dia tidak berhenti atau mengetuknya.

Adrian hanya melanjutkan langkah menuju kamarnya sendiri.

Malam itu, keduanya kembali beristirahat di ruang yang berbeda.

Tidak ada pertengkaran.

Tidak ada percakapan panjang.

Hanya dua orang yang mulai mengenal rutinitas satu sama lain, sedikit demi sedikit.

1
Grend Levn
ceritanya menarik membuat ku penasaran bagaimana kelanjutannya kerenn
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Clarissa, sedemikian ga lakunya kamu ya sama bujangan, sampai orang udah punya istri juga kamu ganggu, hanya alasan masa lalu? Bodohnya kebangetan kamu
Aqilaa Kezia: Hehehe, sabar ya, Kak 😂 Clarissa memang bikin emosi. Terima kasih sudah membaca novelku! ❤️
total 1 replies
Ariany Sudjana
skak mat, bagus Alisha, kamu harus tegas menghadapi si pelacur murahan itu, tunjukkan kamu itu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, meskipun kamu istri CEO, tapi kelas kamu jauh di atas si pelacur murahan itu, yang hanya bisa berharap jadi istri CEO, tapi ga kesampaian
Aqilaa Kezia: makasih banyak Kak Arianya udah selalu dukung Alisha😍
total 1 replies
Ariany Sudjana
Adrian dan alisha harus tegas dan waspada, si pelacur murahan itu ingin menghancurkan rumah tangga kalian
Aqilaa Kezia: terimakasih ka Adriany udah membaca😊
total 1 replies
Ariany Sudjana
jangan menyerah Alisa, buktikan kamu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, dan cocok mendampingi Adrian, jangan biarkan pelacur murahan itu menghancurkan rumah tangga kamu dengan Adrian
katya
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!