NovelToon NovelToon
Di Balik Harga Kebanggaan

Di Balik Harga Kebanggaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:189
Nilai: 5
Nama Author: edwin setiawan

Arini meninggalkan suaminya yang tulus, Dimas, karena terbuai janji kemewahan dari Rian. Namun Rian ternyata hanya menipunya lalu pergi begitu saja, membuat Arini jatuh miskin sendirian. Saat ia menyadari kesalahannya dan berharap kembali pada Dimas, ia terlambat — Dimas sudah bahagia dengan wanita lain. Arini akhirnya belajar: ketulusan jauh lebih berharga daripada kemewahan semu, dan penyesalan selalu datang di akhir cerita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon edwin setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemilau Sangkar Emas dan Jejak yang Tertinggal

Lantai marmer mengkilap di lobi utama Green Heights Residence, sebuah kompleks hunian vertikal terkemuka di kawasan elit Permata Hijau, memantulkan pendar cahaya kemerahan dari deretan lampu gantung kristal bergaya klasik Eropa. Udara di dalam ruangan luas itu terasa amat sejuk, dipenuhi harum esensial aromaterapi vanilla-sandalwood yang tenang dan privat—sebuah wewangian khas yang sengaja diciptakan untuk menyapa orang-orang berkelas yang melintasi pintu kacanya.

Arini berdiri terpaku di tengah-tengah ruang tamu unit apartemen lantai dua belas yang baru saja ia masuki. Unit seluas seratus dua puluh meter persegi itu tampak begitu megah dan anggun. Dominasi warna krem, abu-abu muda, dan sentuhan warna emas pada dinding serta perabotannya menghadirkan suasana kemewahan yang dulu hanya bisa ia saksikan di lembaran majalah gaya hidup mahal atau tayangan televisi.

Sofa kulit impor berwarna putih tulang mendekap lembut sudut ruangan, menghadap ke arah televisi berlayar datar raksasa yang terpasang rapi di atas dinding marmer hitam. Di sisi lain, sebuah meja makan berbahan kaca tebal dengan enam kursi berbusa empuk tertata sempurna, lengkap dengan vas bunga porselen berisi selusin tangkai mawar putih segar. Di ujung ruangan, pintu kaca geser setinggi langit-langit membingkai pemandangan balkon luas yang menyuguhkan lanskap pepohonan hijau kota dan cakrawala megah gedung-gedung pencakar langit dari ketinggian.

"Bagaimana, Arini? Kamu suka dengan tempat ini?"

Suara bariton Rian mengalun lembut, memecah kekaguman yang membelenggu lidah Arini. Pria itu menyandarkan bahunya yang tegap di bingkai pintu utama, meletakkan sepasang kunci akses berlogo emas di atas meja konsol kayu mahoni. Senyuman percaya diri dan penuh wibawa terukir di wajahnya yang tampan, memperlihatkan kepuasan mutlak karena berhasil memukau wanita di hadapannya.

Arini membalikkan badannya perlahan. Langkah kakinya terasa ringan melintasi karpet tebal bernuansa pastel yang melapisi lantai. Matanya berbinar-binar, memancarkan binar rasa takjub dan kepuasan emosional yang selama tiga tahun terakhir hilang dari dadanya.

"Ini... ini luar biasa, Rian," sahut Arini dengan suara yang sedikit bergetar karena takjub. Ia menyentuh permukaan sofa kulit yang begitu halus dengan jemarinya. "Aku bahkan tidak pernah membayangkan dalam mimpiku sekalipun bisa tinggal di tempat seluas dan seindah ini."

Rian melangkah mendekat. Sepatu kulitnya tidak mengeluarkan suara di atas karpet tebal itu. Pria itu berhenti tepat di hadapan Arini, lalu menjangkau kedua pundak wanita itu dan mengusapnya dengan lembut.

"Tempat ini sepenuhnya milikmu selama kamu berada di sisiku, Arini," tutur Rian dengan nada manis yang menghanyutkan. "Kamu tidak perlu lagi mengkhawatirkan hal-hal kecil yang tidak penting. Semua biaya operasional, sewa, sampai kartu kredit tambahan atas namamu sudah aku siapkan di dalam kamar di atas meja rias."

Arini menatap dalam-dalam ke dalam manik mata Rian. Di sana, ia tidak menemukan sorot mata kelelahan, guratan kecemasan akan cicilan, atau bau keringat bercampur oli seperti yang selalu ia temukan pada diri Dimas. Di mata Rian, ia melihat pengakuan atas kecantikannya, rasa hormat, dan perlakuan istimewa yang selalu ia idam-idamkan. Rasa percaya dirinya yang sempat hancur dan kerdil selama tinggal di rumah petak gang sempit kini bangkit kembali, berubah bentuk menjadi keangkuhan baru yang jauh lebih tebal dan keras.

"Terima kasih, Rian..." bisik Arini lembut, menyandarkan jemarinya di dada kemeja kasmir yang dikenakan Rian. "Kamu benar-benar pria yang mengerti bagaimana cara menghargai seorang wanita."

"Seorang wanita anggun dan cantik seperti kamu memang diciptakan untuk berada di atas, Arini. Bukan membusuk di tempat yang salah," balas Rian seraya mengecup kening Arini dengan hangat.

Pria itu merogoh saku jasnya, melirik sekilas ke arah jam tangan emas Rolex di pergelangan tangannya yang berkilau. "Aku harus ke kantor sekarang. Ada rapat direksi penting dengan beberapa investor dari luar negeri. Nanti sore, sekretaris pribadiku akan datang ke sini membawakan beberapa berkas administrasi yang perlu kamu tanda tangani."

Arini mengerutkan keningnya sedikit, menatap Rian dengan nada heran. "Berkas administrasi? Berkas apa, Rian?"

Rian terkekeh pelan, menepuk pipi Arini dengan penuh kasih sayang yang tampak sangat alami. "Hanya formalitas sewa dan izin tinggal atas nama penghuni, Rin. Pihak management apartemen di sini sangat ketat soal keamanan. Mereka butuh spesimen tanda tangan dan data dirimu supaya kamu bisa menggunakan semua fasilitas hunian—mulai dari kolam renang infinity, tempat gym, hingga layanan kamar VIP—secara bebas tanpa ada gangguan."

"Oh... begitu," jawab Arini legah, tersenyum mengangguk. "Baiklah kalau begitu."

"Istirahatlah, primadona-ku. Nikmati harimu," ujar Rian manis sebelum berbalik dan melangkah keluar dari unit apartemen.

Suara pintu kayu mahoni yang tertutup rapat bergema halus, disusul bunyi klik otomatis dari sistem kunci elektronik.

Arini sendirian. Keheningan yang sangat elegan menyelimuti seluruh ruangan. Ia melangkah perlahan menuju kamar tidur utama. Di dalam kamar yang berukuran sangat luas itu, sebuah tempat tidur king-size bertengger megah dengan sprei sutra halus berwarna krem. Di sampingnya, terdapat pintu geser menuju area walk-in closet dan kamar mandi pribadi yang dilengkapi bathtub marmer berpelengkapan pancuran air modern.

Arini berjalan mendekati meja rias berukuran besar yang dilengkapi cermin berhias lampu-lampu LED hangat. Di atas permukaan meja kayu yang licin, tergeletak sebuah amplop hitam tebal berlogo emas. Arini membukanya. Di dalamnya, terselip selembar kartu kredit platinum dengan batas limit ratusan juta rupiah yang sudah tertera nama lengkapnya: ARINI WULANDARI, disandingkan dengan kartu akses apartemen bersepuh warna keemasan.

Arini memegangi kartu kredit itu, menempelkannya ke dadanya. Rasa bangga yang tiada tara menjalar ke seluruh aliran darahnya.

"Lihat sekarang, Dimas..." desis Arini pelan di hadapan cermin, bibirnya mengukir senyuman dingin yang penuh rasa superioritas. "Kamu bilang aku terlalu banyak menuntut. Kamu bilang aku tidak sabar. Sekarang lihat di mana aku berada, dan lihat apa yang bisa diberikan pria lain yang jauh lebih berkelas darimu. Aku tidak butuh martabak dua puluh ribu perakmu lagi."

Ia meletakkan kartu kredit itu, lalu mengambil tas jinjingnya untuk merapikan pakaian-pakaian baru yang ia beli. Namun, saat jemarinya merogoh ke sudut paling dasar dari tas kulitnya, ujung jarinya tersangkut pada sebuah benda keras yang kecil.

Arini menarik benda itu keluar.

Di atas telapak tangannya yang bersih dan terawat, tergeletak sebuah jepit rambut plastik berwarna hitam kusam yang salah satu giginya sudah patah. Itu adalah jepit rambut murah seharga tiga ribu rupiah yang dibelikan Dimas di pasar kaget dua tahun lalu—benda sederhana yang dulu sering dipakai Arini saat memasak air di dapur sempit mereka.

Arini memandangi jepit rambut tua itu selama beberapa detik. Tanpa diundang, bayangan masa lalu mendadak melintas liar di benaknya.

Ia teringat malam-malam dingin ketika hujan turun deras, saat Dimas pulang dengan tubuh basah kuyup namun masih sempat mengusap kepalanya dan melepas jepit rambut itu agar ia bisa tidur lebih nyenyak. Ia teringat bagaimana jemari suaminya yang kasar berkapalan membelai rambutnya dengan penuh kelembutan dan doa-doa tulus agar hidup mereka kelak diberi keberkahan.

Jantung Arini berdesir aneh. Ada goresan halus di dalam dadanya—sebuah rasa hampa yang tiba-tiba menyusup tanpa permisi.

Namun, detik berikutnya, Arini menegakkan kepalanya. Ia mengepalkan tangannya rapat-rapat, meremukkan jepit rambut plastik kusam itu hingga giginya yang tersisa patah berkerotok.

"Cukup!" desis Arini dengan raut wajah yang mendadak mengeras dan dingin. "Aku tidak boleh lemah. Kenangan melarat itu tidak ada harganya lagi!"

Dengan gerakan cepat dan tanpa penyesalan, Arini melemparkan remukan jepit rambut tua itu ke dalam keranjang sampah stainless steel di sudut kamar mandi, menyiramnya dengan sisa tisue kotor, lalu menutup rapat keranjang tersebut. Ia memalingkan wajahnya, melangkah keluar kamar mandi, dan kembali menatap pantulan dirinya di cermin meja rias sebagai wanita baru yang berada di puncak kemewahan.

Sementara itu, di sudut lain kota yang berdebu dan riuh oleh deru mesin kendaraan, matahari siang memancarkan terik yang membakar kulit.

Di pelataran gedung Pengadilan Agama yang dikelilingi pohon-pohon rindang, udara terasa hangat dan kering. Lalu lalang orang-orang dengan berbagai raut wajah—ada yang menangis, ada yang berdebat, dan ada yang melangkah lesu—memenuhi koridor luar gedung berarsitektur sederhana tersebut.

Dimas berdiri tegap di depan loket pendaftaran perdata. Pria itu mengenakan kemeja katun polos berwarna biru tua yang rapi dan bersih, dipadu dengan celana bahan hitam. Meskipun kemeja itu sudah beberapa kali disetrika hingga kainnya menipis, penampilan Dimas tampak sangat bersahaja, rapi, dan bermartabat. Wajahnya yang tirus memancarkan kelelahan fisik, namun sepasang matanya jernih, tenang, dan memancarkan keteguhan hati yang amat dalam.

Di tangannya, Dimas menggenggam sebuah map kertas tebal berwarna cokelat. Di dalam map itu, tersusun rapi lembar demi lembar berkas persyaratan administrasi permohonan cerai talak yang ia susun dan lengkapi secara mandiri sejak dua hari lalu—mulai dari fotokopi buku nikah, surat keterangan dari kelurahan, hingga draf permohonan talak yang ditulisnya dengan kalimat yang jujur dan santun.

Seorang petugas pendaftaran pria beruban dengan kacamata minus menerima map cokelat tersebut dari tangan Dimas. Petugas itu membalik setiap lembaran kertas di dalamnya, memeriksa stempel kelurahan, NIK, dan keabsahan dokumen dengan cermat.

"Bapak Dimas Kurniawan?" tanya petugas itu memastikan seraya menatap wajah Dimas di balik kacamatanya.

"Iya, Pak. Saya sendiri," jawab Dimas dengan suara bariton yang mantap dan tenang, tanpa ada getaran gugup sedikit pun.

Petugas itu mengangguk-angguk pelan, membubuhkan stempel resmi pengadilan di atas lembar formulir pendaftaran. "Seluruh persyaratan administrasi awal untuk permohonan cerai talak ini sudah lengkap dan memenuhi syarat hukum, Pak Dimas. Berkas akan kami daftarkan ke dalam register perkara hari ini."

"Terima kasih banyak, Pak," sahut Dimas penuh kesopanan.

Petugas paruh baya itu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menatap Dimas dengan raut wajah yang melunak dan penuh prihatin. Di tempatnya bekerja setiap hari, ia telah melihat ribuan pasangan suami istri yang datang dengan amarah yang meluap-luap, saling menuduh, dan bertengkar memperebutkan harta atau gengsi. Namun pria di hadapannya ini sangat berbeda. Tidak ada raut dendam, tidak ada umpatan, dan tidak ada kebencian yang terpancar dari wajahnya.

"Pak Dimas..." tegur petugas itu lembut. "Sesuai prosedur undang-undang, nanti sebelum sidang pemeriksaan perkara dimulai, majelis hakim wajib memfasilitasi proses mediasi terlebih dahulu antara Bapak dan Termohon. Apakah... tidak ada niat dari Bapak untuk mencoba memperbaiki atau memediasikan masalah ini secara kekeluargaan di luar pengadilan?"

Dimas menundukkan kepalanya sejenak, menghela napas panjang yang terasa melapangkan seluruh ruang dada yang selama bertahun-tahun terhimpit beban berat. Pria itu mengangkat wajahnya kembali, menatap mata petugas pengadilan itu dengan sebuah senyuman tipis—senyuman yang sangat tulus, pasrah, namun amat kuat.

"Saya sudah menempuh seluruh ikhtiar terbaik yang sanggup saya lakukan sebagai seorang suami di dalam rumah tangga kami, Pak," tutur Dimas dengan kalimat yang teratur dan tenang. "Saya sudah bekerja memeras keringat siang dan malam, menjaga kehormatan, dan memberikan seluruh kasih sayang yang saya miliki. Namun, jika pasangan saya secara sadar telah memilih jalan hidup yang berbeda dan tidak lagi rida atas kehidupan yang saya berikan... memperjuangkan paksaan hanya akan menjadi siksaan bagi kedua belah pihak."

Dimas jeda sejenak, meremas jemarinya pelan. "Pernikahan itu dibangun atas dasar kerelaan dan ikhlas. Ketika rasa ikhlas itu telah dicabut dari salah satu hati, maka melepaskan dengan cara yang baik adalah bentuk penghormatan terakhir saya atas janji suci yang pernah kami ucapkan."

Petugas pengadilan itu tertegun mendengarkan setiap patah kata yang meluncur dari bibir Dimas. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya dengan raut hormat yang amat sangat, tersentuh oleh kedewasaan dan kebesaran jiwa pria muda di hadapannya.

"Pikiran yang sangat bijaksana, Pak Dimas," puji petugas itu tulus. "Berkas sudah resmi terdaftar. Surat panggilan resmi (relaas) untuk sidang pertama agenda mediasi akan dikirimkan oleh jurusita pengadilan ke alamat domisili Bapak dan alamat Termohon dalam waktu paling lambat dua minggu dari sekarang."

"Baik, Pak. Saya akan hadir sesuai jadwal yang ditentukan," kata Dimas seraya membungkukkan badannya pelan sebagai tanda hormat.

Dimas melangkah keluar dari lobi Pengadilan Agama. Saat kakinya memijak anak tangga teratas di luar gedung, hembusan angin siang yang kencang menyapu wajah dan merapikan rambutnya. Sinar matahari siang menyinari sosoknya yang tegap berdiri di tengah riuh rendah kota.

Pria itu menarik napas dalam-dalam, menghirup udara bebas yang terasa begitu bersih di paru-parunya. Rasa sakit hati yang semalam mencabik-cabik jiwanya kini telah berelok menjadi sebuah ketabahan karang. Ia memutar langkahnya menuju tempat parkir, menaiki sepeda motor bebek tuanya, lalu memanaskan mesin kendaraan yang telah menemaninya menembus ribuan kilometer perjuangan hidup itu.

Dimas memutar gas, melaju membelah padatnya arus lalu lintas kota menuju bengkel tempat kerjanya. Hari ini, ia tidak lagi melangkah untuk mengejar bayang-bayang kebahagiaan wanita yang melupakannya. Hari ini, Dimas melangkah dengan kepala tegak, siap menata kembali puing-puing kehidupannya dan merintis jalan kebangkitan atas nama harga dirinya sendiri.

1
Shankara Senja
yah..itumah bukan istiqomah....tp lari dari kenyataan,arini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!