Sejak zaman dulu, sepuluh padepokan saling serang demi pecahan Cincin Braja Moksa. Kabarnya, siapa pun yang menyatukan sepuluh pecahan itu akan menguasai dunia.
Satrio Caksena hanyalah murid Geni Wening, padepokan paling lemah yang tinggal punya tujuh murid dan seorang guru dengan cakra hancur. Saat Kala Ireng datang menuntut pecahan mereka, Satrio cuma bisa bangun lagi setiap kali dihajar.
Malam itu, ia menemukan kristal merah di bawah lantai pendapa. Kristal itu menyala karena darahnya dan membangunkan sisa jiwa seorang Prabu yang sudah mati ribuan tahun lalu.
Dari sang Prabu, Satrio mengetahui rahasia yang dilupakan semua padepokan. Cincin Braja Moksa ternyata segel. Di dalamnya terkurung Sandawa, raja siluman yang dulu hampir menguasai dunia. Setiap pecahan yang terkumpul membuat segel itu makin lemah.
Satrio harus menghentikan Kala Ireng sebelum cincin itu utuh kembali. Masalahnya, tidak ada yang mau percaya pada murid dari padepokan paling lemah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alis yang Gosong
"Tarik lewat hidung, pelan-pelan. Anggap saja kau sedang mencium bau nasi dari dapur tetangga."
Satrio duduk bersila di depan tugu batu di ruang bawah pendopo. Tengah malam sudah lewat. Kristal di telapak tangan kanannya ia biarkan menyala redup supaya lantai di sekitarnya kelihatan. Kain pembebat rusuknya belum dilepas, jadi ia harus duduk agak miring agar napasnya tidak tersangkut di dada.
Tadi, untuk sampai ke tugu itu, ia menyusuri ubin-ubin polos sambil memeluk rusuknya. Dua kali kakinya hampir mendarat di ubin berukir lidah api.
Eyang duduk santai di atas salah satu ubin berukir itu. Sejak Malam Obor, ujung jubahnya masih belum sampai ke lantai.
"Kenapa harus di bawah sini, Eyang?" bisik Satrio, "Di bilik juga bisa."
"Di bilik ada Gandung. Kalau tubuhmu menyala tengah malam, dia bisa berteriak sampai seisi padepokan bangun. Sudah, tarik!"
Satrio memejamkan mata dan menarik napas. Hawa hangat dari kristal ikut masuk, merambat dari telapak tangan ke pergelangan, lalu ke dada. Ia menahannya di perut seperti latihan di balik bukit tempo hari.
Tarikan kedua lebih panas, dan keringat mulai menetes dari pelipisnya. Pada tarikan ketiga, rasanya seperti menghirup uap dari panci yang baru diangkat. Hawa itu menolak turun ke perut dan justru naik ke kening.
Wusss!
Api kecil menyala di atas kedua matanya.
"Eh? Eh... panas! Panas!"
Satrio menepuk-nepuk wajahnya dengan tangan kiri sampai api itu padam. Bau rambut terbakar memenuhi ruangan. Ia meraba keningnya dari ujung kiri ke ujung kanan, lalu meraba sekali lagi karena tidak percaya. Kulit di atas matanya licin dan perih.
'Besok pagi Gandung pasti tertawa sampai rusuknya kambuh,' batin Satrio.
"Eyang," katanya pelan, "Alisku... alisku mana?"
Eyang terbahak sampai sosoknya memudar sesaat. "Sudah kubilang pelan-pelan! Sekarang wajahmu mirip telur rebus yang baru dikupas!"
"Ini tidak lucu, Eyang!"
"Dari tempatku duduk, lucu sekali." Eyang mengibaskan tangan. "Alis bisa tumbuh lagi. Ayo, sekali lagi. Begitu panasnya sampai di dada, turunkan seperti kau menurunkan ember ke sumur. Pelan-pelan, jangan dilempar."
Satrio cemberut, tapi ia menegakkan duduknya lagi. Ia menarik napas dan mendorong panas itu turun sedikit demi sedikit sampai ke perut. Keringat mengucur dari dagunya dan membasahi kain pembebat. Ia sanggup menahannya sampai tiga tarikan. Pada tarikan keempat, perutnya kram, dan panas itu menyembur keluar dari mulutnya sebagai asap.
"Uhuk! Uhuk!"
"Tiga tarikan," kata Eyang, "Lumayan untuk bocah yang tidak punya alis. Cukup untuk malam ini. Naik sana, sebelum gurumu bangun dan melihat papan pendopo terbuka lagi."
***
"Sekali sehari?"
Gandung menegakkan punggung dan memandangi tampah beras di tengah serambi dapur. Pagi itu Sekar sudah menghitung sisa beras dua kali. Karung kedua yang ia selamatkan dari lumbung ternyata gosong sampai ke dalam, jadi persediaan mereka hanya cukup untuk belasan hari, itu pun kalau semua orang makan sekali sehari.
"Sekar, perutku ini sudah naik ranah," lanjut Gandung, "Kalau cuma diberi makan sekali sehari, dia bisa turun ranah lagi."
"Perutmu tahan tidak makan daging berbulan-bulan," balas Sekar, "Kenapa kurang nasi sedikit saja langsung mengeluh?"
"Perut juga punya harga diri."
Damar mendengus menahan tawa. Lututnya yang dibebat ikut tersentak, dan ia meringis sambil memukul paha sendiri. Lintang duduk di sebelahnya, masih menggosok pisau kecil itu dengan ujung baju.
Satrio datang paling akhir dan langsung duduk di pojok serambi yang paling gelap. Jati yang duduk di dekatnya memiringkan kepala, mendekatkan wajah, lalu mengerutkan kening.
"Kang Satrio," katanya, "Muka Kakang kok... aneh?"
Gandung ikut menoleh. Matanya membelalak, dan telunjuknya terangkat ke arah kening Satrio.
"Alismu! Satrio, alismu ke mana?"
Jati tertawa sampai terjungkal ke belakang. "Kang Satrio mirip ikan lele!"
"Lele masih punya kumis, Jati," sahut Gandung, "Ini lebih mirip kendi yang digambari mata."
Ia memukul-mukul lantai serambi sambil tertawa, sampai Damar melemparinya dengan sandal karena tampah beras di depannya ikut bergoyang.
"Kena api tungku," kata Satrio cepat, "Semalam aku lapar, jadi..."
"Tungku lagi?" Sekar meletakkan tampahnya. Matanya menyipit. "Dulu lenganmu kena tungku. Bajumu hangus di balik bukit, padahal di sana tidak ada tungku. Sekarang alismu. Tungku kita itu dendam apa padamu?"
Satrio pura-pura sibuk membetulkan balutan di tangan kanannya.
"Mungkin tungkunya juga lapar," celetuk Gandung, "Makanya alis pun dia makan."
Jati tertawa lagi. Sekar kembali memilah butir beras, tapi sepanjang pagi itu matanya beberapa kali singgah di kening Satrio, lalu di tangan kanannya yang terbalut.
***
"Angkat! Satu, dua, angkat!"
Damar memberi aba-aba dari undakan bilik dengan kaki berselonjor. Satrio dan Jati mencengkeram tepi daun pintu gerbang yang roboh dan mengangkatnya bersama-sama. Daun pintu itu baru naik sejengkal saat nyeri di rusuk kiri Satrio menyentak sampai ke bahu.
"Ugh!"
Pegangannya terlepas. Daun pintu itu berdebum kembali ke tanah, dan Jati ikut jatuh terduduk karena tidak kuat menahan bebannya sendirian.
"Sudah, sudah," kata Damar, "Kalian cuma menambah orang sakit di padepokan ini. Tunggu kakiku bisa dipakai, nanti kita pasang sama-sama. Jati, ambilkan air."
Jati berlari ke sumur. Satrio berjalan terbungkuk ke undakan pendopo dan duduk di sana untuk menunggu nyeri di rusuknya reda.
Ki Arya duduk dua undakan di atasnya dengan tubuh berbalut kain tebal. Sejak tadi gurunya itu memperhatikan mereka dari sana. Ia terbatuk, menekan dada dengan punggung tangan, lalu bangkit untuk kembali ke biliknya. Saat melewati Satrio, ia berhenti.
"Kalau malam-malam turun ke bawah," katanya pelan, "Pasang lagi papannya dengan benar. Tadi pagi papan itu miring."
Ki Arya masuk ke biliknya sebelum Satrio sempat menjawab.
Tangan kiri Satrio sudah menggaruk tengkuknya, padahal tidak ada yang bertanya apa-apa. Ia menoleh ke lantai pendopo di belakangnya. Papan ketiga dari undakan memang sedikit lebih tinggi daripada papan di sebelahnya. Satrio menginjaknya sampai rata.
***
Sore harinya, Satrio menemukan Lintang duduk di atas daun pintu gerbang yang masih tergeletak itu. Lututnya ditekuk sampai ke dada, dan pisau kecil Damar tergenggam di tangannya. Matanya terarah ke pertigaan di balik rumpun bambu, ke jalan yang dilalui Pradipta.
Satrio duduk di sampingnya pelan-pelan sambil menahan rusuknya.
Lintang menunjuk pohon jambu di sudut halaman dengan dagunya. "Kang Pradipta yang mengajariku memanjat pohon itu, Kang. Aku jatuh dua kali. Dua-duanya dia yang menggendongku ke bilik obat."
"Aku ingat," kata Satrio, "Kau menangis kencang sekali waktu itu, sampai Guru keluar dari biliknya."
"Waktu dia pergi, aku tidak mau melihat mukanya." Suara Lintang makin kecil. "Kang... kalau dia lapar di hutan, bagaimana? Dia tidak bawa apa-apa. Cuma sabuk itu."
Satrio menatap pertigaan itu. Semua jawaban yang terlintas di kepalanya adalah kebohongan, jadi ia memilih diam.
Lintang mengusap hidung dengan punggung tangan, lalu membenamkan wajahnya ke lutut. Punggungnya naik turun menahan isak supaya suaranya tidak terdengar sampai ke serambi. Satrio meletakkan tangan kirinya di punggung anak itu dan membiarkannya di sana.
Menjelang gelap, Lintang mengangkat wajah dan menyelipkan pisau itu ke pinggangnya.
"Jangan bilang Kang Damar aku menangis lagi," katanya, "Nanti dia ikut menangis, lututnya tambah sakit."
"Tidak akan."
Lintang berjalan ke serambi sambil mengusap mata dengan lengan bajunya.
***
"Guru tahu aku turun ke bawah, Eyang?"
Satrio berbisik dari tikarnya supaya Gandung yang mendengkur di sebelahnya tidak terbangun. Eyang duduk bersila di dekat kakinya.
"Orang tua itu menjaga ruangan di bawah sana belasan tahun," jawab Eyang, "Kau pikir dia tidak hafal bunyi papan pendoponya sendiri?"
"Tapi Guru tidak melarangku."
"Berarti dia memang ingin kau terus turun." Eyang mengusap janggutnya yang tinggal separuh. "Atau dia sudah tidak punya tenaga untuk melarangmu."
Satrio mencengkeram ujung tikarnya. Dari arah bilik Ki Arya, batuk gurunya terdengar lagi, panjang, lalu berhenti.
"Kenapa api semalam keluar dari keningku?" tanyanya pelan.
"Karena tubuhmu belum punya tempat untuk menyimpannya," jawab Eyang, "Panas yang tidak punya tempat akan mencari jalan keluar sendiri. Semalam lewat alismu. Kalau kau ceroboh, lain kali bisa lewat matamu."
Satrio buru-buru meraba kelopak matanya.
"Lalu Geni Sewu itu seperti apa?"
Eyang mengangkat tangannya yang tembus pandang dan menggerakkan jari-jarinya, persis orang yang sedang menebar jagung untuk ayam. "Tapak Bara-mu itu satu pukulan. Geni Sewu itu seribu percik api yang lepas bersamaan, dan setiap perciknya tahu ke mana harus terbang."
Mata Satrio berbinar. Ia setengah bangkit dari tikar, lupa pada rusuknya, lalu meringis dan berbaring lagi.
"Kapan aku bisa mulai melepaskannya?"
"Setelah tubuhmu sanggup menyimpan seribu bara itu di dalam tanpa ikut terbakar. Untuk bocah biasa, itu butuh setahun." Eyang melirik Gandung yang masih mendengkur. "Kala Ireng tidak akan menunggu setahun, dan berasmu tinggal belasan hari."
"Kalau aku gagal?"
"Kalau gagal," jawab Eyang, "Kau yang jadi abu duluan."