Hidup Kayna memang sudah hancur, ayahnya sangat membencinya karna sudah membuat ibunya meninggal saat melahirkannya.
Oleh sebab itu, di usianya yang genap 20 tahun.. ia memutuskan mengakhiri hidupnya agar bisa merasakan reinkarnasi ke keluarga yang ia harapkan akan mencintainya, namun..
"Astaga.. kenapa aku harus menjadi tokoh antagonis yang akan mati di tangan tunanganku sendiri?"
Kayna yang kesal karna terlempar ke novel memutuskan untuk bunuh diri sebelum tunangannya yang membunuhnya.
Lalu, apakah rencananya akan berjalan mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Dengan wajah datar, Kayna mengambil sepotong roti panggang itu. Ia tidak membasahinya dengan teh. Ia tidak mengunyahnya. Ia langsung memasukkan seluruh potongan roti itu ke dalam mulutnya dan menelannya bulat-bulat.
Adrian yang sedang menuangkan teh untuk dirinya sendiri tidak menyadari bahaya itu. "Setelah sarapan, aku harus.."
Hek!
Suara tersedak yang kasar memotong ucapan Adrian.
Adrian mendongak. Matanya membelalak melihat Kayna yang kini memegang lehernya sendiri. Wajah Kayna mulai memerah, matanya melotot, dan ia mulai terbatuk-batuk tanpa suara.
"Kayla?!" Adrian berdiri, cangkir tehnya terjatuh dan pecah di lantai. "Apa yang terjadi?!"
Kayna menunjuk mulutnya, lalu menunjuk lehernya, pure-pura (dan benar-benar) kesulitan bernapas.
Ini dia, batin Kayna di tengah rasa panik fisiknya. Tiket ke kehidupan selanjutnya sedang dalam proses!
"Kau tersedak?!" Adrian panik. Ia berlari mengelilingi meja, berdiri di belakang Kayna. "Bicara padaku! Bernapaslah!"
Kayna menggeleng lemah, wajahnya kini mulai membiru. Tidak bisa bernapas, Tuan Duke. Itulah poinnya!
Adrian yang awalnya bingung, tiba-tiba teringat pada sesuatu. Ia memposisikan dirinya di belakang Kayna, melingkarkan kedua lengannya ke pinggang wanita itu. Ia mengepal satu tangannya, meletakkan sisi jempolnya di perut Kayna, tepat di atas pusar dan di bawah tulang rusuk. Tangan lainnya mencengkeram kepalan tangan itu.
Tarik ke dalam dan ke atas.
HUK!
Adrian menarik perut Kayna dengan kekuatan penuh.
Batuk!
Potongan roti yang keras itu meluncur keluar dari mulut Kayna, terbang melintasi ruangan dan menghantam dinding batu pualam dengan bunyi *tak* yang pelan sebelum jatuh ke lantai.
Udara segar langsung menyerbu masuk ke paru-paru Kayna. Ia terbatuk kasar, menarik napas dalam-dalam, air mata mengalir di sudut matanya karena refleks fisiologis.
Adrian masih memeluknya dari belakang, dadanya naik turun dengan napas tersengal. Lengan pria itu masih melingkar erat di pinggang Kayna, seolah takut wanita itu akan terbang pergi jika dilepaskan.
"Kau..." suara Adrian parau, terdengar sangat marah, tapi juga sangat takut. "Apakah kau... baru saja mencoba mati tersedak roti?!"
Kayna mengusap air matanya, lalu menepuk-nepuk lengan Adrian yang masih melingkar di pinggangnya. "Lepaskan, Tuan Duke. Kau meremas organ dalamku."
Adrian melepaskannya kasar, lalu berbalik dan menatap Kayna dengan mata yang menyala-nyala. "Jawab pertanyaanku! Kau sengaja menelan roti itu tanpa dikunyah!"
"Rotinya terlalu kering," jawab Kayna datar, sambil memijat lehernya yang sakit. "Kau seharusnya menyediakan mentega. Atau setidaknya mencelupkannya ke teh."
"Jangan mengalihkan pembicaraan!" Adrian menggebrak meja, membuat piring dan sisa makanan berdenting. "Kau mencoba bunuh diri lagi! Di depan mataku! Saat aku sedang berbicara denganmu!"
"Secara teknis, kau sedang menuangkan teh," koreksi Kayna. "Dan itu bukan bunuh diri yang disengaja. Itu hanya... kesalahan menelan."
"Kau berbohong!" Adrian menatapnya ngeri. "Kau benar-benar gila. Kau tidak peduli pada nyawamu sendiri sama sekali."
"Aku sangat peduli pada nyawaku, Tuan Duke," balas Kayna, menatap mata Adrian dengan tatapan kosong yang membuat pria itu merinding. "Aku hanya tidak peduli pada nyawa Kayla von Ardent. Tubuh ini adalah beban. Dan aku hanya ingin mengembalikannya pada pemilik aslinya."
Adrian terdiam. Rahangnya mengeras, otot-otot di pipinya berkedut. Ia menatap Kayna, lalu menatap roti yang jatuh di lantai, lalu kembali ke Kayna. Tiba-tiba, pria itu terlihat sangat lelah. Bahunya merosot, dan ia menarik napas panjang, memijat pangkal hidungnya.
"Baiklah," ucap Adrian pelan, suaranya terdengar kalah. "Baiklah."
Kayna mengangkat sebelah alis. "Baiklah?"
"Mulai sekarang, setiap suapan makanan yang masuk ke mulutmu akan diawasiku," titah Adrian, meski tidak ada nada mengancam di suaranya, hanya kepasrahan yang absolut. "Kau akan mengunyahnya dua puluh kali sebelum menelan. Jika kau mencoba menelannya bulat-bulat lagi, aku akan mengunyahkannya untukmu seperti ibu burung memberi makan anaknya."
Mata Kayna membelalak. "Kau... kau tidak akan melakukan itu."
"Cobalah aku," balas Adrian dingin. Ia menarik kursi dan duduk tepat di samping Kayna, menatap piring wanita itu. "Sekarang. Ambil potongan roti yang lain. Kunyah. Dan telan dengan perlahan. Aku akan menghitung."
Kayna menatap Adrian, lalu menatap roti itu. Ia menyadari satu hal yang mengerikan.
Pria ini benar-benar akan mengunyahkannya jika ia perlu. Duke Adrian yang agung, yang membunuh puluhan musuh di medan perang tanpa berkedip, rela kehilangan martabatnya hanya untuk memastikan tunangannya yang dibenci tidak mati tersedak.
Dengan napas berat, Kayna mengambil potongan roti kedua. Ia menggigitnya kecil-kecil, mengunyahnya dengan sangat perlahan, dan menelannya dengan bantuan teh.
..gagal terus🤣